Review Film Bebas : Film Adaptasi Terbaik, Suwer!

Suatu siang di bulan Februari 2019, saya dan Jeko, salah seorang teman di kantor, bergunjing soal secarik foto yang diunggah Mira Lesmana di Instagram. Tampak di dalam foto tersebut sejumlah pemain film muda yang bakal terlibat di proyek terbaru Mira, yang disinyalir akan mengadaptasi film box office Korea Selatan berjudul Sunny (2011). Waktu itu Mira masih merahasiakan kalau judulnya adalah film Bebas.

Film Bebas, Bebas, Review Film Bebas, Film Sunny

Mira baru ‘membocorkan’ judul film tersebut di sekitar bulan Maret, saat produser Ada Apa dengan Cinta? ini menggunggah sebuah foto yang kali ini bersama artis-artis kawakan seperti Marsha Timothy, Baim Wong, Susan Bachtiar, Indy Barends, Widi Mulia, Tika Panggabean, dan Dea Panendra.

Sunny boleh dibilang salah satu film favorit yang tak pernah bosan untuk saya tonton berkali-kali. Saya juga sudah menonton Sunny versi Jepang (Our Hearts Beat Together) dan Vietnam (Go Go Sisters). Entah mengapa berat sekali untuk mengatakan bagus. Sunny tetap yang terbaik!

Hal tersebut yang membuat saya agak memandang remeh ketika tahu yang terlibat di film Bebas adalah orang-orang yang ada di foto Mira itu.

“Jangan-jangan yang jadi Suji (tokoh cewek paling cantik di film Sunny) Amanda Rawles? Lalu yang jadi Han Joon-ho (tokoh cowok paling ganteng) si Giorgino Abraham? Malesin enggak, sih?,” kata saya ke Jeko. Memang dasar warganet, suudzon duluan.

Namun, pikiran jelek itu hilang ketika Mira Lesmana menggunggah foto Riri Riza tengah bersama pemain film Bebas muda berseragam SMA. Kali ini saya mantap dan yakin bahwa mereka itu pemeran utamanya. Bagi penonton film Sunny pasti bisa langsung menebak artis-artis muda itu bakal jadi siapa di film Bebas. Kecuali, satu orang, Baskara Mahendra.

Film Bebas, Review Film Bebas, Bebas, Film Sunny

“Kok ada cowok? Soalnya di foto yang kemarin ada Baim Wong juga,” kata saya.

“Mungkin di geng versi Indonesianya ada cowok kali, Kak. Menyesuaikan culture di sini,” kata Jeko.

“Bisa jadi, sih,” kata saya lagi.

Semakin tak sabar saya untuk menyaksikan film Bebas.

Film Bebas Dibuat Se-Indonesia Mungkin

Beberapa bulan kemudian, Mira Lesmana akhirnya memperkenalkan siapa saja tokoh di film Bebas. Ada Kris (Sheryl Sheinafia dan Susan Bachtiar), Vina (Maiizura dan Marsha Timothy), Jesika (Agatha Pricilla dan Indy Barends), Gina (Zulfa Maharani dan Widi Mulia), Jojo (Baskara Mahendra dan Baim Wong), dan Suci (Lutesha dan versi dewasa dirahasiakan).

Para pemain sudah diumumkan, tapi tetap saja ada rasa penasaran yang mengganjal di hati. Kenapa yang dipilih jadi Vina harus Maiizura, bukan Michelle Ziudith? Secara, ya, Michelle ini menurut saya lebih mendekati karakter cewek yang ternyata mengidap diabetes di film Sunny, baik dari wajah maupun gestur. Selain itu, Michelle lebih dikenal sebagai pemain film ketimbang Maiizura yang saya tahu kalau dia itu jebolan ajang The Voice Indonesia. 

Lalu, Lutesha. Why Lutesha? Apalagi peran yang bakal dia bawakan adalah gadis paling cantik satu sekolah, populer, dan juga seorang model. Engga ada yang lebih cakep? Nah, versi dewasanya siapa dong? Yang mirip sama dia memangnya ada? Happy Salma? Atiqah Hasiholan? Oh, jangan-jangan Hannah Al Rashid. Sebab, dandanan Lutesha ini mirip sekali Meriam Bellina. Dan, Hannah selalu disebut cocok jadi Meriam Bellina kalau ada produser yang mau membuatkan film tentang artis watak tersebut.

Namun, balik lagi, Mira Lesmana dan Riri Riza adalah pasangan duet maut yang tidak pernah salah memilih pemain untuk film-filmnya. Jadi, saya yakin sekali para pemain film Bebas ini sudah melewati berbagai pertimbangan dan penilaian, sampai akhirnya mereka yang dipilih. Begitu juga dengan peran cowok paling ganteng, saya pikir bakal diberikan ke Jefri Nichol, ternyata ke Kevin Ardillova.

Singkat cerita, muncul teaser film Bebas. Tak lama berselang yang dinanti-nanti pun nongol, trailer-nya. Ya, Tuhan, tambah tak sabar untuk segera ke tanggal 3 Oktober 2019. Dari trailer-nya saja sudah mesem-mesem sendiri, ketawa geli, dan sedih. Apalagi saat menonton filmnya secara utuh? Bisa-bisa saya nangis kejer.

Nonton Duluan Film Bebas

Tawaran untuk menonton duluan film Bebas datang dari kak Popon. Tanpa ba-bi-bu, saya terima tawaran tersebut.

Tuh, kan, nangis. Iya, saya menangis bahagia begitu filmnya habis. Selesai nonton, rasa-rasanya pengin sekali memeluk Mira Lesmana, yang juga hadir pada kesempatan itu, dan membisikkan ‘Mbak, terima kasih sudah mengadopsi film favorit saya dengan sangat baik sekali’ ke telinganya.

Saya hapal di luar kepala alur cerita film Sunny. Namun, tangan dingin Mira Lesmana dan Gina S Noer berhasil menyulap skripnya menjadi cerita yang jauh lebih menyenangkan, dan relate sekali sama kehidupan di Indonesia.

Gaya berpakaian geng Bebas SMA, cara ngomongnya mereka, kehidupan yang diperlihatkanbenar-benar Indonesia banget.

Harus saya akui, ada beberapa bagian di film Bebas yang memang tidak senendang, selucu, atau sesedih di Sunny. Akan tetapi, kejeniusan Mira Lesmana dan Gina S Noer bisa menempatkan yang lucu dan sedih itu ke bagian yang lain.

Lucu dan sedihnya pun engga tanggung-tanggung, cuy! Pas adegan yang lucu nih, rahang sampai sakit. Tak disangka-sangka, pemain yang semula saya pandang sebelah mata, bisa mengeksekusi adegan lucu tersebut secara sempurna. Gokils!

Sedangkan adegan sedih dan patah hatinya, ya, mohon maaf, pemirsa, pipi saya sampai basah. Adegan dan soundtrack-nya bisa ngepas banget gitu.

Seperti yang saya tulis di atas, Mira Lesmana dan Rizi Riza memang tidak pernah salah dalam memilih pemain. SAYA SUKA BANGET TEKTOKAN GENG BEBAS REMAJA. Menyenangkan sekali melihat mereka berinteraksi. Bikin saya terbahak-bahak dan geli sendiri.

Untuk geng Bebas dewasa sendiri di awal-awal memang enggak seasyik yang remaja. Maklum, ceritanya kan mereka sudah terpisah lama dan baru ketemu lagi setelah puluhan tahun. Menurut saya wajar kalau mereka baru panas di akhir-akhir.

Interaksi geng Bebas remaja sama keluarganya juga bagus. Terutama Vina dan keluarganya, TE OO PE BE GE TE. Sunda pisan euy! Adegan Suci ngebentak ibu tirinya juga bagus. Asyiklah pokoknya mah. Asli.

Film Bebas Bertabur Bintang

Film berdurasi 120 menit bertabur bintang. Dari yang peran utama, peran pembantu, sampai peran yang ‘numpang lewat’ adalah pemain-pemain bagus semua.

Setidaknya, enam orang yang bukan pemeran utama ini benar-benar mencuri perhatian saya.

1. Darius

Walaupun nongolnya pas adegan bangun tidur, pamit mau dinas, dan ketiduran di mobil, gantengnya enggak pudar. Bangun tidur saja cakep doi! Apalagi habis mandi, yekan?

2. Oka Antara

Om-om anak tiga ini pesonanya pun tak pudar meskipun munculnya cuma seuprit di akhir. Cocok sih doi memerankan karakter tersebut.

3. Sarah Sechan

SEMBAH! SEMBAH! SEMBAH! Sarah Sechan gelok. Enggak bakal sepecah itu kalau peran tersebut tidak jatuh ke tangannya.

4. Dea Panendra

TOLONG KEPADA PARA PRODUSER UNTUK MEMBERIKAN FILM KEPADA DEA. T O L O N G!

Enggak paham lagi sama cewek ini. Walaupun perannya bukan yang utama, tapi dia bisa mencuri perhatian penonton untuk suka sama aktingnya. Love you, Dea! Semoga sehabis film Bebas ada film yang menempatkan kamu sebagai pemeran utama.

5. Jefri Nichol

Harap tenang, gaes! Dedek Nichol muncul kok di film Bebas. Memang cocok peran tersebut untuk bocah ini. Tengilnya dapat, nakalnya apalagi, pas beneur! Tanpa karakter Nichol, film Bebas terasa hambar.

6. SI ITU TUH

Yang ini nggak boleh dibocorkan. Pokoknya, ini artis bisa jadi siapa saja. Nah, di film Bebas, dia lagi-lagi menunjukkan bahwa dia memang artis serba bisa jadi siapa saja.

Film Bebas, Adaptasi Terbaik

Pada 1995, tahun yang menjadi latar dari film Bebas, saya masih duduk di bangku kelas 2 SD. Dan itu pun di Medan.

Saya tidak tahu bagaimana kehidupan remaja SMA pada zaman itu, terlebih reanak SMA di Jakarta.

Meski demikian, saya dapat menikmati suasana tahun tersebut yang disuguhkan lewat film Bebas ini.

Kalau lagu-lagunya sih di luar kepala semua, karena diracuni mama. Dan semua lagu di film Bebas, bikin penonton bawaannya mau sing a long sambil joget-joget saking familiarnya.

Menurut saya, film Bebas merupakan film adaptasi terbaik selain Sweet 20.

Terima kasih banyak Mira Lesmana, Riri Riza, Gina S Noer, dan semua yang terlibat di proyek film Bebas ini. Terima kasih CJ Entertainment mempercayakan film Sunny untuk diadaptasi sama duo gelo ini. Saya bahagiaaaa sekali. Terima kasih juga sudah menciptakan karakter Jojo yang dimainkan dengan sangat apik sama Baskera Mahendra.

Satu lagi film bagus yang muncul di tahun ini. Ingat, film Bebas BUKAN JIPLAK film Sunny, melainkan adopsi. ini merupakan proyek kerja sama resmi, enggak asal jiplak.

Yang masih bilang jiplak, saya doain Anda punya jodoh.

Order Ojek Online di Hari Jumat Dapat Pengemudi Ini, Ongkosnya Gratis!

Suasana di bawah Stasiun MRT Lebak Bulus pintu Point Square, Jakarta Selatan, pada malam hari itu lebih sepi dari biasanya. Saya jadi menyesal atas pilihan saya sendiri, yang menolak tawaran seorang kawan yang beritikad baik mengantarkan sampai ke rumah, malah minta diturunkan di situ saja biar nanti melanjutkan perjalanan menggunakan ojek online (daring) GrabBike.

Dalam keadaan setengah takut, saya merogoh kocek celana sebelah kiri guna mengambil ponsel yang biasa saya pergunakan untuk memesan ojek maupun taksi daring, sambil sesekali melihat ke arah kanan. Saya buka aplikasi berlogo hijau itu, memasukkan titik jemput dan tujuan, lalu klik order.

Tanda server Grab sedang ‘mencari’ pengemudi sudah muncul. Di saat yang bersamaan, rasa cemas mendadak muncul; takut tak ada pengemudi yang mau menerima pesanan tersebut.

Dari pengalaman yang sudah-sudah, setiap kali naik MRT dan turun di Lebak Bulus, biasanya pesanan saya akan ditolak sebanyak dua kali terlebih dahulu, baru yang terakhir akan berhasil.

Saya sejujurnya kesal selalu diperlakukan seperti itu. Alasan mereka menolak selalu saja sama dan klise; macet, ban bocor, dan mengaku mencari penumpang yang searah jalan pulang.

Kalau alasannya macet, saya selalu bilang akan tetap menunggu dan tidak akan membatalkan pesanan itu, selama tak lebih dari 20 menit. Tak tahunya, sudah menunggu cukup lama malah mereka yang membatalkan secara sepihak. BT!

Ongkos Grab Naik, Saya sih Oke-Oke Saja

Pemerintah belum lama ini menaikkan tarif ojek online, tak terkecuali Grab. Saya sebagai penumpang tidak menyoalkannya, tidak protes, apalagi misuh-misuh karena dari banyak berita yang saya baca bahwa hal itu dilakukan buat kebaikan para mitra GrabBike.

Seperti yang tertulis di berita di Liputan6.com ini, penetapan tarif baru yang sudah berlangsung selama satu bulan membuat penghasilan para pengemudi jadi naik 30 persen. Ya, alhamdulillah, dong! 

Sayang, kebijakan itu tidak dipergunakan sebaik-baiknya oleh sejumlah pengemudi untuk bekerja lebih giat lagi, biar penghasilan yang mereka peroleh lebih besar pula.

Beruntung sekali malam hari itu saya tidak harus merasakan penolakan terlebih dulu. Malah sang pengemudi GrabBike yang diketahui bernama Yahya Wijaya, menelepon saya untuk menunggu di titik penjemputan.

“Saya ke sana, Mbak. Ini meluncur dari arah Point Square,” kata beliau.

“Oke, pak, saya tunggu,” jawab saya. Tidak sampai lima menit dari saya mengakhiri pembicaraan, pengemudi yang akan mengantar saya pulang sudah berhenti di depan saya.

“Ke Ciputat ya, Mbak,” kata pak Yahya sembari mengeluarkan helm yang akan saya pakai dari sarungnya.

Jangan kaget membaca percakapan di atas. Beliau sama seperti kebanyakan pengemudi yang mengira saya perempuan, dari suara saya di telepon. Keadaan tidak berubah sama sekali ketika pembicaraan terjadi.

Tarif Ojek Online Naik, Seharusnya jadi Kabar Bahagia

Pak Yahya begitu sopan. Dari cara dia menyapa, saya menduga bahwa pengemudi yang mengaku sudah menjadi mitra GrabBike lebih dari 3,5 tahun ini senang mengajak penumpangnya mengobrol.

“Ini pesanan pertama atau sudah yang ke berapa, Mbak?,” tanya beliau.

“Yang pertama kok, pak,” jawab saya. Saya kaget mendengar pertanyaan tersebut. Mengapa bisa pas sekali dengan yang saya rasakan selama ini. “Kenapa memangnya, pak?,” tanya saya balik.

Dia bercerita bahwa penumpang yang memesan GrabBike dari titik yang sama kayak saya kerap mengeluhkan hal tersebut. Banyak dari mereka yang ditolak dulu, baru yang terakhir mendapatkan pengemudi yang benar-benar mau mengantarkan penumpangnya.

Pak Yahya pun mengeluhkan sikap rekan-rekannya yang senang menolak pesanan. Menurutnya, selama aplikasi masih diaktifkan, pengemudi punya tanggung jawab besar mengantarkan penumpang ke mana pun tujuannya. Kalau memang sudah tak ingin narik, cepat-cepat menonaktifkan aplikasi supaya orderan yang masuk ke server tidak ‘tersangkut’ ke aplikasinya.

“Yang kayak begitu, yang bikin nama Grab jadi rusak. Padahal, masih banyak yang mau benar-benar mencari uang. Kalau tingkah mereka seperti itu terus, bisa-bisa penumpang beralih ke yang lain,” katanya.

Kemudian, saya sedikit menyinggung perihal tarif yang mengalami kenaikan. Beliau mengatakan seharusnya itu menjadi kabar membahagiakan buat seluruh mitra,”Kalau tarif naik, otomatis rezeki buat pengemudi naik toh?.”

“Pak, jumlah penumpang berkurang enggak sih,” tanya saya.

“Enggak sama sekali, Mbak. Kecuali, penumpang yang memang doyan mengejar promo. Kalau orang-orang kantoran mah enggak berkurang sama sekali, Mbak,” katanya.

Beruntung Dapat Pengemudi GrabBike seperti Pak Yahya

Dari obrolan itu, saya merasa beruntung dikasih pengemudi beliau. Banyak hal dari percakapan selama di perjalanan yang bisa saya terapkan di kehidupan sehari-hari. Kayak misalnya cara beliau menyukuri hidup.

Setiap hari Jumat, pak Yahya selalu menggratiskan jasanya. Dia tidak akan meminta sepeserpun ongkos sekalipun mahal. Itu dia berlakukan dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 03.00 sore.

“Bapak enggak rugi?,”

“Insyaallah enggak, Mbak. Hitung-hitung amal semasa hidup. Hidup itu cuma sekali, kita harus selalu bersyukur dan bersabar. Kalau niatnya seperti itu, saya yakin Allah akan menggantinya lebih baik lagi, meskipun tidak langsung,” katanya.

Tidak dipungutnya biaya itu hanya untuk penumpang yang tidak menggunakan OVO. “Soalnya, kalau pakai OVO sudah otomatis masuk ketika perjalanan berakhir,” katanya.

Menggratiskan penumpang sudah dilakukannya nyaris satu tahun. Banyak berkah yang sudah dia rasakan. Hal yang paling dia rasakan, ketika anak keduanya keterima jadi PNS tanpa harus lewat jalur sana-sini. Kuliahnya pun lancar, empat tahun selesai. Nilainya juga alhamdulillah. Nggak baik, tapi enggak buruk juga.

“Saya percaya, apa yang saya lakukan, anak yang akan kena imbasnya. Saya berbuat jahat, anak yang kena apesnya, saya berbuat baik, anak pula yang merasakan berkahnya,” kata beliau.

Aquarius paling enggak bisa diginiin. Saya paling enggak kuat mendengar sebuah cerita yang berkaitan antara ayah dan anak. Entah mengapa saya paling gampang melow ketika menonton sebuah film yang memperlihatkan emosional seorang ayah dan anaknya, ketimbang ibu dan anak.

Wong saya mewek dong pas adegan Spiderman menangisi kondisi Iron Man yang berhasil melumpuhkan Thanos di Avenger End Game. Meskipun awalnya saya rada enggak suka, gedeg, benci sama Iron Man gara-gara ribut sama Captain America di Captain America Civil War. Bocahnya ngeyelan! Mau menang sendiri! Egois! Eh, pas dia jadi ayah, kenapa bisa semanis itu, sih? Kan jadi enggak BT lagi.

Apa yang Terjadi di Grab, Saya Harus Ingat Tanggung Jawab Sendiri

Maka itu, apa pun kondisi yang terjadi di ‘dalam’ Grab, pak Yahya tak mau ambil pusing. Dia menempatkan diri sebagai mitra, yang sudah semestinya bertanggung jawab terhadap tugasnya.

“Ya, kalau sekarang ongkos naik, pendapatan saya juga akan naik. Jadi, saya harus lebih baik melayani penumpang. Jauh sekali pun akan saya kerjakan,” kata beliau.

Pernah suatu hari, lanjutnya, dia mengantarkan seorang penumpang; perempuan dan pekerja kantoran ke Cempaka Putih. Ongkosnya sebesar Rp43 ribu, tapi pas mau bayar, penumpang itu mengaku tak ada uang tunai. Adanya cuma uang goceng di kantong.

Kalau saya yang berada di posisi pak Yahya, saya akan mengantarkan penumpang itu ke ATM. Namun, yang beliau lakukan justru sebaliknya. Uang goceng itu dia ambil, lalu bergegas pergi.

“Saya enggak mau suudzon. Kalau dia memang niat membayar, pasti hal pertama yang dia lakukan meminta saya mengantarkannya ke ATM,” katanya.

Siapa sangka, beberapa hari kemudian, dia membawa seorang penumpang yang mengaku tertolong lantaran pak Yahya mau menerima pesanannya.

Sesampainya di tujuan, pak Yahya diminta untuk menunggu sebentar. Tak lama penumpang itu keluar dari dalam sebuah gedung, dan mengajaknya makan. Pak Yahya menolak, tapi penumpang itu yang meminta dengan sangat, karena merasa berutang budi.

Selepas makan, ketika akan berpisah, penumpang itu memberinya sejumlah uang. Bahkan, nominalnya berkali-kali lipat dari ongkos perjalanannya.

Andai pengemudi ‘malas’ di luar sana mencontoh pak Yahya dan mitra yang benar-benar mau mencari nafkah, saya sebagai penumpang pun akan merasa senang. Yang pada akhirnya ikhlas dengan semua kebijakan yang dibuat sama Grab.

Tarif naik? Enggak masalah! Tarif tak naik pun, selama saya punya uang lebih di kantong atau saldo di OVO cukup buat memberikan tip, pasti akan saya berikan. Selama kebijakan itu dibuat untuk keuntungan bersama, saya ikhlas.

Sebab, ojek online seperti GrabBike dan sejenisnya sangat membantu saya dalam bekerja. Pekerjaan sebagai jurnalis menuntut saya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Cuma dengan moda transportasi motor saya dapat melakukan semuanya dengan mudah.

Sekalipun untuk jarak yang sangat dekat, ongkos GrabCar jauh lebih murah dari GrabBike. Saya akan tetap memilih motor, karena jauh lebih cepat.

Naik GrabBike Lebih Cepat

Dari kantor saya ke Stasiun MRT Bundaran HI, misalnya, ongkos GrabBike bisa Rp10 sampai Rp15 ribu, sementara ongkos GrabCar cuma Rp7 ribu saja.

Murah sih dari segi ongkos. Namun, dari segi kecepatan, lebih cepat GrabBike ke mana-mana sih ya. Sudah paling oke sih buat pekerja kayak saya yang memang harus cepat berpindah tempat demi mengejar liputan.

Lagi pula, saya cukup sering kok mendapat potongan beberapa rupiah padahal tidak memasukkan promo apa-apa. Tahu-tahu ada saja promo yang saya dapat. Yang semula ongkosnya Rp10 ribu, menjadi cuma Rp3 ribu. Saya happy!

Buka Puasa Bareng 1.000 Anak Yatim Piatu, Senang dan Haru Jadi Satu

Tidak ingat kapan terakhir kali saya berbagi keceriaan dengan anak-anak kurang beruntung. Entah itu anak yatim piatu, anak terlantar, maupun anak dengan orangtua lengkap tapi hidupnya memperihatinkan.

Terlebih sudah beberapa tahun ini saya sudah dikantorkan, dan jarang disuruh liputan ke panti-panti.

Oleh sebab itu, begitu diajak buka puasa bareng 1.000 anak yatim yang digagas PT Adaro Energy Tbk, saya langsung mengiyakan. Saya pun bilang ke tim, kalau Jumat, 17 Mei 2019, saya mau ambil day off mingguan.

Jumat, 17 Mei 2019.

Seribu orang anak yatim dari sejumlah panti di Jakarta sudah memenuhi Ballroom Kuningan City, Jakarta Selaan sejak pukul 15.00 WIB. Sementara saya, baru sampai di lokasi sekitar pukul 16.30 WIB.

Bukber Adaro Bersama 1.000 Anak Yatim Piatu

Keseruan Anak-Anak pada Bukber Adaro, Jumat, 17 Mei 2019.

Saat saya masuk ke dalam ruangan besar beralaskan karpet tebal dan sajadah yang empuk di lantai 7 mal tersebut, terlihat sepuluh orang anak berada di depan untuk mengikuti gim. Belum ada lima menit meluruskan kaki, saya diajak keluar sebentar untuk bertemu dengan seseorang.

Rupanya orang tersebut adalah Garibaldi Thohir, sang Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk yang akrab dipanggil Boy Thohir.

Saya mula-mula mengira kalau pertemuan dengan orang besar sekelas Boy Thohir akan berlangsung kaku. Ternyata, itu hanya perasaan saya saja.

Pria yang hari itu mengenakan kemeja berwarna biru dan celana bahan hitam, duduk persis di depan saya dan tak sungkan menyapa orang-orang yang berada di ruangan itu.

Cerita Boy Thohir Soal Masa Kecilnya

Boy bercerita banyak pada kesempatan itu. Mula-mula dia menceritakan masa kecilnya yang dihabiskan di Tebet, Jakarta Selatan. Rumah semasa kecilnya berada di depan PSPT. Boy kecil, suka sekali bermain sepatu roda, main ke pasar untuk menjual biji karet. Dan, di saat Ramadan seperti ini, tak pernah absen melaksanakan tarawih bersama ayah tercinta di sebuah masjid dekat SMA 73.

Sosok yang Mengagas Buka Puasa Bersama 1.000 Anak Yatim Piatu Setiap Tahunnya. Ini Tahun ke-9 Bagi Adaro Mengadakan Acara yang Sama

Setelah itu, pria penyuka burung belibis goreng yang digoreng di dalam minyak amat hitam, menceritakan latar belakang PT Adaro Energy Tbk mengadakan buka puasa bareng 1.000 anak yatim sejak 2010. Sudah sembilan tahun, dia dan seluruh karyawan di perusahaan itu memperoleh banyak doa dan berkah dari anak-anak yang disebutnya ‘Tamu Agung’.

Boy, mengatakan, buka puasa bareng 1.000 anak yatim piatu merupakan refleksi bagi dirinya untuk terus ingat bahwa setiap rezeki yang dia peroleh ada hak anak yatim dan kaum fakir miskin di dalamnya. Sehingga berbagi menjadi kewajiban.

Sehat Terus, Adik Kecil

Yang saya tahu, dari tahun ke tahun bukber Adaro tidak pernah gagal membahagiakan para tamu agungnya. Selain makanan yang disajikan adalah kesukaan anak-anak itu, pengisi acaranya pun, kata Boy, harus yang anak-anak itu tahu.

Mungkin buat kita, makanan seperti Burger King, KFC, dan sejenisnya sangatlah membosankan. Sebab, di hari-hari biasa pun dengan mudah mendapatkannya. Namun, tidak bagi mereka.

Justru makanan kayak begitulah yang mereka nanti-nantikan selama ini.

Anak Yatim Piatu

Mereka yang Sudah Tak Sabar untuk Segera Berbuka dan Nyanyi Bersama Rizky Febian

Hal itu pun sangat saya rasakan ketika bertanya ke seorang anak yang sedang asyik menikmati seporsi burger yang dibagikan. Malam itu, yang dibagikan ke mereka sekotak makanan dari Burger King berisikan daging ayam, nasi, dan burger.

“Kok tidak dihabiskan?,” tanya saya pada seorang anak. “Bukan dimakan lagi di panti,” jawabnya.

“Nantikan akan dibagikan agi untuk dibawa pulang,” kataku. “Nggak papa, yang itu buat sahur,” sahutnya. Ya, sebahagia itu mereka mendapatkan makanan kesukaannya. Mereka tak ingin makanan tersebut cepat habisnya.

Rizky Febian, Pengisi Acara Bukber Adaro

Buka puasa tahun ini, yang temanya Berbagi Kebahagiaan Ramadhan, pengisi acaranya adalah Rizky Fabian. Tahun-tahun sebelumnya, yang ‘bertugas’ menghibur anak-anak itu sekelas Coboy Junior dan JKT48.

Anak-anak itu benar-benar sudah tak sabar untuk sing a long menyayikan lagu-lagunya putra kesayangan komedian Sule itu.

Ini Momen Menyenangkan Buat Saya, Saat Boy Thohir Tak Membiarkan Anak-Anak Itu Terlalu Lama Menunggu Bintang Utamanya Bernyanyi

“Sudah pada lapar belum?,” tanya Boy Thohir ke para tamu agungnya sebelum mengakhiri kata sambutannya.

“Anak-anak suka K-Pop?,” tanyanya lagi. Mereka pun serentak menjawab,”Tidakkkkkkkk!.”. Begitu Boy bilang,”Kalau Rizky Febian?”, jawabannya adalah,”Sukaaaaaaa!.”. Mendengar respons dari ribuan anak-anak lugu dan lucu itu, Boy pun langsung menyudahi sambutannya.

Terbukti, diajak sing a long lagu Kesempurnaan Cinta, semuanya menyanggupi. Padahal, yang mengajak bernyanyi adalah si pembawa acara. Begitu bintang utamanya muncul, tanpa diberikan aba-aba semuanya langsung maju.

Tahun Ini Rizky Febian yang Jadi Pengisi Acara di Buka Puasa Bersama Adaro dan 1.000 Anak Yatim Piatu

Tahu responsnya Rizky? Dia sendiri tak menyangka bahwa anak-anak yang memenuhi Ballroom Kuningan City hari itu hapal lagu-lagunya.

“Saya pikir kalian tidak ada yang tahu lagu saya,” kata Rizky Febian. Anak-anak itu serentak menjawab,”Tahu semuaaaaaa.”. Terutama anak-anak perempuan. Benar saja, dari lagu pertama sampai lagu terakhir, Rizky Febian memiliki lebih dari seratus orang penyanyi latar.

Kehadiran anak-anak itu, membuat Boy selalu teringat masa kecilnya yang kerap menyalakan petasan dan membuat ‘kegaduhan’ yang bikin sang ibu geleng-geleng kepala. Itu juga yang menjadi alasannya berusaha untuk selalu mengundang 1.000 anak yatim untuk buasa puasa bersama.

Di acara itu juga saya bisa kopdar bareng blogger lawas, yang mungkin saja di antara mereka ada yang nyaris lupa password, yang terakhir kali ketemu sekitar dua tahun yang lalu.

Semoga tahun depan saya masih diajak untuk buka puasa bareng Adaro yang Insyaallah lebih seru lagi.

Terima kasih untuk Mas Bolang dan Kak Ariev Rahman untuk foto-foto bagusnya.

Medical Check Up, Hadiah Ulang Tahun ke-31

Tiga hari setelah ‘bertamu’ ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), saya akhirnya berani untuk medical check up (MCU). Kalau saja tekanan darah di Senin sore itu tidak menyentuh 130/90 mmHg, pria gembrot berumur 30 tahun, 11 bulan, kurang dua minggu ini lebih memilih memanfaatkan izin dari bos buat tidur, Netflix-an, makan, dan tidur lagi ketimbang harus cek kesehatan selama enam jam.

Ajakan untuk MCU dari pihak Rumah Sakit Pondok Indah – Pondok Indah sudah berbulan-bulan yang lalu datang ke saya. Tak lama usai balik dari New York dan menyelesaikan program Diary Paskibraka di penghujung Agustus 2018. Disebabkan anaknya ini takut sekali sama jarum suntik (lebih tepatnya, sih, takut kepikiran sama hasil pemeriksaannya), saya terus menunda memberikan jawaban ‘ya’ atas sebuah kesempatan yang mungkin saja tidak datang empat kali.

“Kapan mas mau, kapan mas siap, beritahu saya. Ini tidak akan hangus, kok,” jawab mereka setelah saya menjelaskan panjang lebar soal belum beraninya menerima tawaran tersebut.

“Ini pokoknya buat mas Adit. Biar mas Adit sehat,” kata mereka lagi.

Pas tahu saya tidak langsung mengiyakan tawaran tersebut, si Kawan terus meyakinkan saya bahwa yang namanya medical check up tak sehoror yang ada di imajinisasi saya. Dia sampai kasih tunjuk ke saya kalau jarum suntik yang digunakan nantinya tidak setebal jarum yang dipakai buat donor darah. Darah yang diambil pun tidak sebanyak itu.

ilustrasi medical check up

Tenang! Ambil darah saat medical check up tidak seperti ini (CR: Kompas)

Suatu malam, di perjalanan menuju Grand Indonesia untuk bertemu narasumber, dia tiba-tiba bilang, tidak perlu khawatir sama hasilnya. Dia percaya saya baik-baik saja. Karena selama ini saya tidak pernah melakukan semua hal yang menjadi faktor risiko dari segala macam penyakit berbahaya.

Menurut si Kawan, apabila hasilnya tidak 100 persen positif, setidaknya saya dikasih banyak waktu buat menyempurnakannya. Sehingga di tahun-tahun mendatang, di saat banyak orang seumuran saya sibuk menyembuhkan dirinya, setidaknya saya sudah berada di tahap ‘merawat tubuh’ biar tidak mengalami serupa.

“Iya juga, sih,” kata saya.

“Jangan iya, iya aja. Tawaran itu datangnya ke elo sih bukan ke gw. Gw pasti langsung jawab iya, tanpa pikir panjang kek begini,” kata dia. *Moon maap! Kenapa Anda ngegas?*

“Iya, iya, nanti dipikirin lagi,” jawab saya.

“Pokoknya, harus diambil. Jangan sampai enggak,” kata dia.

Pengalaman Medical Check Up Teman Wartawan

Satu atau dua bulan kemudian, saya liputan bareng salah seorang jurnalis dari portal berita kompetitor yang ternyata baru MCU. Usianya lima tahun di atas saya. Dia melakukan pemeriksaan medis karena satu tahun terakhir seperti ada yang aneh sama tubuhnya. Lebih gampang lemas dan sering pusing. Padahal, dia termasuk orang yang rajin berolahraga dan makannya pun tidak berantakan-berantakan amat.

Dia cerita semua hal mengenai medical check up yang dia jalani. Saya juga cerita tentang tawaran itu. Sama seperti si Kawan, dia cuma bilang tak perlu takut. Soal hasilnya, dia sendiri jadi lebih tahu harus berbuat apa saja agar tubuhnya sehat kembali.

Dari obrolan itu saya terus meyakini diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Dan medical check up cuma tes kesehatan biasa, yang manfaatnya buat jangka panjang.

“Mbak, benar ya medical check up itu enggak seram,” tanya saya ke pihak RSPI. Saya bodoh amat jika si Mbak kemudian menilai saya pria pengecut. Yang sama jarum suntik saja takut.

“Beneran kok Mas Adit. Kayak digigit semut,” jawabnya. Persis tenaga medis saat mau nyuntik bocah SD. Yang selalu bilang,”Jangan takut. Sini, sini. Cuma sebentar kok. Pernah digigit semut, kan? Nah, rasanya sama kayak begitu. Kalau enggak percaya, rasain, deh.”

“Ha ha ha … Digigit semut rangrang, sakit, lho, Mbak,” kata saya. “Bentolnya bisa berhari-hari,” kata saya menambahkan.

Ilustrasi Medical Check Up

Suntik saat MCU seperti digigit semut. Ya, maap, kalau semutnya sebanyak ini juga bikin trauma kali, ah. (CR Tribune)

“Ayolah! Percaya sama saya, medical check up itu tidak sakit,” katanya lagi.

“Mbak, saya trauma percaya sama manusia. Saya percayanya cuma sama Allah,” sayangnya bukan ini jawaban saya. Takut tawarannya malah hangus.

Menghadiahi Diri Sendiri Medical Check Up

Saat malam pergantian tahun, saya ditugaskan oleh kantor meliput kegiatan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila F Moeloek. Menkes akan melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah tempat, yang media sendiri tidak tahu akan ke mana saja.

Kegiatan dimulai pukul 21.00 WIB sampai pukul 01.00 dini hari. Menkes, jajaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dan sejumlah awak media ‘merayakan’ Malam Tahun Baru 2019 di bawah TOL Tomang, Jakarta Barat.

Malam itu Menkes berpesan, supaya saya dan teman-teman jurnalis yang lain lebih bisa menjaga kesehatan di tahun yang baru. Beliau pun sempat menyinggung soal pentingnya medical check up. Mendengar itu saya semakin mantap buat menghadiahi diri sendiri berupa MCU yang akan saya lakukan saat hari ulang tahun ke-31 pada 18 Februari.

Menkes mengatakan medical check up artinya tanda sayang dari kita buat tubuh. Dengan melakukan pengecekan, kita jadi tahu harus berbuat apa sama bagian tubuh yang benar-benar perlu dijaga lebih ketat lagi. Semisal ada yang kurang, tubuh mendapatkan haknya.

Kita enggak tahu apakah tubuh ini sudah mendapatkan asupan vitamin A yang cukup. Kita memang makan secara teratur sih; pagi, siang, dan malam. Ditambah camilan-camilan yang secara bergantian masuk ke dalam mulut di jam-jam tertentu. Yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah dari makanan tersebut, tubuh kita sudah mendapatkan semua vitamin dan mineral yang memang mereka butuhkan?

Kita memang makan, cuma apa yang kita makan? Kalau makannya cuma nasi ditambah mi ditambah kentang pedas, mana asupan serat dan protein buat tubuh kita? Taruhlah di dalam piring makan kita ada nasi, sayur, dan ikan, apakah itu sudah cukup? Ternyata, belum. Kita lupa sama asupan protein nabati, seperti tahu dan tempe. Memang perlu? Kan sudah ada protein hewani? Nah, coba cek di Google pentingnya asupan protein nabati bagi tubuh kita?

Semua pertanyaan itu yang pada akhirnya melunturkan ketakutan tak berguna saya mengenai MCU selama ini.

Tepar di Senin Siang

Senin, 14 Januari 2019, tubuh saya mendadak lemas. Kepala terasa pusing yang membuat tak fokus mengetik berita. Saya pun kesulitan bernapas. Kondisi tersebut bikin saya uring-uringan.

Biasanya, kepala pusing seperti yang saya alami hari itu, menandakan tubuh lagi butuh gula tambahan. Setelah makan siang dengan menu bebek di Stasiun Gambir, yang ternyata rasanya jauh dari layak makan, saya jajan roti kukus selai srikaya beli di salah satu gerai kopi tak jauh dari tempat tersebut.

Bukannya mendingan, kepala semakin keliyengan. Gajian memang masih lama. Akan tetapi saya ‘kan tak punya tunggakan kartu kredit, apalagi cicilan KPR maupun roda empat. Kenapa bisa sepusing ini?

Sesampainya di kantor, mendadak pengin muntah. Saya cepat-cepat lari ke toilet. Tak lama saya langsung jackpot. Semua yang saya makan keluar semua bersama janji-janji yang saya telan mentah-mentah. Secara kebetulan ada si bos lagi kencing.

Mengetahui hal tersebut, dia menyuruh saya ke IGD RSCM. Jangan sampai saya pingsan, kayak dua tahun yang lalu. Baca : Mirip Gejala Demam Berdarah tapi Bukan DBD

“Sono, ke RSCM. Kalau lo pingsan, kagak ada lagi yang bisa ngangkat. Lift kantor kecil. Kagak bakal muat,” candanya.

Saya mengiyakan perintah beliau. Bersama teman satu tim, yang diutus oleh si bos buat menemani saya, berangkat ke IGD RSCM. Itu untuk pertama kalinya saya ke RSCM buat berobat. Sebagai peserta BPJS pula.

Setelah menunggu cukup lama di sebuah ruangan yang sangat layak untuk ukuran peserta BPJS Kesehatan, datang seorang dokter yang langsung memeriksa saya.

“Apa keluhannya?,” tanya si dokter dengan sopan.

“Enggak tahu dok. Mendadak pusing. Pusingnya muncul setelah minum kopi,” kata saya menceritakan kronologisnya.

Dokter itu kemudian memeriksa nadi dan denyut jantung saya. Diawali dengan pemeriksaan tensi darah.

Biasanya, rendah apa tinggi (tekanan darahnya)?,” tanyanya.

“Rendah, dok,” jawab saya. Selama ini saya mengetahui bahwa saya adalah pasien darah rendah. Tekanan darah tidak pernah di atas 110/90 mmHg, pasti selalu di bawah itu. Salah satu faktor yang menyebabkan saya blackout di kantor waktu itu pun karena tekanan darah yang mendadak drop.

“Oke. Ini tekanan darah kamu 130/90 (mmHg),” katanya. “Tapi nadi dan jantung kamu normal. Itu yang lebih penting, sih,” katanya lagi.

Medical Check Up Dipercepat

Dari ilmu yang saya pelajari selama menjadi jurnalis kesehatan, tekanan darah setinggi itu sudah mengarah kepada pra-hipertensi. Hanya saja untuk mengetahui diagnosis pastinya, seorang pasien harus melakukan cek tekanan darah dalam keadaan tenang dan tidak habis berkegiatan. Benar-benar tenang.

“Jadi, saya berikan obat, dan tolong dihabiskan,” katanya.

“Kemungkinan karena apa dok?,” tanya saya penasaran.

Besar kemungkinan dari kopi yang saya minum. Bisa jadi, hari itu kafein yang masuk ke dalam tubuh saya terlalu besar. Namun, bisa jadi juga karena tubuh saya kurang bersahabat dengan kafein dari kopi. Sebab, saya ini pada dasarnya bukan peminum kopi. Setiap kali minum kopi pasti mencret. Cuma tiga bulan terakhir, saya menemukan cara minum kopi yang aman bagi tubuh saya, jadinya keterusan. Ternyata tetap enggak cocok.

Sepulangnya saya dari IGD RSCM, saya jadi kepikiran, apa medical check up itu saya percepat? Saya terlebih dulu tanya, apakah tawaran tersebut masih berlaku. Ternyata masih.

“Saya mau deh medical check up,” kata saya.

“Sudah mantap, Mas?,” kata Mbaknya. Kenapa tidak langsung jawab oke saja? Saya bisa jadi malas lagi kalau ditanya seperti itu. Seolah-olah kayak mau bilang elo udah siap buat menderita? Hahaha!

“Mantap, Mbak,” kata saya lagi.

“Oke. Saya atur jadwal buat Mas Adit, ya..”. Dua jam kemudian,“Hari Kamis, ya, Mas Adit.”

Buset. Secepat itu? Hmmmm… Baik! Karena bos memberikan saya izin selama tiga hari buat istirahat, hari terakhirnya saya pakai buat medical check up. Biar saya cepat mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh saya.

Hari yang dinanti pun tiba. Tepat pukul 08.00 WIB, saya tiba di lantai 2 Rumah Sakit Pondok Indah – Pondok Indah buat medical check up. 

Jadi Banyak Tahu Soal Soto Selama di Festival Jajanan Bango 2018

Soto pakai sapi. Coto pakai capi. Dan sroto pakai srapi. Itulah yang membedakan antara soto, coto, dan sroto…

Festival Jajanan Bango 2018 pada Sabtu (14/4) dan Minggu (15/4) tidak hanya membahagiakan perut semata. Otak saya turut merasa bahagia karena dapat pengetahuan baru mengenai ragam soto di Indonesia.

Sebanyak 83 jenis makanan tersaji di perhelatan akbar yang merupakan wujud komitmen Kecap Bango untuk melestarikan warisan kuliner Indonesia. Mulai dari mi aceh, pempek Palembang, kerak telor Jakarta, pallu basa Makassar, dan masih banyak lagi. Sampai-sampai pengunjung bingung mau coba yang mana.

Untung saya lebih dulu mengecek daftar makanan di situs resmi Kecap Bango sebelum ke FJB 2018. Mata dan perut sepakat memilih lima jenis kuliner untuk disantap. Terdiri dari ayam penyet, jajanan ala-ala Pasar Baroe, dan tiga macam soto.

festival jajanan bango 2018 kaya soto

Di saat yang lain susah payah untuk melihat wujud makanan di FJB 2018, saya dengan mudahnya melihat dari atas. Ha ha ha (difoto Angga)

Alasan memilih tiga jenis soto  guna menyesuaikan konten yang saya punya yaitu beda tapi sama. Walaupun nama dan penyajian berbeda tapi sama-sama soto. Karena selama ini pengetahuan saya soal makanan berkuah kaya rempah ini sebatas soto ayam, soto Betawi, dan soto Padang. Namun, Festival Jajanan Bango 2018 menyadarkan saya bahwa soto tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan nama yang tidak sama.

Setidaknya ada 15 jenis soto hadir di Festival Jajanan Bango 2018. Jumlahnya lebih banyak dari jenis kuliner yang lain. Dan tentu saja ini bukan tanpa alasan.

ragam soto di FJB 2018

Daftar Menu Soto di Festival Jajanan Bango 2018 di Jakarta

Saya sempat mengobrol dengan mas Arie Parikesit. Saya kepo kenapa tahun ini soto yang paling banyak dijaja? Sampai-sampai ada ‘Kampung Soto’ di tengah kemeriahan FJB 2018.

Menurut pembawa acara Kelana Rasa Trans TV ini, Kampung Soto merupakan bentuk dukungan Bango terhadap salah satu program yang tengah dikembangkan Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Bekraf) yaitu ‘Kuliner Rasa Indonesia Mendunia’.

Bekraf memang lagi gencar mempromosikan soto nusantara. Soto diharapkan bisa setenar rendang maupun nasi goreng di kancah internasional. Sehingga masyarakat dunia tahu bahwa sudah lama Tom Yam khas Thailand punya pesaing kuat.

Namun, sebelum menyadarkan Barack Obama, Mark Zuckerberg, Zayn Malik, maupun Justin Bieber, masyarakat Indonesia harus lebih dulu disadarkan akan keberadaan soto ini.

Jumlah soto di Indonesia

Soto di nusantara ini berjumlah 74 macam… kata mas Arie.

Dari jumlah sebanyak itu orang hanya mengenal beberapa jenis saja. Termasuk juga saya yang mungkin tidak lebih dari 10 macam.

Bukti kecilnya ketika mas Arie mengadakan gim buat blogger dan vlogger yang hadir pada FJB 2018. Kebetulan yang maju adalah saya dan Gladis, istri Ariev Rahman. Beliau meminta kami menyebut 10 nama soto nusantara. Apa kami bisa langsung jawab? Tidak!

kenyang soto di festival jajanan bango 2018

Walaupun rada lama menjawab nama soto, tapi berhasil juga dapat voucher Rp100 ribu dari Mas Arie. Yeay! (Dok: @CeritaGiovanni)

Kami rada kelabakan menjawab pertanyaan semudah itu. Butuh lima menit sampai pada akhirnya saya dan Gladis berhasil membeberkan nama-nama soto, dengan sedikit mengintip ke area Kampung Soto di Festival Jajanan Bango 2018 tersebut.

Banyak hal soal soto yang saya tanyakan ke beliau. Dari sejarah penamaan sampai macam-macam soto yang mungkin kurang familiar di telinga kita.

Kata ‘soto’ berawal dari cauto yang artinya adalah jeroan yang dimasak rempah-rempah. Pada zaman itu, cauto kental akan nuansa Tiongkoknya. Seiring perkembangan zaman, cauto diadaptasi dan diolah sedemikian rupa, sehingga cauto yang sekarang berbeda sekali dengan penamaan jeroan masak rempah-rempah saat itu.

Kemudian, penamaan soto setiap daerah berbeda-beda. Ada soto, coto, sroto, dan ada tauto. Semua masih dalam genre soto.

Baik yang santan maupun bening, memiliki satu garis merah, banyaknya rempah-rempah yang dipakai, dan tambahan kecap..

Penggunaan dagingnya juga bermacam-macam. Tidak selalu ayam maupun daging sapi. Bahkan, ada yang memakai daging kerbau dan kuda.

Coto di Makassar jelas berbeda dengan sroto dari Banyumas. Isian pada semangkuk coto biasanya daging dan jeroan. Sementara sroto, bisa pakai ayam atau daging sapi, tapi yang membuat sajian ini kian nikmat karena ada tambahan sambal kacang.

Beda lagi kalau kita mampir di Pekalongan dan Tegal. Kata mas Arie, dua daerah itu memakai sambal dari tauco. Demi apa pun saya harus coba tauto dari Tegal. Iman saya lemah bila di hadapan saya tersaji makanan yang ada campuran tauconya.

“Dari Padang, Aceh, Palembang, seluruh Jawa bahkan sampai di Sasak pun ada soto…”

Empal Gentong Cirebon Masih Keluarga Soto

Mula-mula saya merasa aneh oleh keberadaan empal gentong di Kampung Soto. Mengapa makanan satu ini bisa nyangsang di area tersebut?

Sebatas yang tahu, empal gentong lebih mirip gulai biasa. Tidak tahunya warisan kuliner masyarakat Cirebon ini masuk genre soto.

Walaupun namanya empal gentong tapi berbeda sama empal yang sering makan. Yang daging goreng itu. Empal gentong khas Cirebon ini isinya daging dan jeroan disiram kuah santan…

Gila! gila! gila! Ilmu per-soto-an saya bertambah lagi. Memang tidak salah apabila Bekraf berkeinginan menduniakan soto nusantara. Dan saya mengapresiasi cara Bango mendukung program tersebut dengan membuat kampung khusus makanan berkuah yang paling enak disantap saat udara sejuk di Festival Jajanan Bango 2018.

Setelah dahaga akan per-soto-an nusantara terisi penuh, kedua kaki jadi lebih ringan untuk melangkah mencari soto incaran saya. Ada soto bangkong, pallu basa, dan soto pindang Iga dari Palembang.

Tidak jauh dari kantor saya ada Rumah Makan Soto Bangkong. Enggak makan siang maupun makan malam, selalu ramai pengunjung. Hal itu yang buat saya penasaran ingin mencobanya.

Bangkong itu nama daerah di Semarang. Itu soto khas Semarangan…

Kenapa harus menunggu di FJB 2018? Kenapa tidak langsung di rumah makan tersebut?

Rumah makan itu nyaris selalu ramai. Saya lewat di situ pun sekalian pulang ke rumah. Yang mana biasanya sudah dalam keadaan kenyang habis makan makanan dari katering kantor. Alasan paling utama sebenarnya takut harganya mahal. Secara yang makan di situ rata-rata bermobil.

Soto Bangkong dan Pallubasa

Saya membayar Rp35 ribu untuk seporsi soto bangkong. Isinya suiran daging ayam, tomat yang diiris kecil-kecil, bihun, dan tauge. Kuahnya bening agak kecokelatan. Rasanya gurih dan sedikit manis karena tambahan kecap di kuahnya.

soto bangkong hadir di festival jajanan bango 2018

AHA! Soto Bangkong In Da House Yo!!!

Saya sengaja tidak pakai nasi karena sudah ada bihun dan takut kenyang duluan. Masih banyak makanan mengantre untuk saya santap. Sehingga saya tidak boleh terlalu kenyang.

Yang menarik dari soto bangkong ini adalah keberadaan sate kerang. Sebenarnya ada pilihan lain seperti telur puyuh atau tahu dan tempe. Akan tetapi saya lebih memilih sate kerang. Kapan lagi makan soto ada sate kerang tapi lagi tidak di Medan?

Menurut saya, seporsi soto bangkong ini cocok di lidah saya. Walaupun rasanya masih terlalu manis untuk saya yang sangat menyukai pedas. Dan takaran bihun yang menurut saya kebanyakan, tidak sebanding dengan isian yang lain.

Makanan berikutnya yang saya jajal adalah pallubasa Makassar. Tidak ada yang spesial untuk yang satu ini karena pernah mencoba langsung di daerah asalnya, dan yang pesan kemarin tidak menggunakan buras maupun nasi putih melainkan ketupat yang menurut saya agak keras, karena mungkin terlalu padat.

Kuahnya enak. Bumbu-bumbunya terasa pas. Hanya saja yang kemarin itu sudah agak dingin, mungkin si penjual lupa untuk memanaskan kuahnya. Jadi terasa kurang segar saja.

Soto Pindang Iga dari Sumatera Selatan

Nah, yang terakhir ini adalah sang juara umum. Soto Pindang Iga layak diganjar sebuah gelar ‘Kuliner Indonesia Terbaik’ yang ada di Festival Jajanan Bango 2018 versi saya.

Soto pindang iga selayaknya perkawinan dua kultur yang rasa-rasanya tidak mungkin bisa disatukan. Akan tetapi ketika sudah diikat janji atas nama agama dan pemerintahan, justru menjadi keluarga yang amat harmonis.

Selama ini masakan pindang identik dengan ikan patin. Sementara iga yang familiar adalah iga bakar karebosi dari Makassar. Ketika disatukan jadilah sebuah kenikmatan yang rasanya sulit untuk ditolak keberadaannya.

soto pindang iga palembang

Mohon Maaf Pemirsa Kalau Penampakan Soto Pindang Iga dari Palembang Ini Rada Berantakan. Akan Tetapi Percayalah Kalau Ini Enak

Secara keseluruhan tidak ada yang berbeda dari pindang ikan patin. Kuahnya segar, gurih dan berminyak, pedas, cabai yang digunakan besar, dan meresap ke seluruh bagian iga.

Seporsi soto pindang iga dibandrol dengan harga Rp35 ribu. Di dalam mangkuk tersebut berisi tiga iga dengan ukuran berbeda-beda. Dari yang kecil, sedang, sampai yang besar banget. Pembeli dikasih dua pilihan, mau yang presto atau goreng. Saya pilih campur.

Walaupun saya sedih karena tidak menemukan potongan nanas yang segar, tapi termaafkan dengan keberadaan daun kemangi yang digoreng.

Festival Jajanan Bango 2018 di Makassar

Festival Jajanan Bango 2018 yang diadakan di Park and Ride Thamrin 10 Jakarta memang sudah usai. Namun, kebahagiaan ini masih berlanjut di Makassar pada Sabtu (5/5) dan Minggu (6/5).

Menu di Makassar banyak mengangkat kekayaan lokal dari Sulawesi Selatan dengan beberapa ‘bintang tamu’ dari luar Sulsel… — Mas Arie Parikesit

Masyarakat di sana bisa merasakan keseruan sebuah pameran kuliner tersebar untuk merayakan momen 90 tahun Bango melezatkan masakanan Indonesia.

festival jajanan bango 2018 jakarta

Fasilitas Festival Jajanan Bango 2018 di Jakarta Cukup Lengkap. Semoga di Makassar Jauh Lebih Lengkap Lagi

Kemungkinan besar FJB 2018 di Makassar sama persis dengan di Jakarta. Selain tenan-tenan makanan, pengunjung bisa singgah di Kampung Bango untuk melihat proses pembuatan kecap dalam bentuk galeri ‘Warisan Kuliner Nusantara’.

Tidak hanya pembuatan kecap, galeri Warisan Kuliner Nusantara ini dibuat bagi para pengunjung yang ingin tahu beragam kisah penjaja kuliner nusantara. Dengan begitu pengunjung bisa menghargai kuliner Indonesia. Siapa tahu di tahun-tahun mendatang makanan dari Indonesia mendapat pengakuan internasional sebagai makanan paling enak di dunia.

Siapa tahu teman-teman di Makassar seberuntung pengunjung Festival Jajanan Bango 2018 di Jakarta, yang bisa bertemu dengan malika. Itu lho si kedelai hitam yang dirawat dan dijaga sungguh-sungguh untuk menghasilkan kecap Bango berkualitas. Nanti kalian akan tahu proses lahirnya malika ini.

Galeri ini bisa ‘disulap’ menjadi sarana edukatif untuk buah hati tercinta. Biar anak memahami bahwa negerinya ini begitu kaya makanan-makanan enak.

Teman-teman di Makassar bisa mengintip daftar makanan di situs ini. Sejauh ini masih kosong. Maka itu sering-sering dibuka. Atau ikuti ikuti Instagram @WarisanKuliner dan Facebook Bango Warisan Kuliner.

festival jajanan bango 2018 di makassar

Teman-teman Makassar Jangan Sampai Ketinggalan Festival Jajanan Bango 2018

Di Balik Layar Festival Jajanan Bango 2018

Selain jajan soto, banyak jajanan lain yang saya beli. Habis enak-enak banget. Berikut foto-fotonya;

festival jajanan bango 2018 bacang

Jajan Bacang 3 in 1 di FJB 2018 Rekomendasi Mas Arie. Harganya Rp35 ribu tapi isinya lengkap dan porsinya besar. Isinya ada telur asin, ayam, dan daging

 

fjb 2018 ayam geprek dabu dabu lilang

Ayam Geprek Dau-Dabu Lilang. Enak sih Tapi Kurang Nendang Pedasnya. Kirain Kalau Dabu-Dabu Itu Bakal Segar dan Pedas, Kalau yang Ini Pedas Doang

 

banyak jajan di fjb 2018

Sisa voucher Rp100 ribu dari Mas Arie Aku Belikan Pempek Megaria, Bola-Bola Ubi, Seblak, Klapetart, Bacang. Semringah

 

 

Jadi Kangen Berat Sama Pekerjaan yang Anak IT Banget

Sudah mau enam tahun saya menekuni pekerjaan sebagai jurnalis media daring. Sebuah profesi yang tidak semestinya dilakoni oleh seorang anak IT. Namun, kamu perlu tahu, dulu saya pernah bercita-cita menjadi wartawan, tapi terpaksa banting setir. Saya jadi harus mendalami ilmu Teknologi Informasi (TI) di jurusan Sistem Informasi (SI) selama lima tahun.

Tidak sedikit teman-teman kuliah yang mempertanyakan pilihan jalan hidup saya ini. Masa anak IT jadi jurnalis? Menurut mereka seharusnya lulusan IT bekerja ngoprak-ngoprek jaringan bukan tulisan. Juga lebih memperdalam bahasa pemrograman bukan bahasa Indonesia. Kemudian mengartikan PHP sebagai PHP: Hypertext Prepocessor bukan pemberi harapan palsu.

Memang salah kalau saya lebih memilih berkecimpung di dunia ini? Tidak, kan? Mereka tidak tahu kalau saya sempat bekerja sesuai jurusan. Setiap hari berurusan sama coding. Hanya saja hal itu tidak berlangsung lama. Cuma dua atau tiga bulan. Alasan resign sederhana karena saya tidak betah kalau harus duduk lama-lama tanpa ada interaksi satu sama lain.

Kangen juga sebenarnya mempelajari kembali ilmu yang saya dapat di kampus dulu. Semula saya memang membenci pilihan tersebut tapi lambat laun saya menikmatinya. Terbukti dari nilai-nilai yang saya peroleh, tidak ada yang harus saya ulang di setiap semesternya.

Sempat ada keinginan untuk balik menekuni profesi yang anak IT banget. Namun, lebih baik saya pendam hasrat tersebut, fokus sama yang sudah saya raih sekarang. Lelah rasanya harus memulainya dari awal lagi. Meskipun sudah banyak tutorial yang dapat saya pelajari dari Youtube.

Kemudian keinginan itu tahu-tahu muncul lagi. Saat saya menghadiri sebuah diskusi, undangan seorang teman. Pembahasannya tentang sebuah inovasi teknologi untuk melindugi data dari serangan siber.

Ada sejumlah sosok di dalam diskusi itu yang membuat saya terkesima. Orang pertama adalah Patrick HOUYOUX. Om-om kece berkebangsaan Belgia sang pendiri PT Sydeco (sebuah perusahaan di Yogyakarta yang berfokus pada bidang keamanan internet).

Suka duka jadi anak IT

Om Patrick bercerita banyak soal kariernya. Termasuk langkah besar yang dia ambil untuk menjadikan Sydeco sebuah perusahaan yang fokus pada keamanan untuk segala aktivitas melalui internet.

PT yang berdiri pada Desember 2013 ini mula-mula berfokus pada pengembangan situs dan desain grafis. Akan tetapi Patrick menyadari bahwa zaman sudah semakin modern dan maju, kebutuhan akan hal itu semakin menipis, karena pasti banyak perusahaan yang bergerak di bidang serupa.

Cerita om Patrick ini membuat saya mengingat kembali masa-masa menjadi anak IT di semester akhir perkuliahan. Saat itu, seluruh mahasiswa tingkat akhir yang mau sidang strata satu (S1), harus melakukan Penulisan Ilmiah (PI) terlebih dahulu. PI ini setara dengan Diploma tiga (D3). Apabila selesai sidang S1 mau langsung kerja, bisa menggunakan transkip dan sertifikat PI ini. Sembari menunggu transkip keseluruhan nilai S1.

presiden direktur PT Sydeco yang mempekerjakan anak IT

Ini lho sosok Om Patrick, Presiden Direktur PT Sydeco saat menjelaskan latar belakang perusahaan dan inovasi yang mereka temukan, termasuk Archangel dan SST yang dikembangkan anak IT dari Yogyakarta.

Judul PI yang saya ajukan ke dosen pembimbing dan akhirnya disetujui adalah Pembuatan Situs Tutorial UAN Setingkat SMA. Saya sendiri yang mendesain situsnya untuk kemudian saya kembangkan menggunakan PHP. Sulit memang tapi seru. Waktu itu rasanya bangga menjadi anak IT.

Seorang teman yang pernah mengajak saya bekerja di perusahaan pengembangan situs dan desain grafis juga pernah bercerita, perusahaannya berubah haluan, fokus pada jaringan dan LAN, tidak lama setelah dia masuk. Kalau tidak salah di kisaran tahun 2012.

Jadi, saya rasa, sudah benar langkah om Patrick untuk membawa bendera baru di kapal yang dia nakhodai. PT Sydeco pun akhirnya meluncurkan produk pertamanya, Secure System of Payment (SSP) pada 2016. Melalui sistem ini, semua transaksi mobile akan diamankan dari serangan siber dan aktivitas para hacker (peretas).

Selang dua tahun kemudian, di acara yang saya hadiri ini, om Patrick memperkenalkan dua teknologi anyar yang berfungsi melindungi data internet, yaitu Archangel dan Secure System of Tranmision (SST). 

Salah satu timnya anak IT dengan IQ 150

Dua teknologi mutakhir yang bekerja secara bersamaan ini diciptakan melalui serangkaian riset mendalam, dibarengin dengan meneliti berbagai kasus pencurian dan pembobolan data yang pernah terjadi. Baik di media sosial seperti Twitter, Facebook, WhatsApp, termasuk kasus besar seperti pembobolan 4,93 juta akun Gmail, 500 juta akun Yahoo, dan 68 juta akun dropbox.

Yang paling membanggakan, saat om Patrick memperkenalkan tiga orang anak IT yang ikut terlibat di dalam pengerjaan Archangel dan SST. Bahkan salah seorang di antaranya diketahui memiliki IQ 150. Dua orang di antaranya, Rizal Hendra Wardana (si pemilik IQ 150) dan Septian Yudha Sahanaya, diberi waktu memperkenalkan bayi yang baru saja lahir dari rahim PT Sydeco.

Nah, permasalahan untuk memahami kedua teknologi itu terjadi pada sesi ini. Maklum, anak IT tidak pernah dapat mata kuliah public speaking. Omongan mereka sulit dipahami karena kagok berbicara di depan banyak orang.

Sama kayak saya. Waktu sidang PI, berhadapan sama tiga orang penguji rasanya kayak lagi nyanyi di atas panggung Indonesian Idol sambil dilihatin sama BCL yang lagi melintirin ujung rambutnya. Keringat dinginnya bukan cuma di kepala, tapi sampai ke area-area yang tidak pantas untuk saya sebutkan di sini.

Saya jadi berpikir, seharusnya anak IT itu mendapat ilmu public speaking di mata kuliah soft skill. Agar kami tahu caranya berbicara tanpa rasa grogi, dan tampil lebih percaya diri menyampaikan materi yang sudah dibuat.

Dulu ilmu yang saya dapat dari mata kuliah soft skill adalah membuat blog dan mengisinya dengan konten-konten terkait jurusan masing-masing. Itulah ikhwal saya mulai ngeblog. Kira-kira tahun 2006 apa 2007. Kalau dihitung-hitung sudah satu dekade saya meramaikan jagad dunia maya.

Terkait materi yang disampaikan dua orang anak IT kepercayaan om Patrick itu, sebenarnya bukan sesuatu yang sulit dijelaskan. Buktinya, salah seorang dari tim PR yang menangani acara tersebut, bisa menjelaskannya dengan bahasa yang mudah.

Inti dari materi yang mereka sampaikan, kurang lebih menyorot soal keunggulan masing-masing produk. Berupa kemampuannya dalam menggunakan machine learning untuk menganalisis berbagai tipe serangan yang terjadi, sekaligus menyiapkan pertahanan untuk serangan di kemudian hari.

Archangel dan SST dikerjakan anak IT dari Yogyakarta

Begitu diskusi selesai, saya yang masih penasaran proses kerja dan pembuatan Archangel dan SST ini, langsung menghadang anak IT yang memiliki IQ 150 itu.

Saya pikir, obrolan jadi sedikit mencair setelah eye to eye. Ternyata saya salah. Kaku yang Rizal tonjolkan di atas panggung masih terbawa sampai lampu sorot sudah dimatikan.

Atau jangan-jangan dia grogi? Grogi karena Rizal mengira sedang mengobrol dengan mbak-mbak cantik bak model Jakarta Fashion Week? Sebab dia menyapa saya dengan ‘mbak’, padahal pada hari itu pakaian saya dapat memantulkan aura ke-cowok-an saya.

Atau sebenarnya ada kaitannya dengan IQ setinggi itu? Biasanya orang jenius kagak pintar ngomong tapi langsung praktik. Saya jadi bingung sendiri.

Oke, lupakan soal itu, balik ke fokus awal. Mengenai IQ, Rizal tidak terlalu percaya sama hal-hal seperti ini. Bagi dia, IQ itu cuma angka, tapi tidak bagi saya.

Mama saya pasti bangga banget kalau tahu IQ anaknya ini sebesar itu. Buah hati yang di semasa kecil sering dipandang sebelah mata, kerap diejek sapi, dan jarang diajak main petak umpet karena pasti akan mudah ketahuan, ternyata memiliki kepintaran sejajar Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, dan Newton.

“Buat saya adalah niat. IQ itu belakangan,” prinsip hidup yang Rizal terapkan selama ini.

Archangel dan SST

Menyinggung soal Archangel dan SST, Rizal yang merupakan Kepala Research & Development PT Sydeco, menekankan bahwa sang pemilik ide adalah om Patrick. Bersama Septian Yudha Sahanaya dan Bayu Kurniawan sebagai developer, ditugaskan mengembangkan dua teknologi tersebut. Setiap ada ide untuk kemajuan pembuatan teknologi ini, selalu didiskusikan bareng-bareng, baru setelah mendapat izin, langsung eksekusi.

Archangel adalah kotak pintar (smart box) yang berfungsi untuk meyaring seluruh lalu lintas data yang akan masuk ke jaringan, baik melalui kabel maupun nirkabel. “Ibarat sebuah perumahan, Archangel ini adalah satpam. Segala sesuatu yang akan masuk ke dalam komplek, akan diperiksa secara menyeluruh oleh satpam ini.”

produk yang dikembangkan anak it yogyakarta

Wujud dari Archangel dan SST yang dikembangkan anak IT Yogyakarta dari PT Sydeco milik om Patrick

Cara kerjanya, setiap data yang diperkirakan jahat, dicegah untuk masuk. Nanti machine learning yang terdapat di dalam kotak itu, akan menganalisis pola serangan yang belum pernah ada sebelumnya dan mencegah serangan tersebut sebelum masuk ke jarangan.

Soal SST, proses pengerjaannya sendiri memakan waktu satu tahun. Terhitung cepat karena untuk mengerjakannya, Rizal dibantu juga oleh tim yang solid. Sehingga proses pengerjaan berjalan lebih cepat.

Dalam proses penyempurnaan sebuah sistem keamanan data yang memiliki ‘dua agen’ cerdas’ di titik pengirim dan penerima yang berfungsi melindungi data (baik secara otomatis maupun on-demand) ini, Rizal, Septian, dan Bayu melakukan perbaikan-eror-perbaikan-eror sebanyak lebih dari 50.

Tiga Orang Anak IT Mempergunakan Dua Komputer

Dan yang menjadi ‘kelinci percobaan’ adalah dua komputer di kantornya. “Kami memasukkan banyak data, kemudian kami obrak-abrik sistem di dalamnya. Settingan salah, sistem eror. Settingan benar kemudian salah lagi, eror lagi. Begitu saja terus prosesnya selama satu tahun.”

Menurutnya, sistem ini cocok digunakan oleh mereka yang memiliki usaha online shop. Seperti diketahui bahwa salah satu akun di Instagram yang sering kena retas adalah milik mereka.

Mengapa? Agen pengirim pada SST akan mengubah data ke dalam gelombang dan warna berbeda-beda bergantung pada isi data tersebut, sementara agen penerima akan mengubah kembali data ke bentuk awal. Ketika terjadi pencegahan data, atau pengiriman data ke tujuan yang salah, data secara otomatis akan hilang.

anak it lagi

Kasubdit 4 Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu (paling kanan) berfoto bersama (kanan ke kiri) Presiden Direktur PT Sydeco Patrick Houyoux, Kepala Research & Development PT Sydeco Rizal Hendra Wardana, serta Septian Yudha Sahanaya dan Bayu Kurniawan sebagai developer dari Archangel dan SST berfoto bersama dengan produk Archangel dan SST.

“SST ini bisa melindungi berbagai bentuk data, termasuk percakapan telepon.”

Kalau para pengguna masih bingung, andai mengetahui sistemnya kena retas, yang membuat komputer rusak, segera hubungi Rizal. Tim akan mengirimkan data yang diretas itu.

Masih bingung juga sama penjelasan di atas? Maaf deh. Harap maklum, saya ‘kan anak IT juga. Coba cari di Google mengenai dua teknologi itu biar lebih jelas. Ok?

 

Review Film Surat Cinta Untuk Starla The Movie : No Comment, ah!

Tidak ada yang salah dengan film Surat Cinta Untuk Starla. Kalau ada yang bilang jelek, coba tanyakan berapa umurnya. Apabila mendekati kepala tiga kayak saya atau lebih, anggap penilaian tersebut dilandasi rasa iri tidak bisa kayak Hema Chandra (Jefri Nichol), di masa-masa pacaran dulu.

Kecuali, jika suara sengau tentang film besutan Rudi Aryanto terdengar dari bibir penonton belia. Baru deh pikir-pikir lagi menonton film Surat Cinta Untuk Starla.

Baca juga: [Review Film Susah Sinyal] Susah Menentukan Abe atau Aji

Film yang diangkat dari lagu Virgoun dengan judul yang sama, hadir dengan premis yang sangat amat sederhana. Di saat anak-anak usia tanggung bisa menikmati film ini sampai akhir, yang tua malah dibuat mikir.

Di zaman netizen punya pengaruh besar terhadap keberlangsungan hidup seseorang, rasa-rasanya sulit menemukan sosok seperti Hema. Hema selalu menenteng mesin tik ke mana pun dia pergi. Dia cuek saat menggunakan mesin penyusun huruf itu di coffee shop, seolah ingin menggambarkan berani beda itu keren, cui!

Hema tak mengindahkan pandangan orang-orang fakir kuota yang melirik sinis ke arahnya. Bagi Hema, mesin tik adalah dunianya, nyawanya, sekaligus harta tak ternilai harganya.

review film surat cinta untuk starla the movie

Salah Satu Adegan di Film Surat Cinta untuk Starla the Movie yang Bakal Bikin Penonton Remaja Histeris Baper (Dok: Saluran Youtube Screenplay)

Berkat mesin tik itu jugalah Hema bisa mengembalikan pasokan energi setelah kejar-kejaran sama polisi. Hema ini ceritanya anak street art gitu. Kerjaannya setiap malam, mencoret-coret dinding kolong fly over atau jembatan, tapi nasibnya selalu sial.

Hema seperti tidak butuh minum untuk mengganti cairan yang hilang dari dalam tubuhnya. Cukup dengan memainkan papan tuts mesin tiknya, staminanya ada lagi. Air kemasan yang ada di dalam mobil tuanya, Hema pergunakan hanya untuk kumur-kumur setelah gosok gigi sambil menyetir.

Pernah sekali beli air putih dalam kemasan di swalayan. Bukannya habis karena diminum, malah terbuang sia-sia oleh perempuan yang mengaku sebagai pacarnya, yang tak terima diputusin sepihak. Baru diminum sedikit, air itu sudah keburu disiram ke wajah Hema.

Surat Cinta Untuk Starla, Cinta yang Terbentuk Setelah Enam Jam

Berkat mesin tik jadul warisan kakeknya yang seorang jurnalis politik, Hema jadi kenal dengan Starla (Caitlin Halderman). Dari perkenalan dan pertemuan selama enam jam di malam nahas bagi Hema, juga buat Starla yang akhirnya putus sama tunangannya, membuat kedua cucu Adam dan Hawa ini semakin dekat dan akhirnya aku-kamuan. Walaupun jadian mereka tanpa proses penembakan.

Mungkin bagi Starla, dengan Hema mau mengantarkan dia ke mana saja, itu sudah cukup untuk menguatkan status hubungan mereka.

Starla tak butuh waktu lama untuk move on dari mantannya. Starla merasa bersyukur, kejadian yang dia alami bersama Hema pada malam hari itu, bisa membuatnya terbebas dari kungkungan pacar yang super posesif. Starla lelah menghadapi cowok yang begitu cepat mempercayai sebuah gosip, hanya lewat sebuah foto yang disebar oleh teman terdekat mereka.

Secara perlahan tapi pasti, Hema mulai membawa Starla ke dalam dunianya yang seru dan berwarna. Hema juga mulai memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Seorang pecinta alam, yang beranggapan bahwa orang-orang yang suka buang sampah sembaranganlah yang layak untuk dikejar-kejar aparat, kemudian dijebloskan ke penjara. Bukan malah dia.

Bagi Hema, melukis mural berupa gambar maupun quote-quote yang bikin baper, bukan perilaku merugikan. Justru tindakan itu adalah sebuah upaya dari anak muda, ikut “membantu” pemerintah memperindah Ibu Kota yang carut-marut ini.

Di saat hati sudah saling berlabuh, Starla masih mempertanyakan, apakah benar seseorang bisa jatuh cinta padahal baru mengenal selama enam jam?

Starla, sini kakak beritahu. Dulu ada seorang laki-laki yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Kurang dari enam jam, dia berani bilang telah jatuh cinta dengan sosok yang dia lihat itu. Mereka berkecimpung di dunia yang sama.

Keduanya berkenalan, berteman, dan akhirnya dekat. Laki-laki ini merasa nyaman dengan sosok tersebut. Hari-hari yang laki-laki itu lalui terasa sangat indah. Ya, walaupun pada ujungnya, harus mengalami hal yang sama kayak kamu. Harus siap menerima kenyataan bahwa orang yang dia percaya, dia sayang, dan dia cinta yang justru merobek-robek perasaannya. Perih.

Kamu mesti bersyukur, Starla. Kamu mudah melampiaskan amarah kamu. Sedangkan laki-laki itu, hanya memendam amarah di dalam dirinya, yang membuatnya jadi mengalami Psikosomatis.

Surat Cinta Untuk Starla, Film yang Terpaksa Dibuat?

Film Surat Cinta Untuk Starla sengaja dibuat bukan untuk menjaring penonton usia tua. Ini terlihat dari alur cerita yang dibuat loncat-loncat.

Buat mereka yang sudah menonton versi web series, kemungkinan besar tidak akan sulit mengikuti seluruh rangkaian cerita di film. Namun, buat yang belum nonton, pasti akan bingung di beberapa bagian.

Semisal adegan pendekatan antara Hema dan Starla di malam itu. Adegan tersebut tidak diperlihatkan secara gamblang, hanya sepotong-sepotong saja. Padahal, adegan itu perlu ada supaya kisah di film Surat Cinta Untuk Starla terasa lebih utuh.

review surat cinta untuk starla

Ngapain Hema dan Starla Pelukan di Atas Gedung Begitu. Tonton Surat Cinta Untuk Starla Supaya Tahu Jawabannya

Meskipun setelah saya tonton sampai habis, ada baiknya memang Surat Cinta Untuk Starla ini berhenti sampai di web series saja. Bukan apa-apa. Sayang aja, sinematografi yang bagus dan departemen akting yang menjanjikan, tidak didukung dengan penggambaran cerita yang baik. Malah terkesan “asal jadi”.

Pembuat cerita seperti kebingungan mau membawa film Surat Cinta Untuk Starla ini ke arah mana. Masih bermain di zona nyaman seperti film-film terdahulu, atau mau tampil beda.

Munculnya konflik antara Hema dan Starla yang secara tiba-tiba, malah membuat penonton, dalam hal ini saya sendiri, geleng-geleng kepala.

“Fix, film ini terinspirasi Ayat Ayat Cinta 2 digabungin dengan Dear Nathan!,” kata saya dalam hati.

Kesan “asal jadi” itu juga terlihat dari sejumlah karakter yang dipaksa ada. Mau ada mereka atau tidak, film ini akan tetap monoton. Mereka yang dipaksa ada itu, sengaja dimunculkan untuk memberikan nuansa komedi, yang sayangnya gagal dieksekusi. Bukannya lucu, malah segaring kerupuk yang dimakan Hema bersama seporsi nasi goreng saat sarapan bersama Starla.

Dari awal, karakter pacar Starla tak pernah diperlihatkan. Dalam bayangan saya, laki-laki yang berani menyebut pacarnya sebagai ABG alay dan murah itu adalah sosok yang gahar. Andai saja sosok itu muncul dan ribut dan Hema sampai berdarah-darah, saya jamin film ini jadi sedikit baik.

Namun, setelah pemuda beler itu muncul di depan rumah Starla untuk meminta maaf, saya jadi semangat mendukung agar Starla cepat-cepat baikan sama Hema. Masa “digertak” pakai stick softball langsung ciut, njir!

Film Surat Cinta Untuk Starla Tidak Sepenuhnya Buruk

Banyak hal mengganjal di film Surat Cinta Untuk Starla yang saya jamin tidak terlalu diperhatikan penonton muda. Koreksi saya jika salah. Hema digambarkan sebagai sosok pecinta alam, tapi di sisi lain, Hema tak bisa hidup tanpa mesin tik kesayangannya itu.

Saat kuliah dulu, saya harus membuat laporan akhir setiap praktikum menggunakan mesin tik selama delapan semester. Untuk mengetik teks dan sedikit coding saja, banyak kertas yang saya buang lantaran banyak yang salah.

Nah, Hema ini, kemampuannya memainkan mesin tik mengalahkan abang-abang rental di dekat kampus saya dulu. Bukan sekadar teks yang dia buat, melainkan sketsa wajah. Bayangkan jika Hema menggambar itu dalam keadaan tidak stabil. Berapa banyak kertas yang akan terbuang?

Apa ini ada kaitannya dengan sakit hati Hema terhadap kakeknya (dari ibu) yang dulu pernah terlibat dalam pembelalakan hutan? Entahlah.

Yang buat saya penasaran, berapa kali Hema membersihkan rumahnya? Sampai-sampai dia tak tahu ada barang yang berada di dekatnya, yang ternyata kunci untuknya menemukan ibu kandungnya yang selama ini menghilang.

review film surat cinta untuk starla

Adegan di Film Surat Cinta Untuk Starla yang Memperlihatkan Kepiawaian Hema Membuat Mural (Dok: Screenplay Production)

Setidaknya saat kita membersihkan perabotan rumah, kita angkat perabotan itu untuk membersihkan bagian bawah dan iseng membuka tutupnya. Sekadar lihat-lihat saja, siapa tahu ada hartu karun, kan?

Saya pribadi baru bisa menikmati film Surat Cinta Untuk Starla ini begitu mendekati akhir. Saat Mathias Muchus beradu peran dengan Yayu Unru dan Rizky Hanggono. Itu pun tak lebih dari tiga menit. Setelah itu, kembali lagi kayak semula, dialog terkesan maksa, dan penyelesaian konflik yang sengaja dibuat cepat.

surat cinta untuk starla

Banyak Tempat-Tempat Menarik Diperlihatkan di Sepanjang Film Surat Cinta Untuk Starla. Gambarnya Bagus-bagus Banget.

Meriam Bellina, berperan sebagai mamanya Starla, melakoni perannya sebagai perempuan campuran Sunda-Belanda dengan sangat baik.

Sementara Jefri Nichol, tidak bisa dibilang sepenuhnya buruk. Aktingnya oke. Di film Surat Cinta Untuk Starla ini Nichol kembali membuktikan, dia adalah seorang chemistry maker. Hanya saja, aktingnya bersama Caitlin Halderman mudah dilupakan. Tidak seperti saat dia berperan sebagai Nathan (Dear Nathan, 2017) dan Alvaro (A: Aku, Benci, Cinta, 2017).