Alasan Jadikan Eat and Eat Food Market Tempat Nongkrong Favorit

Eat and Eat – Food Market yang ada di lantai 5 FX Sudirman adalah tempat nongkrong favorit saya dan teman-teman jurnalis lain jika lokasi liputan dekat atau memang berada di kawasan Sudirman. Enaknya jadi jurnalis seperti itu, jika malas balik ke kantor, pulang liputan bisa cari tempat yang nyaman untuk ketik berita. Tentu enak buat kumpul-kumpul juga.

AC yang dingin. Kursi yang empuk. Colokan di mana-mana. Tidak salah jika kami betah berlama-lama di Eat and Eat – Food Market

Eat and Eat ini pada dasarnya adalah food court dengan konsep yang modern dan unik. Pertama kali dibuka pada 15 September 2008. Selama delapan tahun sudah memiliki 13 cabang. Cabang terakhir adalah Eat and Eat – Food Market di One Belpark Fatmawati pada Kamis (7/1/2016)

Ada sejumlah alasan kami menjadikan Eat and Eat – Food Market sebagai tempat nongkrong favorit:

1. Cocok buat orang-orang yang kalau ditanya mau makan di mana jawabnya terserah. Pergi beramai-ramai kerap membuat kita bingung menentukan tempat makan yang cocok buat semuanya. Apalagi kalau kelamaan mikir karena mikirin harganya. Harga seluruh makanan di Eat and Eat – Food Market ini sesuai dengan kantong kaum-kaum yang jumlah saldo di rekening tidak lebih besar dari jumlah followers Raditya Dika ketika memasuki pertengahan bulan.

2. Kursinya empuk. Jumlah mejanya banyak. Ada colokan di setiap sudutnya. Sinyal Wi-Fi di sini memang hidup segan mati ogah, tapi kalau pakai jaringan 4G apalagi 4Gplus dari IM3 Ooredoo, lancar kayak sepanjang jalan Kuningan ketika lebaran hari ke-2. Jadi, kirim-kirim berita berjalan lancar.

3. Masalah kebersihan jangan ditanya. Bersih banget. Kerja petugas kebersihan cekatan sekali. Pelayannya juga ramah-ramah.

4. Konsep interior masing-masingcabang dirancang khusus untuk para pecinta kuliner. Seperti sebutannya ‘Creating Food Adventure’, semuanya dikemas dalam suasana santai, khas, unik, dan penuh petualangan. Pun cabang ke-13 dari Eat and Eat – Food Market di One Belpark Fatmawati, pengunjung bisa menemukan konsep yang berbeda. Bergaya arsitektur di pusat-pusat kota Eropa dengan taman-taman kecil yang menggambarkan suasana street market atau shooping street di Eropa.

Kurang lebih Pak Bondan mengatakan, jajanan pasar yang ada di Eat and Eat Food Market One Belpark Fatmawati dan seluruhnya sudah disesuaikan dengan lidah orang Jakarta

5. Paling penting makanannya. Bermodalkan kartu prabayar yang harus kita isi, kita bebas memilih makanan apa saja. Mulai dari makanan khas barat, timur tengah, china, tradisional Indonesia seperti soto betawi, mie medan, bakmie kepiting pontianak, sampai jajanan kaki lima seperti asinan juhi, cakue, siomay, tahu gejrot, wedang, kue cubit, pancake durian.

Khusus di Eat and Eat – Food Market One Belpark Fatmawati, menyajikan lima menu baru tradisional yang tidak ada di cabang lainnya. Seperti nasi Aceh, lontong Medan, bebek Madura, soto mie Bogor, dan masakan Nusantara. Karena ke lima ‘warung’ ini saat peluncuran hari itu ramai sekali dan kebetulan pula saya sudah lapar sekali, pilihan jatuh pada nasi khas Bali. Rasanya pas. Begitu juga porsinya. Kurangnya satu, sambalnya tidak pedas.

Kekurangan dari menu nasi komplit khas Bali ini cuma satu, sambalnya tidak pedas. Masa iya saya kudu gigit lidah sendiri?

Jus kedondong kayak ketiak pacar. Asam-asam kecut bikin ketagihan. Maksa!😦

Yang berhasil mencoba menu terbaru itu adalah kak Sabai dan simbok Venus. Mereka berdua jajal lontong Medan. Kalau lagi kumpul sama teman-teman jurnalis, makanan yang paling sering kami pesan adalah cakue dan jus kedondong.

Lontong Medan yang dipesan simbok Venus. (foto milik simbok Venus)

6. Pelaku diet kayak saya tidak perlu khawatir jika diajak meeting atau kencan di Eat and Eat di mana saja. Seperti di FX Sudirman, ada sejumlah ‘warung’ berisi menu makanan yang dapat disebut sehat. Sayur-sayuran rebus. Gado-gado juga ada. Kurang lengkap jika tak ada buah? Di sini juga tersedia buah. Coba cek menu makanan kak Rere di blognya, dia pesan buah-buahan segar.

7. Letaknya strategis. Di FX Sudirman berdekatan dengan musholla. Bisa nongkrong lama tanpa meninggalkan ibadah. Sedangkan di Eat and Eat – Food Market One Belpark Fatmawati, satu lantai dengan tempat bermain anak-anak. Capai habis main-main, ajak makan di sini, deh.

Kayaknya cukup tujuh saja. Kalau kalian punya alasan lain ‘menjadikan Eat and Eat – Food Market sebagai tempat nongkrong’ favorit, boleh di-share di kolom komentar.😉

Tidak Pernah Mau Gerakin Leher Sampai Terdengar Bunyi Krek!

Kejadian nahas yang menimpa Allya Siska Nadya, 33 tahun, terduga korban pengobatan gelap salah satu klinik chiropractic membuat saya semakin awas. Saya tidak akan pernah membiarkan tukang cukur atau siapa saja memijat lalu menggerakan leher saya ke kanan dan ke kiri sampai muncul bunyi krek. Rupanya, dua kasus yang terlihat berbeda punya satu kesamaan: gerakin leher sampai terdengar bunyi krek itu bahaya.

Baik itu tukang cukur di bawah pohon rindang, tepi jalan, sampai tukang cukur berpengalaman di barber shop yang terletak di dalam mall pasti akan menawarkan ‘jasa’ meringankan beban di kepala kita, bukan? Sebagian orang senang melakukannya. Sedangkan saya selalu menolak tawaran itu. Cukup dipijat saja. Begitu juga saat saya potong rambut usai menjalankan Tawaf ibadah umrah setahun lalu.

Saya menolak karena saya trauma. Setelah melihat sendiri salah seorang teman satu SMP di Kepulauan Riau yang lehernya sulit sekali dikembalikan ke posisi normal setelah diputar-putar lalu terdengar bunyi krek. Meski kata banyak orang kepala jadi lebih ringan dan tidur di malam hari lebih nyenyak tetap saja saya takut.

Kasus Allya yang baru heboh tiga hari lalu mengharuskan saya menghubungi sejumlah dokter ortopedi, bedah saraf, dan dokter spesialis tulang lainnya. Banyak informasi yang saya terima. Selain metode chiropractic yang ternyata belum layak disebut sebagai pengobatan medis, kasus ini tidak dapat disebut malapraktik, saya juga diberitahu bahwa bunyi krek menunjukkan telah terjadi manipulasi pergerakan sendi secara berlebihan.

https://www.youtube.com/watch?v=tQjqtupgUck

Kayaknya enak banget gerakin leher sampai terdengar bunyi krek. Kepala jadi terasa ringan, katanya. Padahal itu bahaya

 

Informasi terakhir itu saya dan teman-teman jurnalis kesehatan lainnya dapatkan dari secarik keterangan pers dari dokter spesialis bedah saraf TNI AU dengan kompetensi di bidang spine (tulang belakang), Dr. dr. Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP yang kami terima via surat elektronik pada Sabtu (9/1/2016)

Memang tidak terjadi dislokasi atau patah tulang leher pada pelanggan yang suka melakukan itu sehingga tidak mengalami kejadian apa-apa. Namun, jelas dr Wawan, semakin sering menggerakan leher sampai terdengar bunyi krek, baik itu dilakukan oleh orang lain atau dengan tangan sendiri, sendi leher bisa semakin melemah dan dapat menyebabkan instabilitas tulang leher di kemudian hari yang bisa sebabkan nyeri leher kronis yang sering timbul ketika usia semakin menua.

Leher adalah salah satu bagian tubuh dengan struktur anatomi yang cukup kompleks, banyak ragamnya, dan memiliki fungsi yang sangat vital. Menurut dia, risiko kematian intai mereka yang terlalu sering menggerekan leher secara berlebihan. Sebab, di dalam leher terdapat beragam organ dan fungsi yang sangat penting. Ada kelenjar tiroid yang menyimpan hormon tiroid, ada trakea yang merupakan saluran masuk udara dari mulut ke hidung ke bronkus lalu masuk ke paru-paru. Tak ketinggalan pembuluh darah utama ke dan dari otak. Itu baru bagian depan saja.

Bagian belakang terdapat struktur tulang belakang bagian leher. Di dalamnya ada sumsum tulang belakang dan pembuluh darah ke otak bagian belakang. Saking pentingnya, tak salah jika ada yang menyebut leher adalah ‘jembatan kehidupan’ antara kepala dan tubuh bagian bawah.

Ini juga yang melatarbelakangi mengapa hukuman mati yang masih lazim dilakukan hingga saat ini adalah hukuman gantung dan hukuman penggal leher. Itu karena keduanya menjadikan leher sebagai area tercepat di tubuh untuk bisa mematikan terpidana mati tersebut.

Beliau berpesan, siapa saja yang mempunyai masalah nyeri leher, nyeri punggung, atau nyeri pinggang apa pun penyebabnya; kaku otot, saraf terjepit, skoliosis, kifiosis, dan lain-lain, dianjurkan mendatangi ahli profesional yang terdidik di rumah sakit pendidikan kedokteran seperti spesialis saraf, spesialis bedah saraf, spesialis ortopedi, spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi.

Yang memijat wanita cantik juga tak ada gunanya

Terinspirasi dari iklan minyak kayu putih, dr Wawan mengatakan, untuk tubuh kita yang fungsinya sangat-sangat penting kok coba-coba?

Tak cuma saya yang dibuat bergidik karena penjelasan mereka. Si Kawan yang tidak mau bangkit dari kursi pangkas rambut jika lehernya belum digerakkan jadi berpikir ulang untuk mempertahankan kebiasaan itu. Kalian yang suka melakukan itu bagaimana menanggapi masalah ini?

Mungkin keinginan untuk mencoba sekali saja akan segera saya hilangkan. Kemarin-kemarin, setiap kali melihat ada orang gerakin leher sampai terdengar bunyi krek kayaknya beban jadi ringan banget, kali ini harus saya yakini bahwa cara seperti itu hanya merugikan diri sendiri.

#Curjek: Cerita Pengemudi Gojek Ketemu Kuntilanak

Jalanan sekitar Dharmawangsa yang padat menyebabkan saya harus order Gojek supaya cepat sampai di rumah. Untung di motor ada tempat menaruh goodie bag berisi alat olahraga dan susu dari Frisian Flag. Tas berisi laptop bisa diletakkan di tengah sehingga saya tak perlu takut jatuh. Yoga selama satu jam ditambah semilir angin Jumat malam itu menghasilkan rasa kantuk teramat sulit ditahan. Satu-satunya cara supaya tetap terjaga selama perjalan adalah ngobrol sama si abang Gojek.

Selesai Yoga di Yoga Union Bersama Frisian Flag Indonesia

Semesta menjawab keinginan itu. Tanpa perlu saya yang memulai, obrolan terjadi begitu saja. Semua bermula dari jalan tikus yang kami lalui supaya terhindar dari macet dan cuaca mendung. Keadaan masih sama. Sama seperti Abang Gojek lain yang mengira saya adalah anak gadis rumahan dan tidak biasa naik kendaraan umum.

“Dik, lewat jalan sini, nggak papa?,” menunjuk sebuah gang yang tampak sepi sekali. Hanya ada tiga remaja laki-laki yang sedang duduk di kursi panjang dekat pos ronda. “Silahkan, Bang,” jawabku. Gang ini adalah gang ke-empat.

“Permisii,” kata si Abang sambil membunyikan klakson sebagai tanda minta izin melintas di gang itu.

Si Abang seperti sudah biasa lewat jalan itu. Dia hapal harus belok mana saja. Setelah melewati tiga belokan, sampailah kami di jalan Radio Dalam. Di sebrang satu gedung dengan nama paling jorok itu.

“Adik berani juga lewat jalan gelap. Saya tadi takut adik bakal mengira saya bakal berbuat jahat,”

“He he he … Berani, bang. Kalau abang macam-macam, saya lawan!,”

Jelas saya berani. Pertama, saya cowok. Si Abang saja yang mengira saya cewek. Kedua, itu bukan kuburan. Ketiga, kalaulah sampai si Abang berbuat jahat, misal memerkosa, paling hanya timbul rasa penyesalan. Celana saya dibuka yang dilihat pedang juga sama kayak dia punya. Kecuali kalau dia gay. Meski begitu akan tetap saya lawan. Kalau ternyata dia gay berparas ganteng, saya pasrah. Tapi enggak di tempat gelap juga kali. Bisa keleus sewa hotel.

Kuping saya panas mendengar si Abang selalu bilang “Minta izin, dek,” setiap akan melintasi jalan tikus. “Kalau mau lewat, lewat saja, Bang. Kalau itu bikin jaraknya semakin dekat, silahkan. Kalau justru semakin jauh, paling saya tulis di aplikasinya,” jawab saya.

Rupanya, itu dilakukan si Abang karena baru saja mengalami hal nahas di malam sebelumnya. “Kemarin saya dan penumpang saya lihat kuntilanak dik, di daerah Pondok Cabe. Makanya tadi saya minta izin muluk,” kata si Abang mulai bercerita.

Ah, sial, kenapa harus ngomongin yang kayak begini? Begonya, saya malah penasaran.

“Oh, ya? Kok bisa? Gimana ceritanya, Bang?,”

Malam Jumat itu, sekitar pukul 11:00, si Abang harus mengantar penumpangnya ke daerah Pondok Cabe. Tak jauh dari perumahan yang dimaksud, mereka harus melewati sebuah jalan sangat gelap dan hanya ada pepohonan serta rawa-rawa.

“Dari kejauhan saya melihat seperti ada kain putih melayang gitu. Nyebrang dari pohon satu ke pohon yang lain,” kata si Abang.

Tak cuma si Abang yang melihat kain putih itu. Penumpang yang seorang karyawati bank juga melihatnya, “Pas kita mendekat, sosoknya semakin terlihat jelas. Eh, si Mbak menjerit ketakutan. Saya gas saja motor ini. Begitu sampai depan rumahnya, si Mbak malah pingsan.”

Si Abang mengaku kelimpungan. Dia harus mengangkat tubuh penumpangnya masuk ke dalam rumah lalu meletakkan di atas sofa. Sebelum pulang, si Abang harus duduk dulu karena terlanjur dibuatkan air minum. Di saat itulah dia diberitahu kalau ternyata daerah situ cukup angker.

“Mamanya penumpang saya itu yang cerita, kalau daerah situ memang angker. Sudah sering kejadian seperti yang saya alami. Tiga bulan yang lalu juga ada. Tapi yang kena bukan penduduk perumahan situ,” kata si Abang.

Karena cerita itu si Abang jadi kayak pembalap liar di BKT yang memperebutkan cabe-cabean begitu keluar dari komplek perumahan tersebut.

“Ha ha ha ha.. Abang takut jadinya? Yah, payah, kelihatannya saja sangar,” canda saya.

“Wesss.. Nggak dong, dek. Kalau saya takut juga, dua-duanya pingsan, dong? Nanti siapa yang angkat kami?,” bela dia.

Saya bilang saja ke dia kalau daerah rumah saya juga seperti itu. Gang untuk sampai ke perumahan saja hanya ada ilalang dan pohon-pohon cukup besar. Bahkan, ketika masuk ke dalam perumahan tempat tinggal saya, jumlah rumahnya tidak banyak. Masih banyak pohon-pohon.

“Masa sih, Dik? Masa daerah Bintaro ada yang seperti itu? Kan perumahan modern?”

Perumahan tempat tinggal saya memang ada embel-embel ‘Bintaro’. Bukan berarti seterang Bintaro di sektor-sektor itu. Jarak dari tempat tinggal saya ke Bintaro sektor 9 yang paling dekat saja sejauh 6 kilometer. Mana mungkin bisa sama toh?

Setiap kali saya pulang sama teman, naik taksi, atau diantar pulang naik mobil kantor, mama melarang saya masuk sebelum kendaraan mereka benar-benar sudah berada di luar perumahan kami. Si Kawan saja selalu saya kasih pesan untuk memberitahu kalau sudah sampai di jalan raya besar.

Tempat tinggal kami memang di pedalaman. Masih rawan. Saya sebut sebagai tempat jin aborsi. Dua tahun lalu, sebelum seramai sekarang, masih ada isu babi ngepet. Tetangga persis depan rumah pernah dirampok orang berilmu. Si bapak sadar ada orang yang melangkahi tubuhnya. Tapi dia sulit untuk teriak. Tubuhnya juga sulit diangkat. Baru setelah perampok itu pergi jauh, mulut dan tubuh si bapak berfungsi kembali. Dia harus rela kehilangan emas dan sejumlah uang.

“Adik ini Cuma mau nakut-nakutin saya saja, kan? Saya mah nggak takut, dek. Ini buktinya terang begini. Ada McD, ada Indomart, ada tukang buah juga,” kata si Abang sambil menunjuk tempat-tempat yang disebutkannya itu ketika kami sampai di perempatan duren. Sedangkan dari perempatan duren, jalan utama penghubung antara Jombang, Pasar Ciputat, Bintaro, dan UIN, masih cukup jauh untuk benar-benar sampai di rumah saya.

“Ih, si Abang nggak percaya. Kan saya yang tinggal di sini, Bang. Masa iya saya bohong. Apa untungnya buat saya?,” kata saya sambil mengabarkan mama kalau saya sebentar lagi sampai. Tolong buka kan pintu.

Tak lama kami sampai di depan gang utama. Dari situ saja sudah minim penerangan. Melihat situasi mencekam kayak begitu, si Abang tampaknya jiper.

“Benar, ih, kata si Adik. Ini mah beneran gelap,”

“Tuh kan, Abangnya nggak percaya, sih. Saya bilang juga apa,”

“Adik berani, ya,”

“Saya sudah biasa, Bang,”

“Tapi, Bang, saya saja nih, meski mengendarai motor, kalau sudah malam Jumat dan pulangnya larut, selalu minta ditemani ojeg langganan di stasiun. Abangnya suruh ngikutin saya dari belakang, saya bayar seperti biasanya,” cerita saya. Iya, saya selalu melakukan hal seperti itu.

Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam, motor jenis skuter otomatis warna kuning gejreng sampai di depan rumah. Setelah menyerahkan uang, muncul keinginan menjahilin si Abang Gojek.

“Seraman mana Bang sama daerah perumahan penumpang Abang itu?,” tanya saya.

“Hmmmm.. Yang sana, dek,” jawab dia.

“Yakin, Bang? Kemarin di sini ada babi ngepetnya, lho. Kata teman saya yang bisa lihat begituan, di sini juga ada,”

“Yakin, dik. Insha Allah aman-aman saja. Sudah yah, saya pulang,”

“Silahkan, Bang,”

Saya masuk ke dalam rumah. Saat mengunci pagar, terdengar suara klakson yang ditekan berkali-kali, biasa dibunyikan orang-orang ketika panik atau takut. Saya sering melakukan hal itu. Jadi tahu :p

Maafkan saya, Bang. Kapan lagi penakut bisa menakuti sama-sama penakut?

Begitu masuk ke kamar malah saya ketakutan. Tutup gorden, menyalakan AC dan teve, dan tidak lupa menyalakan lampu.😆

Semoga Abang Gojek itu tidak kapok!

Bikin Keramik di Rumah F Widayanto

Rupanya Depok menyimpan satu tempat liburan edukatif yang bisa kita kunjungi bersama si Kecil, adik, sepupu, keponakan, atau teman-teman satu geng. Tempat ini bernama Rumah Keramik F Widayanto.

Pekarangan sangat luas yang ditanami beraneka macam tumbuhan, beralaskan rumput, pepohononan rindang menambah kesan adem, sejuk dan teduh, belum lagi ada kamar yang bisa disewa jika mau, pengunjung dibuat tak percaya kalau sedang berada di Depok. Kota yang macetnya hampir sama seperti di Kebon Jeruk.

Meski namanya sama-sama berawalan ‘W’, tapi ini bukan Pak Widayanto. Ini Wayan. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Lima tahun tinggal jauh dari orangtua demi dapat gelar sarjana ilmu komputer (yang ternyata hanya dipakai selama dua tahun) di sana, tak pernah dengar satu orang pun ngomong kalau Depok punya tempat untuk rekreasi seayik Rumah Keramik F Widayanto ini.

Zaman itu, tempat piknik yang paling sering saya datangi bersama teman-teman kampus atau kosan, kalau nggak ke Dufan, Ancol, Kota Tua, ya mentok-mentok ke Kebon Raya Bogor. Paling jauh ke Curug, sekalian touring motor. Dufan itu pun cuma sekali. Pas lagi diskon 70 persen kalau tercatat sebagai nasabah bank anu-anu dan menunjukkan kartu mahasiswa. Harga normal mahal boooo! Gaji bulanan asisten dosen laboratorium di kampus cuma cukup buat biaya nge-print dan mainan Friendster di warnet.

Tapi aku cintanya hanya sama dia, Pak. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Mungkin kalau OT Group tidak mengadakan piknik seru sehari di sini, sekitar empat atau lima bulan lalu, sampai hari ini saya tidak pernah tahu ada tempat sebagus ini.

Selain tukar pikiran, menyampaikan segala uneg-uneg yang terkadang bikin eneg, bermain games seru di mana tim saya pemenangnya, rujakan sambil cemal-cemil wafer Tango dan produk lain, lalu menelusuri satu demi satu ruangan yang ada, kami juga belajar membuat keramik.

Maunya ala-ala film Ghost, dipeluk dari belakang sama mas-mas yang setidaknya punya badan dan muka mirip mendiang pakde Patrick Swayze. Namun semesta tak mendukung, alat rusak dan mas-masnya ndak ada yang tsakep.😦

Bikin keramik tak semudah yang saya bayangkan. Tidak sekedar masukin tanah liat ke atas cetakan, tekan dengan jari, lalu jadi sesuai bentuk yang diinginkan. No, no, no!

Mas Instruktur yang sangat baik. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Kalau jenis tanah liatnya tidak sesuai, lalu tekanan dari jarinya kurang kuat, jangan harap keramik itu jadi. Beruntung, ada instruktur profesional yang mau mengajarkan teknik-teknik bikin keramik yang benar, dan memberikan pengetahuan lebih mendalam tentang dunia keramik itu sendiri.

Mereka juga menjelaskan asal tanah lempung atau tanah liat apa yang sebaiknya dipakai untuk membuat keramik, proses cutting menggunakan benang, proses pewarnaan, dan pembakaran.

Intinya, proses sampai keramik yang kita buat itu benar-benar jadi tidak sebentar. Menurut kita sudah oke, belum tentu mereka mengatakan hal serupa. Kalau jelek, harus dirapikan terlebih dahulu sebelum dibakar lalu diwarnai. Kurang lebih dua minggu proses pengerjaannya. Tunggu saja nanti dikirim.

Tampang yang punya tangan sih metal tapi bikin keramiknya bebek. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Cincin boleh akik, dua pula, tapi bikin keramiknya inisial nama sendiri. sigh. (Rumah Kerami F Widayanto/ADIITOO.com)

Tiga keramik kecil yang ada di depan tangan si pemahat itu punya saya (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Ngomongin soal tanah liat lalu dibikin jadi keramik, tentu tidak bisa lepas dari kotor-kotoran. Kondisi yang paling sering dihindari orangtua. Sejumlah pakar mengimbau agar kita sebagai orangtua atau orang yang dituakan, jangan melarang seorang anak untuk kotor-kotoran. Apalagi kalau kotor-kotorannya di kondisi seperti ini.

Sekadar informasi saja. Membiarkan anak bermain kotor, maksudnya main tanah, lari-larian, atau bermain apa saja yang membuat tubuh dan bajunya jadi kotor, sama saja melatih mereka peka terhadap lingkungan sekitar. Terlalu higienis juga tidak bagus keleus.

Apalagi kalau kotor-kotorannya karena bikin keramik. Kita telah membantu mereka mengembangkan kemampuan motorik, daya imajinasi mereka, dan buat mereka jadi lebih pintar. Terpenting adalah mereka dapat bersosialisasi dengan teman-teman dan lingkungannya.

Belum bisa bikin anak, bikin keramik saja dulu (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Catnya bagus-bagus (Rumah Kemarik F Widayanto/ADIITOO.com)

Ini keramiknya siapa, kok bagus? (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

 

Namanya juga rumah keramik, selain ada tempat untuk belajar bikin keramik, ada juga tempat khusus menyimpan semua hasil karya dari F Widayanto itu sendiri. Yang punya hobi mengoleksi keramik, kurang afdol saja kalau tidak berbelanja keramik-keramik lucu nan artistik di sini. Semuanya ada. Untuk penggunaan sehari-hari juga ada. Bentuk yang beragam dan sudah tentu terbuat dari tanah liat berkualitas wahid.

Dari sekian banyak hasil tangan Pak Widayanto

Drupadi dan teman-temannya ini juga hasil tangannya Pak Widayanto

Kata si mas instruktur, tanah liat yang dipakai sang kreator berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, dipanaskan di suhu yang sangat panas, sekitar 1.000 derajat celcius.

Kalau merasa semua harga keramik di sini masih mahal, tunggu dulu, ada yang namanya promo cuci gudang akhir tahun. Semua harga turun sampai 40 persen.

Yuk, piknik sambil belajar di Rumah Keramik F Widayanto ini.

RUMAH MODEL KERAMIK & WISATA KERAMIK

JL. CURUG AGUNG NO. 1 TANAH BARU BEJI DEPOK 16428
TELP (021) 775 7685, 775 7686. FAX (021) 7757686

Kopi Selasar, Surga Kopi dan Makanan Enak Dengan Harga Murah

Satu lagi tempat baru yang saya singgahi saat menghabiskan waktu libur ke kota Bandung, yaitu Kopi Selasar. Coffee shop ini berada di teras Selasar Sunaryo Art Space. Berhadapan dengan penggunungan dan bukit plus udara yang dingin, bikin para pengunjung betah berlama-lama di sini, termasuk saya dan teman-teman.

Belum lagi harga dari semua makanan dan minuman yang murah banget, tentu tidak jadi masalah jika harus pesan lagi supaya tidak diusir. Andai Kopi Selasar dengan suasana yang sama ada di Jakarta, terlebih di Selatan atau Pusat, sudah pasti saya jadikan ‘tempat kerja’ ke dua. Selesai liputan bukannya balik ke kantor, malah nangkring di sini.

Di bawah itu ada aula terbuka bagi siapa yang mau bikin acara dengan konsep out door. (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Karena sering baca review-an mengenai tempat ini, saya girang begitu tahu Selasar Sunaryo Art Space masuk dalam daftar tempat yang bakal dikunjungi. Seharusnya destinasi pertama rombongan jurnalis Pepsodent ke sini, namun diundur karena kami baru sampai di Bandung pukul 04:00 sore. Maka itu, baru ke sini pas sebelum pulang ke Jakarta.

… Enam jam saja dong ke Bandung. Macam mudik awak kemarin!

Individu introvert seperti saya (kamu percaya ‘kan kalau saya introvert) yang tidak suka suara bising dan maunya menyendiri, atau buat kalian yang mau ajak kencan selingkuhan, kalian yang mau curhat dari A sampai Z, Kopi Selasar adalah surganya.

Eh, nggak juga deng. Tergantung kapan datangnya. Kalau siang dan di hari kerja mungkin iya jadi surga. Tapi kalau malam hari, terlebih hari Sabtu, mungkin jadi neraka buat saya. Ya, intinya ini surga buat pecinta kopi.

Siang itu Kopi Selasar masih sepi. Kami berisik pun tidak ada yang protes :p (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

 

Tempat sesunyi, sedingin, dan setenang ini memang paling enak digunakan untuk curhat. Hasil pantuan kemarin sih begitu (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

 

Nyaman, kayak hati perasaan. Bawaannya susah move on (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

 

Ada perpustakaan juga. Sayangnya hari itu lagi ditutup. (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Kata si Kawan, dulunya tempat ini hanya menyajikan kopi saja. Belum ada tuh spageti, hot dog, tom yam, lasagna, dan makanan yang lain. Tapi sekarang, melihat banyak anak nongkrong yang tidak selalu suka sama kopi, Kopi Selasar jadi menjual makanan ringan sampai yang berat.

Memang juara kelas dari tempat ini adalah kopi-kopinya, termasuk dua kopi yang kami pesan kemarin: chococcino ice cream dan kopi selasar, kopi hitam ada latte art-nya ditambah jahe yang ditusuk di bambu. Rasanya seperti dipeluk Will Smith, pekat namun menghangatkan. *digampar*

Minuman yang ada di sini. Yang juara kelasnya Kopi Selasar, yang di tengah itu. (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Makanan di sini nggak kalah nikmat. Saya nggak takut makan banyak meski lagi program pengurangan kadar lemak dan berat badan. Apa itu diet? Diet cuma serangkaian huruf yang terdiri dari D, I, E, dan T. Lagi pula diet bukan berarti tidak makan, toh? Diet yang benar adalah membakar lebih banyak kalori dari yang kita masukkan, yes? Ha ha ha ha.. Sok-sokan, padahal hari itu dan keesokan harinya tidak olahraga sama sekali, dan begitu dicek kadar lemak naik satu persen. *sad*

Habisnya, selain rasa makanan seperti nasi goreng, tom yum, spageti tuna, dan spageti irisan cabe rawit yang saya lupa namanya yang memang enak banget, semua itu gratis. Masa iya saya menyiakan kesempatan itu?😆

Semuanya enak. Saya pesan Tom Yum tanpa nasi, karena sudah berencana comot-comotin semua makanan yang dipesan. Kecuali hot dog, lagi tidak makan daging (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Yang patut diacungi jempol, si empunya tempat tidak takut membandrol semua menu makanan dan minuman dengan harga yang terbilang murah. Boleh disebut murah dong, kalau ‘bonus’ yang didapat adalah pemandangan bukit Parijs Van Java yang melegenda, pegunungan sekitar kota Bandung, meja dan kayu terbuat dari kayu, colokan di mana-mana, dan pepohanan besar yang menambah kesan teduh?

Kalau tidak salah, harga minuman kisaran Rp 30.000 sampai Rp 50.000. Sedangkan makanan dari Rp 30.000 sampai Rp 70.000

Belum lagi ada galeri seni yang menjadi ‘inti’ dari tempat ini. Ada juga ruang pameran, amphitheater, aula diskusi, tempat pementasan di alam terbuka yang semuanya dibuka untuk umum sejak 1998. Seperti galeri pada umumnya, pengunjung Selasar Sunaryo dilarang memotret, hanya boleh melihat saja.

Saya dan si Kawan berencana ke Bandung lagi untuk satu urusan. Mungkin akan singgah ke Kopi Selasar di Selasar Sunaryo Art Space untuk kedua kalinya. Mau coba menu lainnya.

Kopi Selasar di Selasar Sunaryo Art Space (Blend your coffee with an artistic environmant!)
Jl. Bukit Dago Pakar Timur No. 100, Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat

NOTE: Tidak ada angkutan umum, lebih baik kendarai mobil sendiri, taksi, atau Gojek

Telp. 022-2507939 Fax: 022-2516508
Jam buka:
Senin – Kamis : 11:00 s/d 18:00
Jumat – Minggu : 11:00 s/d 22:00

 

Ayo Kurangi Kadar Lemaknya, Pa!

Sudah lebih dari enam hari kondisi kesehatan papa menurun. Wajah papa sedikit menguning. Nyeri seperti mag. Sekalinya makan terasa tidak enak.  Diajak ke rumah sakit menolak, alasannya mungkin kecapaian setelah empat puluh hari melakukan banyak kegiatan di Tanah Suci.

Namun, kemarin sore, perut papa kembali melilit. Persis orang punya mag yang telat makan. Suhu tubuhnya juga terasa panas. Kali ini, tak ada lagi kompromi. Papa harus menuruti semua perintah mama. Bangun dari kasur, buruan masuk ke mobil, dan bergegas menuju rumah sakit yang tak jauh dari tempat tinggal kami.

Si adik menyebut rumah sakit ini sebagai our second home. Kami tahu harus ke mana, ketika tubuh tak lagi sanggup beranjak dari kasur.

Pemeriksaan dilakukan. Tak lama, dokter kembali ke IGD membawa hasil. Kemungkinan ada infeksi di lever, itulah dugaan awalnya. Doh, semoga bukan Hepatitis, harap saya.

Guna pemeriksaan lebih lanjut, papa harus jalani USG abdomen. Pesan kamar, masuk, berbaring di kasur, dan suster mulai memasukan jarum ke dalam pembuluh vena. Suster melarang papa memasukan makanan apa pun ke dalam mulutnya, sampai pukul 21:00. Resmilah papa jadi penghuni kamar 310 rumah sakit Syarif Hidayatullah, Ciputat.

Papa sungguh anti-mainstream. Di saat orang-orang memilih buka kamar karena tak sanggup lagi menghadapi macetnya Jakarta di Jumat malam, plus diguyur hujan sangat deras selama beberapa jam, papa malah buka kamar di rumah sakit. Beda tipis.

“Mama tega membiarkan papa tidur sendirian di sini?,” kata papa memelas. Mama yang menangkap kode itu langsung membalasnya,”Kalau iya, memang kenapa? Siapa suruh ngeyel! Mama balik dulu, mau mandi. Nanti ke sini lagi.”

Karena tidak memungkinkan ramai-ramai menjaga papa, saya dan si adik diberi mandat jaga rumah. Baru keesokan harinya, gantian sama mama, sebelum piket di kantor.

Kondisi papa di rumah sakit. So far baik-baik saja. Bisa ke kamar mandi sendiri

“Ada batu yang menyumbat di kandung empedu papa,” kata mama yang tahu banget kalau saya bakal menanyakan itu pertama kali, sebelum bertanya sudah sarapan belum, menunya apa, dan tadi malam tidak dikasih antibiotik, ‘kan?

Dari hasil pemeriksaan darah dan USG abdomen semalam, papa secara tidak langsung mengimbau, agar para pria seumurannya lebih berhati-hati. Jangan sampai penyakit yang harusnya menjadi musuh kaum hawa, justru mereka alami.

Berarti, kalau nanti ada liputan atau diskusi bersama dokter bedah digestif, kemungkinan besar yang paling banyak bertanya adalah saya.

Saya teringat ucapan dr Hermansyur Kartowisastro, SpB-KBD dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) tempo hari, batu empedu rentan dialami orang tua dengan gaya hidup dan pola makan tidak sehat.

Dua hal yang saya curigai menjadi penyebab papa sampai menderita kondisi ini adalah gemuk dan kolesterolnya yang ampun-ampunan. Sebenarnya pola makan dan pola hidup papa tidak buruk-buruk amat. Mama juga mulai mengurangi garam dan meniadakan penyedap di semua masakannya.

Papa juga rutin bergerak setiap pagi. Apalagi setahun menjelang keberangkatannya menuju Mekkah. Cumaaaa. Ini dia masalahnya. Papa itu bisa dikatakan malas banget makan sayur. Makan buah pun tidak rutin-rutin banget dengan jumlah yang sedikit. Paling banyak dua buah. Itu yang membuat mama jarang sekali masak sayur. Lebih banyak protein.

Makanan paling ‘ekstrem’ yang mama masak adalah kepiting saus tiram dicampur enam sampai tujuh butir telur, kerang sambal tauco, udang goreng tepung, dan cumi saus padang. Yang semua itu disantap di pagi hari. Yes, ketika sarapan. Kebayang dong kepiting panas-panas disantap bersama nasi yang masih mengepul. Bawaan sesudahnya malas-malasan, maunya di kasur saja, malas mandi dan malas ke kantor. Kapan mama masak beginian lagi, saya foto biar ada bukti.

Akibat penyakit yang hadir tanpa gejala (hingga si penderita merasa nyeri pada bagian kanan atas perut yang menyebar sampai ke bahu) dan mirip ganggun mag (posisi lambung dan kandung empedu itu tetangga dekat), papa harus segera dioperasi. Biar batu tidak lagi menyumbat area sekitar.

Setelah itu, saya sudah punya rencana membantu papa mengurangi kadar lemak di tubuhnya yang mungkin ketebalannya mengalahkan muka saya ketika salah kostum di sebuah acara yang dihadiri Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan, dan Menteri Sosial.

Rasa nyeri yang timbul selama papa menderita penyakit itu akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi lemak. Menurut dr Hermansyur, lemak dapat merangsang kantong empedu berkontraksi, memaksa empedu yang tersimpan masuk ke dalam usus duabelas jari.

Ayo kurangi kadar lemaknya, Pa!

Memanah Hati di Hotel Harris Sentul City

Panitia Blogger Camp Indonesia panahan ketika piknik #plusOne di Hotel Harris Sentul City, Bogor, Minggu kemarin. Seru dan mau lagi. Biayanya murah, cuma 30K. Pelatihnya sabar dan telaten pula.

Awalnya kaku, tembakan kami banyak yang keluar jalur. Lama kelamaan kami berhasil menancapkan anak panah di garis kuning. Yang berhasil bakal dapat bonus dua kali menembak.

Supaya seru, kami bikin grup berisi dua orang anggota. Kak Chika sama Wandy, saya sama Sandy. Sedangkan Ochoy mendokumentasikan kegiatan kami. Waktu itu Mas Indra lagi nge-gym, jadinya Ochoy sendirian. Sad!

Poin tertinggi diraih kak Chika sama Wandy, mereka pemenangnya. Semenjak fitnes dan diet, kak Chika semakin lincah saja. Di antara kami, kak Chika yang paling sering menancapkan anak panah di garis kuning. Karena ketagihan, #gengmemanahati ini berencana panahan di Senayan. PIC kegiatan ini Wandy tapi maunya di hari kerja. Hih!

Kalian harus percaya kalau Mamah Wiwik panahan juga

 

Muka-muka pemenang. Salahin Ochoy kalau ada yang salah dengan foto ini

Piknik di Sabtu hingga Minggu kemarin benar-benar menyehatkan. Tak hanya jiwa dan raga, otak juga. Tiba di hotel yang berlokasi tak jauh dari pintu TOL Sentul City dan Sentul International Convention Center (SICC) ini, peserta piknik #plusOne makan siang terlebih dahulu, sebelum bermain dua games dengan hadiah voucher menginap yang disiapkan pihak hotel.

Gamesnya gampang-gampang-susah banget, a la Eat Bulaga yang sempat booming di SCTV itu. Cuma menebak clue dari lawan, beres. Bisa jawab, lawan yang dapat nilai. Inilah beberapa kata yang harus ditebak; pastry, carte, pre weeding, dan entrance.

Di games kedua, peserta piknik #plusOne #TAUZIAtourblogger disuruh tebak gambar. Satu orang menggambarkan kata yang diberikan panitia di kertas putih, yang lain menebak gambar yang dimaksud itu. Coba kamu gambar beberapa clue yang panitia kasih ini; Eco Friendly, Bali, Tebet, dan Pastry. Sebenarnya gancil banget. Mendadak jadi sulit karena siang itu Sentul City diguyur hujan sangat deras. Bawaannya pengen cepat-cepat masuk kamar, tidur.

Maka itu, salut sama timnya Mas Indra dan Sandy yang berhasil jadi juara pertama. Duo pedang ini membuktikan, berdua saja cukup melawan tim-tim beranggotakan banyak. Kuncinya percaya, komunikasi, jujur, dan pasrah.

Minggu pagi,  di saat peserta #plusOne masih kekepan di bawah selimut, ngulet-ngulet lucu malas beranjak dari kasur super empuk, Mbak Nuniek sudah lari-lari centil sejauh 6 kilometer. Sisanya, bangun agak siangan, sekitar pukul 07:00. Iya, itu kesiangan, seharusnya kami bangun lebih pagi lagi. Lalu sarapan dengan kondisi masih muka bantal.

Selepas sarapan, sebagian pilih panahan, bermain kuda, nge-gym, dan ada yang balik ke kamar melanjutkan tidur. Seingat saya cuma kak Eva yang kudaan. Kirain bakal jauh gitu, nggak tahunya keliling lapangan yang sudah terisi orang-orang main futsall dan panahan.

Inilah kami penyebur andal. Berusaha tegap kok susah amat

Melihat kolam renang cukup sepi, #gengmemanahhati yang cowok nyebur sebelum balik ke kamar untuk mandi, packing, dan pulang ke Jakarta. Kami memang bukan pemanah andal, tapi kami penyebur yang tak usah diragukan lagi. Gaya katak, bisa. Gaya dada juga bisa. Bahkan Wandy bisa berenang dengan gaya anjing. Pernah lihat anjing berenang? Nah, dia bisa menirukannya. Gaya anjing berenang sungguh melelahkan.

Review Hotel Harris Sentul City, Bogor.

Suka sama konsep healthy lifestyle yang diusung Hotel Harris ini. Seluruh kamar adalah non smoking area, makanan di restorannya pun (sepertinya) tak menggunakan banyak garam. Sedikit hambar, tapi saya suka. Ada jamu tradisional juga.

Selain kolam renang, gym centersepeda yang bisa digenjot sesuka hati, serta halaman yang bisa dipakai untuk panahan, futsal dan bermain kuda, disediakan juga tempat bermain anak. Cocok buat para orangtua yang ingin mengajak si Kecil yang masih balita berlibur. Lokasinya juga tidak jauh, cuma 40 menit dari Jakarta, dan lima menit dari exit TOL Sentul City. Belum cukup? Orangtua dapat mengajak si Kecil ke wahana bermain Jungle Land atau wisata kuliner di A Poong.

Mendadak badan tidak enak atau demam tinggi, tak jauh dari Hotel Harris Sentul City ada Rumah Sakit Pertamedika. Rumah sakitnya nyaman, dokternya ramah, dijamin tidak mau pulang. Oke, ini sedikit promosi! :p

Nggak suram kok sekamar sama Mas Indra :p

 

Perintilan dalam kamar Hotel Harris Sentul City, Bogor

 

Mau ngasih guling ini ke Mas Indra tapi takut fitnah

 

Cuma Hotel Harris Sentul City, Bogor ada minuman mabuk tapi menyehatkan

Secara keseluruhan, saya mau kok balik lagi ke hotel ini. Pelayannya ramah, kamarnya tidak terlalu luas (ini poin penting buat saya yang penakut), kamar mandinya bersih (handuk bersih dan sampo serta sabunnya wangi), kasurnya empuk, ada sofa bed, pas buat liburan ramai-ramai tanpa perlu biaya tambahan :p

Mau kamar dekat kolam renang, tambah 200K atau 300K sudah bisa pindah!

Cuma yang disayangkan, akses menuju Hotel Harris Sentul City ini rusak parah. Masa kudu lewat SICC? Riweuh. Satu lagi, kalau bisa langganan saluran berbayarnya diganti. Nggak semua channel ada dan sinyalnya jelek banget.

Address: Komplek SICC, Jl. Jendral Sudirman No. 1, Sentul City, Jawa Barat 16810
Website: http://sentulcity-bogor.harrishotels.com/
Poin 4 dari 5
Baca juga :
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.