Monthly Archives: May 2012

MULTI(LEVEL)VITAMIN

Obrolan tadi pagi .

Gw : Ma, di kantor abang satu ruangan pada sakit.
Ma : Makanya, kamu jaga makan dan kesehatan. Kalau badan kamu fit, satu ruangan sakit juga kamu ga bakal ketularan.

Tiba-tiba adik gw nyeletuk.

Adik : makanya bang, minum multi-level-marketing.
Gw : ah(?)
Adik : eh, maksud gw multivitamin.
Gw sama Nyokap : buahahaha =))

RINDU LAGU KECILKU DULU

Dear penghuni tumblr,

DENGAN INI GW INGIN MEMBERITAHUKAN BAHWASANYA, SELAMA SEMINGGU INI (MUNGKIN LEBIH) GW AKAN MEMOSTING VIDEO LAGU ANAK-ANAK.

BAIK DARI JAMAN ORANG TUA, GW, ADIK GW, SAMPAI LAGU ANAK-ANAK ERA SEKARANG.

SEMUANYA (INSYA ALLAH) AKAN ADA DI POSTINGAN GW.

TUJUAN GW CUMA 1, NOSTALGIA.

INGIN BERPARTISIPASI SILAHKAN, JANGAN LUPA TAGGAR #NOSTALGIA. TIDAK JUGA TIDAK APA.

OKE?

Christina Onassis – Fantasiku

Tadi malam secara random gw mendengarkan lagu-lagu lawas milik Sherina (cilik). Entah kenapa, lagu-lagu itu masih enak diperdengarkan hingga hari ini.

Mengingat dan terus mengingat, siapa aja sih, penyanyi cilik era gw yang masih “hidup” sampai sekarang? Beberapa nama, sih, masih sering seliweran di televisi. Ada juga yang hingga hari ini mengumpat entah dimana, karena, masih belum siap mengungkapkan jati dirinya pasca operasi transgender.

Walaupun sebagian ada yang tidak terlalu “aktif” di televisi, tapi, keberadaan mereka masih diketahui banyak orang. Ya, mungkin, karena kini mereka sudah kuliah. Jadi, nama mereka kembali menggema.

Tapiiii, ada 1 penyanyi idola cilik yang masuk daftar “idola” semasa gw kecil, tapi tak tahu dimana dia sekarang.

Ya, si Christina Onassis ini. Lagu ini sangat gw suka sampai hari ini. Dan, masih sangat sangat gw hafal dengan baik lirik-liriknya.

Apa kabar wanita ini sekarang, ya?

Masih Mau Mengeluh (?)

Di komplek rumah om saya, ada satu pedagang kerupuk Palembang yang selalu dinanti kehadirannya. Nama pedagang kerupuk itu adalah Pak Agus. Pak Agus kerap menjajahkan kerupuknya sekitar pukul 06.00 pagi. Pokoknya, setiap jam 6 lebih sedikit, teriakan khas Pak Agus sudah membahana sampai ke dalam rumah.

“Kerupuk.. Kerupuk.. Kerupuk.. Masih renyak, pak, bu..”

Sebenarnya, tak ada yang spesial dari kerupuk Pak Agus ini. Sama seperti kerupuk Palembang pada umumnya. Hanya saja, yang menjadi istimewa terletak pada Pak Agusnya, bukan pada kerupuknya.

Pak Agus tidak seperti pedagang pada umumnya. Pak Agus adalah seorang penyandang tuna netra. Orang-orang di sekitar komplek sangat antusias akan kehadiran Pak Agus ini karena semangat kerjanya yang tinggi. Walaupun dia memiliki kekurangan, itu tidak menjadikannya seorang yang pemalas dan mengharap belas kasihan orang lain kepadanya.

Orang-orang di sekitar komplek sering mengatakan, kalau mau belajar jujur, jadilah pembeli kerupuk Pak Agus.

Pak Agus tidak bisa melihat. Dia tidak bisa melihat berapa kerupuk yang orang ambil. Berapa rupiah yang orang berikan kepadanya. Dan, Pak Agus juga tidak tahu, apakah sudah pas uang kembalian yang ia berikan ke pembelinya?

Kalau kita tidak punya sifat jujur, dan rasa belas kasihan, bisa saja kita berbohong ke Pak Agus.

Misalnya, kita beri kerupuk 3 bungkus dengan harga 15ribu, karena kita tidak jujur, bisa saja kita memberikan uang 10.000 ke Pak Agus, bukan uang 20.000 yang semestinya. Iya, ‘kan?

Tapi, kalau kita memang pada dasarnya jujur dan memiliki rasa kasihan, mana mungkin kita akan berbuat seperti itu. Memang, Pak Agus tidak bisa melihat, tapi Tuhan?

Saya jadi malu sama Pak Agus. Saya yang dikasih sama Tuhan indera yang lengkap tanpa kurang satu pun masih sering mengeluh. Padahal, saya di kasih Tuhan pekerjaan yang mengharuskan saya masuk ke dalam ruangan yang ada pendinginnya. Sedangkan Pak Agus? Dia harus panas-panasan keliling komplek rumah. Belum lagi kalau di jalan bertemu dengan orang yang berniat jahat padanya.

Malu rasanya, kalau saya masih beranggapan dunia ini tidak adil setelah bertemu langsung dengan Pak Agus ini.

Oia, pagi ini saya bertemu Pak Agus beserta istri dan anaknya yang ikut menemaninya berjualan.

Buat Pak Agus, semangat ya pak, jualannya. Semoga dagangan bapak laku dan tidak ada yang berniat jahat sama bapak.

Terimakasih Pak.

Buat teman-teman, masihkah kalian mengeluh soal hidup ini? Semoga tidak, ya 🙂

😥

letyourfreakflagwave:

GLEE: Hold on to that feeling. (Season 1-3 tribute)

by letyourfreakflagwave