Monthly Archives: September 2012

Program Sadar Diri #2 : Lakukan Kegiatan Yang Kita Senangi.

Narabalog sekalian, kali ini saya mau melanjutkan cerita tentang proses penurunan berat badan saya, ya. Nah, buat narablog yang baru “bergabung” dan ingin membaca cerita penurunan berat badan saya, silahkan baca ini : Program Sadar Diri #1 : Keluar Dari Zona Nyaman.¬†Biar nyambung sama yang sekarang. Hehehe ūüôā

Setelah saya memosting cerita pertama itu, banyak orang yang masih belum percaya kalau saya melakukan proses itu dengan cara alami. Yah, teman-teman saya –khususnya teman-teman dekat– banyak yang mengira kalau saya menggunakan proses cepat. Macam obat-obatan, suntik, jamu, dan lain sebagainya.

Apalagi waktu saya bilang, saya melakukan proses ini diimbangi dengan berolahraga. Yah, makin banyak yang ga percaya. “Adit olah raga? OLAH RAGA? Mimpi apa itu anak?!?!” itulah komentar yang sering banget saya dengar. Wajar, sih. Dulu saya orangnya anti sama yang namanya olah raga. Saya lebih suka nge-dance.¬†

Nah, kesempatan kali ini saya akan membocorkan olah raga apa saja yang saya lakukan demi proses penurunan berat badan ini.  Olah raga ini adalah kegiatan yang  menyenangkan bagi saya. Soalnya, apabila kita tidak menyenangi kegiatan ini, sekeras apa pun tak akan berhasil. Intinya, lakukanlah kegiatan yang kamu senangi. Jangan sampai kegiatan itu membebanimu.

1 . Jalan Kaki

Jujur. Pertama kali saya sempat underestimate sama kegiatan satu ini. Saya banyak membaca artikel soal manfaat berjalan kaki. Ada yang bilang dengan berjalan kaki umur bertambah persekian tahunlah. Dengan jalan kaki tandanya kita sudah menghindari diabetes tipe 2 lah. Lalu, ada yang mengatakan, dengan berjalan kaki kita berfikir lebih enak. Plong aja gitu. Bahkan ada yang mengatakan, dengan berjalan kaki dapat mengurangi bobot tubuh.

Memang dasarnya malas, mau manfaat dari A sampai Z dipaparin, pun ga akan mempan.

sumber : google

Perlahan-lahan saya coba. Ga usah jauh-jauh dulu. Cukup dari kosan ke kampus aja. (FYI, sebenarnya kalau saya ga malas, dari kosan ke kampus yang jaraknya ratusan meter dapat saya tempuh dengan berjalan kaki. Cuma karena malas, saya memilih naik angkot). Saya coba seminggu pertama, berhasil. Saya lanjut, lanjut, lanjut, sampai akhirnya saya merasakan kalau jalan kaki itu enak. Sampai pada akhirnya, setiap ada kelas di kampus B yang memang cukup jauh jaraknya, terkadang saya memilih berjalan kaki. Dan, alhamdulillah, sampai detik ini saya masih suka berjalan kaki.

Waktu saya masih berkantor di Kalibata, saya lebih memilih angkutan umum yang arahnya bukan ke Kalibata. Melainkan ke arah Cawang. Saya turun di gedung Bidakara, saya jalan deh, sampai kantor.

Sampai di gedung kantor, saya tidak menggunakan lift untuk ke ruangan saya yang berada di lantai 3, melainkan menggunakan tangga.

Lumayan. Pagi hari tidak sempat olah raga, saya siasati dengan berjalan kaki. Alhasil, saya pun ketagihan.

2. Bersepeda

Kalau yang satu, awalnya, kenapa saya enggan untuk melakukannya adalah lutut saya selalu mentok ganggang sepeda tiap kali saya bersepeda. Lagian ya, saya malu (awalnya) karena pasti akan diolok-olok.

Tapi, ketika badan, dan terutama bokong sudah agak mengecil, barulah saya bersepeda lagi. Kenapa dengan bokong? Ukuran bokong saya kala itu tidak sinkron dengan ukuran joknya. Ga asik.

sumber: google

Setahun saya memiliki hobi berjalan kaki, saya memiliki hobi baru yaitu bersepeda. Saya nekat minjem uang sama orang tua untuk penambahan biaya membeli sepeda (yang kebetulan sepeda yang mampu mengangkut bobot saya ini harganya cukup mahal) yang saya inginkan¬†. Walaupun orang tua sendiri sempat ga yakin akan hobi baru anaknya, akhirnya keinginan memiliki sepeda pun tercapai. Orang tua saya sempat berujar “paling juga ga sampai 6 bulan sepeda ini ditaruh di gudang.” “pokoknya, kalau sampai sepeda ini ditaruh di gudang, papa minta uang papa kembali”. Alhamdulillah, saya bertahan sampai hari ini. Jadinya, orang tua saya tidak meminta uangnya kembali *cium mama dan papa*

Jadi tiap pagi, saya kadang-kadang jalan kaki, kadang-kadang bersepeda. Lain halnya di hari Minggu. Saya lebih memilih bersepeda berkeliling Ciputat-Bintaro.

 

3. Berenang

Sebenarnya berenang ini termasuk hobi lama saya. Walaupun ga jago-jago banget, saya selalu¬†excited¬†tiap kali diajak melakukan kegiatan air ini. Saya tidak terlalu suka sama kolam renang yang terlalu banyak wahananya seperti yang sedang¬†trend¬†saat ini. Saya suka sama kolam renang yang luas tanpa banyak “ornamen-ornamen” di sana-sini. Semakin luas kolam renangnya, semakin banyak gerak yang kita keluarkan. Nah, karena gerak itulah kegiatan ini masuk kategori “olah raga”.

Sudah pada tahu manfaat dari berenang, ‘kan? Salah satunya dapat menambah tinggi badan.

Tapi, amat disayangkan. Kegiatan satu ini tidak lagi menjadi rutinitas saya. Ibu marah kalau saya kebanyakan berenang. Tiap kali saya izin untuk berenang, ibu selalu berujar seperti ini “KAMU MAU SETINGGI APALAGI, BANG? GA BOLEH MARUK SAMA TINGGI. KASIH KESEMPATAN YANG LAIN UNTUK TINGGI. ENGGAK, ENGGAK BOLEH BERENANG!!!!”

4. Dance

Sama seperti renang, dance juga merupakan hobi lama saya. Dari kecil (kata ibu dan orang-orang yang pernah merawat saya), setiap kali mendengarkan lagu yang berirama beat, kepala dan badan saya pasti gerak. Tak heran, ketika memasuki bangku sekolah, dari dasar, menengah, sampai akhir, saya selalu menonjol dibidang tari dan kesenian lainnya untuk nilai ekstrakulikuler.

Sekarang? Masih, dong.

Coba, deh.. Putar lagu-lagu yang kamu sukai. Lalu, kamu bergerak bebas mengikuti irama. Tanpa kamu sadar, keringat akan keluar sedikit demi sedikit dari tubuhmu, lho. 

Makanya, saya sering banget¬†nge-youtube¬†buat melihat gerakan-gerakan yang nantinya akan saya praktikan. Bersyukurlah, saya tidak memiliki tubuh yang kaku. Sejauh ini, banyak gerakan yang bisa saya ikutin dan kuasai. Alhasil,¬†dance¬†saya masukan dalam kategori “olah raga” yang saya lakukan.

Mungkin orang akan aneh ketika melihat saya sedang mendengarkan lagu melalui pemutar musik masa kini lalu kelapa saya ikut bergoyang-goyang. Karena, ya, itu tadi. Saya ga bisa diam kalau sudah mendengarkan sebuah lagu. Hehehe ..

Nah, mungkin hanya itu yang bisa saya share ke teman-teman semua. Semoga bermanfaat , ya.

AMBARISASI #2 : AWAN

Foto di atas diambil ketika saya melakukan “Liburan Sekejap” ke Batam beberapa waktu silam ..

#NowPlaying – Katon Bagaskara – Selembut Awan.

Bukan, saya bukan ingin ngebahas soal lagu penyejuk hati ini. Bukan.

Kawan, pernah, tidak, suatu hari ketika kamu melakukan perjalanan kemana saja sambil melihat awan, dan memainkan imajinasi mu tentang bentuk-bentuk awan?

Saya sendiri sering. 

Saya senang ketika imajinasi bermain bentuk-bentuk awan tersebut.

Saya menemukan banyak bentuk. Bentuk Naga, bentuk bunga matahari, bentuk kucing, dan bentuk-bentuk unik lainnya.

Menurut saya itu merupakan hal yang sangat seru.

Atau kalau mau lebih asik lagi, pergilah kau ke tempat yang lapang, beralaskan rumput hijau, lalu berbaringlah.

Pandangi awan yang berada tepat di hadapanmu. Ada sensasi luar biasa yang akan kamu temui.

Bayangkan juga, kamu membawa dirimu terbang ke awan, menari-nari di awan, meloncat-loncat, membal-membal, dan menikmati waktu-waktu bahagia mu.

Andai kala itu saya dapat membuka jendela pesawat, dan berbaring sebentar di atas awan itu, saya pasti akan melakukannya.

Tapi, itu semua MUSTAHIL ūüôā

NOAH TAK LAGI SAMA

3 tahun lamanya penggemar setia dibuat penasaran akan nama baru Peterpan. Nama baru  plus single baru yang direncanakan keluar tahun 2010 harus dibatalkan. Seperti yang kita ketahui bersama, sang vokalis, Ariel, harus mendekam di balik jeruji besi karena masalah yang menimpah kehidupan pribadinya.

Nama-nama baru untuk band ini sempat membahana kala itu. Tapi, dalam konteks candaan.

Setelah lama menunggu, tepat tanggal 16 September 2012 –dimana bertepatan dengan hari ulang tahun Ariel,¬†plus¬†konser mereka yang bertajuk “5 Negara, 2 Benua, Dalam 1 Hari” digelar– Ariel dan kawan-kawan meresmikan nama baru bandnya beserta meluncurkan CD lagunya ! NOAH dan CD ber-title¬†Seperti Seharusnya¬†resmi diluncurkan.

Kala itu saya sudah mengetahui, kalau CD mereka tidak beredar di “tempat semestinya”, melainkan di¬†store¬†ayam goreng.

Hari pertama diluncurkan CD nya, saya kehabisan. Sepertinya saya kalah cepat sama yang lain. Di hari kedua, pun demikian. Akhirnya, di hari 3, saya mendapatkan CD ini. Saya meniatkan hanya untuk membeli CD ini, tidak dengan paket ayam gorengnya. Mungkin hari itu, di restoran ayam tersebut, saya adalah pengunjung terngehe yang pernah mereka terima.

CD sudah di tangan. Sesampai di rumah, saya coba memutarkan CD ini dan menikmati karya-karya mereka.

Di lagu berjudul “Raja Negeriku“, saya sempat dibikin terheran-heran. Karena apa? Karena banyaknya “suara pengiring” bak pendemo yang menyorakkan aspirasi mereka. Saya fikir, saya salah CD, ternyata tidak. Sebagai lagu pembuka, NOAH berhasil memberikan kesan megah. Uniknya, ditengah-tengah lagu disisipkan 3 pidato mantan Presiden RI, Soekarno, yang notabenenya adalah sosok yang diidolakan oleh sang vokalis, Ariel.

Di bagian intro, kita akan mendengar suara lantang Soekarno membacakan “Pidato Sebulan Setelah Dekrit Presiden”, lalu ada di bagian¬†reff¬†dan coda.

Dan, yang perlu dicatat adalah, Ariel mengajak 200 orang teman-temannya sesama penghuni Kebon Waru sebagai backing vocal. Oia, lagu ini adalah ciptaan Ariel & Uki.

Lagu ini benar-benar tanda perubahan besar di kubuh NOAH.

Boleh lanjut?

Lanjut ke lagu nomor 2 yang berjudul “Jika Engkau“. Saya #barutahu dari bukunya mereka yang berjudul Kisah Lainnya,¬†di salah satu bab dijelaskan, bahwasanya lagu ini pernah bocor di¬†internet¬†tahun 2010. Ngenesnya, ketika lagu ini hadir ke permukaan, banyak band yang mengaku-ngaku merekalah pemilik lagu tersebut.

Lirik dari lagu ini tersendiri diciptakan oleh Ariel. Ada sedikit unsur tradisional untuk musiknya. Beberapa part kita akan mendengar alunan merdu dari alat musik khas Indonesia, Gamelan.

Perlu dicatat, untuk kamu wahai penggalau kelas kakap, ketika mendengar lagu ini, tolong jangan dalam keadaan sedang patah hati. BERBAHAYA!

Ternyata, eh, ternyata, bukan hanya Jika Engkau yang bocor di internet. Lagu Separuh Aku, pun bernasib sama. Tak heran, ketika pertama kali video klip ini hadir di youtube, akan banyak dijumpai mereka-mereka yang mengcover lagu ini.

Dari ceritanya sendiri, Separuh Aku ini sebenarnya hadir di tahun 2010 bersamaan dengan nama barunya. Sekaligus memperkenalkan David sebagai anggota baru mereka. Sekaligus pula, memperlihatkan ke khalayak ramai, bahwasanya yang menjadi single hits bukanlah buah pemikiran seorang Ariel.

Dalam CD ini terdapat 10 buah lagu. 9 buah lagu baru yang merupakan buah pemikiran semua personelnya. Tidak melulu karya Ariel, karya seorang additional player pun ada diantara 9 buah lagu tersebut.

1 lagu lagi adalah lagu milik Ryan Kyoto yang berjudul Sendiri Lagi. Lagu itu tersendiri pernah dibawakan oleh penyanyi legendaris, Chrisye (ALM).

Dengan adanya lagu ini, berarti sudah 2 buah lagu yang pernah dinyanyikan Chrisye didaur ulang oleh Ariel dan kawan-kawan. Dan, sejauh ini hasilnya tidak pernah buruk.  Selalu berhasil. Apakah ini faktor tanggal dan bulan kelahiran Ariel dan Chrisye yang sama? Entahlah !

Untuk covernya CD nya sendiri, mengingatkan saya akan penampilan mereka di acara HUT Trans TV. Dandanannya ala sirkus gimana gitu. ¬†Poin 7.5 dari 10 untuk¬†cover¬†–yang seharusnya mereka sendiri bisa membuat ini lebih– sangat sederhana.

Saya rasa dari keseluruhan isi CD ini, patut diberikan standing applause untuk mereka.

Kamu, yang rindu akan karya-karya mereka, atau mungkin rindu dengan suara sengau milik Ariel, segeralah ke KFC, dan dapatkan CD ini. Harga CD ini sendiri Rp. 40.000 ,- . Tapi, saya mohon dengan sangat, plissss, beli paket ayamnya juga. Hanya menambahkan 30 ribu lagi, kamu akan mendapatkan sepaket ayam goreng beserta minum dan CD Seperti Seharusnya milik NOAH ini. :cheers:

NOAH :

  1. Raja Negeriku
  2. Jika Engkau
  3. Separuh Aku
  4. Hidup Untukmu Mati Tanpamu
  5. Ini Cinta
  6. Terbangun Sendiri
  7. Sendiri Lagi
  8. Demi Kita
  9. Tak Lagi Sama
  10. Puisi Adinda

AMBARISASI #1: DULU, DIMANA URAT MALU KITA?

Teman, ingatkah kalian akan lirik lagu berikut ?

Ketika kesepian menyerang diriku
Gak enak badan resah tak menentu
Ku tahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku

yah, lirik di atas adalah sepenggal lirik dari lagunya Project Pop yang berjudul “INGATLAH HARI INI”.

Hari ini, penyakit lama yang pernah saya idap semasa kecil menghampiri saya kembali. BRONKITIS, itulah namanya !

Badan saya dibuat kaku oleh penyakit ini. Penyakit ini sebenarnya ringan. Hanya saja, penyakit ini datang dikala kondisi badan saya yang sedang jelek-leknya. Alhasil, seluruh badan terasa sakit.

Lantas, disaat yang bersamaan pula, saya rindu akan sosok teman-teman dekat saya di masa kuliah dulu. Teman-teman yang entah dimana urat malunya berada ketika sedang bercengkrama.

Tak ada jaim-jaiman. Tak ada gengsi-gengsian. Tak ada hal yang kami tutup-tutupon. Kami saling berbagi. Karena apa? Karena menurut kami, itulah fungsinya seorang kawan.

Kami memang kawan. Adakalanya kami adalah lawan. Lawan dibidang akademik.

Kenapa saya bilang entah dimana letak urat malunya, lihatlah gambar di atas.

Foto di atas kami ambil pada saat kami berlibur ke puncak 4 tahun silam. Eh, sebentar. 4 atau 5 tahun yang lalu, saya lupa. Yang jelas kala itu badan saya masih buntal-buntalnya.

Kami berlibur, kami melepas penat bersama dari segala kegiatan perkuliahan. Kami bersenang-senang. Kami bergembira. Dan kami menggila bersama.

Saya kangen masa itu.

Kami semua kini berpencar. Ada yang sudah mulai menentukan masa depan kehidupannya dengan (akan) melangsungkan pernikahan. Dan, ada pula yang masih berkutat dengan urusan SKRIPSI yang tak kunjung kelar.

Teman, gue kangen kalian!

Kita berlibur lagi, yuk.

Gue berharap, kita bisa berlibur bersama-sama lagi. Mungkin suatu saat, kita akan berlibur dengan memboyong keluarga kecil kita masing-masing? Semoga saja!

KATA SATRIA: AMBAR, AMBIL GAMBAR

KATA SATRIA: AMBAR, AMBIL GAMBAR

[KUATOO] Nasi Kebuli Pinggiran Cirendeu

Narablog sekalian tau nasi kebuli, kan? Itu lho, makanan khas India dan Pakistan gitu. Mungkin, untuk yang baru pertama kali mencobanya, pasti nasi kebuli dianggapnya nasi goreng. Ga bisa disalahin juga, sih. Karena ya begitu kenyataannya. Sekilas memang mirip nasi goreng standar, tapi sebenarnya beda.

Kalau nasi goreng, ya udah pasti digoreng. Kalau nasi kebuli, ya pasti dikukus. Kalau nasi goreng pedes cabai, kalau nasi kebuli wangi rerempahan. Walaupun baunya sedikit nyelekit.

Nah, kebetulan siang ini saya menyantap makanan khas Timur Tengah ini. Ternyata, eh, tenyata, ngga jauh dari komplek perkantoran tempat saya kerja, ada warung pinggir jalan yang menjual nasi kebuli dan kawan-kawannya.

Daftar Menu Dan Harga

Siang ini warungnya tampak sepi. Mungkin karena baru buka kali, ya. Tapi, ngga papa, deh. Yang penting melayaninya ga lama. Soalnya perut saya sudah lapar banget. Maklum, Jumat ini saya telat makan siang.

Penampakan Dalamnya. Cukup Rapi Dan Bersih

Karena sudah kelaparan yang teramat sangat, akhirnya saya memutuskan untuk memesan nasi kebuli ayam, roti canai kuah kari, dan air mineral. Jeleknya saya, kalau sudah lapar, malas mau lihat daftar menu. Bablas milih secara random.

Ngga perlu menunggu lama, pesanan pertama saya berupa nasi kebuli ayam disajikan ke hadapan saya dan siap untuk disantap.

Nasi Kebuli Ayam

Sekali lagi saya ingatkan, ini bukan nasi goreng. Ini adalah nasi kebuli !

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati nasi kebuli ayam yang dibandrol dengan harga Rp. 22.000 ini. Wangi rempah-rempah ketara sekali. Bau santannya juga cukup kecium oleh hidung saya. Nasinya juga lembut.

Kayu manis yang terdapat di dalam nasi mampu memperkaya hidangan ini. Duh, baunya itu bikin orang selera makannya naik.

Acarnya segar. Sambal nanasnya pun mampu memberi rasa lain dalam hidangan ini. Sayang ada yang kurang. EMPINGNYA MANA!? Ish. Geram!

Acar Dan Sambal Nanas Segar

Kalau saya boleh memberi nilai, poin 70 lah untuk nasi kebuli ayamnya.

Roti Canai Kuah Kari


Nah, berikutnya itu adalah roti canai kuah kari. Entah mengapa, saya kurang suka sama roti canai dan kuah karinya. Saya lebih tertarik sama roti canai dan kuah kari yang ada di warung Mie Aceh Bang Djali Tanah Kusir.

Pasalnya, roti canainya terlalu tipis dan tidak terlalu panas. Kuahnya pun ngga panas. Curiga, kuahnya ga dipanasin sebelum dibawa ke warung dan dijual. Sayang seribu sayang. Fatal!

Untuk harganya sendiri dibandrol Rp. 9.000

Yah, untuk kamu, kamu, dan kamu yang mungkin terjebak macet di daerah Cirendeu, merapat saja ke warung nasi kebuli ini.

Letaknya di depan ruko bali view, di samping komplek perumahan bali view.

Minumannya mana, Dit?

Maaf, mau ke restoran mahal sekali pun, saya minumnya air mineral. Hehe. Sudah cukup tubuhnya “dirusak” sama makanan. Jangan ditambah dengan minuman.

[KUATOO] Nikmatnya Waffle D’Brussels

Berawal dari janjian saya bersama 2 orang sahabat saya, Tazy dan Ikhma, di Grand Indonesia, akhirnya kami bertiga pun sepakat untuk menyicipi es krim di Magnum Cafe “House Of Chocolate”.

Sebenarnya ngga niat-niat banget ingin ke Magnum Cafe. Sebelumnya kami mempunyai pendapat kalau es krimnya bakal sama seperti es krim Magnum yang ada di swalayan. Ditambah pula, Tazy berpendapat kalau es krim coklat di Belgia lebih enak ketimbang di sini. Yah, Tazy sudah setahun ini memang menetap di Belgia, jadi dia sudah merasakan kenikmatan es krim dan coklat Belgianya langsung.

Setelah sempat nyasar (ternyata GI guede juga. Buktinya gue nyasar. Pret!) untuk mencari keberadaan cafe fenomenal ini, akhirnya kami pun menemukan cafe yang terletak dibagian West Grand Indonesia.

“Apa-apaan ini, antrian mau masuk kafe ini panjang banget!” celetuk saya yang kaget melihat antrian sore itu.

Palang tanggung, sudah sampai di sana, pakai acara nyasar kalau mengurungkan niat hanya karena antrian.

“yaudah, ga papa, antri, yok”¬†ajak saya.

Ngga lama setelah kami mengantri, datanglah 3 sosok pria dan 1 wanita yang mukanya sungguh familiar. Ternyata, eh, ternyata, pria-pria itu adalah personel boysband.

“Idih, ini mau masuk kafe atau mau masuk dunia fantasi, sih”¬†celetuk salah satu personel ini.

Setelah menunggu sekitar … Hmmm … 5 , eh, bukan. Hmmmm .. 30 menitan, akhirnya saya dan 2 sahabat ini, pun masuk ke kafe yang terbagi 2 antara outdoor dan indoor.

Rombongan saya dan rombongan boysband itu kebagian di indoor. Kaget juga, sih. Pasalnya, ketika kami masuk banyak meja dan kursi yang kosong. Tapi, kenapa harus pakai antri segala???

Ngomongin soal ruangannya sendiri, cukup besar, cukup rapi, dan cukup unik. Penataan meja-mejanya pun bagus. Interior dan hiasan-hiasan yang dipakai, pun cukup keren.

Setelah cukup melihat-lihat sekilas ruangan itu, kami pun memesan beberapa item untuk kami cicipi.

 Ternyata yang dijual di Magnum Cafe bukan hanya es krim sahaja #barutahu. Tapi, ada menu-menu lain yang sepertinya enak-enak. Salah satunya yang saya ngeh akan keberadaannya adalah Sphagetty.

Kalau saya sendiri memesan Waffle D’ Brussels, Tazy memesan Rainbow Ice, dan Ikhma memesan segelas minuman yang saya lupa apa namanya!

Waffle D’ Brussels

Kenapa saya milih ini? Karena ada strawberry dan pisang. Yah, saya suka 2 buah itu. Untuk rasa sendiri, enak. 2 Es krim magnumnya ngga bikin gigi sakit. Ga bikin eneg (kalau makannya pelan-pelan). 2 Wafflenya sendiri empuk. Coklat batangannya pahit, saya suka. Karamelnya enak banget.

Pada saat punya saya ini dicicipi Tazy, Tazy bilang¬†“Enakan ini ketimbang yang di Belgia. Bisa dibungkus dibawa ke Belgia, ga?”.¬†Nah!!

Harga? Kalau harga, sebanding lah dengan apa yang disajikan. Cukup Rp. 39.000 an.

Red Velvet

Red Velvet ini pilihannya Tazy. Kalau dilihat dari gambar sih, red velvet ini terdiri dari es krim magnum dan cake. Menurut yang mesen, yang enak dari red velvet ice and cake ini adalah coklatnya.

Kalau bagi saya yang menyicipi sedikit cake -nya, cakenya lembut. Cuma krimnya rada bikin eneg, ya.

Red Velvet ini dibandrol dengan harga Rp. 40.000 ,-

Nah, kalau pesanan Ikhma yang satu ini saya tidak apa namanya dan saya juga tidak tahu berapa harganya. Hahaha ūüėÜ

“Lalu Dit, siapa boysband yang baris di belakang elo?”


Ah, pasti kalian para ababil-yang-selalu-jejeritan-ketika-melihat-mereka-manggung tahu nama boysbandnya itu.

Mereka adalah *drumroll* *bunyiingong* SM*SH.

“Yah, lalu, lalu, lalu, siapa yang nyeletuk seperti itu, Dit?”

“Cari tahu aja sendiri!!”

Secara keseluruhan, saya sangat suka sama tempat, penataan, dan makanan yang tersaji di Magnum Cafe “House Of Chocolate” ini.

Saran saja. Mbok ya kalau masih kosong ngga usah pakai waiting list plus ngantri seperti itu. Lain kasus kalau misalnya secara keseluruhan penuh. Kenapa? Para pelayannya takut kelabakan. Ya, ga boleh gitu, dong! Kaki kan, pegal!