Hei, Willy, Aku Rindu Padamu !

Setahun yang lalu, setelah 14 tahun tidak pernah pulang ke kampung halaman di Medan, akhirnya saya kembali menginjakkan kaki di sana. Semua cerita perjalanan selama di Medan, semuanya sudah saya ulas tahun lalu. Tapi, saya baru ingat, ada postingan yang belum sempat saya tuliskan, lalu saya post di blog ini.

Selain ziarah dan bertemu sanak keluarga yang sudah lama tidak saya temui, niatan saya lainnya adalah, bertemu dua sahabat baik saya, Willy dan Mia.

Sudah lama saya mendengar kabar kalau Willy, sahabat sekaligus adik kelas saya di SD Ikal Medan, telah berpulang ke Rahmatullah karena penyakit yang telah lama ia derita, sesak napas. Maka itu, niatan saya pulang ke Medan sekalian ingin mengunjungi Willy di rumah barunya. Saya sadar, saya tak mungkin dipersilahkan masuk oleh lelaki gempal itu, tapi bukan berarti itu menjadikan sayaurung untuk mengunjunginya.

Tapi, sepertinya Tuhan belum mengizinkan saya untuk bertandang ke rumah barunya. Karena, pada saat saya bertandang ke rumah kedua orangtuanya, om Brama dan tante Ayen sudah tak menempati rumah itu lagi. Saya hilang kontak, saya bingung mau mencari mereka ke mana. Bertanya ke tetangga kanan dan kiri, mereka semua tak ada yang mengetahuinya. Saya hanya mendengar cerita tetangga, bahwa tante Ayen sangat terpukul atas kepergian Willy yang tiba-tiba.

Sedangkan makam Willy, tak banyak yang tahu di mana letaknya, karena jauh dari Medan.

Menurut cerita mereka juga, pagi hari, di hari kepergian Willy untuk selama-lamanya, tante Ayen masih sempat mengantarkan Willy ke sekolah, karena kawan saya itu ada ujian yang tak dapat ia tinggalkan. Beberapa jam setelah tante Ayen sampai di rumah sehabis mengantarkan anak kesayangannya itu, beliau mendapatkan kabar dari sekolahnya Willy, dan mengatakan kalau Willy dalam keadaan sekarat. Sesak napasnya kambuh, dan itu lebih parah dari hari-hari sebelumnya.

Ternyata, sahabat baik saya itu masih bergelut dengan penyakit lamanya, yang sangat dia benci itu. Willy, sosok anak lelaki gemuk, putih, bermata sipit, rambutnya hitam, dan paling suka dibelah tengah itu, memang kerap merasa kelelahan setiap kali selesai beraktivitas. Meski gemuk, dan saya waktu itu juga gemuk–bahkan gendut–, Willy sosok anak yang sangat aktif.

Di SD dulu, Willy merupakan adik kelas yang prestasi olahraganya tak perlu diragukan lagi. Sewaktu pertandingan kasti, Willy berhasil memukul bola yang diarahkan kepadanya jauh dari batas lapangan, alias home run, dan membawanya bersama teman sekelasnya juara 1. Begitu pun dengan senam SKJ. Walaupun Willy berat membawa badannya, dia begitu lincah ketika disuruh memperagakan setiap gerakan SKJ itu dengan baik dan benar.

Dulu, karena rumah kami hanya berbeda gang, hampir setiap hari saya pergi dan pulang sekolahnya dengannya. Karena kami 1 jemputan sekolah. Duduk pun, kami selalu memilih untuk berdua. Kami malu. Kami merasa bukan siapa-siapa di dalam bus itu. Kami hanyalah 2 murid gendut, yang selalu diolok-olok di dalam bus itu.

Di dalam perjalan pulang, Willy beberapa kali mengeluh dadanya yang selalu sesak ke saya. Tapi, saya kala itu tak dapat berbuat banyak, dan hanya berkata ke Willy, “Sabar kau ya, bentar lagi kita sampek. Nanti kuantar kau sampai depan rumah, sampai mamak kau keluar,”

Tapi, Willy selalu menolak. Dia bahkan membalas ucapan saya dengan kata-kata, “Tak usah. Aku baek-baek saja. Kau pulang saja, lagian kan, kau mau ke TPA lagi. Kalau kau antar aku pulang, dan mamakku panik, tak dapat aku bersepeda dan melihat kau di TPA. Sudah, aku baik-baik saja.”

Sore hari, dari jam 3 sampai 5-nya, saya selalu memperdalam ilmu di TPA yang letaknya pun tak jauh dari rumah kami. Setiap jam 4 sore, ketika Ashar usai dan jam istirahat, Willy tak pernah absen mengunjungi saya di TPA itu. Terkadang, Willy membawakan saya ketan Medan buatan tante Ayen. Saya menghampirinya, untuk menyantap bekal secara bersama-sama.

Itu terjadi selama hampir 3 tahun, sebelum saya pindah ke Jakarta, mengikuti orangtua saya yang pindah ke Riau.

Di hari saya akan meninggalkan Medan untuk waktu yang tak terkira, tiba-tiba Willy menghampiri saya ke rumah, dan memberikan saya sepaket tempat makanan. Isinya, tak lain adalah ketan Medan favorit kami. Tak ketinggalan juga, Willy menyisipkan sepucuk surat yang saya simpan, dan surat itu hilang pada saat saya akan pindah dari Jakarta ke Riau.

Isi surat dari Willy sederhana, “Selamat jalan Dit. Semoga tak degil kau ya di sana. Aku belum pernah ke sana. Kelak kalau aku ke sana liburan, kita bertemu ya. Salam dari kawanmu yang buntal ini, Willy.”

Sayang, surat menyurat yang sering saya lakukan sewaktu di Jakarta, luntur ketika saya berada di Riau. Entahlah. Waktu di Riau itu berasa lama buat saya. Bayangkan saya, saya harus berlama-lama di sekolah dari jam 7 pagi sampai jam 2 siang. Pulang dari sekolah, saya harus langsung les, yang dimulai jam 4 sampai jam 5. Pulang dari les, dan sehabis sholat maghrib, saya harus mengaji selama 2 jam (karena beramai-ramai)

Sewaktu saya SMA dan pindah (lagi) ke Jakarta, saya mendengar kabar tak mengenakkan dari uwak kalau Willy mulai sakit-sakitan. Minimal, sekali dalam sebulan dia selalu keluar masuk rumah sakit. Saya ngenes mendengarnya. Tapi, saya tak dapat berbuat banyak. Menelepon dia pun hanya sekali, saya lakukan. Dan itu terjadi pada saat dia baru selesai perawatan (lagi) di rumah sakit.

“Hei, Wil, bagaimana keadaan kau? Masih sesak?,” tanya saya singkat, sambil menahan rasa rindu yang teramat dalam.

“Aku? Insya Allah baik,” jawabnya singkat. “Hei, suara kau tak berubah. Masih lembut. Sudah mimpi basah, kan?,” tanya Willy, yang diiringi dengan permintaan maaf, karena itu hanya candaan semata.

“Bagaimana Wil, kapan kita reunian. Aku kangen kau, kangen tante dan om, dan tentunya ketan buatan mamak kau,”

Obrolan itu terus mengalir. Kami saling bertukar cerita. Dia menceritakan soal cewek yang disukainya, dan saya hanya mampu mendengar, karena tak ada kisah cinta saya kala itu yang dapat dibagikan kepadanya.

Sebelum menyudahi obrolan itu, Willy sempat berkata, “Kalau sempat, pulanglah kau Dit ke Medan. Kalau misalnya uwak tak menerima kau menginap di rumahnya, menginaplah di rumahku. Apa di rumah sakit, menemaniku?.” Dan, saya pun hanya mampu menjawab, “Siap kawan, aku akan pulang, tapi tak tahu kapan waktu itu.”

Kini, cerita itu hanya dapat saya putar dan ingat ketika rindu ini membuncah. Saya kangen, rindu, dan saya ingin banyak bercanda dengan sahabat saya itu.

Tuhan, saya titip Willy. Jaga dia, Tuhan. Willy anak yang baik, jangan kau masukkan ia ke dalam nerakamu, tempatkanlah ia bersama nenekku di surga sana.

Tuhan, sampaikan rindu dan salam saya buatnya. Bilang padanya, kalau saya ingin bertandang ke rumah barunya.

Tuhan.. Kalau Willy masih gemuk, suruh dia diet, ya 🙂

Dari saya, sahabatnya! :’)

Advertisements

6 thoughts on “Hei, Willy, Aku Rindu Padamu !

  1. Zizy Damanik June 8, 2013 at 11:16 am Reply

    Terharu aku membacanya.
    Jadi teringat dulu juga suka sekali surat-suratan dengan sahabat di pulai lain. Meski belum pernah kehilangan seorang sahabat ke alam lain….
    Semoga Willy di sana pun menerima dan mendengar doamu ya…

  2. Zippy June 8, 2013 at 1:54 pm Reply

    Tersentuh banget bacanya, bro.
    Semoga Willy damai ya di rumah barunya sana.
    Kehilangan sosok sahabat itu emang sangat menyedihkan 😦

  3. Swastika June 10, 2013 at 11:50 am Reply

    *pukpuk Adit… We often dont know what we’ve got till it’s gone

  4. Rusa June 12, 2013 at 3:01 pm Reply

    Semoga Willy tenang di sana ya… Aminnn..

  5. Phyllis Y. Gallagher June 19, 2013 at 6:06 am Reply

    Sore hari, dari jam 3 sampai 5-nya, saya selalu memperdalam ilmu di TPA yang letaknya pun tak jauh dari rumah kami. Setiap jam 4 sore, ketika Ashar usai dan jam istirahat, Willy tak pernah absen mengunjungi saya di TPA itu. Terkadang, Willy membawakan saya ketan Medan buatan tante Ayen. Saya menghampirinya, untuk menyantap bekal secara bersama-sama.

  6. silver price July 26, 2013 at 1:56 pm Reply

    Kapanlagi.com – Tak ada yang mau mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Seperti juga Willy Dozan . Namun, perjalanan hidupnya membuatnya harus gagal tiga kali. Tapi, kali ini Willy kembali akan berusaha mengaruhi bahtera rumah tangga untuk keempat kalinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: