Monthly Archives: July 2013

Cerita di Balik Demo Kenaikkan Harga BBM (22 Juni 2013)

Hari itu saya tidak ngeuh sama sekali, kalau di gedung DPR bakal ada demo besar-besaran, menolak naiknya harga BBM. Padahal, pagi harinya, saya sudah wanti-wanti ke David, seorang teman reporter yang bakal bertugas di gedung DPR, untuk berhati-hati.

Singkat cerita, sore harinya sepulang saya liputan dari Kementerian Kesehatan di Rasuna Said, Kuningan, saya memutuskan untuk pulang langsung, dan tidak balik dulu ke kantor, malas! Karena tidak ngeuh sama sekali itu, saya memutuskan untuk pulang menggunakan CommuterLine dari stasiun Palmerah, yang mau tak mau harus melewati gedung DPR, bukannya dari stasiun Tanah Abang yang jelas-jelas membuat saya aman.

Saya baru sadar, ketika bus yang saya tumpangi masuk TOL, yang di hari-hari biasa sangat jarang bus itu masuk ke dalam TOL. Seisi bus pada heboh, menanyakan mengapa bus itu masuk TOL. Dengan mukanya yang super lempeng, si kernet menjawab, “Ada demo, Pak, Bu, di depan DPR. Jadinya, bus ini masuk TOL.”

Baru deh, ketika mendengar ucapan si kernet itu saya baru merasakan panik dan bingung mau melakukan apa. Saya tahu, kalau mau ke Palmerah, dan bus berada di dalam TOL, bus harus berhenti tepat di depan gedung DPR yang kebetulan memang di situ ada jalan keluarnya. Saya berusaha untuk membuat diri ini tenang. Saya tanyakan kembali ke kernetnya, apakah ada jalan lain untuk sampai ke Palmerah, tanpa harus berhenti di depan gedung DPR. Si Kernet menjawab, “Ada, Mas, tapi di depan Mal Taman Anggrek,” . Ish, jawaba ngeselin. Nggak nolong!

Bus berhentilah di depan gedung DPR. Setidaknya ada 10 orang penumpang yang turun di situ, dan ingin melanjuti perjalanan ke Palmerah. Nahas, saya turun paling akhir, dan 9 orang penumpang lainnya sudah duduk di atas motor ojeg yang siap mengantar mereka ke Palmerah. Sial, tak ada sisa ojeg yang dapat saya tumpangi.

Karena panik yang masih mendera diri ini, saya pun langsung BBM David, untuk menanyakan apakah sore itu para pendemo sudah jinak?, eh si David malah jawab “Jinak sih beluman Diitoo. Memangnya kamu di mana? Hati-hati lewat depan gerbang DPR, lagi pada berorasi. Numpang-numpang saja kalau mau lewat. Anggap saja, dikau lagi melewati pohon keramat. Hahaha,”

Hmmmm… Ya… Jawaban dari David sedikit menghibur. Tapi, tetap saja dagdigdug jantung ini ketika benar-benar hendak melewati para pendemo itu.

Demo tapi merokok. Pret

Barisan pendemo yang pertama saya lewati adalah mereka ini. Heeh, pendemonya adalah mahasiswa yang saya tak tahu mereka berasal dari Universitas mana. Yang jelas, yang ada di pikiran saya, demo kok sambil merokok? Katanya mereka itu kan demo menolak kenaikkan BBM. Kalau menolak, tandanya mereka susah, dong? Kalau memang susah, kenapa masih merokok?

Atau mereka adalah mahasiswa yang masih minta sama orangtua? Jadi, kalau BBM naik, mereka nggak bisa minta uang jajan lebih sama orangtua, agar sisa uang beli bensin bisa beli rokok. Makanya, mereka demo (?)

Sayang banget nggak, sih?

Pendemo di Barisan Kedua

Setelah melewati barisan para mahasiswa, saya melewati baris kedua, yang saya masih tak tahu mereka berasal dari mana. Masih sama seperti mahasiswa, di antara jari-jari yang ada di tangan mereka, masih terselip batang rokok.

Dan saya sempat mendengar obrolan mereka, “Capek juga, demo-demo begini,”. Lah, piye, toh?

Perkumpulan ibu-ibu

Tepat di sebelah para bapak-bapak duduk karena kelelahan habis demo sesi pertama, terdapat perkumpulan ibu-ibu yang tengah asyik makan dan mengobrol. Nggak tahu lagi deh, apa yang ada di benak mereka, ketika memutuskan untuk ikutan berdemo seperti ini. Enggak kasihan sama badan apa, ya?

Coretan ‘Kandang Babi’ di Tembok

Corat-corat tembok

Bukannya saya mau ngebelain anggota DPR atau apalah. Tapi, kok ya coretan di tembok itu kurang enak dilihat. Kandang Babi? Sehina itukah anggota DPR, sampai disamakan dengan babi? Masyarakatnya itu aneh. Giliran para anggota dewan mengeluarkan duit untuk mempercantik halaman depan gedung DPR, dibilang menghambur-hamburi duit.

Lah, kalau sudah rusak dan jelek seperti itu, mau tak mau anggota DPR bakal mengeluarkan duit untuk ngecat dan memperbaiki yang rusak bukan? Bukannya itu bakal menjadi kesempatan mereka untuk mengeluarkan duit negara lebih banyak lagi. Iya enggak, sih?

*geleng-geleng kepala*

sampah di mana-mana

sampah lagi

Pedagang

Lebih miris sih, yang bagian ini, sampah di mana-mana.  Aseli, gedung DPR kala itu sudah seperti pasar becek. Sampah tergeletak di mana-mana. Kalau yang demo adalah pasukan Operasi Semut, pasti sampah-sampah yang ada bakal dipunguti, dikumpuli, dan dibuang ke tempat yang semestinya. Sayang, hari itu tidak ada pasukan Opsem di situ.

Tapi ya, saya sih berharap, semoga ada orang-orang yang mendapatkan rezeki berlimpah dari sampah-sampah yang ada di tempat itu. Kalau dikumpulin sih, menggunung itu pastinya.

Lalu, ada rasa miris ketika saya tanya ke para pedagan yang ada di sana, sudah dapat berapa rupiah penghasilan mereka saat itu? Mereka menjawab, “Yah, Mas, boro-boro untung. Balik modal saja belum ini!,” . *pukpuk*. Itu tandanya? Ah, sudahlah.

Setelah melewati banyaknya barisan para pendemo, saya pun akhirnya bisa ‘bernapas lega’. Fiuh… Lega. Saya langsung melanjutkan perjalanan ke Palmerah, yang jaraknya tak begitu jauh.

Tapi, tapi, tapi, ketika saya hendak melanjutkan perjalanan, ada pemandangan yang cukup membuat saya tertawa lepas. Pendomo tidur di busway yang ada di depan gedung DPR. Hahaha 😆 . Ternyata, demo itu melelahkan, ya. Buktinya ini, mahasiswa ini tidurnya pulas sekali.

Makanya, adik-adik, besok kalau mau demo siapkan stamina yang fit, biar nggak ngantuk. Kalau kira-kira ngantuk banget, mending pulang, tidur di kamar yang empuk. Daripada tidur di jalanan seperti itu, memangnya enak? Pasti enggak, ‘kan!? Karena terpaksa, lanjut, deh :p

Lelap sekali tidurnya

Nyenyak sekali tidurnya

Advertisements

Bocah Malpraktik dan Wejangan Christine Hakim

“Adit, hari Senin Rai akan dibawa sama bunda Christine Hakim ke Cinere. Adit datang, ya” bunyi pesan yang masuk ke BlackberryMessanger saya dari seorang wanita yang baru beberapa bulan saya kenal.

“Bunda? Christine Hakim?,” tanya saya heran.

“Iya, Adit. Bunda Christine Hakim. Itu, artis senior yang main di film Bisik-bisik pasir,” jawabnya.

“AH!? BISIK-BISIK PASIR? PASIR BERBISIK kali, tante. Tante ngaco, deh!,” kata saya, membenarkan.

“Hmmmmm.. Senin, ya? Jam berapa? Ketemuannya di mana? Alamat kirim yang lengkap ya, tan. Btw, kok bisa tan, ketemu sama Christine Hakim? Gimana ceritanya?”

“Iya, Senin. Panjang Dit, ceritanya. Nanti tante ceritakan. Yang penting, Adit datang, ya. Alamatnya segera tante kirimkan.”

***

Baru dua bulan saya resmi menjadi seorang wartawan kesehatan, Tuhan mempertemukan saya dengan keluarga Om Yunus dalam keadaan yang tidak mengenakkan.

Anak pertama mereka yang sangat mereka sayangi, harus terbujur kaku di sebuah rumah sakit karena menjadi korban malpraktik dari sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.

Raihan, bocah 10 tahun itu pun harus rela meninggalkan bangku sekolahnya, dan menghabiskan berbaring berselangkan infus, dan ditemani ibu serta kedua adik yang setia menunggunya.

Ya, inilah tugas berat pertama yang saya terima untuk pertama kalinya.

Hingga hari  ini, sudah lebih dari 6 bulan, bocah laki-laki itu tidak dapat melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh anak sebayanya. Jangankan bermain bersama teman-temannya, bangun dari kasur pun, rasanya dia belum mampu.

Pertama kali kasus ini mencuat, pihak rumah sakit selalu mengelak untuk diwawancarai. Sampai pada akhirnya, anggota dewan memintanya untuk hadir dalam rapat yang berkenaan dengan malpraktik.

Hasilnya? Nihil. Lagi-lagi pihak rumah sakit bungkam. Jujur, hari itu, ingin rasanya saya menendang Kepala RS itu hingga dia tersungkur. Biar dia tahu rasanya sakit itu seperti apa.

***

Setelah beberapa bulan dirawat di Rumah Sakit, ibunda Raihan mengabarkan, kalau anaknya dalam keadaan membaik, meskipun tidak 100 persen. Jangankan 100 persen, 80 persen saja tidak.

“Adit, Raihan besok sudah boleh pulang. Adit sibuk, ya?,” katanya.

Saya senang mendengar kabar Raihan, sekaligus ada rasa sedih, karena lama tidak menjenguknya ke rumah sakit, dikarenakan ada liputan di tempat lain.

Karena ada rasa tak enak dalam hati, saya pun hanya membalasnya, “Alhamdulillah.. Saya senang dengarnya. Insya Allah, saya akan main-main ke rumah ya, Tan.”

***

Tiga minggu setelah Raihan keluar dari rumah sakit, ternyata salah satu stasiun televisi swasta kembali mengangkat kasus malpraktik. Kali itu, yang menjadi tamunya adalah Raihan.

Ternyata, hari itu, aktris kawakan Christine Hakim juga sedang menyaksikan acara tersebut.

Berdasarkan cerita dari mamanya Raihan, setelah acara itu selesai, ternyata Christine Hakim mengutus ajudannya untuk langsung menemui mama Raihan, dan berniat membantu Raihan agar sembuh.

Sehari setelah bertemu dengan ajudannya, Raihan sekaligus mamanya, bertemu langsung dengan artis kawakan-yang-kata-mamanya-Raihan-adalah-pemain-film-bisik-bisik-pasir itu di salah satu tempat.

Dalam kesempatan itu, Christine Hakim memohon izin untuk membawa Raihan berobat ke pengobatan alternatif yang sudah menjadi langganan keluarga besar Christine Hakim di daerah Cinere.

Nah, malam hari itu juga, mamanya Raihan mengabarkan saya.

***

Janjian sama mama Raihan di tempat itu sekitar jam 8. Tapi, berhubung saya penganut sistem lebih baik saya yang menunggu, jam 7 lebih 5 menit saya sudah duduk manis di ruang tunggu tempat pengobatan alternatif tersebut.

Ketika sedang asyik mendengarkan lagu di iPod, tiba-tiba seorang pria kisaran usia 35 tahun menegur saya

“Mau antre, Mas?,” tanya seorang petugas di sana.

“Oh, bukan, Mas. Saya menunggu salah seorang pasien yang akan berobat di sini,” jawab saya sambil melepas headseat dan memasukkan iPod kembali ke dalam tas.

“Siapa?,”

“Raihan. Bapak tahu?,”

“Raihan? Sepertinya saya baru dengar nama itu. Pasien baru?,”

“Hmmm.. Ya, dia baru. Dia ‘bawaan’ ibu Christine Hakim,”

“Oh, bunda Christine. Wah, lama juga bunda tidak ke sini. Biasanya, ke sini terus. Sibuk kali ya, Mas?,” katanya sambil mengeluarkan botol-botol air mineral berukuran 1 liter.

“Mungkin!,” jawab saya singkat.

Karena saya melihat tak ada tanda-tanda kalau ada orang yang menetapi rumah itu, saya pun iseng bertanya ke pria tadi, ke mana si pemilik rumah sekaligus orang yang menjadi ‘dokter’ –nya.

“Pak, ini rumah bapak yang akan mengobati?,”

“Oh, bukan, dik. Ini galeri biasa. Biasa digunakan untuk tempat pengobatannya,” jawabnya. Kali ini, sedang beberes kursi.

“Lho, si bapak tinggalnya di mana?”

“Madura!,” jawabnya singkat.

Mendengar jawaban si bapak itu, tiba-tiba dalam hati mengatakan, “Ish.. Ini orang ditanya serius, jawabnya begitu. Lagi nggak mau bercanda, tau.”

“Madura? Maksud bapak, bapak itu orang Madura,” tanya saya.

“Iya, dia orang Madura, sekaligus tinggal di sana. Dia PP Madura-Jakarta-Madura,” jawabnya.

“SERIUS? Busyet!” kata saya tak percaya.

Ternyata eh ternyata, sang terapis yang diketahui bernama Suharto itu, memang tinggal di Madura, Jawa Timur.

Meskipun di Jakarta Suharto membuka dua tempat praktik, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, tapi tetap dia enggan untuk menetap di Jakarta dan memilih tinggal di Madura, dan PP setiap kali praktik.

Gilanya, hal seperti ini sudah dilakoninya selama 16 tahun. Capek? Lelah? Tak terlihat sama sekali dari guratan yang ada di wajahnya.

Atas nama ibadah kepada Allah SWT, pak Suharto rela melakukan itu. Subhanallah.

***

Ketika jam telah menunjukkan pukul 9 lewat 10 menit, sebuah taksi bercat kuning memasukkin halaman tempat pengobatan itu.

Setelah taksi itu benar-benar berhenti, turunlah seorang pria yang sudah saya kenali wajahnya. Yah, dialah om Yunus, papanya Raihan.

“Halo, Om!,” sapa saya.

“Hai, Dit, sorry ya lama menunggu. Jalanan macet. Dan tadi nyari-nyari dulu. Bapaknya (supir) nggak tahu daerah sini,” kata Om Yunus sembari meminta maaf.

“Hihihihi.. Makanya Om, jangan naik taksi cat kuning. Rugi. Pasti dibawa mutar-mutar dulu. Aturannya naik yang biru, atau putih,” kata saya dalam hati sembari membantu Om Yunus mengeluarkan kursi roda untuk Raihan.

“Sorry ya Dit, lama nunggunya. Soalnya, nunggu taksi yang biru nggak lewat-lewat. Yang lewat malah yang kuning. Nyesel juga, sih,” kata mamanya Raihan, yang sepertinya tahu apa yang saya katakan dalam hati.

“Hahaha.. Nggak papa tante, om,”

10 menit setelah keluarga Om Yunus sampai, masuklah mobil mewah berwarna abu-abu.

“Ih, bunda Christine Hakim datang lagi. Lama juga ya, beliau tidak ke sini,” kata seorang pasien, yang sepertinya pasien lama di tempat itu, sehingga dia tahu betul siapa pemilik mobil mewah itu.

Ternyata benar. Yang keluar adalah Christine Hakim dan seorang wanita tua, yang diketahui adalah bunda dari Christine Hakim.

Pertama melihat sosok artis kawakan itu secara langsung, saya benar-benar dibuat tidak percaya. Kaget, ternyata Christine Hakim yang ada di bayangan saya, berbeda jauh dengan apa yang saya lihat langsung hari itu.

Yang ada di dalam bayangan saya, Christine Hakim akan keluar dari mobil mewahnya itu mengenakan pakaian yang menunjukkan kalau dia adalah seorang artis. Teryata saya salah. Christine Hakim justru mengenakan pakaian yang sangat sederhana sekali. Kaos merah, jeans, topi, sandal jepit, dan tanpa make up.

“Bunda Christine, ini Adit, wartawan yang pertama kali ngangkat kasus Rai,” kata mama Raihan, sembari memperkenalkan saya.

“Hai, Adit,” sapa Christine Hakim

“Halloooo.. bund.. Enggg… Mbak… Enggg… aku bingung manggilnya,” balas saya sambil beranjak dari kursi.

“Terserah mau manggil apa. Mbak, boleh. Tapi, saya kan beda jauh usianya sama kamu. Ibu, saya nggak mau ah dipanggil ibu. Bunda saja. Bukan bunda Slank ya, Dit. Hehehe..” candanya.

“Eh iya, kamu tinggi banget. Saya minder jadinya,” lanjutnya.

“Bundaaaaaa…” gerutu saya.

Tak lama kemudian, praktik pun dibuka.

***

Dalam keadaan terseok-seok karena habis diterapi, saya pun berusaha sekuat tenaga menghampiri keluarga om Yunus dan Christine Hakim yang menunggu di luar ruangan.

“Sakit ya, Dit? Nggak papa. Biar kamu pada saat menulis berita soal terapi ini, tahu juga bagaimana rasanya diterapi ini,” ucap Christine Hakim, yang membantu saya untuk berjalan.

“Hehehehe.. Iya, nggak papa bunda. Sakit dikit doang,” jawab saya malu.

“Yaudah, kamu ikut kita pulang saja. Searah ‘kan?,” tawar Christine Hakim.

Mendengar ucapan Christine Hakim yang menawarkan saya untuk pulang bareng dengannya dan keluarga Om Yunus, membuat saya benar-benar terharu. Bagaimana mungkin, saya yang biasanya hanya bisa melihatnya di layar kaca, hari itu bisa semobil dengannya.

“Sebenarnya nggak sih, Bunda. Nanti aku turun di Kebayoran saja. Dari situ naik ojeg atau bajaj,” jawab saya.

Di mobil, Christine mulai bercerita mengapa dirinya mau membawa Raihan berobat di pengobatan pak Suharto itu. Ternyata dulu, Christine adalah mantan pasien dari Suharto.

“Saya dulu kena Tiroid. Saya ini ya, asal kamu tahu, takut banget sama operasi. Saya tahu ada terapi ini, saya datangin. Berobatlah. Rutin. Hasilnya, alhamdulillah saya sembuh. Makanya itu, saya menawarkan kenapa mama dan papanya Raihan, untuk membawanya ke situ. Insya Allah, bisa sembuh seperti saya,” terangnya.

Bukan hanya berbicara itu saja. Dalam kesempatan itu, saya banyak diberi wejangan dan kisah-kisah seru dari wanita yang ikut bermain dalam film ‘Eat, Pray, Love’ itu. Salah satunya soal keseimbangan hidup.

Sampai saat ini, bisa dikatakan Christine Hakim merupakan salah satu aktris senior Indonesia yang masih terlihat awet muda. Apabila dilihat dari segudang aktivitasnya, tak ada yang mengira kalau kini umurnya hampir menginjak usia 60 tahun.

Bagi Christine, menjaga keseimbangan dalam hidup mampu membantunya tetap fit, walaupun usianya tak lagi muda.

“Bunda, rahasia awet mudanya apa, sih? Secara kan, bunda aktivitasnya banyak. Dan pasti, selalu menggunakan make up. Artis muda saja, kebanyak make up jadi terlihat tua. Bunda, tidak,” tanya saya sedikit meledek artis muda lainnya.

“Dibilang awet muda, ya, Alhamdulillah. Saya kira menjaga keseimbangan pola hidup, keseimbangan olahraga, dan keseimbangan spiritual harus dijaga baik-baik. Apabila semuanya seimbang, maka hidup akan terasa seimbang,” ujar wanita kelahiran Kuala Tungkal, Jambi ini.

Tapi sayangnya, keseimbangan itu baru dia sadari ketika dirinya menginjak usia 40 tahun.

Christine menyadari betul, di usianya yang sekarang ini, dirinya harus banyak mengubah pola tidur agar tubuhnya tetap bugar. Dan benar saja, ketika dia mengubah segalanya, hidupnya pun terasa lebih sehat.

“Di ilmu kedokteran kan dikatakan, tidur yang baik itu dari jam 10 malam hingga jam 4 subuh, semua itu saya praktikan. Dan hasilnya, benar-benar tak terduga,” tutur aktris cantik ini.

Bagi Christine, satu yang tak boleh ditinggalkan apabila hidup ingin terasa lebih sehat, bugar, dan indah di masa tua. Yaitu, sholat malam.

“Sholat 5 waktu itu wajib hukumnya, jangan sampai ditinggal. Akan tetapi, jika ditambah dengan sholat malam, akan jauh lebih baik. Itu kunci sederhana sebenarnya untuk hidup yang lebih baik.”

“Jadi, Dit, kamu yang masih muda, jangan sampai terlambat seperti saya. Kamu juga harus semangat menjalani tugasmu sebagai wartawan. Jaga terus kasus Raihan ini. Doakan agar Raihan cepat sembuh,” pesannya kepada saya.

Karena obrolan yang seru itu, membuat perjalanan yang cukup lama tidak terasa sama sekali. Berhubung saya sudah sampai di tempat yang dijanjikan semula, saya pun harus berpamitan dan berterimakasih karena sudah bersedia menumpangi sejauh itu.

“Bunda, terimakasih banyak lho, atas masukan dan cerita-ceritanya. Kalau ada casting nyari pemain, saya boleh lho,” kata saya tak tahu malu.

“Hahahaha.. Dasar kamu! Kasihan sutradaranya, nyari cameramennya yang setinggi kamu juga. Salam buat redakturmu ya. Ingat, jaga kondisi,” pesannya.

 

saya, Christine Hakim, dan keluarga Raihan