Monthly Archives: August 2013

Di Balik Makanan Khas yang Enak Itu

Lontong sayur Medan, lupis, dan roti jala merupakan panganan wajib yang harus ada di hari-hari besar. Bila makanan itu nggak ada, rasanya seperti ada yang kurang.

Di keluarga saya, jarang sekali beli jadi makanan seperti itu untuk disantap di hari-hari tertentu. Karena memang, di Jakarta ini sangat susah sekali menemukan pedagang yang menjual lontong sayur Medan. Kalau pun ada, pasti nggak lengkap, atau sudah dimodifikasi, dan sudah disesuaikan dengan lidah masyarakat pada umumnya

Ya, jika memang ada yang serupa, harganya rada tidak manusiawi. Hehehe… Maka itu, daripada beli, mending bikin sendiri.

Lontong Sayur Medan

Roti Jala

 

Lupis

Yah, di atas itu semuanya buatan Mama. Resepnya, turun temurun dari 2 nenek saya. Kalau di rumah sudah ada makanan seperti ini, bye bye deh yang namanya diet.

Yang saya senang ketika menanti makanan itu adalah, ketika melihat Mama sibuk di dapur. Motongin daun-daun pisangnya, marut kelapanya, ngukur berapa banyak berasnya, dan merebusnya. Hahaha..

Cetakan Lontong

Menyusun Cetakan ke Dalam Dandang

Tara. Ini Hasilnya

Itu cara mama membuat lontong khas Medan yang super enak. Dan itu senjata khas mama. Senjata mama itu sudah digunakan dari saya masih duduk di bangku kelas 6SD. Lama banget, kan?

Kalau itu lontong, berikut ini cara mama membuat lupis yang tentunya tak kalah enak. Bahan-bahan yang digunakan pun terjamin mutunya.

Memasukan beras, dan membentuknya menjadi segitiga

Sudah direndam selama 8 jam

 

Untuk membuat roti jalanya tidak butuh waktu lama. Sangat mudah. Modalnya hanya adonan tepung dan pantat panci. Hahahaha… Untuk kari kambingnya, juga meracik sendiri.

Adonan

Sudah jadi

Roti Jala dikuahin kari kambing

Hahaha .. Ini sebenarnya postingan random. Karena foto-foto ini sudah ada di Flickr saya, dan memang dari dulu sudah ingin saya buatkan postingannya, tapi nggak jadi melulu.

Ini makanan favoritku, kalau kalian?

 

Advertisements

Marugame Udon Sajikan Udon Dalam Keadaan Fresh

Setelah membuka cabang pertamanya di Mal Taman Anggrek, kini Marugame Udon membuka cabang keduanya di Gandaria City, yang terletak di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Meski tak sempat untuk menikmati udon di cabang pertamanya, beruntunglah saya mendapatkan kesempatan untuk menyicipinya di cabang yang keduanya beberapa waktu lalu.

Hari itu, saya memilih untuk menyicipi Mentai Kamata Udon. Alasan saya memilih itu, karena saya sedang ingin makan mie yang ada telur, sayur, dan ikannya. Ya, anggap saja ini pengganti keinginan saya untuk menyicipi mie instan, yang sudah menjadi pantangan saya 😀 . Alasan lainnya adalah, karena Mentai Kamata Udon merupakan udon yang amat direkomendasikan oleh Marugame Udon itu sendiri.

Mentai Kamata Udon merupakan udon tanpa kuah. Udon ini terasa spesial, karena disajikan dengan saus spesial, telur ikan mentaiko, dan telur omega setengah matang.

Mentai Kamatama Udon

Memang, untuk restoran yang menghadirkan udon sebagai handalannya sudah banyak bertebaran di mana-mana. Tapi, rasanya tak ada restoran yang dapat menjamin, udon yang disajikan kepada penikmatnya masih fresh from the oven, kecuali Marugame Udon. Kalau ada, mohon beritahu saya 🙂

Konsep yang digunakan oleh Marugame Udon mengingatkan saya akan warung-warung makan yang ada di Medan. Di mana para penikmatnya, dapat melihat langsung proses dari pembuatan makanan itu sendiri. Konsep seperti ini dikenal dengan Open Kitchen.

Serius Amat, Mas ? 🙂

Hati-hati Kaca Panas !

Selain konsep Open Kitchen, Marugame Udon pun menawarkan konsep freshly made and cooked kepada penikmatnya. Dengan konsep yang dimilikinya, udon dan tempura yang telah tersaji dan tidak ‘laku’ lebih dari 20 menit, akan ditarik, dibuang, dan diganti dengan yang baru. Jadi, para penikmatnya tidak akan mendapatkan bahan-bahan ‘basi’ ketika menyantapnya.

Pengukuran Terigu

Intip Proses Pembuatan Udon-nya

Proses Peredaman Udon

Udon yang ada di Marugame Udon yang ada di Indonesia, sama persis seperti yang ada di Jepang sana. Hanya saja, beberapa jenis udon tidak dapat disajikan di Indonesia. Ya, karena sebagian ada yang mengandung pork di dalamnya. Untuk di sini, kamu tidak perlu khawatir, karena tidak akan ada pork yang tersaji.

Meskipun, untuk sertifikat halalnya sendiri, Marugame Udon masih dalam tahap memrosesnya. Karena seperti yang diketahui, untuk proses pengukuhan suatu restoran Halal membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Banyak yang harus dicek, tidak hanya mie dan bahan-bahannya saja, termasuk seluruh ‘ornamen’ yang ada di restoran tersebut.

Meski begitu, Anda tidak perlu takut yang Anda makan haram. Karena ya itu tadi, pihak Marugame Udon sudah memastikan semua yang dihidangkan akan halal dan fresh, dan seluruh karyawannya pun beragama muslim. 🙂

Untuk pilihan tempura ada Kakiage (Tempura Sayur yang memiliki keunikan, yaitu ukurannya yang sebesar buah jerukbali), Broccoli Tempura (Tempura Brokoli), Egg (Ganti – Tamago) Tempura (Tempura telur omega), Chicken Chilli Tempura (Cabai Hijau Isi Ayam), Skewered Tofu Roll (Udang Kulit Tahu), Kisu Tempura (Tempura Ikan Kisu), Sweet Potato Tempura (Tempura Ubi), Tori Tempura (Tempura Ayam), Beef Croquette (Kroket Daging Sapi) dan Ebi Tempura (Tempura Udang). Dalam menyantap tempuranya, dapat menggunakan saus original yang sangat spesial dari restoran tersebut, yang teksturnya lebih kental dan original.

Belajar Mandiri

Yang unik dari restoran ini, pengunjung diminta untuk lebih mandiri. Kalau biasanya kita tinggal duduk, memanggil pelayan, dan memesannya, di sini para pelanggannya menyiapkannya sendiri. Yah, kurang lebih sama kayak di Hoka-Hoka Bento. (Berarti nggak unik dong, Dit? Terseralah)

Begitu kita sampai di depan restorannya, ya mungkin ada baiknya untuk mencari tempat duduk terlebih dulu. Setelah itu, segeralah untuk memesan di pantry nya langsung. Awalnya, kita akan ditanya mau memesan udon yang mana. Setelah itu, udon diracik, dan kita dapat mengambilnya. Udon selesai, kita dapat bergeser sedikit ke sampingnya, untuk memilih udon yang akan di santap.

Lalu, bergeser sedikit lagi untuk membayar keseluruhan di kasir, dan mengambil minuman berupa Ocha.

Minusnya

 Meskipun mienya kenyal, saya masih merasakan kesulitan untuk menyantap udon yang ukuran mienya terlalu besar. Saya tahu, mie udon itu ukurannya agak lebih besar dari ramen. Tapi hari itu, saya merasakan kalau besarnya itu sedikit tidak santai. Saya susah sekali menyantapnya. Saya saja susah, apalagi anak-anak (?).

Kemarin, waktu saya datang, listrik di Marugame Udon masih angot-angotan. Nyala mati nyala mati. Ketika makan bawaannya jadi nggak asyik. Agak sedikit terganggu, sih 😀

Marugame Udon
Gandaria City Mall, Upper Ground.
Jl. KH. M. Syafii Hadzani No.8, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Opening Hours: Mon – Sun 10:00 – 22:00
Price: Rp 33.000 s/d Rp 85.000 (Udon) | Rp. 7.000 s/d Rp. 14.000 (Tempura)
 

Mimpi yang Tak ‘Kan Pernah Terwujud

Tempo hari saya berkunjung ke kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora), yang terletak di sekitaran Senayan untuk mewawancarai para anggota paskibraka, yang akan bertugas di Istana Negara hari ini. Sayang, hari itu mereka tidak dapat ditemui, karena sedang berlatih di Cibubur, dan tidak dapat diganggu.

Di sepanjang perjalan pulang, tiba-tiba saja saya teringat tentang  apa yang pernah saya impikan dulu, yaitu menjadi anggota paskibra/paskibraka. Sayang, sampai hari ini, cita-cita itu tidak pernah menjadi kenyataan.

Keren, ‘kan (sumber: Paski’s blogspot)

Sedari kecil, saya (Insya Allah) tidak pernah absen untuk menonton upacara kemerdekaan di Istana Negara melalui saluran televisi. Tiap kali melihat para anggota paskibraka memasuki lapangan, saya selalu kagum melihat aksi mereka. Ketika mereka beraksi, saya selalu bilang ke mama atau papa, “Keren ya, mereka. Kalau Adit yang seperti itu, mama papa senang, nggak?”. Mendengar pertanyaan saya itu, mama hanya menjawab, “Senang senang saja. Tapi, apa iya, abang bisa seperti mereka? Mereka badannya bagus, tegap. Sedangkan apa, gendut, pendek pula.”

Saya sempat bilang ke mama, “Ish, mama ini. Malah ngejatuhin anaknya,”. Tapi ya, kalau saya ingat-ingat itu sekarang, saya hanya bisa tertawa. Karena memang, apa yang mama katakan itu tidak ada yang salah. Saya dulu pendek, gendut, hitam, bagaimana mau jadi anggota paskibra? Disuruh olahraga pun, saya nggak pernah mau. Sampai di SMA, saya pernah iseng mendaftar jadi anggota paskibra sekolah. Tapi, apa yang terjadi? Itu gagal sama sekali. Belum apa-apa, saya sudah ditolak.

Gendut

Lihat deh, foto di atas. Bagaimana mau menjadi anggota paskibraka, kalau sampai kuliah tingkat 3 masih buntal begitu? Hahaha 😀

Dari cara mereka berbaris, jalan, bawa baki, geret bendera, nurunin bendera, semuanya saya rasa keren. Apalagi, waktu salah seorang pembawa baki menerima dan menyerahkan bendera merah putih ke Presiden RI, itu saya merasakan ada keangkuhan yang terpancar dari mereka. Tapi, angkuhnya itu elegan. Mereka sah-sah saja angkuh. Karena memang, tidak semua orang bisa begitu.

Apalagi nih, ketika mereka berkumpul bersama saudara atau teman-teman sebaya, atau teman-teman kedua orangtuanya. Ya Tuhan, pasti bangga banget deh orangtuanya memamerkan anaknya yang telah berhasil menjadi salah satu anggota paskibraka di Istana Negara.

Meskipun sekarang saya rutin berolahraga, dan mengubah pola hidup menjadi lebih baik, ditambah tinggi saya yang menambah 14 cm, saya rasa tidak akan mewujudkan mimpi saya menjadi anggota paskibraka. Saya jadi mikir, bagaimana kalau paskibraka sesekali jangan melulu anak sekolahan yang diseleksi. Pekerja kantoran gitu, yang diseleksi. Ya, siapa tahu, keberuntungan buat saya masih ada. Kalau pun misalnya itu ada, dan saya tetap tidak terpilih, berarti memang itu belum rezeki saya (sampai kapan pun). Jika keterima, alhamdulillah ! Tapi kalau dilihat dari ukuran, ukuran tinggi saya offsite!

Saya lantas berpikir, apa baiknya mimpi saya ini, saya tularkan ke anak kelak? Jadi, anak saya nanti yang akan saya gembleng untuk belajar sungguh-sungguh, berprestasi, rajin olahraga, tidak obesitas, dan nggak malas untuk makan sayuran dan buah-buahan. Sewaktu memilih ekstrakulikuler, saya memintanya untuk mengambil paskibra sekolah. Sewaktu-waktu ada seleksi untuk paskibraka kelurahan, kecamatan, DKI, dan Nasional, anak saya bisa keterima.

Tapi ya, saya juga nggak mau memaksa banget. Katanya kan, nggak baik memaksakan apa yang orangtua inginkan tapi tak tercapai ke anak-anaknya. Takutnya, itu jadi beban buat mereka.

Mbuhlah… Yang terpenting sekarang, saya tidak pernah bosan menyaksikan upacara bendera di Istana Negara hanya untuk melihat adik-adik anggota paskibraka beraksi.

Oia, selamat Hari Ulang Tahun yang ke-68 bangsaku, Indonesia! Kamu sama seperti aku, masih banyak kekurangan. Tapi, aku tetap banggamu! Harapanku, semoga ke depannya kamu semakin jaya selalu. Dan aku berharap, semoga anak bangsa ini cepat MERDEKA dari asap rokok, ya 🙂

Hanya Satu yang Dapat Didengar Uyut, Durian !

Lebaran tahun ini, untuk pertama kalinya uyut menginap di rumah mama. Selama ini, uyut nggak pernah bisa move on dari rumah anaknya yang berada di Bekasi. Jadinya, setiap tahun di hari raya idulfitri, seluruh keluarga besar berkumpul di Bekasi.

Usia uyut tidak lagi ‘muda’, sudah 3 digit. Menurut kakek, usia uyut sudah 100 tahun. Tapi, ketika usia itu ditanyakan langsung ke uyut, beliau menjawab usianya baru 103 tahun. Baru? Gila! Memang, banyak perubahan yang terjadi pada uyut, sesuai dengan bertambahnya usia beliau.

Tuli? Sudah pasti. Pikun? Apalagi. Jalan pun, uyut sudah tak sanggup. Tapi, ada satu hal yang nggak pernah berubah dari uyut, yaitu kegemarannya menyantap buah durian. Iya, durian !

Kemarin saja, sewaktu saya mengajaknya mengobrol, saya harus berjuang mendekati bibir ini ke telinganya dia. Kalau tidak begitu, dia tidak dapat mendengar dengan jelas. Uyut ini kalau ditanya bagaimana kabarnya, drama-nya dia keluar. Sok mengeluh, dan minta dikasihani. Hahahaha.. Ini kocak, apalagi melihat mimik ketika menjawab pertanyaan dari anak dan cucunya.

Uyut itu selalu merasa dirinya sudah tak sehat seratus persen. Disuruh makan nasi, dia nggak pernah mau. Alasannya, sudah tak kuat mengunyah, dan kesakitan ketika menelan. Tapi, ketika kami, anak dan cucunya, menawarkannya buah durian, dengan cepat dia menjawab, “Mau!”

Kemarin malam saya iseng ngobrol sama anaknya (tante saya), yang kebetulan duduk di samping uyut, di atas tempat tidur, “Tante, enak kali ya, kalau makan durian. Beli durian yuk, tan!”. Ajaibnya, si uyut itu bisa mendengar, ketika ada yang menyebut kata durian.

Durian? Mana duriannya? Aku mau!” ucap uyut ke anaknya. “Ah, memang ada bilang kalau di sini ada durian? Kuping mamak salah dengar kali. Mamak kan, sudah tuli,” jawab tante iseng. “Aku dengar, aku belum tuli,” kata uyut ngotot.

Karena terlanjur dia mendengar kata durian itu, alhasil malam harinya setelah pulang dari kantor (Iya, saya lebaran kedua sudah masuk kantor), saya menyinggahkan diri ini ke TOTAL, bareng sama mama.

Sempat desperate, waktu mbak-mbaknya bilang kalau beberapa hari tak ada durian yang dipasok sama TOTAL. Nah, lho, berabeh urusannya kalau duriannya itu enggak ada. Saya bilang ke ibu, untuk mencarinya di tempat lain. Tapi, ibu sudah nggak kuat nyetir mobil, mau nggak mau, ada nggak ada duriannya, harus pulang.

Pas banget mau keluar dari TOTAL, saya baru teringat kalau di situ ada pancake durian. Nggak jadi keluar, saya masuk lagi, dan bertanya ke mbak-nya, apa ada pancake durian? Syukurlah, pancake duriannya masih ada 4 bungkus.

Saya pikir, nggak dapat buahnya, pancakenya pun jadi.

Sepanjang perjalanan sempat ragu, takutnya uyut nggak begitu suka dengan pancake durian. Di sepanjang perjalan pun, mata ini melirik kanan kiri jalan, siapa tahu ada yang jualan buah durian.

Sesampainya saya di rumah, si uyut sudah menanyakan mana durian untuknya. Belum juga ngelepas tas, saya langsung masuk ke kamarnya uyut, dan bilang kalau durinya nggak ada. Tahu enggak, waktu saya bilang seperti itu, mukanya uyut langsung BT. 😆

Karena takut durhata, uyut murka, dan dia minta diantar pulang ke rumah anaknya yang di Bekasi, yasudah saya langsung menyodorkan pancake durian tersebut.

Pas ngelihat pancake yang masih berada di dalam bungkusan, uyut berujar, “Mana duriannya? Durian itu putih, itu bukan durian. Itu kue,”. “Sudah, uyut makan saja dulu, dan cobain. Itu durian kok isinya,” jawab saya.

Awalnya, pancake durian itu nggak langsung dimakan gitu sama uyut, tapi dipotek (dibelah) dulu sama dia. Untuk meyakini, kalau isinya benar-benar durian.

Uyut dan pancake duriannya

“Oia, isinya durian. Baunya sudah kecium,” kata uyut sambil nyengir. “Tuh, ‘kan, benar. Enak ‘kan, yut?” tanya saya. “Enak! Dua-duanya buat aku, ya,” 😆

Uyut itu kalau sudah ngomongin durian bakalan panjang. Waktu nyicipin pancake duriannya itu, dia nawarin ke anak dan cucunya yang menemaninya di dalam kamar. “Kelen (kalian) mau?,” sambil mencium aroma duriannya. “Enggak yut, awak nggak  suka,” jawab cucunya. Satu per satu pun kabur meninggalkan uyut, karena nggak kuat dengan aroma duriannya.

“Kalian payah. Sama buah surga kok nggak suka. Bagaimana mau jadi orang sukses?”. Hmmmmmm… Yang terakhir, entah apa hubungannya dengan nggak suka buah durian.

Lahapnya

Demi Konser JKT48 Indosat IM3

‘Bagai menjilat air liur sendiri’ yang saya rasakan waktu untuk pertama kalinya, menyaksikan adik-adik lucu nan menggemaskan dari JKT48, mengadakan konser yang bertajuk Demi Konser JKT48  tanggal 17 April silam di fX Senayan.

Pasalnya, saya merupakan salah satu orang, yang merasa gengges waktu mereka pertama kali melihat mereka muncul setahun lalu. Aneh, nyanyi kok keroyokan gitu!

Tapi, lambat laun saya merasa penasaran dengan mereka. Pasalnya, sepupu saya, @adjiefajri, begitu antusiasnya setiap kali JKT48 muncul di layar kaca. Terlebih, sepupu saya ini menyimpan beberapa lagu milik JKT48 di iPod-nya.

Satu per satu lagu JKT48 diperdengarkan oleh Adjie ke saya. Yah, saya tidak dapat membohongin kuping dan hati ini. Ternyata, lagu-lagu mereka itu mampu membuat kepala saya bergoyang, pertanda saya menikmati lagu tersebut.

Dan kampretnya si Adjie ini, dengan antusiasnya dia menceritakan kepada saya, bagaimana serunya ketika JKT48 bernyanyi satu panggung dengan para sister-nya, AKB48 dan lain-lain.

Selain Adjie, ada sosok Umen yang berhasil membuat saya menyukai JKT48 ini. Soalnya nih, Umen selalu ngeshare video-nya JKT48 di milis Kopdar Jakarta. Setiap yang dishare sama Umen, saya pasti tonton. Karena video dari Umen pulalah, yang membuat saya melihat satu per satu video JKT48 tengah manggung.

Anjir.  Mereka keren. Terutama pas mereka manggung di Tokyo Dome. Sumpah, itu keren banget. Mereka lucu banget, dengan busana panggung, yang pas di badan mereka. Ditambah, lagu mereka yang catchy itu.

***

Ketika mendapat undangan dari @IndosatMania untuk hadir ke acara #demikonserJKT48IM3 di fX, saya bingung mau pergi sama siapa. Sebagai seorang yang baru saja mengagumi mereka, dan mendapatkan kesempatan untuk pertama kali nonton mereka di theaternya, saya butuh teman.

Saya tidak mau cengok sendirian, karena bingung mencari tahu siapa saja nama-nama member JKT48 yang ada di panggung.

Yeay, Theater JKT48 di fX Senayan

Foto Team J

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengajak Umen dan Teddy, dan teman-teman lainnya untuk menyaksikan konser ini. Lumayan, ada orang yang rela menjawab setiap pertanyaan saya mengenai JKT48.

Pertama kali masuk theater mereka, saya merasa bangga menjadi seorang yang dengan mudah menyaksikan mereka di theater. Karena menurut Umen dan Teddy, tidak mudah untuk dapat menyaksikan konser mereka di theater. Daftar dulu via email, dan mengikuti prosedur yang ada. Terimakasih, Indosat!

***

Sewaktu acara akan segera dimulai, saya #barutahu kalau penonton tidak diizinkan untuk memoto para member yang sedang beraksi.

Kecuali untuk media yang hadir kala itu. Itu pun hanya diperbolehkan memoto di lagu pertama mereka.

Beberapa teman blogger ada yang mengganggap kalau manajemennya JKT48 ini sok, karena tak boleh mengabadikan aksi panggung artisnya. Tapi, menurut saya, apa yang dilakukan manajemen JKT48 ini ada benarnya juga.

Begini lho, tujuan untuk nonton konser itu kan menyaksikan aksi panggung, dan mendengarkan langsung suara mereka. Lagian ya, kalau terlalu banyak foto-foto, memangnya bisa menikmati aksi panggung mereka?

Eh, benar, lho. Di sepanjang pertunjukkan, saya dapat menikmati aksi panggung mereka, meskipun saya harus banyak bertanya pada Teddy, yang duduk di samping saya. Untunglah, Teddy dengan baik hati mau memberitahu saya siapa-siapa saja member yang ada, dan lagu apa saja yang sedang mereka nyanyikan. Saya justru nggak enak sama Teddynya. Maaf ya, Koh 😀

***

Demi Konser JKT48 hari itu berjalan dengan lancar. Saya, sebagai orang yang pertama kali menyaksikan mereka secara langsung, merasa senang, bahagia, dan tak henti-hentinya ketawa melihat aksi kocak beberapa member.

Yang saya suka dari konser JKT48 adalah, setiap member dibiarkan untuk berekspresi dan mengeksplorasi bakat lainnya yang mereka punya. Yaitu, menjadi MC.

JKT48 di panggung

Cara mereka berinteraksi dengan para penonton, patut diacungi jempol. Mereka nggak malu, untuk berbuat konyol di atas panggung, karena memang itulah mereka apa adanya.

Apalagi Haruka, member AKB48 yang hijrah menjadi member JK48. Sumpahlah, member yang satu itu lucunya kebangetan. Ulahnya di atas panggung, mampu mengocok perut ini. Rahang pun sakit dibuatnya.

Ada juga tuh, yang namanya sesi perkenalan. Sesi ini lucu. Mengapa? Selain memperkenalkan namanya, mereka juga memberitahu hal lainnya, seperti hobi mereka.

Dari serangkaian perkenalan itu, yang membuat saya tak henti-hentinya ketawa ya si Haruka dan Ayana. Yeah, saya jatuh hati pada kedua member itu.

Hahahahaha.. Kalau kata Umen, saya cocok mengidolakan Ayana, karena Ayana suka typo! Ish. *tendang Umen*

***

Oia, Demi Konser JKT48 ini merupakan konser digital yang diselenggarakan oleh Indosat IM3, dengan mengajak seluruh pelanggannya untuk berkompetisi membuat panggung secara virtual untuk konsernya JKT48.

Tak tanggung-tanggung, konser digital ini iikuti lebih dari 5.500 pelanggan yang berpartisipasi di website Demi Konser JKT48 .

Selain itu, konser Demi Konser JKT48 ini mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), lho. MURI memberikan penghargaan ini, karena konser digital ini memiliki kru terbanyak, yang diikuti oleh pelanggan melalui digital.

Cara mainnya cukup mudah, peserta kompetisi sebagai kru, berkontribusi dalam mempersiapkan semua peralatan seperti lighting, speaker, sounds, dan lain-lainnya, sampai konser ini digelar. Hanya saja, dalam format digital yang ada di dalam website tersebut.

Sekali lagi, sukses untuk IM3 atas terselenggaranya Demi Konser JKT48 ini. Dan selamat, atas penghargaan MURI yang didapat.

Semoga dengan prestasi yang telah didapat oleh Indosat ini, membuat Indosat lebih bebenah diri, dalam meberikan service ke pelanggan setianya. Ini sih, masukan dari saya yang telah menggunakan Indosat cukup lama 🙂

Sukses terus Indosat dan JKT48 🙂