Monthly Archives: October 2013

Habiskan Sabtu Sore di Coffee Breath Kafe Kemang

Sabtu kemarin saya, Dita `Peri Gigi` dan Arie `Goiq` Pitax diundang JakartaVenue.com untuk icip-icip makanan dan minuman yang ada di Coffee Breath, yang terletak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Kurang lebih, 6 jenis minuman dan 4 jenis makanan berhasil masuk dengan sempurna ke perut kami masing-masing.

Tampak Depan

Berderet mesin kopi dan biji kopi serta berderet cemilan manis

 

Kalau dilihat dari nuansa dan tema yang diusung, Coffee Breath ini sangat cocok disinggahi bagi kamu yang ingin nongkrong, kencan, meeting, atau kopdar dengan nuansa yang sedikit berbeda. Terlebih, buat kamu para penikmat kopi. Sebab, di Coffee Breath kamu dapat memilih aneka macam kopi lokal berkualitas dari berbagai daerah di Indonesia.

Kamu mau kopi dari daerah mana? Toraja? Ada! Wamena? Ada juga! Misalnya kamu mau menyicipi kopi Luwak, di Coffee Breath juga tersedia, lho! Selain itu, kamu juga dapat melihat secara langsung para barista meracik biji-biji kopi menggunakan mesin khusus yang didatangkan dari negeri Paman Sam, Amerika.

Begitu kamu memasukin kafe yang cukup luas itu, akan disambut dengan hiasan berupa pohon yang di atasnya bertengger banyak burung-burung. Di sisi kiri, kamu akan melihat lemari cukup besar yang berisikan buku-buku, mesin mini kopi, dan scrappbook. Selain itu juga, di dinding kafe itu–baik kanan atau kiri–kamu juga akan melihat banyak lukisan yang keseluruhannya dapat kamu beli. Sebab, semua lukisan itu bersifat konsyinyasi.

Ornamen di dinding

Sore itu yang disajikan empunya kafe, Lita Juswandani, bukanlah yang berbau kopi. Melainkan, jenis minuman lain seperti Mango Mint, Mojito Blossom Buble, Strawberry Bland, Ginger Coffee, Taro Bland, Choco Mint Bland. Sedangkan untuk makanannya sendiri, yang disajikan kepada kami ada Sup Buntut Saus Tiram, Prata Manis, Pisang Goreng Keju, dan Chicken Tartein. 

Oke, saya akan mulai memberikan pendapat mengenai makanan ini satu per satu.

1. Mango Mint dan Mojito Blossom Bubble

Mango Mint dan Mojito Blossom Buble

Untuk Mango Mint-nya sendiri, menurut saya rasanya STD BGT alias standar banget. Rasanya ya gitu, cuma rasa mangga dan mint-nya pun hanya sedikit terasanya. Buble yang ada di Mango Mint pun, rasanya juga mangga. Jadi, mangga ketemu mangga, tidak ada yang spesial. Pointnya, 6 dari 10.

Berbeda jauh dengan Mojito Blossom Buble, yang rasa dan kesegarannnya berbeda jauh dari Mango Mint. Minuman satu ini terdapat dua rasa dalam satu gelas. Rasa asam dari buah Pome dan rasa asam dari markisa. Rasa markisanya itu terdapat di dalam buble-nya. Bila kamu gigit buble-nya itu, akan lebih terasa lagi markisanya. Apalagi, kalau kamu menyicipi bublenya bersamaan dengan Mojito Blossom-nya itu. Sebab, rasa asam segar dari buah pome akan bergabung dengan rasa asam markisa, dicampur rasa mint. Sumpah, segar banget. Point-nya, 8 dari 10.

2. Strawberry Bland

Strawberry Bland

Sebenarnya Strawberry Bland ini sama seperti Mango Mint, yang hanya memiliki satu rasa dalam satu gelas itu. Tapi bedanya, terdapat di bubble-nya yang meletup-letup di mulut, ketika kamu menggigitnya. Ya, walaupun bubble-nya itu rasanya tetap strawberry, ya 🙂 Point-nya, 7 dari 10.

3. Taro Bland & Choco Mint Bland

Taro Bland

Choco Mint Bland

  1. Menurut saya, dari kedua jenis minuman ini yang paling saya rekomendasikan adalah Choco Mint Bland. Kenapa? Soalnya, Taro Bland itu ‘kan, terbuat dari talas, sedangkan saya sendiri tidak terlalu familiar terhadap talas itu sendiri. Jadinya aneh saja. Cuma, Taro Bland pun tidak bisa begitu saja dibilang tidak enak, ya. Enak. Dua-duanya segar, cuma saya lebih jatuh hati sama Choco Mint Bland. Cokelat dan mint-nya itu berhasil menyatu dalam satu gelas, dan cream yang ada di atasnya pun tidak terlalu berlebihan dan tidak membuat saya eneg.
  2. Biasanya, kalau minum yang terlalu manis gigi saya akan nyut-nyutan. Entah kenapa, ketika menyicipi kedua minuman itu gigi saya aman-aman saja. Itu pertanda, manis yang ditawarkan pas, tidak berlebihan.
  3. Pointnya, 8 dari 10 untuk Choco Mint Bland dan 7 dari 10 untuk Taro Bland.

 

 4. Ginger Coffee

Ginger Coffee

Eh, kopi yang ini saya belum menyicipinya. Karena saya kurang suka kopi, sore itu sudah terlalu eneg sama minuman manis. Jadinya saya skip. Mending tunggu review-an dari Arie Pitax saja, ya.. Soalnya dia yang ngabisin ini. :p

Makanan

1. Sup Buntut Saus Tiram

Sup Buntut

Biasanya kalau saya makan sup buntut di mana pun itu–termasuk di rumah sendiri–seringkali dagingnya itu nyelip di gigi dan kurang empuk. Tapi Sup Buntut Saus Tiram ala Coffee Breath ini, berhasil bikin saya jatuh hati padanya. Dagingnya, empuk banget. Sumpah. Saus tiramnya juga berada di dagingnya. Sangking empuknya, dagingnya itu lepas sendiri dari tulangnya.

Untuk kuahnya sendiri, segar banget. Tidak terasa asin, dan kaldu dari daginya itu berasa banget. Apalagi kemarin disajikan dalam keadaan yang masih hangat gitu, jadinya keduanya ini terpadu sempurna.

Point-nya, 8,5 dari 10 🙂

2. Prata Manis & Pisang Goreng Keju

Prata Manis

Pisang Goreng Keju

  1. Antara Prata Manis dan Pisang Goreng Keju, saya paling suka yang prata manis-nya. Biasanya, saya makan prata ala Melayu yang disiram kuah kari. Saya hampir tidak pernah tahu bagaimana rasanya prata manis itu. Kecuali, roti canai manis, ya. Saya tidak tahu, resep apa yang digunakan empunya menu terhadap makanan satu ini. Soalnya, kulitnya itu tidak terlalu kering, dan manis dari susu yang ada di atasnya juga tidak terlalu manis. Kemarin saja, saya dan yang lainnya menyicipi ketika prata sudah mulai dingin. Andaikan saja dalam keadaan panas, pasti lebih enak dan terasa garingnya.
  2. Untuk Pisang Goreng Keju, saya tidak terlalu banyak menyicipinya. Menurut saya, pisangnya hari itu rada keras dan terlalu besar. Tapi, coba tanya yang lain, mungkin pendapatnya beda.
  3. Point-nya, 9 dari 10 untuk Prata Manis dan 7 dari 10 untuk pisang goreng keju.

3. Chicken Tartein

Chicken Tartein

Mendadak saya lupa bagaimana rasanya. Saya bahkan lupa, apakah kemarin saya memakannya atau tidak!? –*#dikeplak

Itu tadi pendapat saya mengenai makanan dan minumannya, berikut pendapat saya mengenai tempat dan lain-lainnya.

  1. Coffee Breath yang terletak di Jalan Benda, Kemang menurut orang yang sering ke sana katanya sangat strategis. Berhubung kemarin itu saya baru pertama kali ke daerah Kemang, saya merasa agak jauh. Bahkan sempat nyasar. Tapi menurut Bang Arie dan Kak Dita, justru jalan Benda itu kawasan paling strategis dan mudah untuk dicari.
  2. Coffee Breath ini terdiri dari 3 lantai, tapi yang digunakan hanya 2 lantai. Lantai 1 biasa digunakan untuk umum, sedangkan lantai 2 bisa dijadikan tempat untuk ngumpul-ngumpul besar. Misalnya saja, acara komunitas.
  3. Coffee Breath sama sekali enggak sumpek. Malah adem, sangking luasnya. Walaupun ada banyak AC, saya yakin AC-nya disetel tidak terlampau tinggi. Tapi tetap, berasa adem dan tidak kedinginan gitu.
  4. Kamar mandi di Coffee Breath bersih. Airnya mengalir dengan sangat lancar.
  5. Pelayan di Coffee Breath, juara ramahnya. Baik-baik banget. Oia, satu lagi. Pelayan di sana paham bagaimana caranya mengambil gambar yang bagus, ketika dimintai tolong untuk memoto saya dan kawan-kawan 😛 #inipenting, yes!?
  6. WiFi? Sudah jelas ada. Kencang atau enggaknya, wah, kurang tahu. Soalnya kemarin paket data masih banyak. Sorry, kalau paket data masih banyak, anti menggunakan WiFi :p
  7. Parkir? Luas!
  8. Mau merokok? Bisa, tapi di luar.
  9. Intinya, kalau mau nyantai sambil ngopi-ngopi centil memang paling nyaman di Coffee Breath, deh. Homey banget. Paduan warna wine dan hijau tidak membuat mata sakit.
  10. Di lantai atas  meja panjang serasa sedang di kedai, dan dapat menghadap langsung ke jalan.
  11. Soal harga, tidak terlalu menguras kantonglah. Apalagi buat para jomblo! Yakinlah. Harga dibandrol mulai Rp. 15 ribu sampai Rp. 50.000.

Salah satu spot di lantai 2.Dindingnya penuh quote gitu

Masih di Lantai Atas

Kak Dita Fokus Banget, sih!

 

Coffe Breath – The Broadway Kemang Building,
Jalan Benda No.46, Cilandak Timur,
Jakarta Selatan 
Jam Operasi : From 07:00 WIB until 22:00 WIB (last order)
 
Advertisements

Dompetku Penolong di Kala Sibuk

Kemarin seorang teman bertanya kepada saya, apa sih hal menyebalkan dari pekerjaan yang kita lakoni saat ini? Kalau menurut dia, hal paling menyebalkan saat kliennya banyak permintaan ketika pekerjaan itu sudah mau selesai. Sedangkan saya, hal paling menyebalkan dari pekerjaan saya adalah ketika pulsa yang ada di kedua hape sekarat.

 Dalam pekerjaan saya, dua hape dirasa cukup, BB untuk mengirim naskah berita, dan hape satu lagi–yang memiliki kualitas gambar bagus–digunakan untuk mengirimkan gambar yang terjadi di lapangan. Ini biasa terjadi kalau saya ditugaskan meliput sebuah peristiwa seperti Sidak, dan kegiatan yang memang membutuhkan gambar untuk lebih meyakinkan pembaca.

Paling gengges memang,  kalau tiba-tiba saja hape yang khusus untuk mengirimkan foto tersebut kuotanya habis. Mau enggak mau kan, harus perpanjang paket, meskipun masa aktif belum habis.

 Dan yang lebih malesin nyalagi, kalau pas mau isi pulsa, tukang pulsa enggak ada, dan saya selaku penjual pulsa saldonya habis. Klop!

 Pernah tuh kejadian, waktu saya liputan ke Ujung Genteng. Banyak foto yang harus dikirim, eh, kuota malah habis. Mau isi pulsa, takada pula yang jual. Pas saya cek saldo pulsa jualanan saya, gak cukup sama sekali. Dih! *sebagai penjual pulsa saya merasa kotor*

 Untunglah, isi rupiah di Dompetku cukup untuk mentransfer pulsa ke nomor yang kuotanya habis itu. Tinggal tekan *789# , cari Pembelian lalu pilih pulsa, ikuti petunjuk sampai jumlah nominal pulsa yang diinginkan keluar (dari 5K sampai 100K ada semua) lalu masukkan nomor tujuan, tanpa perlu menunggu lama pulsa yang ditunggu pun sampai ke nomor satunya lagi. Padahal, nomor saya yang satunya lagi beda provider.

 Setelah pulsa terisi, langsung deh kuota yang ada di nomor itu saya perpanjang, dan saya pun bisa mengirim foto untuk berita yang sudah saya kirim sebelumnya. Begitu foto sampai di redaksi, berita sudah dapat dinaikkan.

 Kalau media online, hal-hal seperti ini harus diperhatikan betul. Telat sedikit saja, media sebelah sudah tayang beritanya. Sebisa mungkin, hal seperti itu jangan sampai terjadi pada saya.

 Oia, Dompetku yang saya maksud bukan dompet kulit yang biasa saya bawa, ya. Tapi, Dompetku ini layanan uang elektronik dari Indosat.

 Dompetku dibuat oleh Indosat, untuk memungkinkan pelanggan setianya dapat melakukan berbagai transaksi seperti yang sayala kukan, transfer pulsa.

 Tidak hanya untuk transfer pulsa, lho. Dompetku juga dapat digunakan untuk pembayaran tagihan, pembelian barang di mitra kerjasamanya Indosat–Alfamart–bahkan pengiriman uang sekalipun.

 Kalau dilihat cara kerja Dompetku ini mirip e-banking. Dompetku cocok buat siapa saja yang malas mengurus e-banking, tapi maunya ringkas, dan serba cepat

 Selain itu, kalau kita ((((KITA??)))) mau menggunakan e-banking harus mengurus segala administrasinya ke bank dulu. Sedangkan Dompetku, enggak perlu seribet itu. Cara aktivitasinya juga cukup gampang. Malah gampang bingits. Pakai Indosat, kan? cukup tekan *789# untuk melakukan pendaftaran, dan ikuti saja langkah-langkahnya.

Buat narablog yang menggunakan nomor Indosat di hape Android, dapat mendownload Dompetku ini di Play Store. Tapi, berhubung saya orangnya ogah ribet, mending via SMS saja.

Setelah selesai registrasi dan tetek bengek lainnya, kamu akan menerima PIN layanan Dompetku yang dapat kamu ubah semaumu. Jika kamu kurang sreg dengan PIN yang ada, kamu tinggal mengubahnya saja.

 Caranya, ketik PIN (spasi) PIN lama (spasi) PIN baru yang kamu setting sendiri, dan kirim ke 789. Dan seperti biasa, selalu ada special bonus yang dapat kamu nikmati.

Buat kamu pengguna jaringan penyediaan ATM ALTO dan Prima dapat melakukan isi ulang saldo Dompetku melalui ATM dompetku, ATM Bersama, Permata Bank. Nah, tinggal pilih deh, mau yang mana?

Yasudah, buat kamu yang penasaran dan ingin mengetahui soal Dompetku ini, silahkan cek video `MengejarOnthel` ini saja. Oke, oke.

Seru-seruan di Social Media Festival 2013

Sabtu (12/10/2013) dan Minggu (13/10/2013) kemarin saya menyempatkan diri untuk hadir di Social Media Festival 2013, yang tahun ini diadakan di fX Sudirman. Sehari sebelumnya, saya sempat melihat daftar acara yang ada di SocMedFest, yang mana tahu dapat saya jadikan berita.

Ternyata, di hari pertama pelaksanaan, ada seminar kesehatan gitu yang diselenggarakan berkat kolaborasi Milis Sehat, Ayah ASI Indonesia, dan Mama Memerah (kalau tidak salah). Setelah seminar yang mengangkat tema ‘Pemberian Antibiotik yang Benar ke Anak’, acara selanjutnya kolaborasi Milis Sehat dan Indonesia Berkebun, yang mengangkat topik ‘Berkebun itu Mengasyikkan dan Sehat’. Di seminar itu, yang menjadi moderatornya salah satu member Kopdar Jakarta yang super nge-hits, @Indrayust.

Penampakan Indrayust

Di daftar acara, acara pertama dimulai pukul 12 siang. Berhubung Jumatnya saya pulang agak larut, alhasil di hari Sabtunya, setelah sholat subuh saya hajar tidur lagi. Bangun-bangun jam 10.30, mandi, dan langsung bergegas menuju fX menggunakan commuterline. Sampai di Palmerah, saya bantai naik ojeg, begitu sampai fX lari pontang panting mengejar acara pertama–yang awalnya saya tidak tahu diadakan di mana, secara fX luas banget. Setelah tanya sana-sini, acara seminar gitu diadakan di lantai 6, sedangkan booth komunitas berada di lantai 1 dan lantai 3.

Sudah capek-capek naik tangga, lari, eh, begitu sampai di lantai 6, dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 12:45, acara belum juga dimulai. #Wesbiyasa!

Setelah selesai mengikuti dua seminar, saya turun ke lantai 3, untuk melihat keramaian apa yang sedang terjadi. Di situ ketemu Mas Pitra, Teddy Oom 48, Kak Dimas, Mamah Wiwiek, Kang Caplang dan pasangan, dan member kojak lainnya.

Kaki yang terasa lemasnya, mendadak harus lemas lagi. Soalnya, saya enggak tahu kalau di lantai 3 itu ada booth setan-setanan, yang setannya itu memang setan! Setan-setanan itu jalan dong, muterin lantai 3. Saya berusaha untuk kalem, dan tidak menunjukkan rasa takut. Sikap seperti itu tidak bertahan lama ternyata. Pas saya lagi ngobrol sama cicih Lionda, tiba-tiba 1 dari setan-setanan itu ada di samping saya. Bangkenya, setan-setanan itu yang megang kepala dan mukanya seram gila itu ngejutin saya. Alhasil, teriakan pun tak dapat ditahan lagi.

Saya teriak sekencang-kencangnya, dan lari pontang panting nyari tangga. Karena panik, yang seharusnya turun, saya malah naik ke lantai 4. Dafuk!

Karena kantor buka booth di acara itu, istirahatlah saya di sana. 30 menit kemudian, saya naik lagi ke lantai 3. Coba untuk memberanikan diri, soalnya ada acara seru di panggung utama. Untungnya, pas saya naik ke lantai 3, setan-setanannya lagi enggak ada. Saya langsung bablas saja masuk ke area panggung. Aman!

Beberapa jam kemudian, setelah seminar A, B, dan C kelar, tepat di pukul 8 malam, acara yang saya tunggu-tunggu mulai juga, acara musik yang menghadirkan (lagi-lagi) Yovie and His Friends. Malam itu yang dibawa sama Yovie cuma Kahitna, 5 Romeo, dan Dygta. Tak ada Raisa, Andien, dan lain-lain. (yaialah… kalau mau lengkap nonton Konser Irreplaceable #TakkanTerganti Yovie 3 minggu lalu, dong)

5 Romeo

Ya, sekitar 4 apa 5 lagu gitu dibawain sama mereka. Puas sing a long, saya memutuskan untuk pulang. Eh, enggak langsung pulang, ding. Kopdar singkat dulu sama Mbak Siwi, Nona Merah dan pasangan, Mbak Eno dan TTM-an, dan cicih Lionda. Baru, setelah ngobrol 30 menit saya pulang.

Hari ke-2 Social Media Festival 2013

Di hari kedua ini, saya datang lebih pagi. Berangkat pukul 5, sampai di fX sekitar pukul 6.30 . Sampai di fX Sudirman, sudah ada Mas Umen menanti kedatangan pasukan semutnya. Hari itu, pasukan semut dari Operasi Semut bertugas mengumpulkan sampah-sampah di sekitar fX Sudirman.

Pasukan Semut

Dan di pagi itu juga, ada acara seru yang dipersembahkan oleh Ayah ASI Indonesia, `Ayah ASI Run 1 K`. Acara itu, lomba lari ayah sambil bawa anaknya. Ada yang menggunakan troli, ada juga yang menggendongnya. Sebagian ada juga yang membiarkan anaknya lari tanpa menggunakan troli dan digendong. 1 K sendiri, bukan 1 kilometer, tapi 1 keliling. Mulai di depan fX Sudirman, finish-nya di halaman mall.

Lucu melihat aksi ayah dan anaknya itu. Mereka semangat banget. Untungnya, anak-anak mereka enggak riwil. Sang pencetus, mas Shafiq Pontoh, berencana akan mengadakan lomba lari ini lagi. Kapan akan dilaksanakannya, masih belum tahu. 😆

Lomba Lari 1 K

Lucu, ya

Selesai dari acara ini, ngederin mall di pagi-pagi buta sama cicih Lionda dan Mas Umen, istirahat sebentar, lalu cabut ke Ratu Plaza sama cicih, untuk menemani saya membeli sesuatu dan kami berdua belanja. Setelah dari Ratu Plaza, balik lagi ke fX, rencananya mau melihat beberapa acara. Tapi, saya memutuskan untuk pulang, setelah setan-setanan yang setan bangke itu ngeder ke booth lantai bawah.

Pret!

Secara keseluruhan, Social Media Festival 2013 cukup baiklah. Ya, walaupun rada apa-banget-sih-ini gitu! Kayak setan-setanan yang ada baiknya enggak usah ngider sana-sini. Kalau ada orang yang jantungan, bagaimana? Kalau ada yang teriak dan reflek nendang mereka, bagaimana? Untungnya saya cuma nyikut doang, enggak sampai nendang.

Untuk boothnya sendiri, enakan tahun lalu. Tahun ini berasa sempit. Dan seminarnya, karena memakai satu ruangan, harus cepat-cepat gitu. Lagi enak dengerin si dokter ngomongin soal kesehatan, tiba-tiba harus dicut. Begitu juga ketika lagi ngomongin tanaman, harus cepat-cepat juga.

Menurut kabar, Social Media Festival di tahun ini adalah tahun terakhir, dan tidak akan ada di tahun depan, (kemungkinan juga) di tahun-tahun berikutnya. Sayang banget, ya? Padahal, kan, seru!

Saya sih berharap, ada acara serupa yang tidak kalah seru dari ini.

Melihat Sejenak Keindahan Ujung Genteng

Dari zaman kuliah dulu, saya sering mendapat ajakan teman-teman untuk berlibur ke Ujung Genteng. Tapi, sayangnya kala itu saya tidak pernah mau, dan selalu saja menolaknya. Alasannya sih, cuma satu, capek! Capek karena saya harus duduk berlama-lama di atas motor!

Empat tahun berselang, akhirnya saya menginjakkan kaki di ujung Selatan kota Sukabumi, Jawa Barat itu. Fiuhhhh… Nyampe juga di sana.

Pergi ke Ujung Genteng Minggu pagi sekitar pukul 06:00 WIB, sampai di tempat penginapan yang ada di sana sekitar pukul 07:30 WIB malam. Total perjalanan hari itu sekitar 13,5 jam.

Mobil yang berisikan saya dan beberapa jurnalis dari Jakarta, menggunakan mobil jenis ELF. Itu tuh, mobil yang biasa digunakan travel Jakarta – Bandung – Jakarta. Sedangkan rombongan dari Bandung, menggunakan bus besar. Rutenya, tim kami memilih untuk tidak melalui rute yang melewati Pelabuhan Ratu. Alasannya, karena cukup jauh.

Saya sendiri tidak tahu, apakah akan sama waktunya bila hari itu kami tidak singgah ke beberapa titik selama beberapa saat.

Contohnya saja, persinggahan pertama saya, di Kampung Cigauk. Di sana, kami diperlihatkan lokasi yang akan dijadikan tempat wisata Geopark yang akan dinikmati 4 tahun lagi.

Kampung Cigauk terletak di Desa Taman Jaya, Ciemas, Sukabumi. Kampung Cigauk memiliki potensi alam yang melimpah ruah. Sayang, potensi alam ini kurang diminati wisatawan yang sering ke sana, karena banyaknya faktor X. #alah

Daerah yang menjadi lokasi Geopark itu bernama Paninjauan. Tempatnya itu luas banget. Sangking luasnya, di satu daerah terdapat tiga desa, plus satu laut nan cantik, yaitu laut Plangpang.

Itu tuh, lokasi Geopark-nya

Menurut ketua Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi (PAPSI), Endang Sutisna, minimnya orang yang berwisata ke sana karena jalanannya yang rusak parah. Serius, jalanan ke sana itu rusaknya parah banget. Tak jarang kami yang ada di dalam mobil, harus kejedot beberapa kali, karena guncangan akibat jalan rusak itu.

Tak jauh dari Desa Taman Jaya, terdapat kawasan Ciletuh yang dikenal sebagai daerah yang memiliki bebatuan berumur paling tua di Pulau Jawa. Sehingga, menjadikan tempat itu unik dan langka secara geologis, dan tidak ditemukan di tempat lain.

Tampak Dari Kejauhan

Endang mengatakan kepada kami, ada 3 curug di situ. Curug Awang, Curug Tengah, dan Curug Puncak Manik. Semuanya unik dan indah, dan memiliki bebatuan yang umurnya sudah jutaan tahun.

Namun sayang, hari itu kami tidak bisa ke tempat itu, karena jauh dan sore.

Habis dari situ, kami melanjutkan perjalanan, tapi persinggahan selanjutnya ini hanya untuk makan sore. Dan makan sorenya adalah kambing.

Oia, salah satu teman saya, cewek, makan sate kambing sampai 20 tusuk. Enggak tahu deh, melampiaskannya ke mana. #eh

Setelah menempuh perjalanan, sampailah saya ke penginapan di Ujung Genteng, penginapan Pondok Hexa malam harinya. Sayang, saya tidak bisa melihat indahnya pantai yang ada di sana. *nangis*

FYI, Pondok Hexa ini penginapan yang cukup rekomen. Tempat tidur nyaman, bersih, dan pilihannya banyak. Harganya, seperti tidak terlalu mahal serta beragam. Tapi, saya tidak tahu apakah ini berlaku untuk semua tipe atau tidak, yang jelas pas di Pondokkan saya, minim colokkan.

Mau nyolok laptop, hape, power bank, dan barang elektronik lain tidak bisa banyak-banyak, dan harus bergantian. Ish. Gengges!

Setelah mendapatkan kamar dan beberes, niatannya sih, mau tidur. Tapi, gagal! Saya harus melakukan wawancara, dan menggarap beritanya. Niat tidur jam 10, diundur jadi jam 2 pagi. 😆

Senin, 16 September 2013

Baru saja mata ini terpejam, saya sudah harus membukanya lagi untuk melanjutkan tugas negara. Melihat teman sekemar yang masih pada tidur, saya memutuskan untuk mandi dan menguasai kamar mandi. Lumayan, hampir 1 jam saya di kamar mandi. (Jangan tanya ngapain saja saya di kamar mandi, ya? :p )

Selesai mandi dan sarapan (gagal OCD), saya membawa kaki ini menginjak pasir putih nan lembut yang ada di sana. Subhanallah, pantainya cukup indah, bersih, dan hari itu anginnya kencang sekali. Enggak ada sampah pula. Lagi, lagi, saya tidak dapat menikmati suasana pantai terlalu lama, karena harus bertugas.

Gak Ada yang Fotoin, Foto Sendiri :p

Hari itu ada peletakkan batu pertama untuk pembangunan Puskesmas Wisata Ujung Genteng. Acara ini dihadiri oleh Deddy Mizwar selaku Wakil Gubernur Jawa Barat, Band Wali, dan beberapa pihak terkait.

Puskesmas Wisata ini dibangun untuk para wisatawan yang tengah berlibur di sana. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti meninggal karena diterjang ombak, maka dibangunlah Puskesmas Wisata ini.

Puskesmas Wisata buka setiap hari, dan tidak mengenal hari libur Nasional. Sabtu Minggu juga harus tetap buka, karena di hari itu banyak wisatawan yang hadir ke sana.

Dedy Mizwar Meletakkan Batu Pertama

Penanaman Pohon

 

Selesai dari peletakkan batu, saya lanjut ke acara pengobatan gratis gitu, deh. Setelah berbincang dengan para dokter yang memeriksakan kondisi para masyarakat di sana, didapatkan hasil bahwa masyarakat di sana masih banyak yang mengidap gizi buruk, dan penyakit jantung 😦

Tapi sih, paling banyak gatal-gatal. Penyakit itu ada, karena kebiasaan buruk masyarakat di sana yang doyang memakai handuk yang sama, dari satu badan ke badan lainnya.

Oia, hari itu juga ada pemberian vaksin Flubio gratis ke masyarakat Ujung Genteng. Pemberian vaksin ini dilakukan, agar masyarakatnya senantiasa sehat, terhindar dari penyakit berbahaya.

Selesai semuanya, akhirnya saya dapat beristirahat dengan arti sebenarnya. Sangking capeknya, niatan untuk jalan-jalan muterin pantai pun gagal. Sumpah, mata ini sungguh berat untuk ditahan terlalu lama. Akhirnya, saya mendaratkan pantat dan badan saya ke kasur nan empuk di tempat penginapan. Lumayanlah, bisa tidur 2 jam.

Sekitar pukul 03:00 siang tim Jakarta dan Bandung jalan beriringan untuk pulang. Pas pulang, kami hanya singgah satu kali (untuk sholat dan makan), dan melalui rute yang melewati Pelabuhan Ratu. Ternyata, pas pulang lebih cepat daripada pas pergi.

Tepat jam 11:30 malam, saya sampai di Jakarta, dan masih ada taksi untungnya. Untungnya lagi, taksinya baik, ketika saya tertidur, dia membangunkan saya.