Monthly Archives: December 2013

Jajal Sirloin Young di Holycow Steakhouse #CampBintaro

Horay! Di penghujung 2013, banyak kabar bahagia untuk para penghuni Tangerang Selatan. Pertama, ditangkap dan dijebloskannya Ratu Atut ke penjara, dan yang kedua dibukanya Holycow Steakhouse Bintaro di Sektor 5. Kurang apa coba?

Saya tahu kabar ini di Twitter, beberapa hari lalu. Sebagai orang yang baru sekali menjajal steak di Holycow, sudah tentu saya menyambut baik kabar bahagia ini.

Outlet Holycow Steakhouse

Senin kemarin saya memutuskan untuk mengambil cuti. Setelah melakukan banyak kegiatan di rumah, saya mengajak mama dan adik untuk nye-teak di sini. Tapi sebelumnya beli kado dulu buat papa yang baru saja berulangtahun tepat di hari Natal.

Kami sekeluarga suka sama tempatnya. Selain strategis, parkirannya pun enggak begitu besar, enggak juga kecil, pas. Bagian dalamnya, adem (karena ada kipas dan AC-nya). Kalau kata mama nuansa di Holycow Bintaro #IndonesiaBanget. Soalnya warna yang digunakan hanya putih dan merah. Persis seperti sang saka.

Nuansa Merah Putih

Jika dibandingkan dengan Holycow yang ada di Radio Dalam, sudah tentu saya menyukai yang di Bintaro. Luas banget dan tinggi. Saya ngerasa yang di Radio Dalam itu pendek dan pengap. Eh, pemiliknya sama enggak sih, Radio Dalam dan Bintaro ini?

Kalau Bintaro pemiliknya pasangan tersohor itu, Lucy dan Afit. Kalau di Radio Dalam?

Untuk pesanannya sendiri saya dan adik memilih Sirloin Young. Kalau saya memilih Sirloin Young, bayam, mashed potato, dengan saus mushrom. Sedangkan adik saya, Sirloin Young, buncis, kentang goreng, dengan saus BBQ.

Sirloin Young

 

:9

Enggak tahu apa karena siang itu sedang tidak ramai atau memang kerjanya yang sigap, saya tidak butuh waktu lama untuk menunggu pesanan saya tersaji di atas meja. Sekitar 7 menit, pesanan sudah ada di depan saya.

Tingkat kematangan untuk dagingnya sendiri, harus benar-benar matang. Soalnya pas liputan kemarin, sempat diceramahin sama dokter gizi karena suka makan daging setengah matang. Ha ha ha.

Dan ya, dagingnya empuk banget dan tidak terasa gosong, seperti waktu saya makan di Radio Dalam. Kemarin dagingnya benar-benar empuk, enggak bikin gigi sakit. Dagingnya juga enggak nyangkut di sela-sela gigi. Selain itu, juicy banget.

Menurut saya, tak usah dicampur saus juga sudah enak steak yang saya pesan. Pun dengan sayurannya, terlihat fresh. Kentangnya juga enak, enggak terlalu asin.

Enak banget

Si mama enggak mau mesan. Katanya takut nyempil di gigi. Tapi ketika nyomotin punya saya dan adik, si mama ketagihan. Giliran disuruh mesen saja, eh, enggak mau. Huhfffttt –*

Untuk pelayannya sendiri, cukup ramah. Cuma kok ya rada-rada labil, ya. Soalnya begini. Saya sempat bertanya ke salah satu pelayan, apakah di sana kalau ngetweet bakal dapat sesuatu? Eh, si pelayan bilang, enggak ada begituan.

Green tea dan brownies

Tapi, ketika saya tanya ke pelayan lainnya sambil menunjukkan tulisan di atas meja saya, malah bilangnya ada. Nah, lho, bagaimana, sih? Yasudahhlah.. Setelah ngetweet dan menunjukkan kicauannya ke si pelayan, dapatlah misu rasa green tea.

Kalau kata mama misu-nya aneh. Kebanyakan krimnya, sedangkan kuenya enggak terasa sama sekali, karena `nyelip` di bagian bawah.

Creamnya bikin eneg

Terlepas dari itu semua, secara keseluruhan saya suka makan di Holycow Steakhouse Bintaro Sektor 5. Dan akan kembali lagi, dua bulan mendatang (kumpulin duit lagi). Mungkin ada yang mau ngajak saya ke sini atau mau memberikan saya voucher makan gratis di sini, saya terima dengan lapang dada.

Total kerusakan sehabis makan di sini adalah Rp 218.700,-. Dengan catatan, Sirloin Young Rp 87.000, air mineral Rp 10.000 dan lain-lainnya.

 

Holycow Steakhouse
Jl. Menteng raya Blok FG1/6
Sektor 5 Bintaro, Tangerang Selatan, Banten.
(021)-53662815

Ketika Jurnalis Kesehatan `Curhat` di Inul Vizta Sarinah

Berhubung di penghujung tahun 2013 acara kesehatan sudah mulai sedikit, saya dan teman-teman jurnalis dari media lainnya serta satu PR dari Soho, memutuskan untuk berkaraoke ria di Inul Vizta, Kamis malam kemarin. Bosanlah kalau ketemu mereka hanya di tempat kerja saja. Sesekali mencari suasana baru, seperti yang kami lakukan ini.

Karaoke sebenarnya ide dari Ninta, mantan jurnalis Detikcom yang pindah ke Majalah Ayah Bunda. Soalnya, semenjak Ninta di majalah, doi jarang banget bertemu saya, Ajeng, Helmi, Qalbi, dan Uno di lapangan. Gitu deh, ritme kerja di majalah ‘kan, berbeda banget sama yang di online.ย  Nah, kalau si Michael (PR Soho) ini, satu-satunya PR yang dekat sama kami dan kebetulan pula dia mau diajak bergaul. :p

Awalnya kami merencanakan untuk karaoke di tanggal 27, takutnya kalau di tanggal 26 mengganggu Ninta yang baru saja merayakan Natal. Tapi ternyata, malah Ninta enggak bisa di tanggal 27, dan dimajukanlah pada akhirnya di tanggal 26. Pun dengan tempat karaokenya. Rencana awal maunya di bilangan Setia Budi, tapi karena satu dan lain halnya, pilihan jatuh di Inul Vizta Sarinah.

Beruntunglah, Helmi dan Qalbi yang berasal dari Okezone, kantornya dekat sama Sarinah. Alhasil, merekalah yang nge-booking tempat karaokenya. Asyik! Thank you, coi.

Sebelum karaoke dimulai pada pukul 19:00 WIB, beberapa di antara kami sudah nongol di Sarinah dua jam sebelumnya. KFC menjadi tempat menunggu sebelum karaoke dilaksanakan. Lumayanlah, ada dua jam ngobrol-ngobrol centil sama Ninta, Ajeng, Uno, dan Mikhael.

Di antara kami, Nintalah yang paling banyak menyimpan `cerita` seru.ย  Ternyata, di kantor baru yang sekarang, Ninta yang merupakan perempuan Batak tapi fasih loga Sunda karena lama di Bandung, kabarnya sudah mendapatkan calon jodohnya di masa depan. Horay, Ninta sudah move on dari korlip-nya yang lama #digaplok

Ngobrol-ngobrol seru membuat kami tak menyadari bahwa jarum panjang sudah hampir mendekati angka 7. Itu pun tak akan berhenti, kalau misalnya Qalbi tak menghubungi kami dan memberitahu dia dan Helmi sudah sampai di Sarinah.

Baru hari itu saya karaoke Inul Vizta yang terletak di lantai 13 gedung Sarinah. Saya kaget ketika mengetahui keberadaan tempat karaoke itu. Bahkan saya juga menanyakan berulangkali dan butuh kepastian, apa benar Inul Vizta di lantai 13? Iya, saya rada-rada-gimana-gitu ketika tahu ada tempat karaoke yang berada di lantai 13. ๐Ÿ˜€

Helmi, Ajeng, Saya

Kesan saya selama karaoke di Inul Vizta itu adalah seru, asyik, nyaman. Pilihan lagunya banyak, sofa yang ada di ruangannya juga nyaman, enggak ribet ketika memilih lagu, dan petugasnya ramah banget. Satu yang pasti, mereka jago dalam mengambil gambar menggunakan kamera. :p

Namanya juga karaoke, ya. 1 persen doang benar-benar karaoke, 99 persennya sih, curhat. Apalagi kemarin itu. Yah, walaupun enggak kelihatan banget curhatnya, tapi tetap saja, mereka sedang curhat.

Sayang, karaoke malam itu hanya dua jam saja. Padahal lagi seru-serunya. Tapi, cukuplah, untuk kami melepas kangen ke Ninta. Seperti biasa, sebelum pulang kami foto-foto dulu. Kan kumpul-kumpul tak ada artinya bila tanpa foto-foto.

Rame (minus Michael)

Rame (minus Qalbi)

Tangsis (Ninta itu yang nongolon jarinya)

Rame dan muat

Kalau yang lainnya foto ramai-ramai butuh tongsis (tongkat narsis), kami tak memerlukan itu sama sekali. Percuma punya tangan yang panjang, kalau tak dapat dimanfaatkan. Jadinya, foto-foto malam itu menggunakan tangsis (tangan narsis) alias tangan saya ๐Ÿ˜†

Next, apalagi rencana kita, guys? Nonton, yuk? Kumpulin duitย  dulu lagi saja ya.. Entar kalau sudah terkumpul, kita bikin seru-seruan part two.

Sampai bertemu di lapangan lagi.

Selamat Hari Ibu, Ma

Sebenarnya postingan ini sudah saya siapkan sejak kemarin. Berhubung beberapa hari ini diare saya kumat dan deadline akhir tahun yang menumpuk, membuat saya baru sempat memostingnya hari ini. Memang telat sih, tapi saya berharap postingan ini tidak mengurangi makna dari Hari Ibu itu sendiri.

Berbicara soal ibu, mama saya bukanlah tipikal orangtua yang terlalu senang mendapatkan ucapan `Selamat hari ibu ya, Ma..`. Bukan baru-baru ini saja, melainkan sudah sejak lama. Setidaknya, dari saya SMP. Soalnya, dari zaman saya masih bercelanakan biru pendek itu, saya seringkali mengirimkan ucapan seperti itu.

Waktu saya SMA dan memilih tinggal di Jakarta bersama kakek dan bukde, saya kerap mengirimkan pesan singkat di hari ibu ini ke mama yang setia menemani papa dinas di Riau. Ucapannya cukup panjang, puitis banget, dan butuh tenaga untuk mengirimkannya. Setelah pesan itu terkirim, satu yang ada di benak saya bahwa mama langsung menghubungi saya dan terharu mendapatkan pesan singkat dari anaknya yang hidup merana di ibu kota.

Selfie versi si adik dan mama

Enggak tahunya, balasan dari mama amatlah singkat. Dan membuat saya hanya bisa garuk-garuk kasur. `Mama capek bacanya! panjang banget. Intinya apa? Ngucapin hari ibu? Enggak pake buat mama. Yang penting abang belajar saja di sana`.

Sejak saat itu, saya tak pernah lagi mengirimkan pesan atau apalah ke mama di Hari Ibu ini.

Satu kali, ketika mama, papa, adik, dan saya sedang makan malam di luar, si adik nyeletuk dan menanyakan mengapa mama enggak mau anaknya mengirimkan ucapan seperti itu? Jawaban mama cukup pendek `Ucapan seperti itu enggak perlu. Karena bagi mama, anak-anaknya ingat sama Tuhan dan tak pernah putus mendoakannya orangtuanya di setiap sehabis sholat, itu saja sudah cukup`.

Kemarin, saya coba untuk mengetes si mama lagi. Bagaimana responsnya ketika anaknya ini mengucapkan selamat hari ibu. Dan respons dari mama cuma `Ehmmmm…`

Bicara soal mama, entahlah, saya bingung harus memulainya dari mana. Sepengatahuan saya, mama ini tipikal wanita yang pekerja keras dan enggak manja. Sewaktu kami masih tinggal di Medan, mama memilih untuk bekerja sebagai pegawai wartel (warung telepon) di salah satu mall terbesar yang ada di Medan, saat itu. Mungkin ada yang tahu Deli Plaza? Nah, di situ mama pernah bekerja.

Selepas dari situ, seingat saya juga, mama pernah bekerja di perusahaan asuransi. Letaknya, tak jauh-jauh dari mal tersebut.

Kata mbah kong (panggilan saya untuk kakek, ayah dari mama) dari sekian banyak anak-anaknya, cuma mama yang sedari kecil sudah terlihat sekali sifat mandirinya. Enggak mau nyusahin orang. Buktinya, selepas mama menikah dengan papa, mama enggak mau numpang tinggal di rumah mbah.

Kata mbah lagi, tak peduli seberapa besar ukuran rumah itu, yang penting didapat dari hasil kerja keras sendiri.

Yang paling menyedihkan, kata mbah, ketika mama melahirkan saya. Sebab, tak ada papa di samping mama. Kala itu papa sedang berada di pelosok Aceh untuk berdinas. Butuh waktu 1 harian agar bisa menemui mama yang ada di Medan.

Mama itu memiliki sifat yang enggak bisa diam. Beliau berusaha mencari beragam kegiatan agar terhindar dari stres dan kesendirian. Terlebih beberapa tahun ini, ketika saya dan papa sibuk bekerja, dan si adik dengan pendidikannya.

Agar lebih produktif, mama nekat mengendarai sepeda motor seorang diri untuk belajar membuat tas, bunga, dan prakarya yang terbuat dari manik-manik di Asemka. Mama betah berlama-lama di sana hanya untuk memperdalam ilmu ini. Setelah ilmu itu didapat, mama praktikin di rumah. Alhasil, jadilah beberapa model tas dan prakarya lainnya. Tak sampai di situ, mama pun iseng untuk menjual karyanya sendiri ke orang lain.

3 Dari Sekian Banyak Prakarya Mama

Duh, kalau ngomongin soal ibu itu sepertinya enggak akan selesai, ya?

Namun satu yang saya garisbawahi dari sifat mama yang belum dapat saya terapkan di diri saya sendiri, yaitu memiliki sifat pemaaf.

Saya ingat betul, bagaimana mama disakiti dan difitnah oleh temannya sendiri ketika kami masih tinggal di Riau. Padahal, mama penuh keikhlasan dan penuh kasih sayang ketika merawat anak-anak dari temannya itu.

Pernah satu ketika, anaknya teman mama itu sakit parah. Demam berdarah tapi enggak sadarin diri gitu. Karena anak itu sudah dekat banget sama mama, mama menyodorkan diri untuk menjaga anak temannya. Anehnya, ketika mama di situ dan memegang tangan bocah kecil tersebut, eh dia sadar dong. Tapi, ketika mama izin pulang sebentar di pagi harinya, anaknya itu enggak sadarin diri lagi.

Tanpa disuruh sama temannya, mama pun inisiatif untuk merawat anak temannya itu. Hasilnya, si anak sembuh total karena dijaga dan diasuh sama mama.

Mama senang, dong. Karena anaknya temannya pulih kembali.

Enggak tahunya, 2 atau 3 tahun berselang dari peristiwa nahas tersebut, mama difitnah habis-habisan sama temannya itu. Selama difitnah, mama enggak pernah sama sekali. Karena menurut mama, kalau memang kita enggak salah buat apa marah. Biarkan saja, nanti dia sendiri yang mendapatkan karmanya.

Dan itu benar-benar terjadi. Temannya mama ini, akhirnya harus menerima kenyataan kalau suaminya dimutasi ke daerah terpencil dan ditempatkan dengan posisi tak setinggi di tempat semula. Sedangkan mama, pindah ke Jakarta karena papa ditempatkan di kantor pusat.

Nah, setahun lalu, si mama coba untuk eksis di Facebook. Dia bikin akun, dan menambahkan beberapa temannya ke dalam Facebook. Empat bulan setelah punya Facebook, si mama di-add sama temannya itu. Mama enggak marah sama sekali, dan malah mama meng-aprove temannya itu.

Chatinglah dan bertukar pin BB. Keduanya kini akrab lagi. Tapi, mama agak-agak membatasi dengan temannya ini, takut-takut hal yang sama terulang. Sebab, mama enggak mau menjauh dari orang-orang yang telah menyakitinya. Karena memang, itu tak diajarkan di dalam agama.

Pokoknya, itulah sekilas tentang mama saya. Mama yang selalu mendoakan anaknya dan mengerti banget anak-anaknya, bagaimana pun kondisinya saat itu. Tak peduli capek, lelah, dan lemah, selagi si anak dalam kesusahan pasti ia dengan cepat turun tangan untuk membantu.

Ma, terimakasih untuk semua yang telah mama berikan, ya. Mungkin saat ini baru pulsa dan voucher yang bisa abang berikan ke mama. Jangan nanya soal jodoh dulu ya, Ma ๐Ÿ˜‰

Love U..

Tak Selamanya Angka 13 Itu Bawa Sial!

Mulai tadi pagi sampai sore ini, banyak kawan saya yang ada di BBM menuliskan status yang berkaitan dengan angka 13 dan mitos yang berkembang selama ini bahwa 13 itu adalah angka sial. Tapi ternyata, yang saya rasakan hari ini tak sepenuhnya tanggal berangkakan 13 itu membawa sial.

Memang. pagi sampai siang tadi saya benar-benar merasakan kesialan. Tadi pagi, saya gagal liputan bareng seorang kawan dari media lain, karena saya mendadak dioper liputannya ke kawasan Sentul City, Bogor. Namanya juga tugas dari atasan langsung, dan itu tak dapat ditolak dengan alasan apapun.

Dari awal keberangkatan sampai saya sampai di lokasi liputan, kesialan itu belum saya dapatkan. Sampai pada akhirnya, peristiwa memalukan terjadi pada saya.

Bermula dari saya yang kebelet pipis dan tak tahu di mana letak keberadaan dari WC yang ada di rumah sakit, tempat saya liputan itu. Saya coba untuk bertanya ke seorang Office Boy (OB), dan dia menunjukkan kepada saya sebuah lorong yang harus saya lalui bila saya ingin menemukan WC tersebut.

Sangking tak tertahankannya lagi, berlarilah saya ke lorong yang ditunjukkan si OB tadi, tanpa melihat plang yang terpajang di atas lorong tersebut. Setelah berlari, berhentilah kaki ini di sebuah ruangan yang, eng, gelap banget dan dalam kondisi terbuka.

Sekilas saya tak menyadari ruangan apa itu, sampai saya benar-benar ngeuh kalau itu adalah kamar jenazah. IYA. KAMAR JENAZAH.

Bubblews.com

Mata ini sedikit terbelalak ketika melihat keranda dan peti tergeletak di dalam ruangan gelap itu. Kaki ini mendadak lemas, dan saya tak akan berteriak untuk kedua kalinya karena keranda. Untunglah, itu hanya keranda dan peti yang tak berpenghuni. Secara, rumah sakit itu baru diresmikan hari ini.

Ternyata, WC yang ingin saya tuju berada di tengah-tengah lorong, yang sebenarnya tempat itu agak sedikit nyempil. Padahal, plang penunjuk arah WC terpajang di atas lorong tersebut. Sepanjang saya pipis, entah mengapa rasanya itu kok lama banget. Seakan-akan air seni ini tak habis-habisnya. Pun dengan kondisi kaki yang melemas.

Selesai acara, saya memilih untuk makan menunggu sang presiden direktur rumah sakit untuk melakukan konferensi pers. Eh, lagi enak-enaknya makan, tiba-tiba saja di ajudan bapak kece tersebut mengatakan kalau bosnya bisa diwawancara sekarang, dan dia harus segera cabut untuk sholat Jumat. Cufk!

Yasudah, makan saya tinggalkan, saya memilih untuk minum dan bergegas mewawancarai si bapak. Selesai wawancara, begitu saya balik ke meja tempat saya makan, piring dan gelas saya sudah enggak ada, dong. Sudah diangkat sama OB-nya, padahal di piring itu masih ada nasi dan lauk yang lengkap.

Begitu saya mau makan lagi, eh, sudah pada tutup. Nying!

Akhirnya, pulanglah saya dengan sejumlah berita di tangan dan dalam keadaan melapar. Saya coba untuk tahan, agar dapat makan di kantor saja. Sampai kantor, kerjakan berita, dan memesan makan.

Saya pikir, saya akan masih mendapatkan kesialan di hari Jumat ini. Sampai pada akhirnya, arisan per kanal pun dikocok. Alhamdulillah, kesempatan kali ini saya yang dapat, yang mana rupiah di ATM dan di dompet saya sedang tidak bersahabat. Cepat banget perginya, dan lama banget datangnya.

Untunglah saya mendapatkan arisan itu, jadinya masih bisa jajan sampai tanggal gajian nanti. Ha.. Ha.. Ha..

Kalau kamu, mengalami kesialan apa di tanggal 13 ini?

Kenal Lebih Dekat Gita Wirjawan

Dulu saya tak pernah tahu siapa itu Gita Wirjawan? Saya hanya tahu, kalau Gita adalah Menteri Perdagangan Republik Indonesia. Sudah, itu saja, tak lebih.

Tapi ketika si bapak tampan ini–begitu saya menyebutnya–tampil di sebuah acara yang dipandu oleh Sarah Sechan beberapa waktu lalu, barulah saya mengetahui seperti apa sosok dari Gita Wirjawan itu sendiri?

“Anjir, kece juga ini Menteri. Bisa bodor juga,” kata saya waktu menyaksikannya di acara tersebut.

Dalam acara itu, Gita Wirjawan yang mengenakan kemeja putih, dasi biru, bercelana panjang hitam, tanpa canggung menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh mantan VJ MTV itu. Obrolan yang berdurasikan 20 menit lebih sekian detik itu, secara tak langsung mengungkap seperti apa sosok pria bersahaja itu. Bahkan menurut saya, waktu yang disediakan sangat kurang, karena saya sangat menikmatinya.

Dari acara itu saya yang dapat saya tangkap, kalau Gita Wirjawan merupakan sosok Menteri yang suka musik. Selain itu, Gita Wirjawan juga tak malu untuk berkata jujur bahwa sepatu yang dikenakannya malam itu, merupakan karya dari pengrajin di Cibaduyut. Kerennya lagi, Gita tak sungkan untuk melepasnya. *pak, pak, gimana perempuan enggak kesemsem sama kamu? Cubit nih*

Setelah menyaksikan acara itu, barulah saya mencoba untuk mencari tahu lebih tentang pria kharismatik ini. Dari mesin pencarian google, akhirnya saya mendapatkan sedikit fakta tentang Gita Wirjawan di www.gitawirjawan.com .

Menurut situs itu, pria pemilik nama lengkap Gita Irawan Wirjawan pernah menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sejak November 2009. Di bawah kepemimpinannya di BKPM, Indonesia berhasil mencetak rekor tertinggi realisasi investasi modal asing pada tahun 2012.

Gita Wirjawan (sumber: gitawirjawan.com )

Mari dari situs itu juga, diceritakan bahwa Gita muda merupakan sosok mahasiswa yang tangguh dan sigap mengatasi kesulitan keuangan. Gengsi? Enggak ada dalam kamus pria kelahiran 21 September 1965 ini. Sebab, Gita Wirjawan muda mampu bertahan hidup menjadi pembersih toilet, tukang cuci piring restoran, hingga jadi supir taksi.

Hmmmmmmm… Kalau dilihat dari foto-fotonya, Gita Wirjawan muda ini tampangnya bak seorang model `tiga jari` (anak 90-an pasti tahu apa maksudnya). Saya jadi mikir, jangan-jangan sewaktu jadi supir taksi, banyak penumpang cewek yang menjadi pelanggannya. He he he he..

Karena pernah mengalami kesulitan finansial di masa kuliah dulu, Gita Wirjawan akhirnya mendirikan sebuah Yayasan Ancora yang sudah menyalurkan beasiswa pada ribuan generasi muda Indonesia, dan merintis pendirian Sekolah Rakyat untuk anak-anak usia dini. Didirikannya yayasan ini, karena dia tak mau, melihat anak-anak di Indonesia putus sekolah begitu saja.

Untuk musik, seperti yang saya singgung di atas, Gita Wirjawan sangat menyukai musik beraliran jazz, dan dangdut. Coba deh cek Youtube, ada beberapa video yang memerlihatkan Gita Wirjawan tengah bermain piano dan keyboard. Bahkan ada juga video yang memerlihatkan Gita tengah asyik ngejam bareng Slank.

Pak, pak, sudahlah tampan jago main musik pula. Iri saya, pak. Pasti banyak kaum hawa yang mengharapkan bapak menjadi kekasih mereka. Huhffftttt….

Oia, Pak, apa sih rahasianya bisa awet muda begitu? Jangan-jangan karena bapak makannya singkong dan kurangi nasi, ya? Seperti yang bapak bilang di akun Twitter bapak, @GWirjawan. Saya jadi ingin menirunya, pak.

Gita Wirjawan (sumber: gitawirjawan.com )

Tapi yang paling saya ingat, nama Gita Wirjawan semakin melejit ketika ia menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Di tangannya, prestasi Indonesia kembali menggeliat, di mana belakangan terakhir perbulutangkisan di Indonesia sempat loyo.

Untuk olahraga satu ini, saya berharap pada Gita Wirjawan, ke depannya untuk mencari sponsor yang bukan berasal dari rokok untuk setiap turnamen yang akan diadakan. Dan semoga pula, semakin jaya saja di Indonesia di mata Internasional.

Dulu, sebelum saya mengetahui lebih soal Gita Wirjawan ini, saya sempat berpikir untuk golput ketika Pemilu 2014 mendatang. Tapi setelah melihat sosok Gita Wirjawan–semoga bapak nyalonin diri jadi RI 1–kok ya sayang rasanya golput. Mending kalau golput surat saya punya disobek. Nah, kalau surat suara saya dipakai saya pihak tak bertanggung jawab, piye? Nyesel deh.

Kalau ada yang mengatakan ‘Entar kalau dia jadi presiden (dan kebetulan dia suka musik), jangan-jangan kayak Presiden yang sekarang, doyannya nyiptain lagu dan ngeluarin album lagi?.’ saya rasa tidak ya.

Gita Wirjawan ini kalau saya lihat, bukan sosok yang seperti itu. Toh, selera musiknya saja sudah beda. Dan Gita Wirjawan lebih berkelas untuk urusan musik.

Saya juga amat berharap, Gita Wirjawan tak hanya janji-janji manis menuju pemilihan kekuasan tertinggi di Indonesia. Bosan juga kalau hanya janji dan janji. Butuh bukti.

Semoga dengan slogan ‘Kita semua lebih berani, lebih kuat, dan lebih cerdas dari yang kita kira’, membuat Gita Wirjawan mampu berjaya memimpin bangsa yang tengah porak porandah ini.

Salam tampan,