Uang Dolar dan Pup di Celana

Waktu duduk di bangku kelas 5 SD, saya memutuskan untuk hidup terpisah dari kedua orangtua. Tahun itu, papa dipindahtugaskan dari Medan ke Tanjung Balai Karimun, Riau.. Sedangkan saya memilih untuk tinggal bersama kakek dan nenek di Jakarta.

Bukannya sombong atau bagaimana. Cuma waktu itu, kata teman-temannya papa di kantor sana, kalau anak yang sekolahnya nanggung, atau dua tahun lagi bakal tamat SD, sayang kalau harus menghabiskannya di sana. Jadilah saya disekolahkan di Jakarta.

Meski hidup terpisah, tiap liburan caturwulan saya selalu berlibur ke sana. Pernah suatu hari, papa menyuruh saya membuat passport agar bisa diajak liburan ke Singapura. Jadilah di liburan pertama saya saat itu, saya diajak ke Singapura, yang jaraknya cuma sejengkal dari Karimun.

Siapa coba yang enggak senang diajak ke Singapura. Walaupun dulu belum ada Universal Studio dan jalan-jalan ngiterin Singapura dengan berjalan kaki dan menggunakan MRT, tapi senang saja gitu. Ditambah lagi, banyak kenalan baru mama dan papa di sana.

Yang lebih membahagiakannya lagi adalah tiap bertamu ke teman-teman baru orangtua di sana, saya dan adik kerap dikasih salam tempel ketika pamitan pulang selepas bertamu. Lumayanlah, tiap 1 rumah dikasih paling besar 2 dolar singapura. Karena saat itu saya enggak paham bakal diapakan uang-uang itu, akhirnya hanya saya simpan saja di dompet, sampai akhirnya saya pulang lagi ke Jakarta.

Saya cuma ingat omongan papa, “Kalau uang dolar itu harus ditukarkan ke dalam bentuk rupiah di bank,”. Sudah, papa cuma ngomong gitu dan tidak menjelaskannya secara detail.

Nah, pernah satu ketika kejadian super memalukan terjadi pada saya. Kala itu sepulang dari sekolah, saya memutuskan untuk tidak menggunakan angkot atau metro mini, tapi bajaj.

Bajaj di tahun 1998 itu merupakan kendaraan mewah nomor kedua setelah taksi. Saya berani, karena saya ingat di dompet ada beberapa lembar uang dolar. Di saat yang bersamaan, saya ingat juga sama omongan papa kalau 1 dolar singapura kala itu berkisar 2 ribu rupiah. Yasudah, karena saya beranggapan hari itu uang jajan saya super banyak, enggak mikir panjang untuk pulang menggunakan bajaj.

“Ke mana, Dik?,” tanya abang tukang bajaj bernama Dadang.

“Ke Arteri Pondok Indah ya, Bang. Tapi lewatnya Mayestik saja,” kata saya menjawab pertanyaan si abang.

“Oke,” katanya

Bang Dadang ini supir bajaj langganan teman sekelas saya bernama Dinda. Saya mau menaiki bajajnya, karena menurut Dinda supir bajajnya itu baik dan lucu.

Tak lama setelah bajaj yang saya naiki melaju, sampailah di sebuah bank yang ada pertigaan mayestik.

“Kenapa berhenti di sini? Kamu mau ngapain? Nabung?,” tanya si bang Dadang.
“Enggak, saya mau nukerin dolar saya, bang. Abang tunggu sebentar, ya,” kata saya lugu.

Lalu, masuklah saya ke bank tersebut. Di dalam bank, saya disambut seorang pria yang mukanya serem banget. Kumisnya lebat, dan logat Maduranya yang super kental. Melihat saya saja tatapannya penuh curiga. Seakan-akan saya ini maling cilik gitu.

Setelah saya kasih tahu maksud dari tujuan saya ke bank itu, si satpam tersebut membawa saya ke lantai dua, dan menyerahkan kepada seorang pegawai bank yang menurut saya kala itu sangatlah cantik.

“Hai, Dik, ada perlu apa? Mau nabung? Boleh lihat buku tabungan kamu?,” tanya si mbak itu sopan.
“Hmmmm.. Enggak sih, Mbak. Saya enggak mau nabung, karena tabungan saya BCA (padahal itu bukan bank BCA),” jawab saya lugu.
“Lalu?,”
“Sebentar ya, Mbak,” jawab saya sambil membuka tas dan mencari dompet yang berisikan uang dolar kepunyaan saya.
“Mbak, begini.. Saya mau menukarkan uang dolar ini. Ini ada 5 lembar,” kata saya sambil menyodorkan beberapa lembar uang ke pegawai bank itu.
(Bukannya menjawab, si Mbak malah nyengir)
“Dik, maaf, ya. Sebelumnya kamu dapat uang dolar ini dari mana?,”
“Dapat dari saudara waktu saya ke Singapura,”
“Benar, bukan nyuri, ‘kan?,” tanya si Mbak curiga.
“Beneran, enggak. Memangnya kenapa?,” jawab saya dan bertanya kembali.
“Begini, Dik. Uang dolar kamu ini tidak bisa ditukarkan di sini. Lagian, tidak bisa sembarangan orang yang dapat menukarkan uang ini. Kamu harus ditemani sama orangtuamu,” kata si Mbak coba menjelaskannya pada saya.

Ketika mendengar perkataan si mbak cantik itu, saya hanya bisa diam. Enggak bisa berbuat apa-apa. Justru ada rasa takut. Takut kalau saya disangka penipu, dan takut pula kalau saya diseret sama satpam super nyeramin yang ada di lantai bawah.

“Mbak, orangtua saya tidak tinggal di sini. Mereka ada Riau. Jadi, saya enggak bisa nukarin uang di sini? Yasudahlah kalau gitu. Terimakasih yah, Mbak,” kata saya sambil menunduk dan tak berani melihat si pegawai bak.

Dalam keadaan sedih, saya berjalan lesu ke arah bajaj yang cukup lama menunggu saya.

Selama di perjalanan, saya hanya bisa diam dan berpikir, bagaimana caranya saya dapat membayar bajaj yang saya naiki? Saya berusaha memutar otak, dan mencari cara agar saya tidak dimarahin kakek atau nenek di rumah.

Begitu sampai depan gang.

“Bank, tunggu sebentar ya. Saya ambil dulu uangnya,” kata saya ke bang Dadang.

Dari depan gang saya berusaha mengatur mimik muka agar mirip seperti orang kebelet pup. Sambil memegang celana bagian belakang, saya langsung ngibrit ke kamar mandi, dan bilang ke orang rumah kalau saya mencret.

Pas di kamar mandi, sebisa mungkin saya mengeluarkan kotoran, lalu menjatuhkannya ke celana dalam, agar lebih meyakinkan. Selepas berak, saya menemui nenek sambil berkata, “Mbak Nti, Adit mencret. Jadinya Adit naik bajaj. Adit minta uang untuk bayar bajaj dong. 4ribu saja,” kata saya melas.

“Lho, kamu naik bajaj? Abang bajajnya belum kamu bayar? ADIT! Kenapa enggak bilang dulu biar bajajnya dibayar. Jangan dibiasakan kayak gitu!,” kata nenek memarahi saya.

“Yaudah, ini uangnya. Kamu bayarin sana ke abang bajajnya dan bilang maaf,” kata nenek lagi.

Itu sengaja saya lakukan, biar bajajnya saya yang bayar. Gawat kalau misalnya nenek yang bayar, dan si abang bajajnya lemes memberitahu nenek kalau saya habis dari bank, bukan BCA.

 —

Ini tulisan pertama saya, mengikuti tantangan #30hariCeritaKebodohanMasakecil dari Mas @Zulhaq_

Sumber featured image: Uwebkk (Flickr)

Advertisements

Tagged:

10 thoughts on “Uang Dolar dan Pup di Celana

  1. zulhaq January 3, 2014 at 12:04 pm Reply

    Eeknya lo jatuhi ke celana dalem??? Hoek… :))))

  2. dani January 3, 2014 at 4:51 pm Reply

    Ya ampyuuun Diiit…… *geleng-geleng
    tapi hebat dirimu bisa mengatur siasat seperti ituuu

    • Aditoo January 4, 2014 at 12:13 pm Reply

      Siasat anak SD, Mas. Enggak tahu malu 😀

  3. jensen99 January 4, 2014 at 4:57 pm Reply

    Hahaha, kocak nih, tapi strategi daruratmu hebat juga, walo parah banget. 😆

    • Aditoo January 5, 2014 at 1:12 pm Reply

      Hahahah.. Iya. Dan itu amat menjijikan 😆

  4. oelpha January 8, 2014 at 5:44 am Reply

    ih adiiiiiiit!

  5. cK February 7, 2014 at 12:55 pm Reply

    YA AMPUN AKU NGAKAK BACA INI =))))

    • Adiitoo February 8, 2014 at 2:44 am Reply

      Hatur nuhun 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: