Monthly Archives: February 2014

It’s a Gift For You!

Satu tahun ini saya rasakan berjalan begitu cepat. Baru tahun lalu saya merayakan hari pergantian usia, tiba-tiba di tahun ini saya kembali merayakan hari bahagia itu. Perasaan semuanya serba cepat. Tepat di 18 Februari, usia saya berkurang satu. Tua? Itu anggapan orang. Kalau menurut saya, ini belum tua. Sebab, butuh beberapa tahun lalu sampai saya benar-benar pas dicap ‘tua’. Hahaha..

Umumnya orang merayakan ulangtahun, walaupun saya sendiri tidak merayakannya, pastinya ada saja gift yang diberikan kepada saya. Dan beragam gift itu saya dapatkan dari orangtua, adik, rekan kantor, teman-teman wartawan, operator telepon seluler, teman blogger, sampai orang yang saya anggap istimewa. Bentuk giftnya pun beragam, mulai dari doa, makanan gratis, sampai barang, alhamdulillah semua ada. Dan ya, alhamdulillahnya lagi, satu hari sebelumnya, saya mendapatkan gift berupa gadget karena berhasil menyabet juara II dalam lomba karya tulis bertemakan HIV. Hehehe.. Thanks god!

Menurut saya, gift tidak melulu harus berupa barang, bukan? Perhatian dan doa dari orang-orang terkasih  saja sudah saya anggap gift yang tak ternilai harganya. Kalau ada yang ngasih berupa barang, ya mau diapakan lagi, masa ditolak? 😀

Contohnya saja Ivan, blogger yang saat ini berdomisili di Jepang karena sedang menuntut ilmu, memberikan saya sebuah gambar dengan disematkannya ucapan serta doa, yang dia publish di Path-nya. Mas Ervan juga gitu, memberikan saya gift berupa foto member-member JKT48.

… and the gank!

Berbicara soal gift, ada yang menarik nih dari Indosat. Beberapa hari setelah hari ulang tahun saya, Indosat meluncurkan program baru bertajuk ‘GIFT’. Di mana dalam program itu, para pengguna setianya dapat mengirimkan Super Internet atau Super Blackberry. Hmmmm… It’s a Gift for you!

Dalam proses pengiriman gift-nya, pelanggan tak perlu repot, sebab mudah sekali mengirimnya. Gift ini pun pasi sampai ke tangan penerima. Dan yang paling penting, gift ini disukai si penerima. Uh, yeeeee!

Jadi, Gift dari Indosat ini terbagi dari beberapa jenis. Misalnya saja Gift Paket Super Internet, terdapat beberapa jenis paket dengan harga yang disesuaikan dengan total kuota dan masa aktifnya. Seperti paket ‘Harian 2K’, dari namanya saja sudah jelas, dong, kalau harga paketnya itu Rp 2 ribu. Total kuota untuk paket ini sebesar 30 MB dengan rincian 5MB ditambah bonus 25 MB. Masa berlakunya, ya tentu satu hari.

Kalau kamu ngerasa belum puas, ada juga paket Mingguan 10K, Bulanan 25K, Bulanan 49K sampai yang paling mahal paket Bulanan 199K. Untuk yang terakhir ini, masa aktifnya 30 hari, dengan total kuola 14GB, 8,5 GB ditambah bonus 5,5 GB.

Sudah lihat daftarnya? Sudah tahu mau mengirimkan paket yang mana? Nah, kalau sudah, kamu bias memberikan gift itu kepada siapa pun yang kamu inginkan dengan cara, tekan *123# lalu pilih Super Internet, dan pilih Gift Paket. Setelah itu, ikuti saja langkah-langkah selanjutnya.

Selain itu, mengirimkan GIFT ini via SMS juga bisa. Caranya mudah,  yaitu ketik GIFT spasi Nomor Hape Tujuan spasi Kuota spasi nama Paket  kirim ke 363

Kalau merasa masih kurang juga, ada juga Paket Ekstra Kuota dengan harga terjangkau. Mulai dari Extra 1K dengan harga Rp 1.000 dan kuota sebesar 10MB. Dan yang paling mahal yaitu, Extra 40K dengan total kuota 40 GB. Wuidi, mantap, kan?

Kalau kamu masih belum mengerti apa itu GIFT ini, bisa langsung akses ke Gift For You dari Indosat.

Seru, bukan? Nah,biar nggak disangka ngibul, mending kamu cantumin nomor Indosatmu di kolom komentar, nanti saya kirimkan langsung dengan kuota yang tentunya rahasia :p

Masih ngomongin Gift di hari ulang tahun. Kemarin, si Papa memberikan saya sebuah buku berisikan tentang kehidupan berumahtangga gitu. Lebih tepatnya sih, tentang perjuangan seorang pria yang mengejar cinta seorang wanita muslimah, namun terganjal restu orangtuanya yang merupakan saudagar kaya.

Kata Papa, beliau sendiri bingung mau ngasih apa untuk anaknya ini. Akhirnya, random gitu papa beliin buku ini Katanya pas buat pria seusia saya. Sebenarnya, sebelum saya membaca buku ini secara langsung, papa sudah terlebih dulu memberitahu apa isi sebenarnya. Berhubung si papa bilang hadiah sebenarnya ada di bulan Mei dengan catatan saya harus melahap isi buku itu, ya, apa daya, mau nggak mau saya harus membaca buku itu dan meresapi setiap makna yang ada.

Kalau mama memang dari dulu tidak pernah memberikan saya hadiah di hari ulang tahun. Karena mama sudah terlalu banyak memberikan gift kepada anaknya ini, walaupun diberikannya bukan di hari pergantian usia. Namanya juga seorang ibu, ya. Apa pun yang dia berikan ke anak-anaknya, itu sudah gift tersendiri.

Nah, kalau si Adek katanya absen memberikan hadiah pada tahun ini. Duitnya habis untuk keperluan lainnya. Memang dasar adek, curangnya kebangetan. Dia bilang, meski adek tidak memberikan abangnya hadiah, tapi abang harus tetap memberikan hadiah dan traktiran buat adek. #tempeleng

Kalau teman-teman narablog sendiri, Gift apa sih yang pernah kalian terima dan itu paling berkesan selama ini? Saya punya dua ada hadiah kecil-kecilan buat kalian yang mengirimkan cerita serunya di kolom komentar. Semoga kalian suka :’)

Ditunggu, ya! *kiss*

 

Advertisements

Protected: Perkara Hati …

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Pempek Megaria dan Kenangan Indah di Masa Lalu

Sudah sejak lama saya mengetahui kalau di Megaria ada pempek (yang konon kabarnya) terenak di Jakarta. Tapi, memang belum ada kesempatan saja untuk membuktikan omongan banyak orang itu.

Sampai pada akhirnya, sekitar dua bulan lalu, saya berhasil mencicipi pempek yang ada di sana, dan membuktikan apa yang selama ini orang berikan kepada saya.

Mampir ke sini juga tanpa disengaja. Pulang liputan dari RSCM sekitar pukul 19:00 WIB, teman-teman wartawan lainnya mengajak  saya untuk menghabiskan waktu sejenak di Megaria.

Awalnya kami sempat panik dan hampir kecewa mengetahui kedai pempek yang (dulunya) berada di bagian depan tutup, sedang direnovasi. Begitu kami tahu kalau kedai pempeknya pindah ke bagian belakang, rasa kecewa tersebut buru-buru kami kubur.

Kedai yang pindah di bagian belakang ini bangunannya cukup luas. Soalnya gabung sama Bakmie Megaria dan ada rujaknya juga. Malam itu, suasana di sana cukup ramai, bahkan sangat ramai.

Berhubung di tempat liputan tidak mendapatkan makan malam, rasa lapar yang saya rasakan pun semakin menjadi. Daripada keburu enggak napsu, mending langsung pesan saja.

Niatnya juga makan pempek, ya sudah pasti makannya pempek, walaupun ada bakmie di situ.

Ada pun pempek yang saya pesan di antaranya pempek kapal selam, pempek lenjer, pempek keriting, pempek tahu, pempek kulit, dan pempek kapal selam yang kecil. Ha ha ha ha *khilaf*

Pempek Kapal Selam dan Kulit

Pempek mini

‘Enak. Ikannya berasa’ itulah komentar saya ketika mencicipi pempek di sana. Ya, selama ini saya makan pempek di Jakarta, ikannya kurang berasa, yang berasa cuma tepungnya doang. Pun dengan cukanya, enggak terlalu asam dan pas banget rasanya ketika dimakan bersamaan dengan pempeknya.

Gimana, ya, menjelaskannya. Pokoknya, tekstur dari pempeknya empuk banget, tidak berminyak, lembut, tidak amis. Ah, benar-benar enak, deh. Apalagi, minumnya itu es kacang merah. Nyes. Enyak, enyak, enyak.

Oia, satu lagi, rujaknya juga enak! Buahnya segar dan banyak macamnya. Sambal kacangnya, bikin ketagihan. Apalagi kalau rujaknya habis, dan bumbunya dicampurkan dengan pempeknya, duh, sumpah enak!

Rujaknya itu lho!

Sangking enaknya, pempek Megaria benar-benar bikin saya ketagihan. Setelah malam itu, di hari-hari selanjutnya, kalau lagi liputan di sekitar Senen atau Salemba, pulangnya wajib nongkrong di sana. Ha ha ha.

Kata teman-teman wartawan yang senior, pempek Megaria ini dulunya tempat kencannya para wartawan. Terlebih untuk wartawan kesehatan dan News. Yang kesehatan liputan di RSCM, sedangkan wartawan News-nya liputan di gedung PPP, rumah Wamenkes, Balai Kota, dan tempat lainnya yang ada di daerah sana. Maka itu, Megaria merupakan tempat bersejarah bagi perjalanan cinta buat segelintir jurnalis.

Btw, redpel saya juga gitu. Katanya, dulu dia dan suaminya sekarang kalau kencan di sana. Sedangkan saya, belum menemukan cinta yang pas untuk diajak kencan di tempat itu. Ha ha ha.. 😆

Kembali ke soal pempek di Megaria. Untuk harganya sendiri cukup murah, bahkan murah banget kalau dibandingi sama harga pempek yang ada di mal-mal.

  • Harga pempek kapal selam dan lenjer : Rp 15.000
  • Harga pempek yang kecil-kecil : Rp 3.500
  • Rujaknya : Rp 16.000
  • Es kacang merah: Rp 15.000
Pempek Megaria
Kompleks Bioskop Megaria, Jl. Diponegoro, Senen, Jakarta Pusat
Senin sampai Minggu: 10:00 sampai 22:00 WIB

Tak Mau Sakit Hati, Jangan ke Taman Jomblo

Fenomena Taman Jomblo dan segala gebrakan yang dibuat oleh sang Wali Kota, membuat saya harus kembali menginjakkan kaki di Kota Kembang, Bandung.

Rasa penasaran membuat saya bertanya-tanya, bagaimana sih bentuk dari taman jomblo itu? Apa yang datang jomblo semua? Dan di mana letaknya? Ternyata, taman fenomena satu ini terletak persis di bawah jembatan Pasupati.

Walaupun saya baru beberapa kali ke Bandung, tapi saya cukup hapal bagaimana kondisi di bawah jembatan Pasupati sebelum taman jomblo dibuat. Kumuh, itulah komentar saya menggambarkan bagaimana kondisi tersebut.

Duh, dulu saya tidak habis pikir, bagaimana bisa, Bandung yang terkenal dengan gaulnya, mempunyai satu daerah yang sampahnya bisa dikatakan sangat banyak. Selain sampah, entah berapa jumlah pengemis dan anak jalanan yang berkumpul di sana.

Tapi itu dulu. Sekarang? Beda kondisi, euy! Tangan dingin sang Wali Kota, Ridwan Kamil, mampu membuat tempat yang dulunya kumuh jadi tempat yang sedap dipandang mata.

Dalam sebuah perbincangan singkat antara saya dan Emil, dia mengatakan bahwa sebenarnya di Bandung itu banyak ruang negatif yang dapat dibenahi dan dipercantik, salah satunya jembatan Pasupati tersebut.

Dan soal kenapa dinamakan Taman Jomblo, kang Emil sendiri malah nggak kepikiran untuk menamakannya demikian. Nama itu sendiri tercetus, ketika dia baru ngeuh tempat duduk yang ada di sana tergolong single seat. Yasudah, akhirnya tema untuk taman itu ‘jomblo’.

Penampakan Depan Taman Pasupati

Awalnya saya pikir yang datang jombloers semua. Ternyata tidak, saudara-saudara! Malah menurut saya, yang jomblo main-main ke Taman Jomblo, justru bikin nambah hati ini sakit.

Bayangin, dong, elo ke taman jomblo berharap menemukan mereka yang senasib dan sepenanggungan, malah menemukan mereka-mereka yang asyik pacaran dan mesra-mesraan. Sakit hati, ‘kan? Sama!

Saya malah syok, ketika mengetahui banyak pasangan yang malah mesra-mesraan di taman itu. Bangke! Justru dengan bangku ‘single seat’, membuat sebagian pasangan merasa lebih intim dan romantis. Yaialah, mereka bisa pangku-pangkuan. Apes!

‘Dalaman’ Taman Jomblo

Nah! Ini pacaran 😦

 

Buat para jomblo cewek sih enak, kalau di taman jomblo nggak bisa tebar pesona karena banyak lelaki yang membawa pasangannya, bisa melipir ke taman skateboard, yang letaknya masih satu area dengan taman jomblo. Soalnya, banyak juga remaja Bandung yang menghabiskan waktu bermain skate di sana. Lah, yang cowok bagaimana nasibnya? Pikir saja sendiri.

Lebih asyiknya lagi, di Taman Jomblo kita tidak hanya bisa haha-hihi-huhu saja, tapi bisa juga internetan. Kalau yang kayak gini, cocok buat yang jomblo. Akses internetnya juga tergolong cepat, lho!

Ke depannya, masih di area yang sama, Ridwan Kamil bakal membangun Taman Lampion, biar Bandung semakin terang dan berwarna. Gilalah bapak bodor satu ini, idenya bejibun. Dan sepertinya bukan tipikal pemimpin yang NATO (no action talk only), tapi benar-benar action tanpa banyak ngomong.

Selain Taman Jomblo, Taman Skateboard, masih banyak taman-taman lainnya yang sudah dibangun oleh pemerintah setempat. Kayak Taman Fotografer, Taman Lansia, Taman Bunga, dan taman-taman lainnya. Asyiklah pokoknya.

Makanya, kalau ke sana jangan lupa untuk mampir ke taman ini. Ya, walaupun sebenarnya tidak ada yang menarik-menarik amat. He he he.

Taman Skateboard

Anak ini mahir banget mainnya

Cihuy