Monthly Archives: March 2014

Tentang Kehilangan

Seminggu lalu saya kembali ke Bandung. Seperti biasa, kunjungan saya ke Kota Kembang ini untuk liputan, bukan liburan. Kali ini lebih kepada seminar, dan berjalan selama 2 jam. Iya, cuma dua jam!

Kalau biasanya saya pergi bersama teman kantor atau reporter yang belum pernah kenal, liputan kali ini saya pergi bersama Helmi, Rendra, Mbak Lilis, dan Mbak Ana. Yang mana keempat orang ini adalah teman ‘menggila’ saya. Dan voila, sampai di sana, hanya kami reporter yang hadir.

Awalnya merasa senang, karena media online hanya saya dan Helmi (Okezone). Jadi bikin beritanya bisa barengan, enggak ada yang naik duluan atau belakangan. Tapi hari itu, tampaknya saya harus rela kehilangan salah satu barang kesayangan, yang membuat saya rada keteteran bikin berita liputannya.

Iya, iPod kesayangan yang telah menemani saya berdinas satu setengah tahun belakangan, raib di depan mata. Padahal, seminar kali itu didatangi dokter dan pasiennya. Syok, enggak usah ditanya. Lah hilangnya hanya dalam hitungan detik (kali ya)

Seperti biasa, di saat narasumber lagi `ngoceh`, iPod saya letakkan di bagian depan, sedangkan saya fokus mencatat serta mendengarkan kalimat per kalimat yang keluar dari mulutnya. Siapa tahu, ada yang bisa Higlight.

Tiba-tiba saja, begitu saya ingin mendengar hasil rekaman di Ipod, apakah jernih atau tidak, tiba-tiba saja barang kecil itu tidak ada. Saya panik, saya coba cari di kolong kursi, barangkali terjatuh. Ternyata, tidak ada.

Uh, padahal di Ipod itu ada wawancara khusus bebeberapa narasumber yang belum saya tulis. Kan wawancara khusus, naiknya bisa kapan saja. Hitung-hitung kalau saya kehabisan berita, wansus itulah yang saya pakai. Tapi ternyata, semuanya hilang tanpa jejak.

Saya coba menerima kehilangan barang kesayangan itu. Syukurlah, ada Helmi dan Mbak Ana yang rela membantu. Terlebih Helmi, yang mau mengirimkan rekaman kotor dari BB-nya.

YA, untunglah hari itu saya pergi bersama empat orang gila ini. Saya enggak bakal tahu apa jadinya kalau kehilangan kali itu saya liputan seorang diri. Bisa stres tingkat internasional kali, ya!

Mereka berhasil membuat saya melupakan apa yang terjadi. Sepanjang perjalanan, gelak tawa selalu hadir dari mereka-mereka ini. Di saat makan juga seperti itu. Ha ha ha…

Tapi tetap saja, selepas satu per satu dari kami berpisah sesampainya di Jakarta, galau dan rasa kehilangan masih terasa.

Yah, semoga maling yang mengambil iPod saya dapat memanfaatkan itu dengan sebaik-baiknya. Kalau memang berbaik hati, bisalah mengirimkan rekaman kotor yang ada di sana. Lumayankan, mengurangi dosa mereka. Ternyata, apa yang saya harapkan tak terjadi.

Sudahlah. Hari itu saya belajar untuk menerima kehilangan. Yang kayak begini saja sudah galau, bagaimana kalau kehilangan yang lebih besar. Iya, kan?

Thank you, teman-teman! 12 jam bersama-sama, melatih kita untuk ke Denmark atau Umroh bersama-sama? Insya Allah.

Rame-rame

 

 

Advertisements

Cemal Cemil Bandung: Nasi Timbel Raos Dago

Jalan-jalan ke Bandung akan terasa hambar kalau belum nyobain `Nasi Timbel Raos Dago`. Begitu kata Mas Rommy, bos dari kanal sebelah yang ikut bersama saya dan tim melakukan perjalanan dinas ke sana sebulan lalu.

Berhubung ‘dukun’ satu ini tukang makan dan tahu makanan enak itu seperti apa, yasudahlah saya manggut saja. Toh dibayarin ini.

Sekitar pukul 17:00 WIB, selepas melakukan wawancara video di Taman Jomblo, bergegaslah kami menuju tempat makan yang dimaksud, sebelum saya dan tim mencari penginapan.

Sepanjang perjalanan, Mas Rommy semacam spoiler gitu, menceritakan tentang keenakan masakan yang ada di Nasi Timbel Raos Dago ini. Kata dia tempatnya itu eksklusif, hanya disediakan beberapa kursi dan meja saja. Sangking eksklusifnya, kita tidak bisa berlama-lama karena harus bergantian dengan tamu lainnya. Semakin penasaran, dong.

Setelah melewati perempatan Dago, Mas Rommy menunjuk sebuah restoran yang cukup luas, yang ada di ujung jalan. Seakan menandakan letak dari tempat makanannya itu.

Saya sempat bingung, lantaran mobil yang kami naikin berhenti dan parkir bukan di restoran itu, melainkan di FO yang ada di sebelahnya. Ternyata, saudara, tempat makannnya itu bukanlah restoran yang ditunjuk Mas Rommy ini, tapi sebuah tenda kecil yang nyelip di depan restoran mahal itu dan tangga sebuah jembatan penyebarangan. Kampret.

Tempat yang dibilang eksklusif itu

Yaialah, tempat sekecil ini sudah pasti ‘eksklusif’! #menurutngana. Mau tak mau tamu harus bergantian makannnya. Bayangin saja, mejanya cuma ada empat, satu meja cuma bisa menampung dua sampai orang. Sial!

Melihat saya yang kebingungan, Mas Rommy cuma bisa tertawa penuh kebahagian. Tempatnya itu kecil banget dan rapet. Buat pengunjung yang badannya besar dan tinggi seperti saya, pasti akan kelabakan.

Don’t judge book from the cover pantas disematkan untuk tempat makan ini. Meski kecil dan nyelip, makanannya itu enak gilaaaaa.

Namanya juga `Nasi Timbel Raos Dago`, sudah pasti yang dijual nasi timbel bersama teman-temannya, ayam, tahu, tempe, ikan asin, dan sambal. Bedanya, nasi timbel di tempat ini tidak dibakar, nasi putih biasa saja yang ditaburi serundeng.

Layaknya ayam goreng pada umumnya, ayam goreng di sini juga biasa saja. Dibilang enggak enak, enggak. Dibilang enak juga, enggak 100 persen enak. Cuma, si penjualnya itu menyajikannya ‘bersih’. Pun dengan tempe dan tahunya yang digoreng dadu.

Tapi, juara umum dari `Nasi Timbel Raos Dago` ini adalah sambalnya. Sebagai penikmat sambal, tak cukup rasanya bila disajikan hanya dalam porsi kecil. Sambalnya itu akan dibuat ketika ada yang pesan saja, jadinya fresh. Ada kali saya nambah lima kali, hanya untuk sambalnya saja.

Ayam, tahu, tempe, ikan asin goreng

Nasi putih ditaburi serundeng

 

Sambalnya

Sambalnya itu kelihatannya biasa saja, bahkan terlihat seperti tidak pedas. Begitu dicocol bersama ayam goreng dan teman-temannya dan dikunyah di mulut, taraaaaa.. pedasnya mulai terasa.

Karena sambal ini jugalah, sore itu saya makannya khilaf, padahal malam harinya akan liputan di Braga Culinary. Habis, sambalnya itu nafsuin. Lebih nafsuin sambalnya, ketimbang abangnya. #eh

Untuk harga, saya kurang tahu, enggak nanya juga. Lah, dibayarin Mas Rommy. Pantang menanyakan harga kalau dibayarin. #okesip

Terimakasih, Mas Rommy! Kalau liputan bareng lagi, bayarin lagi, ya! #dikirimindedemit

Solusi Bagi si Pelupa dan Enggak Mau Ribet

Hujan yang mengguyur Ibu Kota beberapa bulan terakhir ini, membuat kantong saya menipis karena harus dikeluarkan untuk membayar biaya taksi.

Bukan berniat sombong atau bagaimana, tapi tubuh saya yang menjulang ini, suka enggak bersahabat kalau harus naik angkutan umum. Apalagi di musim hujan, pasti penuh dan saya harus berdiri. Kalau saya berdiri dengan kondisi kepala menunduk serta waktu perjalanan yang lama, bisa-bisa leher saya sakit. Malesin banget, ‘kan?

Tapi, kebiasaan buruk sering membuat saya keder sendiri. Saya suka lupa mengecek apakah di dompet tersimpan beberapa lembar uang atau tidak, suka malas ke ATM dan hanya menyimpan voucher taksi di dompet. Mending kalau pas hujan taksi yang bisa bayar pakai voucher gampang didapat, kalau enggak, saya kudu piye?

Beruntunglah saat ini sudah ada Mandiri E-cash, yang dapat menyulap ponsel menjadi ‘uang’. Kalau selama ini ponsel hanya untuk SMS, berinteraksi di dunia maya, dan untuk transaksi lain-lain, kini ponsel dapat dijadikan uang.

Informasi tentang Mandiri E-cash, saya dapatkan dari teman yang kebetulan liputannya mengenai ini . Secara tidak langsung, dia sudah memberikan solusi kepada  saya, yang suka lupa membawa dan mengambil uang di ATM. Kebetulan dong, selain menjadi nasabah bank lain, saya juga nasabah bank Mandiri, hanya saja Mandiri Syariah. Saya lantas bertanya padanya, apa bisa nasabah Mandiri Syariah memiliki Mandiri E-cash? Apa harus buka rekening baru dulu?

“Enggak,” kata dia dengan muka lempeng yang membuat kelucuannya naik beberapa persen :p

“Pemilik bank mana pun, selagi itu saling terintegritas, bisa kok menggunakan Mandiri E-cash ini,” tambah dia

Ternyata, untuk memiliki Mandiri E-cash ini cukup mudah,  tinggal download saja. Saat ini, Mandiri E-cash sudah tersedia di platform iOS, Android, Blackberry (0S7 ke atas), dan BB 9900. Tanpa pikir panjang saya langsung mendownloadnya.

Karena Mandiri E-cash adalah uang elektronik yang memanfaatkan teknologi aplikasi di ponsel, setiap pengguna dapat melakukan transaksi tanpa harus melakukan pembukaan rekening. Tetap saja, untuk dapat menggunakannya, harus isi saldo terlebih dulu. Isi saldonya, tinggal ikutin petunjuk yang ada. Nanti akan diterangkan satu per satu.

Pengisian saldo Mandiri E-cash, tidak hanya dapat dilakukan melalui e-channel Bank Mandiri saja, tapi dari bank lain juga. Mandiri tampaknya tahu betul bagaimana cara mempermudah kehidupan banyak orang termasuk saya. Apalagi di Mandiri E-cash ini ada fitur transfer uang.

Setelah saya coba, ternyata Mandiri E-cash ini berbasis nomor telepon. Jadi, kalau ada teman kamu yang memiliki aplikasi ini dan nomornya tersimpan di ponselmu, maka transfernya akan lebih mudah. Tinggal masuk ke menu, pilih kirim E-cash, akan muncul kolom nomor telepon penerima, lalu di bawahnya ada jumlah uang yang dikirim.

Saat tombol proses ditekan, programnya akan meminta kamu untuk memasukkan kode PIN serta OTP yang dikirimkan melalui SMS. Begitu tombol lanjut ditekan, maka transaksi selesai.

Uniknya, akan ada struk yang keluar yang dapat disimpan, diprintscreen, sebagai barang bukti. Simpel banget, ya?

Untuk kamu yang doyan belanja online di Tokopedia, Groupon, Valadoo, atau belanja Gramedia Majalah, atau mungkin bayar taksi (dalam hal ini Express), atau bahkan Cititrans. Hanya saja, untuk saat ini Mandiri E-cash belum bisa digunakan di taksi Express dan Cititrans. Duh, semoga sebentar lagi sudah bisa digunakan untuk semua, biar saya enggak ribet kalau harus bayar taksi dan lupa membawa uang cash.

Kalau sudah seperti ini, ketinggalan ponsel akan lebih berat ketimbang ketinggalan dompet.

Mandiri E-cash

Tentang Ketetapan Hati

Pernikahan merupakan momen yang paling ditunggu oleh pasangan yang sudah berumur saling mengenal satu sama lain. Walau baru menjalin hubungan pacaran beberapa bulan, tapi jika hati sudah merasa mantap dan yakin, maka keputusan untuk menikah tak perlu ditunda lagi. *alah pembukaan yang ribet*

Biasanya, hasil dari melihat sekitar, menjelang momen bahagia ini ada saja hal-hal tak terduga muncul, yang membuat hati mendadak labil dan goyah. Goyah akan pilihan yang pada awalnya sudah merasa mantap dan yakin, mendadak kembali mempertanyakan pilihannya sendiri, “Apa sebenarnya saya siap untuk itu? Apa memang dia jodoh terbaik saya?”

Saya selalu percaya akan kalimat ‘Manusia Boleh Berencana, Tapi Tuhanlah yang Pada Akhirnya Jadi Penentu’.

Sekiranya dua tahun lalu, seorang sahabat datang membawa kabar bahagia, kalau dia sudah dilamar oleh sang pujaan hati, dan akan menikah empat bulan lagi. Dia senang bukan kepalang. Masa pacaran selama 10 tahun (dimulai dari SMP) akhirnya berujung pada pelaminan. Tapi apa yang terjadi, impiannya untuk menikah dengan pria tersebut tidak terjadi. Bahkan, sang prialah yang justru datang ke hari pernikahan sang wanita sebagai seorang sahabat dan dengan sukarela, menjadi Pagar Bagus.

Empat bulan menuju momen spesial tersebut, sahabat ini dihadapkan oleh suatu kenyataan pahit (awalnya), tapi menjadi manis (ujungnya). Murid cowok yang ditaksirnya di kala SMP dulu, tiba-tiba kembali muncul setelah beberapa tahun hilang tanpa kabar. Menurut sahabat ini, pria itu pindah ke negara tetangga, Singapura, karena sang ayah bekerja di sana. Sayang, keduanya tidak pernah berkomunikasi.

Sebenarnya, ‘cobaan’ ini bukan baru pertama kali terjadi. Beberapa tahun sebelumnya, berkat jejaring sosial ciptaan Mark Zuckerberg, kedua mahluk ciptaan Tuhan tersebut dipertemukan.

Itu pun tak sengaja. Hanya dari sebuah foto milik seorang teman yang berasal pihak pria, diketahuilah keberadaan si wanita ini. Iya, si wanita adalah teman dari teman dekatnya si pria. *alah, ribet lagi menjelaskannya*

Sahabat cerita pada saya, dia awalnya bingung siapa orang yang mengirimkan pesan sewaktu meminta konfirmasi menjadi teman di Facebook.

“Hai, masih ingat sama gw. Gw si ini, teman lo di SMP ini” kurang lebih, itulah isi pesan tersebut.

Karena penasaran, dibukalah halaman pribadinya dan mengecek satu per satu foto yang ada, serta biodatanya. Ternyata, si pria ini cukup rajin untuk mengupload foto di kala sekolah dulu. Tanpa pikir panjang, diketahuilah identitas sebenarnya pria tersebut.

Galau? Enggak usah ditanya! Keringat dingin malah, dan susah tidur. Tapi waktu itu, sahabat ini kekeuh akan pendiriannya dan penuh percaya diri mengatakan, “Dia hanya masa lalu. Masa depan gw, ada pada pria yang saat ini menjalin hubungan sama gw”. Sekali lagi, manusia boleh berencana habis-habisan, tapi kalau Tuhan sudah punya mau, siapa yang berani nolak?

Di empat bulan waktu untuk menunggu, si pria (mari kita sebut saja namanya Andrew) mengirimkan chat berupa, “Wah, sudah tunangan, ya? Selamat. Ngomong-ngomong, boleh ketemu? Terserah, sih, mau berdua saja, ayok.. Mau bertiga dengan tunanganmu juga, ayok. Toh, gw juga kayaknya kenal sama tunangan lo.”

Tanpa basa basi, entah kesambet syaitan mana, si sahabat (yang mari kita sebut saja namanya Icha) menerima tawaran itu, tawaran pertama malah, berdua saja.

Waktu pertemuan sudah diatur dan izin dari si pacar sudah didapat. Hari yang dinanti pun tiba.

Pangling, keduanya pangling akan penampilan mereka kini. Menurut Icha, Andrew dulu kurus, tapi cute dan ganteng. Kini, semua itu berubah. Bukan menjadi buruk, tapi melebihi Andrew yang dulu. Rambut pendek rapi, rada berotot, dan pipi tirus, serta berewokan, dengan suara yang ngebass. Badannya pun tinggi, layaknya pria yang gemar bermain basket.

Pertemuan itu berjalan biasa saja. Hanya obrolan untuk saling mengingatkan akan diri keduanya di masa lalu, dan tanpa disadari oleh keduanya, terucaplah sebuah kalimat, “Dulu elo kan sempat gw taksir, tapi elo malah sama cowok lain dari SMP lain (yang tak lain adalah tunangan Icha).”

Mendengar ucapan itu, Icha hanya bisa diam, tak bergeming. Senyumnya mendadak kecut dan terkesan dipaksa. Dari bibir mungilnya hanya terucap, “Ooh!”

Lalu, dia kembali melanjutkan, “Salah sendiri diam-diam saja. Berarti kita memang bukan jodoh. Mungkin jodoh elo yang lain, bukan gw.”

Setelah pertemuan itu, komunikasi keduanya semakin intens, pun komunikasi Icha dengan tunangannya. Hanya saja, apa yang ‘diberikan’ Andrew pada Icha, tak pernah didapatkan Icha dari tunangannya.

Icha kaget waktu Andrew tahu siapa yang menjadi idolanya. Di tiap percakapan melalui telepon, Andrew selalu membawa nama sang idola sebagai bahan percakapan. Dan Andrew juga hapal kebiasaan ICha yang tak pernah berubah sejak SMP dulu, yaitu pakai jepit rambut selalu berbentuk bintang.

Sedangkan tunangan Icha, tak pernah tahu akan hal itu.

Hati Icha mendadak goyah segoyah-goyahnya waktu Andrew mengatakan “Andai saja elo tidak berencana nikah dengan tunangan lo, gw siap menikahi elo, walau kita baru bertemu lagi. Tapi kayaknya enggak ya, Cha? Benar kata elo, mungkin jodoh gw ada di tempat lain” sewaktu keduanya bertemu lagi untuk kesekian kali.

Tapi, kata Icha, Andrew langsung tertawa sesudah berbicara seperti itu, dan menganggap omongannya ngawur dan tak perlu didengar. Andrew boleh saja anggap itu ngawur, tapi Icha?

Icha berusaha mencari tahu apakah Andrew serius dengan omongannya itu.

“Kalau misalnya gw lebih memilih elo ketimbang tunangan gw saat ini, apa elo bakal tetap dengan ucapan yang barusan?,” kata Icha bertanya pada Andrew.

“Iya. Tapi, mana mungkin ‘kan, Cha? Elo juga tinggal hitungan hari bakal jadi istrinya dia. Masa iya elo mau ngerusaknya gitu saja?,” kata Andrew.

“Kalau memang elo sungguh-sungguh dengan ucapan elo. Oke, gw tunggu buktinya,” kata Icha menantang pria keturunan Padang, Kalimantan, dan Cina itu.

Ternyata, selama 10 tahun Icha berusaha untuk yakin dengan pilihannya yang dijalaninya. Padahal, beberapa tahun usia pacarannya, ada niatan Icha untuk putus dari tunangannya. Hanya saja, Icha tak mampu, karena beberapa hal.

Pun dengan gosip yang selama ini menghampiri Icha, kalau tunangannya itu sering ketahuan lagi jalan berdua wanita lain. Tapi, lagi, lagi, Icha berusaha untuk tetap percaya bahwa tunangannya tak seperti itu.

Di 7 tahun usia pacarannya, pernah terlontar dari mulut si pria, kalau dia baru akan menikah saat menginjak usia 30 tahun. Alasannya, dia ingin lebih matang dalam segala hal. Untuk itu, Icha diminta untuk bersabar bila ingin tetap dengannya.

Icha kembali mencoba mempertahankan hubungannya. Berharap kalau itu tidak benar, dan sewaktu-waktu bisa berubah. Di 9 tahun usia pacaran mereka, orangtua dari pria meminta anaknya untuk segera menikahi Icha, kalau si anak mau meneruskan usaha milik keluarganya yang ada di Singapura.

Karena itu, yang akhirnya membuat si pria berani melamar Icha dan berencana segera menikahi Icha. Awalnya Icha ragu, dan sadar terkesan dipaksakan. Tapi, Icha berusaha untuk berpikir yang baik-baik saja.

Entah mengapa, keraguan Icha semakin bertambah, dan keseriusan si pria kembali dipertanyakan saat dia bertemu Andrew. Terlebih Andrew mengucapkan itu.

Tak ingin ada yang tersakiti, akhirnya Icha berani untuk ngomong empat mata pada calon tuangannya itu. Jawaban yang diinginkan Icha terwujud, kalau sebenarnya si pria tak siap dan tak yakin untuk melangkah ke depan. Dia masih ingin mengerjakan apa yang menjadi pilihannya, dan mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya.

Di tempat keduanya sering menghabiskan waktu ketika malam minggu tiba, Icha dan tunangannya resmi putus. Sang pria mendoakan yang terbaik untuk Icha, pun Icha akan melakukan hal yang sama.

Sekembalinya Icha ke rumah, dia langsung menghubungi Andrew dan mengatakan semuanya. Malam itu, Icha kembali mempertanyakan keseriusan Andrew.

“Kalau memang apa yang kamu omongin itu benar, besok pagi kamu harus bertemu orangtuaku. Dan mengatakan apa yang menjadi inginmu,”

“Orangtuaku pasti terkejut, tapi aku akan coba ngomong ke mereka. Tapi, kalau misalnya besok pagi tidak terjadi apa-apa, berarti memang benar, kamu bukanlah jodohku yang sebenarnya, dan sebaliknya, aku ternyata bukan jodohmu. Mungkin jodohku bukan mantan tunanganku dan juga bukan kamu,” kata Icha.

Sidney, Kamis, 20 Februari 2013, Icha mengabarkan anak Pertamanya telah lahir, dengan jenis kelamin perempuan. Dan Andrew resmi jadi seorang bapak.

🙂

 Kalian yang sudah menikah, apa pernah mengalami hal-hal serupa?