Monthly Archives: April 2014

Drama Dinda. Ibu Hamil dan Bangku Prioritas

Kalian pastinya ngikutin berita si Dinda, dong? Itu tuh, si gadis asal Depok (kalau dibaca dari lokasi Path-nya) yang ngomel-ngomel di Path-nya karena ibu hamil yang tiba-tiba minta duduk di kereta. Nah, postingan kali ini, terinspirasi dari si Dinda. Terimakasih, Dind, karenamu, blog yang banyak sarang labah-labahnya ini bersih lagi.

Sebelumnya, saya mohon maaf, apabila nantinya ditemukan hal-hal yang tidak mengenakan dalam postingan ini.

Awal membaca screenshot postingan Path si Dinda, saya sempat (sok) marah dan memaki dengan keji. Kata saya, Dinda ini tak punya otak dan tak punya hati nurani. Bisa-bisanya sama ibu hamil seperti itu. Kalau posisi di balik, bagaimana? Emangnya enak digituin? Itu awalnya.

Sampai akhirnya, postingan ini menjadi obrolan saya dan gebetan teman dari media sebelah. Saya utarakan pendapat saya soal kasus ini. Setelah ngomong panjang lebar, dia cuma ngomong,”Kamu yakin sudah lebih baik dari dia? Kamu yakin, semua orang yang memaki dia, termasuk kamu, akan memberikan tempat duduknya kalau kamu dalam keadaan mendesak. Mungkin dia khilaf dan ada sesuatu yang membuatnya seperti itu. Kita tidak pernah tahu, ‘kan?”

Selesai mendengar ucapan seperti itu, saya tiba-tiba berpikir bahwa apa yang diomongin dia ada benarnya. Ternyata, saya juga pernah (sering) melakukan ini.

Selain itu, apa yang dibuat si Dinda, membuktikan rumor yang beredar selama ini. Kalau wanita di gerbong khusus wanita masih ada yang egois. Bahkan sama wanita hamil sekali pun.

Pernah satu kejadian, seorang ibu yang tengah mengandung dan membawa anak masuk ke gerbong campur (gerbong empat, CL Serpong-Tanah Abang). Saat ibu itu masuk, pria dan wanita yang duduk di kursi prioritas spontan berdiri dan mempersilahkan si ibu dan anaknya untuk duduk. Tiba-tiba, ibu tua yang ada di sebelahnya ngomong, kenapa dia tidak di gerbong khusus saja, akan lebih aman melihat kondisinya saat itu.

Sambil tersenyum, si ibu berkata,”Saya tadi sudah di gerbong khusus, bu. Tak ada satu pun yang memberikan tempat duduknya. Bahkan, seorang wanita yang tengah duduk mengatakan kalau saya ada baiknya di gerbong campur, karena akan mendapatkan duduk. Pria lebih ngalah.”.

Nah, lho! Mendengar itu, saya yang berdiri di samping kursi prioritas (dekat pintu) cuma senyum-miris saja. Kok tega, ya?

Tak lama setelah itu, saya mendapat cerita yang sama dari mama. Waktu kejadian siang menuju sore hari, di CL dari Tanah Abang ke Serpong. Kata mama, ketika itu ada ibu tua (sepertinya pedagang) masuk ke dalam CL. Kondisi di gerbong khusus itu memang sudah penuh. Melihat si ibu yang membawa banyak dagangan, tak ada satu pun orang yang langsung berdiri (beberapa ada yang tertidur dan membaca) dan mempersilahkan si ibu untuk duduk. Dilihat dari usia, sekitar 55 tahunanlah.

Akhirnya, si ibu duduk saja di plastik besar dagangannya. Namun, satpam wanita yang ada di gerbong itu meminta si ibu untuk berdiri. Katanya sih, mengganggu yang lain. Beruntung, tak lama kemudian, ada ibu lain yang baru bangun dari tidur singkatnya dan langsung mempersilahkan si ibu untuk duduk di kursinya.

“Lebih baik gondok di gerbong campur, ketimbang gondok di gerbong khusus. Seharusnya, sesama wanita mengerti,” itu kata mama saya.

Tidak usah soal duduk, deh. Etika ketika akan masuk ke dalam kereta saja masih terasa kok keegoisannya. Mungkin merasa sama-sama wanita kali, ya. Jadinya, rasa tidak enak untuk saling dorong mendorong dan duluan-duluanan masuk diabaikan. Mungkin.

Jujur, saya juga pernah melakukan itu. Hanya saja, tidak memaki si ibu dan tidak memosting itu di Path. Bukan bermaksud tidak empati. Kalau boleh jujur, saya miris bila melihat ada wanita tua terlalu lama berdiri. Apalagi kalau mukanya terlihat capek.

Biasanya, sifat egois saya muncul kalau sudah benar-benar capek dan ngantuk parah. Ketika melihat ada wanita yang lebih membutuhkan bangku itu, saya cuma melihat sekilas dan memilih tidur. Dalam hati, saya hanya berkata,”Tuhan, maaf, kalau saya melakukan ini.”. Dengan catatan, itu terjadi tidak di bangku prioritas. Maka itu, ketika tahu kondisi tubuh seperti apa, saya tidak mau duduk di bangku prioritas ketika CL dalam keadaan sepi. Ada baiknya menghindar. Kalau saya egois di bangku prioritas, tandanya saya memang tak punya otak. Sudah tahu itu bangku prioritas, malah saya diam saja. Lain halnya, kalau dalam kondisi sebaliknya.

Saya tahu, kok, duduk terlalu lama juga enggak baik untuk kesehatan. Terlebih bila sudah terlalu lama duduk di kantor/lokasi liputan. Tapi kalau sudah ngantuk parah, bisa buat apa? *siap dimaki-maki*

Ngomongin soal bangku prioritas, saya pernah mengalaminya. Sekitar dua bulan lalu, saya menaiki CL dari Palmerah ke Serpong. Hari itu, muka saya pucat dan pusing berat. Saking pusingnya, untuk melihat cahaya terang saja sudah tak kuat. Makanya, saya buka jaket yang dikenakan dan saya pakai di kepala. Lumayan, menghindari saya dari cahaya.

Melihat kondisi saya, bocah laki-laki berpakaian putih biru berdiri dari bangku prioritas dan mempersilahkan saya duduk. Awalnya sempat nolak. Tiba-tiba terlontar dari mulutnya,”Silahkan duduk, bu. Muka ibu mucat!.”. IYA, DIA MANGGIL SAYA IBU. Saya kaget mendengar itu. Mau marah, tapi tak sanggup. Soalnya, ingin rasanya cepat-cepat sampai rumah dan tidur. Yasudah, akhirnya tawaran dari adik itu saya terima.

Ternyata, si adik itu turunnya satu stasiun sama saya. Tahu saya juga turun di stasiun itu, si adik kembali menawarkan saya untuk diantarkan pulang. Karena kata dia, muka saya benar-benar pucat. Saya menolak dengan halus, sembari membuka identitas sebenarnya. Setelah tahu, dia cepat-cepat minta maaf dan meralat panggilannya. Ha ha ha.. Kayaknya sih, si adik ini mendapat ajaran yang bagus di rumahnya.

Pas saya tanya kenapa manggil saya ibu, dengan polosnya dia jawab, “Waktu kakak mukanya ditutupin jaket itu, terlihat seperti perempuan. Manis. Apalagi kakak ada anunya (baca: tetek). Maaf ya, ka.”. Duh, saya curiga.. Kalau saya tidak bongkar identitas sebenarnya, si adik ini naksir sama saya. Duh, dik, kamu masih terlalu brondong untuk saya. *lho*

(GOOGLE/KOMPAS)

Kembali ke Dinda…

Sebenarnya, apa yang diperbuat oleh si Dinda ini pernah dilakukan oleh wanita-wanita lain. Hanya saja, tidak sampai dipost di Path atau media sosial lainnya. Lagian ya, kok teman di Pathnya tega gitu nge-capture postingan si Dinda dan menyebarkannya ke semua orang. Berarti Dind, 150 orang teman di Pathmu ada yang bermuka dia. Coba cek satu-satu deh. Jangan-jangan, orang yang melakukan itu ada di deretan orang yang memberikan komen di postinganmu itu? Barangkali, lho.

Oia, Dind, mau nanya. Kamu bilang kan di stasiun dari jam 5, dan si ibu yang meminta kursi itu baru masuk jam 7. Memangnya, kamu dari stasiun mana, kok lama sekali perjalanan yang kamu tempuh baru ketemu si ibu itu?

Kalau berasal dari stasiun yang sama, memangnya kereta yang ingin kamu naiki tibanya berapa jam sekali? Kenapa kamu enggak naik yang jam 5:30 saja? Kenapa harus nunggu sampai jam 7? Kalau kayak begini sih, aku bisa memahami mengapa kamu semarah itu. Tapi, itu kan salahmu juga. Kenapa harus menunggu selama itu?

Ditambah lagi pakai lari-lari. Memangnya tidak capek?

Dind, saya cuma mau bilang. Kalau kamu mengejar kereta saja sudah capek, bagaimana saya yang hampir satu tahun mengejar cinta orang yang saya suka? Itu capeknya luar biasa lho, Dind. Dikasih kode apa saja, tidak mempan Dind. Ayolah Dind, mengerti perasaan saya. #malahcurhat.

Sudahlah Dind, ini pembelajaran untuk kita semua. Pelajaran untuk; 1. Tidak memosting sembarangan di Path, 2. Lebih mengenal siapa-siapa saja yang layak dijadikan teman di Path, 3. TIDAK BERURUSAN DENGAN IBU HAMIL. SEKECIL APA PUN KESALAHAN MEREKA, MOHONLAH DIMENGERTI, DIND. (capek bawa nyawa dalam kandungan)

Yowes, si Dinda pun sudah minta maaf. Saya juga minta maaf ya, Dind, kalau turut memaki dirimu. Kita sama memperbaiki diri. Kamu, saya, dan yang lainnya mengubah perilaku kita ini.

Jadi, buat para sesama wanita yang turut terseret memaki dan mengecam si Dinda, apakah tidak pernah melakukan hal yang sama? Yakin?

Advertisements

Drama Hari kamis

Kamis menjadi hari paling menyebalkan buat saya. Bagaimana tidak, dua hal penting dalam hidup saya mengalami gangguan, transportasi dan komunikasi.

Bagi pengguna commuterline, terutama Serpong – Tanah Abang, pasti dibikin gondok pas hari itu. CL yang biasa saya naiki pukul 7:45 WIB, tiba-tiba harus bergeser menjadi pukul 08:15 WIB, ditambah `ngetem` selama hampir 10 menit di tiap stasiunnya karena harus antre.

Pun dengan pengguna Indosat, yang dibuat gondok hari itu, karena jaringannya error super parah. Saya sendiri tidak ngeuh, kalau sejak pukul 01:25 WIB Indosat mengalami masalah. Maklum, jam-jam segitu saya sudah tepar. Saya baru ngeuh pas paginya, ketika saya gagal mengirimkan BBM ke teman dan email ke kantor.

Ketika saya lemparkan masalah ini ke Twitter, tiba-tiba saja Mas Aad memberitahu kalau Indosat memang mengalami masalah berupa eror internasional. Karena tahu eror, begitu sampai ke lokasi liputan, yang saya cari pertama kali adalah WiFi di hotel tersebut. Lumayanlah, BBM bejibun dan email yang pending terkirimkan dengan selamat.

Kalau saya tidak salah ingat, eror yang saya alami berakhir pada pukul 11:00 WIB. Ya, walaupun masih angot-angotan. Yang jelas, sekitar pukul 15:00 WIB, saya sudah bisa BBM-an dengan lancar.

Malam harinya, saya coba mencari tahu apa penyebabnya. Melalui situs resminya, diketahui kalau eror yang melanda Indosat karena masalah pada sistem jaringan secara nasional. Karena gangguan tersebut, dua dampat utama pun terjadinya yang mengakibatkan error pada IP Router Table ke jaringan internasional, sehingga menyebabkan benturan IP Address. Namun, masalah ini sudah terselesaikan pada pukul 03:45 hari itu juga.

Busyet, gangguan yang dialami Indosat mengingatkan saya pada pelajaran jaringan yang saya dapatkan ketika kuliah dulu. Gile, menjelimet.

Lalu, masalah kedua terdapat pada layanan sistem jaringan nasional, baik seluler maupun korporasi yang berakibat pada gangguan komunikasi. Namun, masalah itu pun cepat terselesaikan.

Lagian, menurut saya, hal seperti wajar terjadi. Apalagi ini menimpa provider besar sekelas Indosat ya, bok! Tapi, yasudahlah yah, masalahnya juga sudah besar.

Masih dari situs resminya, Indosat juga menjelaskan bahwa jika ada pelanggan yang masih mengeluhkan akan layanan Indosat tersebut, dapat menghubungi 111 (Matrix) atau 100 (Mentari dan IM3). Bagi para pekicau, dapat juga bertanya langsung ke @indosatcare atau mengirimkan email ke customer_service @indosat.com

Yah, erornya Indosat menjadi pembelajaran buat saya, untuk mengaktifkan email di ponsel lainnya dengan provider yang berbeda. Tapi, tetap saja genggeus enggak sih, email sama di dua ponsel berbeda. Au, ah! Terpenting, masalah yang menyangkut erornya Indosat sudah kelar, komunikasi berjalan normal. Pokoknya, #TetapIndosat -lah!

Kalau eror lagi, kirim-kirim makanan atau bonus pulsa ya, Indosat. *kecup*

The Raid 2: Berandal

Selepas liputan di Rumah Sakit Bintaro Sabtu kemarin, saya, Rendra, dan Qalbi memutuskan untuk nonton film The Raid 2: Berandal, di XXI Lotte Mart.

Film besutan Gareth Evans ini merupakan lanjutan dari The Raid pertama. Bila di seri pertama Andi (Donny Alamsyah) memisahkan diri dari Rama (Iko Uwais), yang tak lain adalah adik kandungnya, di seri kedua diceritakan kalau Andi menjadi `korban` keganasan Bejo (Alex Abbad). Kisah lalu berlanjut pada Rama yang akhirnya menemui Bunawar (Cok Simbara) atas saran kakaknya. Saat bertemu Bunawarlah, kisah-kisah sadis nan menegangkan dimulai!

Selanjutnya, nonton sendiri saja, ya.

Bila di seri pertama penonton dibuat terkesima oleh penampilan Iko Uwais dan Joe Taslim (mungkin), di The Raid 2: Berandal penonton akan dibuat terkesima oleh hampir keseluruhan pemain.

Sebut saja Tio Pakusadewo yang berperan sebagai Bangun. Om satu ini tak usah diragukan lagi kepiawaiannya dalam berakting. Pun dengan Oka Antara (Eka) dan Arifin Putra (Uco), yang menurut saya berhasil mengimbangi akting Tio.

Bagi saya, melihat Arifin yang mampu mengimbangi akting Tio, Iko, dan Oka Antara, terlebih dalam film The Raid 2: Berandal ia juga harus melakukan adegan fighting, usahanya patut diapresiasi. Siapa sangka, Arifin yang biasa berperan di sinetron remaja, mampu melakukan adegan per adegan yang ada di film ini dengan sangat baik.

Untuk Oka Antara, saya tak dapat berkata apa-apa, selain mengatakan keren gila! Meskipun di film ini Oka bukanlah pemeran utama, tapi aktingnya sungguh sangatlah hidup. Tanpa Oka, The Raid 2: Berandal hanyalah butiran debu.

Film ini tampaknya sengaja digarap untuk membuat penontonnya bertanya-tanya selama menyaksikannya. Saya sendiri, di sepanjang film sering melontarkan kalimat ‘Dia siapa, ya?’, ‘Lho, kok ada ini?’, ‘Lah, dia nikah toh, dan istrinya Marsha Timothy’, ‘Ih, kok ada salju?’, atau ‘HARI GINI MASIH PAKAI PAGER?’. Ha ha ha.

Selain itu, penonton juga diajak untuk menjadi `pintar` ketika menyaksikan film ini. Sebab, kalau kita ngeuh adegan tiap adegannya, pasti akan terlontar kalimat penuh tanda tanya.

Misalnya saja tiba-tiba ada sosok Julie Estele dengan dua palunya dan pria yang doyan bawa tongkat dan senang mengucapkan ‘Lempar sini bolanya`.

Kalau kamu ingin menonton film ini hanya untuk mencari di mana letak mendidiknya, maka kamu tak akan menemukannya. Kalaulah ada, barangkali hanya 1 persen. Tapi, kalau kamu ingin menonton film ini hanya untuk hiburan, maka kamu akan mendapatkannya 99 persen.

Bagi saya, film The Raid 2: Berandal merupakan hiburan mahal yang membuat penontonnya tak menyesal untuk merogoh kocek demi dapat menyaksikan film keren seperti ini.

Percayalah, kalau kamu enjoy dan tak banyak bertanya tentang apa yang terjadi pada film ini, maka hiburan yang dicari akan sangat mudah kamu dapatkan.

Intinya, menonton film ini seperti naik rollelcoaster. Dan membuat pipis lancar usai menyaksikan. Soalnya, ada rasa sayang untuk beranjak dari kursi hanya untuk kencing. Adegan tiap adegannya, saya untuk dilewatkan.

Adegan favorit saya adalah `Threesome`, `Kitchen`, dan `Bar`.

Foto by: Rendra hanggara