Monthly Archives: May 2014

PMS

Dari zaman sekolah dulu, entah mengapa sangat susah untuk marah sama orang yang sudah membuat diri ini kesal. Buruknya, saya memilih untuk diam dan menahan segala kekesalan itu di dalam hati. Nyesek, sakit, dan itu dongkolnya bukan main.

Kalau sudah begitu, saya biasanya memilih untuk diam dan tak memperdulikan sekitar, termasuk orang yang sebenarnya tidak bersalah. Semacam kata pepatah, tumpah setitik, rusak susu sebelanga. Karena amarah dan kekesalan yang tertahan itu, segala yang saya lakukan terkesan lama, dan ada saja yang salah.

Dua minggu ini, saya kembali merasakan itu. Tempo hari saya kesal sama partner kerja dari kantor yang datangnya super duper lama. Saya sudah membuat janji sama si narasumber pukul 14:00. Berhubung narsum ini orang penting, dan kebetulan pula dia ada meeting, mau tidak mau saya hanya mendapatkan jatah waktu wawancara selama 1 jam. Tandanya, pukul 15:00 dia harus cau.

Prinsip yang saya tanamkan selama ini adalah lebih baik menunggu satu jam daripada terlambat satu menit. Dan, lebih baik saya yang menunggu orang yang memang saya butuhkan, dalam hal ini narasumber itu, ketimbang dia yang menunggu saya. Tengsin, jatuhnya.

Tiga puluh menit sebelum waktu wawancara, saya sudah ngejogrok di depan kantornya. Eh, partner saya ini tidak bisa dihubungin, dong. Dalam keadaan genting seperti itu, 10 panggilan telepon dari saya tidak direspons sama sekali. Pun dengan pesan singkat yang saya kirimkan, tak ada satu pun balasan darinya. Ngehek!

Tepat pukul 14:00 si narasumber sudah hadir di kantornya. Sedangkan partner saya, entah ada di mana. 5 menit, 10 menit, 30 menit, enggak datang juga. Si narsum, sudah bertanya-tanya kapan wawancara akan dimulai. Sampai pada pukul 15:00, si partner tak kunjung hadir. Dan si narsum, sudah menenteng tasnya untuk melanjutkan meetingnya.

Begitu si narsum masuk ke dalam mobilnya, barulah si partner ini datang dengan tampang seakan-akan tidak bersalah sama sekali. Dan menganggap seperti tidak terjadi apa-apa. Kesal? Sudah pasti! Ingin rasanya saya marah-marah di tempat itu. Tapi, coba saya tahan. Saya hanya berharap, si narsum kembali.

Ternyata, Tuhan mendengar doa saya. Dokumen penting yang seharusnya dipresentasekan dalam meeting itu ketinggalan. Otomatis, dia harus balik ke kantornya. Untunglah, dia mau masih mau diwawancarai, tapi tidak bisa lama. Hanya 15 menit.

Begitu wawancara kelar, dalam keadaan gondok dan dongkol, saya tinggalkan partner saya itu, dan bergegas menuju kantor. Sesampainya di kantor, ada saja yang membuat saya gondok. Akhirnya, sepanjang sore itu saya manyun dan tidak memperdulikan sekitar. Puncaknya, redpel saya kesal dan memarahi saya. Hehehe 😀

Bukan cuma redpel saya, kawan saya pun marah karena sepanjang perjalanan pulang muka saya BT dan malas diajak ngobrol. Kesal melihat ke-BT-an itu, si kawan memberhentikan mobilnya dan ngomong,”Begini deh, daku bukan lagi nyetirin patung, kan? Kalau masih BETE, dan itu bukan karena daku, lebih baik pilih deh, dikau yang turun apa daku? Ini di kuburan Karet, lho!.” . Sial!

Beberapa hari setelah kejadian itu, hal serupa pun kembali terjadi. Kali ini bukan dengan partner di kantor, tapi teman main biasa. Entahlah, kalau sama teman ini karena kesensitifan saya saja. Karena tak mampu melampiaskan amarah dan kekesalan itu, akhirnya saya diamkan saja dia. Dia ngomong A, diemin. Dia jungkir balik, bodok amat. Dia ngomong ini, enggak memperdulikannya. Akibatnya, semua teman pun kena imbasnya.

Melihat kondisi ini, si kawan mengatakan saya menderita PMS. Pr(i)a Manstruasi Syndome. Kondisi di mana seorang pria yang kesal satu orang, tapi semuanya kena damprat. Atau mood-nya lagi enggak stabil, yang berakibat pada semuanya kena semprot. Hehehe..

Ya, saya tahu ini kebiasaan buruk. Tapi, dengan seperti ini saya merasa lebih lega. Eh, enggak juga sih, sebenarnya. Cuma ya, memang dasarnya saya susah untuk melampiaskan amarah itu, jadinya ya beginilah.

Maka itu, tiap kali si kawan jemput atau janjian pergi ke mana, hal pertama yang dia tanyakan adalah,”Mood aman, kan/ Ingat, sini bukan supir yang sedang ngangkut patung, ya.” #toyor.

Jujur, saat ini saya sedang belajar untuk dapat melampiaskan amarah dan kekesalan sama orang yang benar-benar tepat. Jangan hanya dipendam saja, dan semuanya mendapatkan hal yang seharusnya tidak mereka dapatkan.

Jadi, apa yang harus saya lakukan? Kalau kalian, sifat buruk apa sih, yang ingin sekali kalian ubah?

Betapa Nikmatnya Hanimun di Bandung

Siapa bilang yang menyukai hanimun hanya orang yang sudah menikah saja? Saya yang masih lajang ini, suka juga tuh, sama yang namanya hanimun. Apalagi kalau sedang berada di Bandung, pasti menyempatkan diri untuk ber-hanimun. Paling sering sih, menikmati kehangatannya di KM-97.

Eh, iya, sebelum saya dibully karena bawa-bawa hanimun, di mana kenyataannya saya belum pas untuk merasakan kenikmatan hanimun sesungguhnya, maka harus digarisbawahi bahwa hanimun yang dimaksud ini adalah nama dari batagor terenak nomor dua yang ada di sana.

Awalnya, saya tidak pernah tahu kalau batagor yang menjadi langganan tiap kali memberhentikan mobil untuk rehat sejenak di KM-97 itu adalah Hanimun. Wong plangnya saja tidak ada (Eh, sebentar, beneran enggak ada plang namanya, kan?). Barulah setelah aktif di Tumblr dan kopdar di Monas beberapa tahun silam, saya mengetahui kalau batagor itu bernama Hanimun. Ha ha ha.. :p

Sedap

Karena hitungannya per buah bukan per porsi, maka ketika mencobanya untuk pertama kali, saya hanya memesan dua buah saja. Takut kalau banyak-banyak ternyata enggak enak dan kebuang, malah mubazir, yes?

`Kesan pertama begitu menggoda` pun saya rasakan ketika selesai menyantapnya. Ternyata rasanya itu enak banget, dan membuat saya ingin menambahnya lagi.

Bagaimana ya mendeskripsikannya. Pokoknya ya, batagornya itu tidak terlalu berminyak. Daging ikannya terasa sekali, menandakan kalau si pemilik tidak pelit. Kenyalnya pun pas. Bumbu kacangnya juga samalah. Cuma kurang pedas, kudu tambah saus yang mana menurut saya, tetap tidak pedas. (Maklum, lidah Sumatera). #disepak

Yang tidak biasa dari batagor Hanimun ini adalah siomay-nya yang berbentuk bulat seperti bakso, dan tidak dibungkus sama kulit pangsit. Jadi, rasa ikannya itu mendominasi. Kalau dibungkus kulit pangsit, suka enggak terasa si ikannya itu.

Beuh!

Satu yang pasti, tempat si penjualnya itu bersih. Penjualnya pun ramah. Tapi, karena banyaknya pembeli yang tak sabar untuk segera menyantapnya, suka kasihan juga melihatnya, kewalahan sendiri. Menurut saya lagi, momen-momen diserbu pembeli seperti inilah yang tak boleh dilewatkan. Berbagai ekspresi akan ditemukan. Terkadang lucu juga. #apeu

Harganya dijamin tidak bakal menguras kantong pembeli. Ya, anggaplah ada yang menyebutnya mahal, tapi sebanding dengan rasanya.

Oia, kenapa saya bilang terenak nomor dua? Karena saya masih terus mencari batagor-batagor enak di Bandung yang cocok disebut sebagai juaranya batagor se-Bandung. #okesip

Cobain, gih.

Batagor Hanimun

Warung Hanimun Jl. Ambon 14 (Vertex), Jl. Dipati Ukur 1, Rest Area KM 97 Cipularang.
T: @batagor_hanimun
W: http://www.batagorhanimun.com/