Monthly Archives: February 2015

Tragedi Lele Goreng

Kalau sedang tidak meliput atau selesai meliput sekitar pukul 12:00, saya berusaha untuk selalu makan siang dengan teman-teman kantor dari kanal Tekno, Oto, Bola, dan Citizen.

Makan siang bersama mereka selalu seru, dan selalu ada aja cerita yang mampu membuat saya ketawa geli, ketawa miris, atau bahkan membuat saya bertukar pikiran dengan mereka.

Siang itu, seminggu menjelang keberangkatan umrah, saya dan teman-temannya memilih tempat makan siang yang agak jauh dari kantor, di sekitar Hang Lekir. Nggak jauh dari Universitas Moestopo, ada warung tenda yang menjual beragam jenis makanan, salah satunya pecel ayam.

Si pelayan yang siang itu warungnya lagi padat-padatnya menanyakan kepada kami ingin pesan apa? Karena bertanya sambil cengengesan, kami anggap saja si abang bisa diajak bercanda. Namun ternyata, si abang menanggapi candaan itu dengan serius.

Saya dan Gesit pesan seporsi ayam dada lengkap dengan tahu dan tempenya, dan tentu saja sambalnya jangan lupa. Setelah mengiyakan pesanan kami, si abang bertanya pada Denny mau pesan apa? Si Denny, menjawab, “Lele goreng, paha.”. Maksudnya, lele bagian paha yang digoreng.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, pesanan saya dan Gesit datang, kami pun siap menyantapnya. Satu menit kemudian, datanglah pesanan Denny. Ternyata, candaan Denny itu ditanggapi serius! Disajikanlah lele goreng plus paha ayam! Sokorin!

Seporsi lele dan paha ayam goreng

Melihat pesanannya itu, Denny hanya bisa geleng-geleng kepala. Sedangkan kami, ketawa geli. Kalau sudah seperti ini, siapa yang mau disalahkan?

Nggak salah Denny juga kalau pesan makanan sambil bergurau. Wajar, bukan? ‘Kan buat mencairkan suasana. Tapi, si abangnya nggak bisa disalahin juga, karena siang itu warung tendanya lagi ramai.

Ha ha ha.. Baru kali itu seorang Denny bercanda di waktu yang tidak tepat. Tapi, tetap saja, ulah Denny siang itu mampu cairkan suasana.

Mimpi Itu Masih Terus Ada

Penghujung Januari dan awal Februari kemarin merupakan waktu terberat bagi saya untuk memantapkan hati; kali ini saya siap. Kali ini harus jadi. Kalau nggak jadi karena saya tidak siap, mau kapan siapnya?

Bahkan, untuk meyakinkan perasaan ini, seorang teman dekat saya ganggu jadwal tidur malamnya untuk berbagi kondisi ini. Dengan harapan, semangat yang dia berikan mampu meyakinkan untuk saya melangkah pasti tanpa memperdulikan apa yang pernah terjadi tahun kemarin.

Sebagai modus untuk mendengarkan suaranya, sebelum berjauhan selama beberapa hari.

“In Sha Allah kali ini beneran berangkat. Nggak bakal kejadian lagi peristiwa tempo hari. Sudah, kalau kamu nggak yakin, ntar kesempatan itu ditarik lagi lho sama Tuhan,” kata dia.

Sampai pada Jumat (6/2/2015) dini hari, saya tidak lagi meneleponnya, hanya mengirimkan pesan singkat yang dia balas dengan emoticon 🙂 .

“Aku siap! Doakan aku..”

Matahari mulai terlihat di Qatar sekitar pukul 06:30 pagi.

Suhu di Qatar, Doha, sewaktu tiba di Hamad International Airport sekitar 19 derajat Celcius. Udara dingin ditambah air yang nggak kalah dinginnya saat berwudhu, membuat tubuh yang masih dipenuhi lemak dengan kadar yang cukup banyak menggigil kedinginan. Alhasil jaket dan perintilan yang sekiranya mampu memberikan kehangatan menutupi tubuh bongsor ini.

Matahari memang belum muncul, tapi aktivitas di bandar udara yang dulu dikenal dengan Bandara Internasional New Doha (NDIA) cukup padat. Namun kepadatan yang terjadi sangat membantu saya menghilangkan jetlag. Pagi itu, banyak pemandangan ‘memukau’ yang benar-benar memanjakan mata ini.

Berhubung selama di udara mata ini tidak dapat dipejamkan, begitu tiba di Qatar, maunya cepat-cepat tukar pesawat agar bisa tidur walaupun sebentar.

Selain posisi kursi yang sudah ditukar berkali-kali oleh rombongan yang merasa kurang nyaman kalau tidak bersebelahan dengan keluarganya, plus pilihan film bagus yang cukup banyak, faktor lain yang membuat saya sulit melakukan itu karena terlalu dalam memikirkan segala omongan orang tentang kondisi yang akan terjadi saat kita umrah.

Misalnya seperti ini;

“Coba dipikir-pikir, selama hidup pernah melakukan hal apa yang sekiranya bakal `dibalas` di sana?.”

“Katanya, ya, kalau di sini kita suka jahilin orang, di sana bakal dijahilin balik sama orang Arab. Ih, orang Arab, ‘kan gede-gede. Nggak kebayang kalau dijahilin sama mereka.”

“Elo pernah bikin ibu elo nangis? Semoga enggak, ya. Soalnya, kalau sampai itu terjadi, elo bakal dibikin nangis sejadi-jadinya di sana. Serem, geila!.”

atau yang paling epic, yang paling bikin saya sulit melupakan omongan itu adalah “DI SANA JUGA BANYAK KASUS PERKOSAAN YANG MENIMPA PRIA DAN DILAKUKAN OLEH PRIA JUGA.”. Mampus nggak lo?

Padahal, selama teleponan itu si teman berapa kali menasehati supaya saya jangan diambil pusing dengan perkataan itu. Kalau pergi karena niat ibadah, In Sha Allah semua yang ditakutkan itu tidak akan terjadi sama sekali.

Madinah dari atas

Meski perjalanan umrah pertama ini tanpa ditemani papa, mama, dan adik, tapi terasa spesial karena dilakukan menjelang pergantian umur memasuki usia yang lebih matang.

Hari demi hari saya lalui dengan penuh suka cita di kota Madinah, kota yang bersuhu 20 derajat Celcius kala itu dan minim sekali pepohonan.

Selama tiga hari di Madinah, ibadah yang dilakukan sama seperti yang dilakukan di sini. Bedanya, lebih on-time, lebih banyak ibadah sunnah, dan sejumlah lainnya yang dapat dilakukan. Termasuk perjalanan singkat mengunjungi beberapa tempat bersejarah di sana.

Memasuki hari ke-4, di saat hati dan perasaan ini mulai nyaman berada di Madinah, mau tak mau saya dan rombongan harus `angkat kaki` dan bergegas menuju Makkah Al-Mukarramah untuk melaksanakan ibadah umrah.

Mekkah tak berbeda jauh dari Madinah. Minim pohon, kota yang padat, macet, dan bersuhu cukup tinggi padahal matahari sendiri cukup terik.

Hari Terakhir di Madinah

Setelah menempuh perjalanan selama enam jam berbalutkan ikhram dengan penuh kewanti-wantian, dilanjutkan dengan Tawaf, sa’i, dan pemotongan beberapa helai rambut, maka ibadah umrah selesai dilakukan.

“Selamat, Abang sudah jadi Haji kecil!,” jawab mama singkat setelah diberi kabar kalau umrah berjalan lancar. Alhamdulillah!

“Cie, botak! Berarti sudah sah. Pulang-pulang jangan berhijab, nanti aku pangling,” jawab si teman.

Laudya Chintya Bella kali, ah!

Tentunya, selama di sana banyak hikmah dan pelajaran yang dapat saya petik;

1. Berbagi itu tak harus yang besar

Di kehidupan sehari-hari, ketika kita akan berbagi apa saja dengan orang lain, hal pertama yang selalu kita pikirkan adalah tentang ukuran atau jumlah.

Misalnya, mau ngasih roti ke teman saja, kayaknya kurang afdol kalau hanya sepotek, lebih enak kalau seporsi. Karena pikiran semacam ini, tidak jarang niatan untuk berbagi berujung pada entar-aja-deh-kalau-beli-lagi-si-anu-dibeliin.

Di sana, nggak ada tuh istilahnya nggak enak kalau ngasih hanya sepotek. Kalau adanya segitu, mau gimana lagi? Yang penting `kan kebersamaan.

Si A merasakan kenikmatan makanan yang dimilikinya, kalau bisa si B sampai si Z harus merasakan kenikmatan makanan itu juga, walau tak jarang baru sampai di si E makanan itu sudah habis.

2. Sama

Apa pun jabatan kamu, ketika berada di sana jabatan itu tak akan ada artinya. Semuanya sama.

Elo akan nangis mewek ketika berada di Ka’bah, elo juga akan dorong-dorongan untuk dapat mencium Hajar Aswad, bahkan elo yang jabatannya bos sekali pun bisa jadi terlihat `kampungan` ketika akan memegang Ka’bah.

Asli, pertama kali lihat Ka’bah, saya seperti–maaf–orang desa yang nggak pernah ke kota, sekalinya ke Jakarta ngelihat Monas yang menjulang tinggi. Kalau nggak nangis, bohong. Udah ditahan untuk nggak nangis, ujung-ujungnya pipi akan basah.

Termasuk dalam hal berbagi, kamu yang jabatannya bos sekali pun, bisa saja ketika di sana akan mendapatkan kurma atau apa saja dari seseorang yang mungkin jabatannya di pekerjaan jauh di bawah kamu.

3. Ibadah nomor 1, pekerjaan nomor sekian!

Shock pertama kali lihat ada toko dari ujung ke ujung tutup ketika adzan akan berkumandang.

Apalagi saat melihat langsung seorang pemilik restoran makanan cepat saji menutup tokonya di saat adzan akan berkumandang, padahal pembeli lagi ramai-ramainya.

Saya jadi ingat perkataan ini, ‘Mau sampai kapan kita terus berkata sholat, sebentar, ya, pekerjaan ini sedikit lagi kelar? Coba, deh, segera diganti jadi pekerjaan, maaf, Adzan sudah berkumandang, saya harus sholat dulu. Toh, sholat tidak akan mengurangi rezekimu dan menghambat pekerjaanmu, justru yang akan terjadi sebaliknya.

4. Saling mengingati

Beberapa kali saya melihat ada orang yang menasehati atau mengingatkan tentang satu hal ke orang lain yang dia lakukan itu salah. Dan orang yang dinasehati atau diingatkan itu tidak marah sama sekali, dan mau menerima masukan dari orang lain.

Nggak tahu deh, ya, apakah dalam hatinya dia ngedumel `yaelah, kayak situ udah benar aja!`. Allahuwa’alam.

Misalnya waktu di Masjid Nabawi ada seorang pria Arab menegur pria asal Singapura yang berada persis di depannya, yang baru saja selesai melaksanakan sholat sunnah Tahyatul Masjid.

Menurut si Arab, posisi telapak kaki kanan si pria Singapura saat duduk dua sujud adalah salah. Kala itu posisinya tertidur, di mana kata si Arab posisi yang benar adalah tegak, karena sesuai ajaran Rasullah.

Meski kedua-duanya butuh usaha untuk dapat menjelaskan dan memahaminya karena perbedaan bahasa.

(Saya tahu arti obrolan itu dari seorang teman yang mengerti bahasa Arab)

5. Bersyukurlah yang meninggal dunia di sana

Usai sholat wajib, baik di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram, akan ada seruan atau ajakan untuk melaksanakan sholat janazah.

Subhanallah. Bayangin, deh, yang ikut sholat jenazah barangkali lebih dari 1.000 orang. Bukannya itu mimpi kita, ketika meninggal dunia banyak yang menyolatkan dan mendoakan agar diterima dan dilapangkan kuburnya?

Norak. Bisa-bisanya saya iri dengan jenazah yang disholatkan itu. Lah, kita nggak tahu bagaimana riwayatnya dia di semasa hidupnya, tapi kita mau ikut menyolatkannya.

Ya Allah, semoga ketika saya meninggal dunia kelak, banyak orang yang mendoakan saya, menyolatkan saya, dan ikut menguburkan saya sambil mengumandangkan takbir kepada-Mu. Aminnn!

6. Berpikir positif, maka akan baik-baik saja

Saya ini parnoan, jadi kepikiran terus saat diberitahu mengenai hal-hal yang (katanya) umum terjadi saat kita berada di Tanah Suci.

“Jangan ngomong dan berpikir yang macam-macam, nanti kejadian, lho!”

“nanti di sana gini-gini, lho! Hati-hati aja!”

“Baek-baek, nyasar baru tahu rasa!”

Syukur alhamdulillah semua itu tidak terjadi. Beneran! In Sha Allah, kalau kita berpikir yang baik-baik, ketakutan semacam itu akan menjauh sendirinya.

Misalnya saja ada yang takut diinjak ketika sholat di Izril Ismail, dan memilih ketika sepi saja. Saya yakin saya bisa dan akan baik-baik saja, alhamdulillah itu terjadi. Ketika sholat, ada jamaah dari negara lain yang `menjaga` saya, sehingga orang lain tidak sembarangan melangkah.

Begitu sebaliknya. Ketika yang lain sholat, lakukanlah hal yang sama.

Intinya, kalau ketakutan seperti ini menjadi penghambat bagi kamu yang ingin melaksanakan Ibadah Umrah atau Haji, plis percaya, kalau semua akan baik-baik saja. Jangan jadikan ini penghalang bagi kamu.

Kalau kamu juga takut nyasar dan sulit berkomunikasi dengan orang Arab, tenang itu tidak akan terjadi selama kamu orang Indonesia.

Kalau di sini Bahasa Inggris begitu `didewakan`, di sana Bahasa Indonesialah yang mendapatkan posisi itu.

Kamu pasti bakal ketawa geli dengar orang Arab teriak menggunakan Bahasa Indonesia;

“Indonesia… Indonesia… Mari singgah! Halal.. Halal..”

“Kalau kamu nggak punya uang riyal, bisa bayar pakai Rupiah,”

“Wanita Indonesia cantik.. Cantik.. Cantik sekali.. Mari lihat-lihat. Masuk, sini,”

By the way, salah satu dari kalimat di atas akan saya jadikan postingan sendiri di blog ini :p

Puji syukur saya panjatkan kepada-Nya dan Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW. Atas seizin-Nya, atas rezeki yang diberikan-Nya, dan atas kepercayaan-Nya, saya dapat melaksanakan ibadah umrah pada tahun ini.

Dengan tekad yang bulat, kepercayaan diri bahwa tidak akan terjadi apa-apa, dan segala doa yang sudah saya siapkan untuk dipanjatkan di sana, membuat saya dengan tenang melangkahkan kaki di Madinah dan Mekkah.

Bermodalkan koper berukuran sedang, tas jinjing berukuran serupa, dan tas selempang, semua keperluan tanpa ada yang kurang secuil pun menjadi faktor kecil yang membuat seluruh rangkaian ibadah saya berjalan lancar.

Di setiap doa yang saya panjatkan, saya selalu berucap,

“Ya Allah, semoga kunjungan ini bukanlah yang pertama dan terakhir bagi saya. Semoga Engkau masih memberikan kesempatan yang sama kepada Hamba untuk kembali lagi ke sini bersama mama, papa, dan adik hamba. Atau mungkin bersama istri dan anak hamba kelak. Aminn..”

Mimpi ini masih akan terus ada. Dan saya yakin, mimpi itu akan diwujudkan lagi oleh-Nya

Ka’bah, saya akan kembali lagi

Snorkling Pertama di Pulau Berbentuk Tubuh Buaya

Bila boleh jujur, Padang tidak pernah masuk ke dalam list salah satu daerah di Indonesia yang harus saya kunjungi. Habisnya, mendengar omongan banyak teman yang mengatakan kalau Padang gitu-gitu saja, jadinya saya menyampingkan kota Padang. Apalagi pas mendengar kalau masakan Padang di kota aslinya tidak seenak yang ada di Jakarta.

Kalau memang seperti itu, buat apa saya ke sana? Apa yang bisa saya nikmati? Jam Gadang, doang? Apalah artinya jalan-jalan tanpa makanan enak, bukan? — pikir saya

Namun, ketika Orang Tua mengajak saya dan sejumlah jurnalis untuk bergabung dalam OT Trad Novation Goes to Padang pada Minggu di bulan ke-10 2014, rasa penyesalan pun terjadi.

Sebab, saya diajak untuk mengunjungi satu pulau bernama Pulau Pagang, yang mana orang Padang sendiri ada yang tidak tahu pulau itu dan juga tidak pernah ke sana. Padahal, Pulau Pagang itu cantiknya bukan main! Indah banget. Masih perawan dan masih bersih.

Di pulau yang hanya berjarak 12,7 kilometer dari Kota Padang, wisatawan dibuat terkesima dengan panorama yang tersaji, baik yang ada di dasar maupun di bawah laut. Pulau Pagang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

Untuk bisa sampai ke pulau yang dari kejauhan berbentuk seperti tubuh seekor buaya, saya dan rombongan harus terlebih dahulu ke Pantai Carolina. Nantinya, wisatawan akan dibawa menggunakan kapal kayu berkapasitas 30 orang dan akan menempuh perjalanan selama dua jam. Semua itu tergantung dari kondisi ombak.

Setelah salah seorang pemandu wisata dari Losmen Carlos bernama Michael memerintahkan kami untuk mengenakan pelampung sebagai pengaman, dengan cepat kami pun memenuhi ruas kapal agar perjalanan dapat dilakukan segera.

Jarak tempuh Pantai Carolina menuju Pulau Pagang hampir sama dengan waktu tempuh Jakarta-Singapura. Namun, di sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan dengan keindahan laut Teluk Bayur. Asli, tsakep boooo!

Setelah foto-foto, ngobrol ngalur ngidul, tiduran, kapal kayu yang membawa rombongan OT Trad Novation tiba di Pulau Pagang. Pulaunya sepi. Tak ada bangunan semacam penginapan di sana. Hanya ada gubuk bambu yang dijadikan tempat berteduh atau tempat untuk menyiapkan makanan bagi wisatawan.

Biru banget, kan?

Awannya

Welfie

Pulau dengan luas 10 hektar memiliki pasir pantai yang halus dan memesona, seakan kaki berjalan di atas tepung putih. Halus banget. Maka itu, dianjurkan untuk melepas alas kaki sebelum turun dari kapal kayu.

Air laut di pulau yang diapit dengan Pulau Sironjong, Pulau Pemutusan, dan Pulau Sikuai berwarna hijau dan biru. Di pantai itu, aktivitas yang dapat dilakukan adalah snorkling dan bermain banana boat. Pilihan saya jatuh pada snorkling. Kalau mau main banana boat, di Ancol pun bisa! *padahal belum tentu juga mau*

Michael dan timnya tak begitu saja melepas para pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam bawah laut. Mereka akan memberitahukan titik-titik mana saja yang banyak ikannya. Saya yang mencoba pertama. Dan benar saja, alam bawah lautnya indah banget, ikannya juga banyak. Terumbu karangnya juga masih terawat dengan baik.

Anak ikan dan induknya

Cantik-cantik kan, ikannya?

Bagi yang awam seperti saya, Michael menyarankan untuk snorkling di kawasan `pinggir`. Sedangkan yang sudah mahir, akan dibawa ke bagian tengah, yang jauh lebih indah.

Bagi wisatawan yang ingin mengabadikan setiap momen bersama ikan-ikan kecil, Michael menyediakan foto bawah laut secara gratis, karena sudah termasuk ke dalam paket yang ditawarkan Losmen Carlos.

Oia, bagi yang memilih bermain banana boat, akan diajak mengeliling Pulau Pagang sebelum dihempaskan ke laut. Katanya yang nyoba sih, pemandangan keseluruhan di Pulau Pagang benar-benar indah. Nggak nyangka kalau di Sumatera ada tempat seindah itu.

Birunya air laut

Banana boatnya siap