Monthly Archives: March 2015

Olga Syahputra Meninggal di Singapura

Olga Syahputra Meninggal di Singapura

Sosok yang dirindukan itu akhirnya kembali. Setelah 10 bulan dirawat, Olga Syahputra meninggal di Singapura.

Setelah hampir setahun tak pernah terlihat lagi canda, tawa, tingkah, dan celetukannya, Sabtu (28/3/2015) pagi ratusan awak media menyambut peti jenazah di Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Deraian air mata jatuh dari mereka yang merindukannya. Air mata itu menjadi pengiring kepergiaan sang komedian ke peristirahatan terakhirnya.

Medeo April 2014 hingga Maret 2015, hampir tak ada sosok komedian bernama Yoga Syahputra mengisi sebuah acara di layar kaca. Padahal, sebelum penyakit meningitis menggerogoti tubuh tambunnya, kita sebagai penonton begitu mudah menemukan sosok Olga di sejumlah stasiun televisi. Bahkan, kalimat “Dia lagi? Nggak ada capeknya nih orang” begitu mudah keluar dari mulut kita.

Selama kurun waktu itu, media di tanah air fokus memberitakan mengenai penyakit yang dialaminya. Bahkan, gosip yang menyatakan Olga Syahputra meninggal dunia di Singapura pun santer terdengar. Tak ada lagi berita mengenai siapa kekasihnya, bagaimana hubungannya dengan Jessica Iskandar, atau bahkan kasus yang tengah membelitnya akibat terlalu seringnya Olga ‘kepeleset lidah’.

Melihat kondisi Olga yang semakin hari kian menurun, ribuan orang memanjatkan doa kepada sang Khalik supaya `mesin` pencetak rating acara di televisi itu sembuh, dan dapat kembali menghibur para penggemarnya.

Tuhan tahu betul kapan waktu yang pas untuk mengabulkannya. Tuhan sudah memastikan itu, hanya saja dalam bentuk yang tak pernah kita duga. Kita boleh saja meratapi, tapi itulah cara terbaik yang Tuhan kasih. Ikhlas, satu-satunya cara untuk meringankan langkah si manusia `Dahsyat` menghadap sang Illahi.

Tak dapat dipungkiri bahwa sebagai seorang manusia Olga kerap melakukan salah. Akibat celoteh dan perbuatannya, entah berapa banyak orang merasa tersakiti. Namun, sebagai mahluk yang memiliki hati dan nurani, tidak sedikit pula hal positif darinya dapat dijadikan contoh oleh kita yang masih hidup.

Semoga, sifat buruk yang lebih mudah mengingat hal jelek ketimbang hal baik ini tidak terjadi di diri kita.

“Dibanding banyak motivator kesuksesan yang berasal dari keluarga kaya raya, saya lebih bisa meneladani cerita hidup Olga,” – Anji.

Saya tidak mengenal Olga secara personal. Saya hanya tahu cerita hidupnya hingga sesukses ini dari apa yang dilihat di televisi. Oleh karena itu, saya pun menyetujui ucapan Anji tersebut;

1. Sayangi keluarga

“Berapa pun honor yang saya terima, selalu saya sisihkan untuk keluarga. Bagaimana pun sukses yang saya dapati ini karena doa dari keluarga, terutama ibu saya,” kata Olga.

Seorang teman bercerita, pernah suatu ketika sedang mewawancarainya, tiba-tiba telepon genggam Olga berbunyi. Ternyata dari sang manajer yang memberitahunya bahwa Olga mendapatkan job baru. Setelah mengakhiri obrolan dengan manajernya, Olga lalu menghubungi adiknya untuk berbicara dengan sang ibu. Dia meminta doa supaya kerjaan yang baru saja diterimanya itu menjadi berkah untuknya.

Dari hasil kerja kerasnya, cukup banyak pundi yang dikeluarkan Olga untuk keluarganya. Mulai dari modal untuk usaha ibunya, sampai usaha toko yang dirintis adiknya.

Bahkan, sebagai wujud terimakasih untuk Billy yang selama ini menjadi `supir pribadi`-nya, Olga mengajak Billy ikut menjadi artis seperti dia.

2. Bantu teman

Ketika sejumlah temannya diwawancarai mengenai hal apa yang selalu diingat dari sosok Olga, kebanyakan dari mereka menjawab,”Saya sukses seperti sekarang ini karena Olga. Saya mendapatkan job melawak dan nge-host pun dari dia. Dia itu nggak pelit sama pekerjaan.”

Ya, kita bisa ngelihat sendiri di teve, ‘kan? Berapa banyak artis baru yang tenar sehabis `diperkenalkan` Olga. Bahkan, orang lama yang seharusnya lebih tenar dari dia, baru benar-benar tenar setelah diajak nge-job bareng sama Olga.

3. Ingat anak yatim

Di Al-Quran sendiri disebutkan bahwa beberapa persen dari rezeki yang kita peroleh ada hak anak yatim di dalamnya. Barang siapa yang selalu menyisihkan rezekinya untuk mereka, Niscaya Tuhan akan selalu memudahkan rezeki untuknya.

Dan inilah yang selalu Olga lakukan.

4. Ingat Tuhan

Di kalangan teman-temannya, bahkan produser dari acara yang dipandunya, Olga dikenal sebagai sosok yang ingat Tuhan. Olga Syahputra yang meninggal dunia di Singapura ini selalu melaksanakan sholat wajib yang tak pernah ditinggalkannya. Sholat sunnah berusaha untuk selalu dikerjakannya.

Selamat jalan Olga Syahputra. Tenang dalam damai bersama Allah SWT di surga-Nya.

Advertisements

Semalam di Balikpapan

“Liburan ke Balikpapan kok cuma sehari? Kamu baru akan merasakan berada di Balikpapan ketika tiga hari di sana. Kalau cuma sehari, apa yang bisa kamu lakukan?”

… Biarin, kapan lagi bisa ke sana kalau bukan sekarang? Ini `kan mumpung dibayarin. Masalah menikmati atau tidaknya selama di sana karena waktu yang singkat, itu urusan belakangan. Ya, anaknya ngeyel dan nggak mau rugi, sih :p

Atas ajakan seorang kakak, Senin dan Selasa kemarin saya habiskan di Balikpapan, kota yang kata orang bersih, indah, aman, dan nyaman. Apakah demikian adanya? Untuk kali ini, 99 persen saya harus menyetujuinya. Bow, dari langit aja keindahan kota ini sudah terlihat banget, dan itu berlanjut ketika kaki menginjak tanah di Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman atau biasa disebut dengan Bandar Udara Sepingan Balikpapan.

Memang, sih, mengetahui waktu kedatangan di Balikpapan yang cukup siang, sudah  dipastikan tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan. Tapi, tak apa-apa.. Toh, beberapa jam di sana saja sudah dapat menikmati keindahan dan tatanan kota yang begitu rapi.

Namun, bukan berarti tak ada hal yang dapat dikeluhkan dari Kota Balikpapan ini, lho. Pertama macet dan yang kedua kurangnya kesadaran sejumlah individu untuk tidak buang sampah sembarangan di sungai yang airnya mengelilingi Hutan Mangrove di sana.

Sama halnya seperti Jakarta, di beberapa titik di Balikpapan kemacetan kerap terjadi. Di jalanan Jakarta yang masih tergolong lebih besar dari Balikpapan saja kita suka BT begitu tahu harus berhadapan dengan macet, apalagi di Balikpapan yang jalanannya tak begitu lebar.

Biasanya, sejumlah hal akan saya lakukan ketika berada di mobil sendiri atau taksi yang sedang kejebak macet. Mulai dari tidur-tidur ayam, dengerin musik di gadget, ngobrol sama orang yang menyetirnya, mainan media sosial, atau nge-Youtube.

Paling ngeselin itu lagi nge-Youtube tapi jaringannya nggak stabil. Lagi nonton satu video yang seru banget, eh jaringannya nggak stabil, ini sih ngeselin banget. Buat pembaca blog ini yang berada di sana, tenang, saya ada solusinya.

Baru-baru ini Indosat melakukan drive test atau uji jaringan terbaru Indosat 42 Mbps di kota Balikpapan. Kegiatan modernisasi jaringan ini dilakukan di 23 kota di Indonesia, dan Balikpapan salah satu di antaranya.

Kepala Divisi Optimalisasi Jaringan Indosat, Joko Riswadi yang ikut dalam rombongan itu mengatakan bahwa jaringan terbaru ini merupakan hasil modernisasi jaringan perusahaan secara nasional dengan menerapkan teknologi terbaru, yaitu; U900 dan DC-HSPA+ yang mampu memberikan kecepatan maksimal dengan kualitas sinyal lebih baik di dalam dan di luar ruangan.

Modernisasi, jelas Joko, base transceiver stasion (BTS) yang diperbaharui antara lain dengan teknologi terbaru, dan mengurangi penggunaan listrik namun mampu memberikan jangkauan lebih luas dan kuat.

Siang itu Joko bersama rombongan membuktikannya. Menggunakan bus yang telah dilengkapi dengan televisi dan internet (tentunya), kata-kata itu pun dibuktikan. Bus bergerak menuju lokasi-lokasi rawan macet. Sepanjang perjalanan itu, Joko mengakses situs Youtube dan memutar satu video berkualitas HD. Hasilnya, kecepatan maksimal dari jaringan terbaru 42 Mbps itu adalah 20,5 Mbps.

Uji jaringan ini dilakukan dengan melakukan download dan upload file ke Youtube dengan kecepatan rata-rata mencapai 5,9 Mbps yang berjalan mulus tanpa buffering. Sayang, video yang diputar adalah film Transformer, coba Fifty Shades of Grey pasti lebih seru :p

Dalam kesempatan itu juga, Joko menjajal fitur baru berupa HD Voice. Dengan adanya fitur ini, pengguna Indosat yang berada di seluruh Indonesia, khususnya di Balikpapan, dapat merasakan kejernihan suara ketika menelepon. Menariknya, fitur HD Voice yang mereka hadirkan ini satu-satunya fitur suara jernih yang mengantongi sertifikat dari asosiasi GSMA di Indonesia. Ini merka dapatkan akhir Februari 2015 kemarin.

Oia, meski macet, kendaraannya tertib dan jarang sekali saya mendengar sahutan suara klakson.

Selama uji jaringan ini, mata saya tidak bisa fokus pada satu titi. Di satu sisi harus melihat ke depan di mana uji coba dilakukan, di satu sisi lagi mata ini tak bisa lepas memandangi apa yang tersaji di luar jendela.

Kurang lebih satu jam saya dan teman-teman media dibawa mengelilingi kota Balikpapan. Sesudahnya, kami dibawa untuk mengelilingi hutan mangrove yang ada di sana. Tapi, itu akan saya ceritakan di postingan berikutnya bersamaan dengan nikmatnya makan kepiting di Balikpapan :p

Bicara Dalam Hati

“Makanya, kalau bicara itu hati-hati. Terkadang Tuhan lama mengabulkan doa yang kita panjatkan usai shalat, tapi cepat mengabulkan apa yang kita bicara dalam hati.”

Jadi, hari ini saya dibuat ketakutan oleh apa yang saya ucapkan dalam hati. Rata-rata diaminin-Nya. Makanya, waktu menceritakan ketakutan ini, si kawan langsung berpesan seperti itu.

Tadi pagi, usai sholat subuh saya mencoret pulau dan negara mana saja yang sudah disinggahi dalam setahun ini. Sebulan setelah umrah atau Senin hingga Rabu kemarin saya ditugasin meliput rapat kerja kesehatan nasional (Rakerkenas) 2015 di Makassar. Berarti Mekkah, Madinah, Qatar, dan Makassar dicoret. Lalu, dalam hati saya berujar `Seru kali kalau dikasih kesempatan ke pulau ini` lalu saya tidur lagi.

Pas sampai di kantor, tiba-tiba seorang teman yang sudah saya anggap kakak sendiri mengajak saya untuk ke pulau yang saya ucapkan di dalam hati itu. Saya langsung mengiyakan, ngurus cuti, baru terakhirnya berpikir `Ya ampun, secepat itu Tuhan mengamininya?`.

Sudahlah, setelah ngurus semua, saya cuma bisa senyum-senyum saja menerima apa yang Tuhan kasih. Ambil headset, buka Youtube, dengerin musik-musik instrument sambil ngetik berita, dan berusaha untuk tidak berpikir apa-apa.

Tiba-tiba hati kecil berkata `Ingat, pakaian kotor dari Makassar belum dicuci. Memangnya sempat nge-laundry?`, mengetahui itu saya langsung galau. Mau nge-BBM ibu minta tolong, rada nggak enak. Wong saya mau-ngelaundry karena nggak enak minta tolong sama ibu. Tapi, tapi, sejam kemudian si ibu nelepon, dong.

“Abang, pakaian kotornya diletakkin di mana? Yang di dalam plastik, bukan? | Iya, Ma | Yaudah, mama cuci, kalau besok nggak bakal sempat lagi. Baju kamu aja masih banyak yang di laundry dan belum diambil”.

Ya Tuhan, apalagi coba ini? Padahal, kan, saya berbicara sendiri dalam hati saja.

Nggak berhenti sampai di situ.

Kemarin itu mau makan berdua si kawan, tapi nggak jadi mulu karena dia sibuk *sigh*. Lalu, tadi usai makan siang dia nyamperin ke meja dan basa-basi seolah-olah lupa sama janjinya. Dalam hati saya cuma bisa bilang `Nggak peka banget, ngomong apa kek, ini malah nanya-nanya yang lainnya`. Dan, tepat jam 4 dia tiba-tiba mengirimkan pesan mengiyakan maunya saya. Jedder, padahal jam 5-nya harus ketemuan sama teman-teman jurnalis di FX. Ya, mau nggak mau jadi rada ngaret 😛

Nah, kejadian terakhir ini nih yang bikin saya parno luar biasa. Tadi pagi, pas bangun tidur, terlintas satu nama di kepala saya yang sepertinya sudah cukup lama kami berdua tidak berkomunikasi. Cuma, saya gengsi untuk nyapa duluan, dengan harapan dialah yang nyapa saya duluan.

BENERAN, DONG, ITU TERJADI MALAM HARINYA. Saat saya jalan kaki dari FX ke stasiun Palmerah, BB saya kedap-kedip menandakan ada pesan masuk. Pas saya buka, orang yang dimaksud itulah yang mengirimkan pesan singkat,”Dit, udah tidur?.”

Asli, parno banget. Parno-separno-parnonyalah. Tapi, tetap saja saya mengucapkan sesuatu lagi di dalam hati seperti `Hongkong, Belanda, Labuan Bajo dan Raja Ampat, serta Ya Allah, saya mau ke Tanah Suci lagi`. Siapa tahu hari ini memang jatahnya saya untuk dikabulkan apa yang menjadi maunya. Who knows?