Monthly Archives: September 2015

#Curjek: Pendapatan Pengemudi Gojek Rp 8 Juta Tinggal Cerita

Pendapatan pengemudi Gojek sebesar Rp 8 juta per bulan membuat karyawan kantoran iri. Jika dulu ada karyawan yang resign banting stir jadi pengusaha, empat sampai enam bulan yang lalu kondisi tersebut telah berubah. Mereka ramai-ramai mendaftar jadi supir ojek. Ada juga yang memilih tetap bekerja di kantor tapi mengambil pekerjaan sampingan jadi supir ojek di Gojek.

Para pengemudi sendiri yang mengakui kalau pekerjaan menjadi supir ojek tak `senistah` dulu. Semenjak ada Gojek dan ojek berbasis online lainnya, profesi sebagai supir ojek tak bisa dipandang sebelah mata. Kehidupan mereka mengalami perubahan. Untuk menghidupi tiga orang anak yang masih kecil-kecil terasa lebih ringan.

Mahasiswa atau anak muda yang berasal dari keluarga kaya pun ada yang menjalani pekerjaan sebagai supir ojek dan tak malu dipanggil dengan sebutan abang ojek. Bedanya, motor mereka lebih besar CC-nya, sepatunya bermerek, aroma tubuh lebih wangi, dan jam tangan yang tak kalah canggih dari ponselnya.

Tempo hari si Jeko, teman saya di kantor, dapat abang Gojek yang mengenakan sepatu Nike, jam tangan Apple Watch, dan iPhone 5S serta Android. Setelah stalkingin akun IG-nya, wajar kalau si abang ojek ini tidak kesulitan waktu dimintai tolong beli makanan kucing di tempat yang mungkin jarang terjamah. Tajir bo!

#Curjek : Curahatan Hati Pengemudi GOJEK (doc: Jasaraharja Putera)

Namun dari pengemudi jugalah saya mengetahui kalau sekarang rada susah mendapat uang sebesar itu. Mereka berharap pendapatan pengemudi Gojek sebesar Rp 8 juta per bulan tak menjadi cerita lalu semenjak penerimaan besar-besaran di Senayan dua bulan lalu.

Dalam sebulan ini saya mendapat curhatan seperti itu dari tiga atau empat orang pengemudi Gojek. Seperti biasa, saya selalu mengajak pengemudi Gojek ngobrol atau sebaliknya biar perjalanan tak terasa lama.

Sebut saja Pak Irwan, 43 tahun, dulunya adalah seorang karyawan biasa yang digaji sebesar Rp 4,5 juta tiap bulan. Tahu kalau pendapatan di Gojek lebih besar, Pak Irwan pilih resign dan mencoba keberuntungan di Gojek. Tiga bulan pertama, April sampai Juli, Pak Irwan merasakan betul gaji besar itu. “Alhamdulillah, Dek, kebantu banget.”

Strategi Pak Irwan, begitu keluar di pagi hari mencari orderan dengan jarak yang cukup jauh. Mendekati sore sampai malam, sebisa mungkin paling jauh hanya 10 kilometer. Namun strategi itu berubah kala jumlah driver Gojek bertambah. “Sekarang jumlahnya membludak, dek. Apalagi sekarang di beberapa titik sudah ada Gojek yang bikin pangkalan sendiri. Kalau saya nyelak, saya enggak enak. Tapi ngaruh banget ke pendapatan saya,” kata Pak Irwan. Itu dulu. Beda ceritanya dengan sekarang. Menyadari kalau beginilah pekerjaan sebagai pengemudi Gojek, Pak Irwan pun main ambil saja begitu ada orderan masuk ke ponselnya. “Rada nggak enak juga sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi?”

Satu lagi strategi yang diterapkan Pak Irwan, menggunakan waktu libur untuk narik! “Tiga bulan pertama itu, Sabtu dan Minggu libur nggak terlalu berpengaruh sama pendapatan. Saya bisa main sama anak-anak. Sekarang, saya pakai juga buat narik. Ya, walaupun setengah hari.”

Beda Pak Irwan, beda pula dengan Pak Zul. Sebelum jadi Gojek sebulan yang lalu, Pak Zul baru saja resign dari pekerjaan dengan pendapatan sebulan sekitar Rp 5-6 juta. Dia tidak menyebut secara detail apa pekerjaannya. Dari percakapan kami mengenai pekerjaan di bidang jurnalis, iklan, dan televisi, saya menebak Pak Zul ini orang lama di dunia periklanan. Tahu banget seluk beluk kerja di periklanan.

“Saya sudah dengar sih, kalau pendapatan Gojek sebesar itu rada susah. Tapi bukan berarti mematahkan semangat saya untuk bekerja, dong? Dapat segitu Alhamdulillah, enggak ya Alhamdulillah juga. Strategi saya paling ambil yang jauh-jauh. Meski terkadang suka di-BT-in sama teman-teman yang lain. Siapa suruh mereka lengah. Bukan maksud saya untuk merusak pendapatan mereka tapi ya pas saya lihat dan saya tahu letaknya, saya ambil.” Kata Pak Zul.

Nah, yang paling bikin saya kesal waktu mendengar curhatan pengemudi Gojek sebut saja Kirun, 24 tahun. Dia merasakan betul imbas dari penerimaan besar-besaran Gojek beberapa bulan lalu. Jadinya harus rebutan penumpang sama seperti Pak Irwan dan Pak Zul. Kampretnya, Kirun ini main ambil orderan saja tanpa melihat dulu ke mana tujuannya si calon penumpang.

“Makanya, saya minta tolong diarahin sama kakak. Maaf ya, kak, bukannya saya kurang ajar atau gimana-gimana, tapi kalau nggak seperti ini bisa kecil pendapatan saya,” mendengar si Kirun ngomong seperti ini, mau marah rasanya nggak pantes, mau kasihan tapi itu kan risiko dari setiap pekerjaan, bukan? *tamparin pakai helm*

Gojek yang sekarang beda sama yang dulu

Sebulan ini juga saya rasakan ada perbedaan yang cukup mencolok antara pengemudi Gojek yang dulu dan sekarang. Seperti Kirun, kebanyakan pengemudi Gojek sekarang main ambil orderan tanpa tahu ke mana tujuannya. Kalau menurut mereka terlalu jauh tak jarang mereka sendirilah yang membatalkan orderannya.

Dulu, saya mendapat pengemudi Gojek yang tahu jalan. Bahkan yang jauh sekali pun. Paling yang mereka tanyakan Cuma letak persisnya dan ancar-ancar.

Misalnya saya dari Palmerah mau ke Kuningan. Pengemudi Gojeknya paling Cuma nanya,”Ini yang letaknya sebelah kanan kalau dari perempatan Kuningan kan, Mbak? Mbaknya mau lewat situ atau ada jalan lain yang mungkin menurut Mbak lebih cepat?”. Sekarang dapatnya malah,”Mbaknya mau ke mana, ya?”. Siapa coba yang tidak geram mendapat pertanyaan seperti ini. Bukannya saat melihat orderan bakal terlihat bakal membawa calon penumpang ke mana? Kok ini malah bertanya mau ke mana.

Untung saya masih punya rasa toleransi dan untung harganya jelas. Tidak membatalkan oderan itu tapi memberitahu tujuan sebenarnya. Cuma rasa gondok itu muncul saat dia bertanya lagi,”Gedung Kemenkes? Itu Kuningan sebelah mana? Jauh nggak dari Gedung Bakrie?”.

Selain itu, jika dulu kebanyakan pengemudi Gojek masih bisa diajak ngobrol, pengemudi sekarang sepertinya susah. Bawa motornya saja terburu-buru. Maunya cepat sampai, dapat bayaran, narik lagi. Tak jarang saya meminta mereka untuk tidak ngebut-ngebut.

Memang, dengan bertambahnya pengemudi Gojek, bertambah pula jumlah penumpangnya. Saya merasakan betul kalau sekarang waktu order lebih cepat dari bulan-bulan sebelumnya. Tidak sampai 15 menit sudah ada yang menerima orderan saya. Dulu sampai 30 menit orderan saya tidak ada yang menerima yang berakhir gagal order. Tapi saya lebih senang dengan yang dulu, yang menerima orderan beneran tahu ke mana tujuan saya.

Pengemudi Gojek muda yang tajir tak usalah narik

Seperti yang saya tulis di atas, mereka yang berasal dari keluarga berada tak malu jadi pengemudi Gojek. Bahkan sekitar tiga bulan lalu media sosial seperti Facebook dan Path dibanjiri postingan pengemudi Gojek berwajah ganteng menunggangi motor ber-CC besar berjaket hijau bertuliskan GOJEK.

Menurut saya, kalau hanya untuk ajang keren-kerenan, mending nggak usah jadi pengemudi Gojek. Pendapatan sebesar Rp 8 juta per bulan memang sangat menggiurkan. Namun akan lebih mulia jika uang itu biar didapat oleh mereka yang benar-benar membutuhkan guna menghidupkan istri dan anaknya yang masih kecil. Dengan berkurangnya jumlah pengemudi Gojek peluang mereka mendapat uang sebesar itu ada. Atau dari pihak Gojeknya menyudahi promo-promonya. Kembali ke harga normal, lihat berapa banya pelanggan Gojek yang benar-benar setia.

Illustrasi pengemudi (driver) Gojek yang berasal dari kalangan berada (Doc: Aripitstop)

Buat pengemudi Gojek berusia muda dan berwajah tampang, mending masukin lamaran ke Production House (PH) siapa tahu jadi bintang sinetron. Atau usaha lain. Sebentar lagi musim hujan, kemungkinan pendapatan pengemudi Gojek turun sangatlah besar. Jadi, biarkan mereka melakoni profesi sebagai pengemudi Gojek itu.

Benar, deh, saya rela menunggu Gojek cukup lama (kalau memang jumlah pengemudi Gojek berkurang) asal yang menerima orderan saya benar-benar tahu jalan dan tidak diuber-uber waktu.