#Curjek: Pendapatan Pengemudi Gojek Rp 8 Juta Tinggal Cerita

Pendapatan pengemudi Gojek sebesar Rp 8 juta per bulan membuat karyawan kantoran iri. Jika dulu ada karyawan yang resign banting stir jadi pengusaha, empat sampai enam bulan yang lalu kondisi tersebut telah berubah. Mereka ramai-ramai mendaftar jadi supir ojek. Ada juga yang memilih tetap bekerja di kantor tapi mengambil pekerjaan sampingan jadi supir ojek di Gojek.

Para pengemudi sendiri yang mengakui kalau pekerjaan menjadi supir ojek tak `senistah` dulu. Semenjak ada Gojek dan ojek berbasis online lainnya, profesi sebagai supir ojek tak bisa dipandang sebelah mata. Kehidupan mereka mengalami perubahan. Untuk menghidupi tiga orang anak yang masih kecil-kecil terasa lebih ringan.

Mahasiswa atau anak muda yang berasal dari keluarga kaya pun ada yang menjalani pekerjaan sebagai supir ojek dan tak malu dipanggil dengan sebutan abang ojek. Bedanya, motor mereka lebih besar CC-nya, sepatunya bermerek, aroma tubuh lebih wangi, dan jam tangan yang tak kalah canggih dari ponselnya.

Tempo hari si Jeko, teman saya di kantor, dapat abang Gojek yang mengenakan sepatu Nike, jam tangan Apple Watch, dan iPhone 5S serta Android. Setelah stalkingin akun IG-nya, wajar kalau si abang ojek ini tidak kesulitan waktu dimintai tolong beli makanan kucing di tempat yang mungkin jarang terjamah. Tajir bo!

#Curjek : Curahatan Hati Pengemudi GOJEK (doc: Jasaraharja Putera)

Namun dari pengemudi jugalah saya mengetahui kalau sekarang rada susah mendapat uang sebesar itu. Mereka berharap pendapatan pengemudi Gojek sebesar Rp 8 juta per bulan tak menjadi cerita lalu semenjak penerimaan besar-besaran di Senayan dua bulan lalu.

Dalam sebulan ini saya mendapat curhatan seperti itu dari tiga atau empat orang pengemudi Gojek. Seperti biasa, saya selalu mengajak pengemudi Gojek ngobrol atau sebaliknya biar perjalanan tak terasa lama.

Sebut saja Pak Irwan, 43 tahun, dulunya adalah seorang karyawan biasa yang digaji sebesar Rp 4,5 juta tiap bulan. Tahu kalau pendapatan di Gojek lebih besar, Pak Irwan pilih resign dan mencoba keberuntungan di Gojek. Tiga bulan pertama, April sampai Juli, Pak Irwan merasakan betul gaji besar itu. “Alhamdulillah, Dek, kebantu banget.”

Strategi Pak Irwan, begitu keluar di pagi hari mencari orderan dengan jarak yang cukup jauh. Mendekati sore sampai malam, sebisa mungkin paling jauh hanya 10 kilometer. Namun strategi itu berubah kala jumlah driver Gojek bertambah. “Sekarang jumlahnya membludak, dek. Apalagi sekarang di beberapa titik sudah ada Gojek yang bikin pangkalan sendiri. Kalau saya nyelak, saya enggak enak. Tapi ngaruh banget ke pendapatan saya,” kata Pak Irwan. Itu dulu. Beda ceritanya dengan sekarang. Menyadari kalau beginilah pekerjaan sebagai pengemudi Gojek, Pak Irwan pun main ambil saja begitu ada orderan masuk ke ponselnya. “Rada nggak enak juga sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi?”

Satu lagi strategi yang diterapkan Pak Irwan, menggunakan waktu libur untuk narik! “Tiga bulan pertama itu, Sabtu dan Minggu libur nggak terlalu berpengaruh sama pendapatan. Saya bisa main sama anak-anak. Sekarang, saya pakai juga buat narik. Ya, walaupun setengah hari.”

Beda Pak Irwan, beda pula dengan Pak Zul. Sebelum jadi Gojek sebulan yang lalu, Pak Zul baru saja resign dari pekerjaan dengan pendapatan sebulan sekitar Rp 5-6 juta. Dia tidak menyebut secara detail apa pekerjaannya. Dari percakapan kami mengenai pekerjaan di bidang jurnalis, iklan, dan televisi, saya menebak Pak Zul ini orang lama di dunia periklanan. Tahu banget seluk beluk kerja di periklanan.

“Saya sudah dengar sih, kalau pendapatan Gojek sebesar itu rada susah. Tapi bukan berarti mematahkan semangat saya untuk bekerja, dong? Dapat segitu Alhamdulillah, enggak ya Alhamdulillah juga. Strategi saya paling ambil yang jauh-jauh. Meski terkadang suka di-BT-in sama teman-teman yang lain. Siapa suruh mereka lengah. Bukan maksud saya untuk merusak pendapatan mereka tapi ya pas saya lihat dan saya tahu letaknya, saya ambil.” Kata Pak Zul.

Nah, yang paling bikin saya kesal waktu mendengar curhatan pengemudi Gojek sebut saja Kirun, 24 tahun. Dia merasakan betul imbas dari penerimaan besar-besaran Gojek beberapa bulan lalu. Jadinya harus rebutan penumpang sama seperti Pak Irwan dan Pak Zul. Kampretnya, Kirun ini main ambil orderan saja tanpa melihat dulu ke mana tujuannya si calon penumpang.

“Makanya, saya minta tolong diarahin sama kakak. Maaf ya, kak, bukannya saya kurang ajar atau gimana-gimana, tapi kalau nggak seperti ini bisa kecil pendapatan saya,” mendengar si Kirun ngomong seperti ini, mau marah rasanya nggak pantes, mau kasihan tapi itu kan risiko dari setiap pekerjaan, bukan? *tamparin pakai helm*

Gojek yang sekarang beda sama yang dulu

Sebulan ini juga saya rasakan ada perbedaan yang cukup mencolok antara pengemudi Gojek yang dulu dan sekarang. Seperti Kirun, kebanyakan pengemudi Gojek sekarang main ambil orderan tanpa tahu ke mana tujuannya. Kalau menurut mereka terlalu jauh tak jarang mereka sendirilah yang membatalkan orderannya.

Dulu, saya mendapat pengemudi Gojek yang tahu jalan. Bahkan yang jauh sekali pun. Paling yang mereka tanyakan Cuma letak persisnya dan ancar-ancar.

Misalnya saya dari Palmerah mau ke Kuningan. Pengemudi Gojeknya paling Cuma nanya,”Ini yang letaknya sebelah kanan kalau dari perempatan Kuningan kan, Mbak? Mbaknya mau lewat situ atau ada jalan lain yang mungkin menurut Mbak lebih cepat?”. Sekarang dapatnya malah,”Mbaknya mau ke mana, ya?”. Siapa coba yang tidak geram mendapat pertanyaan seperti ini. Bukannya saat melihat orderan bakal terlihat bakal membawa calon penumpang ke mana? Kok ini malah bertanya mau ke mana.

Untung saya masih punya rasa toleransi dan untung harganya jelas. Tidak membatalkan oderan itu tapi memberitahu tujuan sebenarnya. Cuma rasa gondok itu muncul saat dia bertanya lagi,”Gedung Kemenkes? Itu Kuningan sebelah mana? Jauh nggak dari Gedung Bakrie?”.

Selain itu, jika dulu kebanyakan pengemudi Gojek masih bisa diajak ngobrol, pengemudi sekarang sepertinya susah. Bawa motornya saja terburu-buru. Maunya cepat sampai, dapat bayaran, narik lagi. Tak jarang saya meminta mereka untuk tidak ngebut-ngebut.

Memang, dengan bertambahnya pengemudi Gojek, bertambah pula jumlah penumpangnya. Saya merasakan betul kalau sekarang waktu order lebih cepat dari bulan-bulan sebelumnya. Tidak sampai 15 menit sudah ada yang menerima orderan saya. Dulu sampai 30 menit orderan saya tidak ada yang menerima yang berakhir gagal order. Tapi saya lebih senang dengan yang dulu, yang menerima orderan beneran tahu ke mana tujuan saya.

Pengemudi Gojek muda yang tajir tak usalah narik

Seperti yang saya tulis di atas, mereka yang berasal dari keluarga berada tak malu jadi pengemudi Gojek. Bahkan sekitar tiga bulan lalu media sosial seperti Facebook dan Path dibanjiri postingan pengemudi Gojek berwajah ganteng menunggangi motor ber-CC besar berjaket hijau bertuliskan GOJEK.

Menurut saya, kalau hanya untuk ajang keren-kerenan, mending nggak usah jadi pengemudi Gojek. Pendapatan sebesar Rp 8 juta per bulan memang sangat menggiurkan. Namun akan lebih mulia jika uang itu biar didapat oleh mereka yang benar-benar membutuhkan guna menghidupkan istri dan anaknya yang masih kecil. Dengan berkurangnya jumlah pengemudi Gojek peluang mereka mendapat uang sebesar itu ada. Atau dari pihak Gojeknya menyudahi promo-promonya. Kembali ke harga normal, lihat berapa banya pelanggan Gojek yang benar-benar setia.

Illustrasi pengemudi (driver) Gojek yang berasal dari kalangan berada (Doc: Aripitstop)

Buat pengemudi Gojek berusia muda dan berwajah tampang, mending masukin lamaran ke Production House (PH) siapa tahu jadi bintang sinetron. Atau usaha lain. Sebentar lagi musim hujan, kemungkinan pendapatan pengemudi Gojek turun sangatlah besar. Jadi, biarkan mereka melakoni profesi sebagai pengemudi Gojek itu.

Benar, deh, saya rela menunggu Gojek cukup lama (kalau memang jumlah pengemudi Gojek berkurang) asal yang menerima orderan saya benar-benar tahu jalan dan tidak diuber-uber waktu.

Advertisements

Tagged: , , , , , , ,

90 thoughts on “#Curjek: Pendapatan Pengemudi Gojek Rp 8 Juta Tinggal Cerita

  1. Echaimutenan September 20, 2015 at 3:34 pm Reply

    Nice ka adito
    Saya setuju yang melamar gojek buat yang butuh….karena kadang ada yang dari pagi sampe malem berjuang dijalanan jadi gojek utk keluarganya dibandingkan yang nyambi gojek untuk berangkat atau pulang kantor dibayar karena searah jalan pulangnya…
    Semoga gojek sendiri punya kriteria dalam hal ini….

    • Adiitoo September 22, 2015 at 2:16 am Reply

      Sebenarnya mau nyambi boleh saja tapi dilihat juga status ekonominya gitu. Jangan yang hidupnya sudah kaya, bergelimang harta, malah jadi pengemudi Gojek 😀

      • Danu September 23, 2015 at 12:57 am

        itu namanya tidak mensyukuri hidup.

  2. Dita / @fairyteeth September 20, 2015 at 3:35 pm Reply

    Aku masih setia sama grab bike 😆

    • Adiitoo September 22, 2015 at 2:16 am Reply

      …dan Abang Arie?

      • Goiq September 23, 2015 at 10:09 am

        yah saya… *sama nama*

  3. Oline September 20, 2015 at 3:59 pm Reply

    Nice sharing 🙂

    • Adiitoo September 22, 2015 at 2:16 am Reply

      Terimakasih, kak Oline

  4. Goiq September 20, 2015 at 3:59 pm Reply

    aku setuju Dit… Suka emosi kadang kalau dapet driver yang ngga tau jalan. Kadang pulang kerja udah capek dan ngantuk, eehh malah harus nunjukin arah.

    • Adiitoo September 22, 2015 at 2:17 am Reply

      Nah, malesin kan dapat pengemudi Gojek seperti itu? Mending nunggu lama tapi dapat yang benar-benar tahu jalan

  5. yos mo September 20, 2015 at 11:26 pm Reply

    ahhhaay.. kalau gitu gue batal aja dech jadi abang Go-jek 🙂

    • Adiitoo September 22, 2015 at 2:17 am Reply

      JANGAN ah, kamu jadi model aja Mas Yos

  6. Ceritaeka September 21, 2015 at 3:29 am Reply

    Aku selalu gagal order gojek 😐 Anw nice thought Dit

    • Adiitoo September 22, 2015 at 2:18 am Reply

      Tapi kamu tidak gagal ngorder si abang jadi pendamping hidupmu, kak. #digiles.

      Terimakasih, kak 😀

      • Ceritaeka September 23, 2015 at 5:31 am

        Hahaha… Gondelan di pundak Abang

  7. Lindaleenk September 21, 2015 at 7:07 am Reply

    Aku jarang pakai gojek, kalau pas kepepet aja.
    Sama suka sebel udab jelas-jelas ditulis nunggu dimana, mau kemana.
    Eh dia main miskol-miskol trus nanya ‘mbak nunggu dimana?’ Atau ‘Mbak yg mana? ‘
    Padahal udah kasih tau detail nunggu di, baju apa, dll.

    • Adiitoo September 22, 2015 at 2:19 am Reply

      Kalau seperti itu, aku pribadi sih masih bisa mentolelir. Tapi kalau disuruh ngarahin jalan, malas banget deh.

  8. cucukakek September 21, 2015 at 2:58 pm Reply

    Fenomena tukang ojek.., Saya punya ade gabung ke gojek mas dito, dia ambil job itu karena lagi libur kuliah 3 bulan, lumayan tuk nambah uang jajan katanya.. bagus juga sih yg penting mah positif aja kerjaannya

    • Adiitoo September 22, 2015 at 2:19 am Reply

      Asal tahu jalan dan nggak ambil sembarangan order sih oke-oke aja, kak. Semoga bermanfaat ya, kak

      • Salum September 22, 2015 at 9:14 pm

        Klo mau berpikir positif, Justru dr tidak tau jalan, menjadi tau jalan dengan ngegojek.

  9. The Unggul Center (@unggulcenter) September 22, 2015 at 12:52 am Reply

    setuju bingits dit! kalau sudah “kembali” natural mungkin saya akan cari Gojek. Blum donlod app sampe skarang. Masih ga enak sama ojek pengkolan. Wlo ngga ke beliau2 juga sih. Masih suka jalan kaki. Sampai sekarang masih ngandelin Busway dan Dua kaki saya untuk jalan. dikiri dan kanan, satu mulut saya tidak berhenti makan 😀

    • Adiitoo September 22, 2015 at 2:20 am Reply

      Mas Unggul!!!! Makan muluk

  10. MT September 22, 2015 at 1:12 am Reply

    iya ya peningkatan jumlah pengojek tak berbarengan dengan literasi para driver tentang jalan, pemanfaatan map pada smartphone, dan tingkah laku. satu hal yang mungkin terlewat dilakukan oleh manajemen ojek online.

    salah satu cara yang ditempuh driver ojek online adalah dengan migrasi ke lokasi yang masih sedikit jumlah drivernya, seperti Bogor. Sebulan lalu masih sulit mencari sopir gojek di Bogor. sekarang, gampang!

    btw, nice post. senang melahap kata demi kata dari cerita di atas.

    • Adiitoo September 22, 2015 at 2:21 am Reply

      Aduh, aku dipuji Kang MT. Aku melayang. :)))

      Terimakasih Kang, aku usahakan lebih baik lagi.

  11. NinaFajriah September 22, 2015 at 3:11 am Reply

    Ulasannya bagus, meskipun kayagnya kotaku belum ada gojeknya *emang belum ada atau akunya aja yang ndak gaul* 😀 langsung aku follow ya, salam kenal Mas Adiito 🙂

    • Adiitoo September 22, 2015 at 5:41 am Reply

      Salam kenal Nina. Terimakasih sudi membaca postingan ini 🙂

  12. Kornelius ginting September 22, 2015 at 5:04 am Reply

    Semoga cerita manis goojek bukan cerita manis sesaat… 🙂

    • Adiitoo September 22, 2015 at 5:41 am Reply

      Aku pun berharap demikian

  13. zianisa September 22, 2015 at 4:29 pm Reply

    Iya tuh yg tajir2 serakah banget, mending main sinetron sono, kasian kan yg lain yg emang bner2 butuh 😦

    • Adiitoo September 23, 2015 at 1:29 pm Reply

      Berdoa yang terbaik saja

  14. Damen September 23, 2015 at 4:06 am Reply

    Katanya gojek itu melek teknologi, tak tau jalan bisa pake gps, tp kayaknya mereka tak punya gps

    Untuk para penumpang, ojek itu bukan taksi, secara alami, ojek itu hanya mengantar jarak dekat saja, logika saja kalo orang biasanya tinggal dan keliling di Jakarta barat suruh nganter blusuk’an sampe jakarta timur atau Selatan saya jamin gak akan tau jalan sampe detil

    Pengertian lah..

    • Adiitoo September 23, 2015 at 1:30 pm Reply

      Kalau saya tidak pengertian, bisa saja saya minta cancel. Dan karena pengertian jugalah ongkos mereka kerap saya tambah. Kalau terus menerus bicara pengertian, apa bedanya GOjek sama ojek pangkalan? Sama saja dong berarti? 🙂

  15. priscillialist September 23, 2015 at 5:48 am Reply

    posting bagus adito! mewakili pengalaman sy sekali, sekarang kalo nanya ke driver rata-rata mereka dapat penumpang 3-4 orang seharian. kasihan, harus berebut semenjak banyak teman sejenisnya.. memang sekarang penerimaan driver gojek yg parttime kyk buat org bekerja/ mahasiswa memang sudah ditutup, tapi–yang berpunya itu loh yang harus menjadi konsentrasi nadiem dkk kalau memang ingin menyejahterakan rakyat kecil.

    • Adiitoo September 23, 2015 at 1:31 pm Reply

      Iya, semoga ada jalan terbaik buat driver Gojek yang memang membutuhkan 🙂

  16. Nyonyanyadrivergojek September 23, 2015 at 8:00 am Reply

    Sebagai istri seorg driver gojek sy merasakan betul bagaimana sulit nya suami sy dan teman2nya mencari order ,dr grup whatsapp para driver keluhan itu terbaca,semakin rame perbincangan di grup menandakan mereka sdg tdk berada di jalan mengantar penumpang .suami gabung ke gojek awal juli jd ya cuman 1,5bln merasakan penghasilan seminggu diatas 1,5jt setelahnya adalah perjuangan jempol!mkr harus cepat menekan tombol terima order sdh ga bs pilih2 order lagi,lahh kalo milih gimana bayar bensin,pulsa sm makan?apalagi ada beberapa driver menggunakan provider ttt spy order cepat terbaca di hape,biaya lagi kan?jd mohon maklum jk mrk tak paham jalan..nasehat saya kepd suami cuma 2,bertahan dan tetap berbuat jujur!karena sy yakin nadiem makarim punya strategi sendiri dgn merekrut driver bulan agustus kemarin..keep support us ya kaka2 om,mbak2 🙂

    • Adiitoo September 23, 2015 at 1:31 pm Reply

      Amin, Mbak. Aminn ya Rabbal ‘alamin

  17. vhira September 23, 2015 at 9:03 am Reply

    Kayaknya buat kita para penumpang masih wajar sih kasih arahin jalan kalo itu mang jarak jauh soalnya menurut sumber di gps abang gojeknya sendiri masih banyak kekurangan tidak semua wilayah masuk dalam map gps gojek,masih ada titik2 tertentu yang belum masuk map baik saat penjemputan maupun antar
    sadarlah kita sudah di kasih angkutan murah,di jemput lagi antar sampe tempat tujuan pula,
    kalo yang mau enak sambil tidur ya naik taksi saja

    • Adiitoo September 23, 2015 at 1:33 pm Reply

      Mungkin kalimat terakhir tidak cocok diarahkan ke saya. Ini bicara kenyamanan. Saya tidak masalah bila GOjek menerapkan harga seperti sedia kala, asal tidak seperti ini jadinya. Jangankan taksi, saya order Grab car pun masih mampu kok.

      • Ophoeng September 23, 2015 at 7:40 pm

        Hehehe….., eh, hahaha….. Maaf, bukan ngetawain. Tapi jawaban anda terasa lucu. Terkesan emosi, ah!

        Respon orang ‘kan beda-beda ya.

    • Nita Sellya September 23, 2015 at 5:22 pm Reply

      Naik taksi sekarang juga tetep lebih banyak harus nunjukin arah dibanding duduk santai kok ya ;))

      • Adiitoo September 23, 2015 at 10:35 pm

        Hahaha.. Iya sih, Teh. Maksudku begini, lho.

        Aku pribadi kan pengguna ojeg untuk liputan dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Paling BT sama ojeg yang sudah menerapkan harga mahal, eh malah tidak tahu jalan. Begitu bulan Februari aku mencoba Gojek untuk pertama kali, dan mereka tahu jalan, sungguh senanglah hati ini. Sampai beberapa bulan kemudian aku masih menggunakan Gojek dan mendapat driver Gojek yang tahu jalan siapa yang nggak baper coba, Teh?

        Eh, sekarang situasinya beda. Kan jadi rada-rada BT 😦

      • Nita Sellya September 24, 2015 at 9:30 am

        Aku ndak nyalahin kamu kok, Dit. Aku komen sama Mbak di atas yang nyuruh kamu naik taksi :)) Aku termasuk jarang banget pakai Gojek. Hamdallah selalu dapet yang tahu jalan. Ya sama seperti taksi, beginilah resiko kalau udah kebanyakan pengemudi. Main samber aja yang penting dapet dulu.

        Ya namanya juga hidup. Kadang dapet Gojek yang tau jalan, kadang dapet yang gak tau jalan. Sabar yah 😀

  18. rizal sedar September 23, 2015 at 10:22 am Reply

    Pendapatan Gojek diatas 5 jt perbulan bs diraih. Asal start kerja jam 05.30 s/d 22.00 dan mau ambil order terus2 an. Kenapa saya bilang begini. Karena sy gabung di gojek baru 2 mingguan dan penghasilan sudah mencapai 1.5 jt an dengan kerja 1 hari paling 3 x max ngambil order karena sy msh ada kerjaan utama.
    Order di sudirman-kuningan tuh 5 menit sekali notif order msk loh. Apalagi jam 16-19. Bisa 2 menit sekali. Belum lagi kita ngambil track diatas 20 km. Itu sekali order diatas 70 rb.
    Jadi pendapat pendapatan gojek 8 jt tinggal kenangan jelas sy bantah. Itu tergantung driver nya mau niat apa nggak meraih nya.
    Terima kasih

    • Adiitoo September 23, 2015 at 1:34 pm Reply

      Nah, mungkin cara ini bisa diterapkan ke driver Gojek yang lain, Pak 😀

      • Nyonyanyadrivergojek September 23, 2015 at 3:00 pm

        1,5jt per 2 minggu berarti sebulan 3 juta ya hmm memang segitu rata2 sekarang..kalo dulu 1,5jt keatas itu seminggu dan perlu diingat driver sekarang 30rb loh begitu order ketangkap apalagi jarak jauh balik lagi ke sudirman kan butuh wkt tdk sebentar kak,kalo niat si semua niat dapat penghasilan besar cuma kenapa ya skrg fenomena driver yg wafat krn sakit atau kecelakaan meningkat?ini jelas membuat sy bertanya2,apakah faktor kesehatan yg terabaikan penyebabnya?maaf,jk bicara takdir semua memang bakal mengalaminya ya..

  19. Ajeng Lembayung September 23, 2015 at 10:56 am Reply

    Ahiya betul. Sekarang tiap datang, mereka nanya saya mau diantar ke mana. Ada yang mirip2 namanya ternyata yg dia maksud beda sama tujuan saya. Jadinya saya yang panik, apa jangan-jangan saya yang salah input lokasi.

    Kangen sama pengendara gojek yang berkendara dengan aman dan dengan CS yang oke, deh.

    • Adiitoo September 23, 2015 at 1:34 pm Reply

      Kan ngeselin kalau kayak begitu. sigh.

  20. mellyfeb0805 September 23, 2015 at 11:49 am Reply

    Ak dah males order gojek sejak juli lalu. Entah rumah tll pojok smp2 ga ada y mangkal atau krn cm anter jarak dekat, itu orderan mental trs. Sampe 3 jam bolak-balik order krn butuh bgt. Skr kasian ga bs milih2 dh

    • Adiitoo September 23, 2015 at 1:35 pm Reply

      *pukpuk Mamak Melly*

  21. pratama September 23, 2015 at 1:01 pm Reply

    mungkin tulisan d atas ada bnr nya dan tidak,untuk para pengguna gojek yg setia,mohon pengertiannya,tidak semua driver gojek tahu jalan,mungkin sebagaian mereka yg tahu jalan krn mereka sudah sering mengantar penumpang dan sering ketempat dan lokasi yg sama,coba deh klo mereka yg dr jakarta selatan disuruh mengantar ke daerah jakarta utara yg mrk kurañg bgtu knl nama jln,dan ingat di jakarta itu nama jln dan gang bnyk loh,kadang ada nama jln yg sama,pernah kejadian ada orderan dari pengguna gojek yg hnya menuliskan nama jalan.namun nama jalan tidak sesuai apa yg di jelaskan apa yg di detail oderan.klo kita mengikuti maps yg d tuju pasti kita kesasar ,krn tujuannya beda,maka mau ga mau kita hrs bertanya,maka dari itu ga ada slh ny kok klo para pengguna gojek memberi arahan,kan biar cepat sampai tujuan dengan aman dan nyaman.ingat kata pepatah malu bertanya sesat d jlan,sy adalah driver gojek yg baru bergabung,jujur sy tau jlan hnya sebagian,màka ketika ada oderan sy lihat dlu arah tujuan,jika sy tidak tau sy akan bertanya lokasi detailnya dan patokannya,allhamdulilah sy sedikit demi sedikit tahu jalan dan konsumen yg sy antar pun tidak pernah ada masalah,so untuk para pengguna gojek yg setia,mohon pengertiannya trima kasih

    • Adiitoo September 23, 2015 at 1:37 pm Reply

      Kalaulah memang tidak tahu jalan, kenapa diambil, Mas? Tunggu saja sampai ada orderan yang jaraknya jauh dan tujuan itu diketahui sama driver Gojeknya. Ada kalanya saya sebagai penumpang ingin duduk nyaman. Silahkan saja lewat mana saja asal ke tujuan yang dimaksud. Kalau terus-terusan diarahin, buat apa ponsel ada GPS-nya. Terkadang saya naik ojek pun karena saya tidak tahu jalan. Terimakasih 🙂

      • Nyonyanyadrivergojek September 23, 2015 at 3:08 pm

        Maaf sy bukannya sok tau ya kak dito,ada kemungkinan mereka ambil order yg mrk tak paham lokasinya karena rebutan order kak..coba,deh kaka dito kumpul dgn driver gojek,begitu hp bergetar dan telat sepersekian detik sj order diambil driver lain,ini berdasarkan cerita suami saya loh kak,ya ini jg akibat membanjirnya driver ojek online saat ini..

      • pratama September 23, 2015 at 4:39 pm

        mohon di mengerti,oderan itu datang persekian detik,secara ga langsung driver gojek ga bs berlama2 liat arah tujuan dr oderan itu sendiri,beda dlu dan sekarang,dlu di aplikasi driver gojek,drivernya bs memilih oderan yg menurut dia tahu tujuannya,krn oderan itu datang sekaligus dan driver bs memilih,klo sekarang aplikasi drivernya sudah beda,hanya 1 oderan yg muncul,itu pun siapa cepat dia dpt,memang di aplikasi terdapat gpsnya ,namun apa iya setiap jalan si driver hrs trs liat gps d hpnya?apakah itu tidak membahayakan?krn kosentrasinya terbagi antara jln dan lihat gps.supir taxi aja pasti juga akan minta petunjuk kok mas,80 % orng di jakarta sy yakin kok ga tau jalan dan nama jln,supir taxi aja yg bbrp tahun klo di suruh masuk ke gang2 jg bingung jlnnya,intinya ga ada slhnya kok klo mau ksh pentujuk sedikit,lain dlu dan skrng adalah jumlah driver gojek,dlu driver gojek hanya bbrp saja dan aplikasinya bs memilih oderan,makin kesini jumlah oderan pun makin bnyk tidak sesuai dgn jumlah drivernya bnyk ormg yg menunggu oderan tralu lama(mungkin sebagian bs menunggu,gmn dgn yg tidak bs menunggu?dan ingin cepat2 sampai tujuan?tanpa hrs menunggu lama.)maka dr itu pihak gojek merekut besàr2an agar tidak ada lagi oderan yg menumpuk dan pengguna gojek tanpa hrs menunggu lama.mengenai pendapatan gojek menurun ada 2 versi,pertama: dlu pengguna gojek yg baru download aplikasi bs memdapatkan voucer gratis 50rb dgn mendaftarkan emailnya,dan ketika dr pihak gojek menghapus kredit voucer gratis maka kelihatan mana pengguna gojek setia dan yg gratisan.dan yg kedua: semua itu tergantung dr drivernya mau berusaha mencariberkeliling, atau dia hanya diam disatu tmpt yg membuat pendapatan dia berkurang.skrng gmn drivernya aja yg bs pintar2 mencari oderan dan berkeliling mencari spot yg ramai,bukan krn driver baru atau apalah itu,semua pny rezeki masing2.dan semua orng pasti pny kebutuhan masing2,jd mau dia double job,mahasiswa,ataupun yg lainnya,mereka pasti ada tujuan mencari rezeki,bagi sy sih semua berhak kok mas..selama rezeki itu halal.jdi mohon jangan di lihat di satu sisi aja tentang driver gojek,mengenai paham jalan jkrta,latar belakangnya seperti apa,dan kelakuannya,tdk semua driver seperti itu.baik itu driver lama atau baru.jgn seakan2 driver baru ga tau jln,dan biang mlsh dr menurunnya pendapatan gojek.semua tergantung dr drivernya itu sendiri.thx

      • jhon Zaah October 20, 2015 at 12:25 pm

        Menulis bkn berarti hrs egois mas Adiito,, berlapang dada dan berpikir lapang lah.. balas komentar sebijak mas adiito membuat tulisan ini.. andaipun mas adiito sbg supir gojek yang baru, bgm rasanya??

  22. Mia Andriani September 23, 2015 at 2:51 pm Reply

    minta diarahin jalan itu udah biasa, udah jadi makanan tiap senin-sabtu. yang ngeselin itu, driver belom nongol tapi status order kita udah on the way destination. padahal mah driver nya masih lama pick up kita masih ada 15 menitan buat nyampe jemput saya. kan ngeselin lagi buru buru gabisa di cancel.

    • Adiitoo September 23, 2015 at 10:38 pm Reply

      Tapi masih setia menggunakan Gojek demi membantu para drivernya kan, Kak? Yuk, sama-sama bantu Mas Nadiem (((mas))) mewujudkan impian pertamanya membuat Gojek 🙂

  23. tere September 23, 2015 at 3:38 pm Reply

    bagi saya tak masalah Driver Go-Jek bertambah yang jelas yang masuk driver Gojek tak boleh yang sudah bekerja. karna inti dari pertama Gojek dibuat oleh penemu Gojek bukan buat yang bekerja tetapi buat ojek yang mangkal untuk menambah penghasilan mereka. jadi saya memang tidak pernah setuju yang berpenghasilan masuk ke Go-jek atau orang yang kaya. dan semoga pihak manajemen Gojek bisa melihat jelas hal ini. untuk mengenai harga dan driver Gojek yang tak tau jalan saya tak masalah. hanya pesen berhati-hatilah dalam mengemudi karna keluarga menunggu dirumah *ingat semboyan lalu lintas* semua orang punya persepsi masing-masing. sukses selalu buat Gojek.

    • Adiitoo September 23, 2015 at 10:39 pm Reply

      Yes, setuju! Saya pun demikian adanya

  24. Mas Ris September 23, 2015 at 4:56 pm Reply

    Yang saya alami sebagai Driver Gojek sih sekarang orderan hanya bertahan 3 detik dan langsung diambil sama yang lain kalau ga cepet2 kita ambil.urusan alamat yang dituju itu belakangan. kalau driver Gojek pasti mengalami itu.Untungnya saya cuma buat mengisi waktu luang aja jadi ga serius banget ga dapet orderan. ada ya diterima ga ada ya santai aja.

    • Adiitoo September 23, 2015 at 10:39 pm Reply

      Semoga Mas Ris mendapat rezekinya di Gojek yah 🙂

  25. Ophoeng September 23, 2015 at 7:30 pm Reply

    Hai, apakabar? Sudah makan?

    Cerita yang menarik. Memang begitulah resikonya bisnis. Tidak bisa dihindari.

    Saya cuma mau koreksi sedikit bahasanya nih.

    “Dulu, saya mendapat pengemudi Gojek yang tahu jalan. Bahkan yang jauh sekali pun. Paling yang mereka tanyakan Cuma letak persisnya dan ancang-ancangnya.”

    “ancang-ancang” di situ, kayaknya salah pemakaian. Maksud anda mungkin “ancar-ancar”, yang artinya perkiraan ya?

    Salam,
    Ophoeng

    • Adiitoo September 23, 2015 at 10:40 pm Reply

      Salam, Ophoeng

      Terimakasih koreksinya, berarti Anda bukan tipikal pembaca fastreading. 😉

      • Ophoeng September 24, 2015 at 3:09 am

        Hahaha….. bukan kerana fast atau slow, terasa aneh ajah. Wong naek ojek koq pake ancang-ancang kayak mau lomba lari gitu.

  26. Alan September 23, 2015 at 9:09 pm Reply

    Sayang ya..harusnya seleksi gojek lebih ketat…yah lebih memilih pengemudi yg bener2 butuh pekerjaan

    • Adiitoo September 23, 2015 at 10:40 pm Reply

      Begitulah kak

  27. kak Harry September 24, 2015 at 5:29 am Reply

    anak orang kaya kalo pingin mandiri tanpa bantuan orang tuanya sekarang di Indonesia ditolak. jadi budi pekerti nya gimana ya yang nulis ini?

    • Adiitoo September 24, 2015 at 7:29 am Reply

      Bukan menolak. Di luar sana banyak kok kerjaan buat anak-anak orang kaya yang mau mandiri. Mereka punya semangat yang tinggi, otak yang masih jernih untuk digunakan berpikir yang susah, dan jenjang karier yang lebih dari sini. Maksud saya, biarkanlah mereka yang benar-benar membutuhkan yang bekerja di sini. Seperti abang ojek pangkalan yang pendapatannya tak menentu, atau mereka-mereka yang hidupnya sudah lelah kerja di kantoran tapi penghasilan nggak bertambah-tambah yang di sini.

  28. Percetakan online September 24, 2015 at 6:47 am Reply

    Menurut saya, banyak gojek yang mengesampingkan safety riding dalam menjalani profesinya, dan kurang wawasan jalan jalan atau tempat yang akan dituju, karena mereka instant, gak liwat latihan latihan khusus, oleh karena itu, operator gojek mesti melihat dari sisi ini.. dan juga soal gagap tehnologi juga mesti dikembangkan…

    • Adiitoo September 24, 2015 at 7:29 am Reply

      +1

      • untung pujiyanto September 24, 2015 at 7:27 pm

        Saya driver gojek sumua saran di atas saya terima dan setuju

  29. sigit September 24, 2015 at 3:52 pm Reply

    Saya pengguna Go Jek. Perlu rendah hati. Jika hanya bertanya ttng tujuan meski beberapa kali, tidak maslah. Jika kebutan perlu ditegur keras. Jika Anda rendah hati pasti paham. Jakarta yg padat jgn membuat kita menjadi egois.

  30. Pandu Aji September 24, 2015 at 4:13 pm Reply

    Mungkin ada yang salah juga dengan pola rekrutmennya, karena permintaan yang banyak , standard penerimaan driver gojek diturunin.

    • Adiitoo October 13, 2015 at 1:04 am Reply

      Hooh. Sayang sekali kalau pola rekruitmennya asal-asalan

  31. fuad September 24, 2015 at 4:50 pm Reply

    Manusia itu berbeda beda ada yang di kasih jalan cepet sama driver gojek nya eh malah bilang mas saya ga pernah lewat sini biasa nya lewat sini jd driver gojek nya banyak bertanya, driver gojek ngebut biar penumpang ga telat sampe tujuan tapi di nilai tidakbagus pas jalan pelan ga ngebut di bilang lama jalan nya.. jadi serba salah driver gojek nya..
    Buat adito ga semua orang kesel nunjukin jalan, ada orang baik yg mau nunjukin jalan ga masalah.. itulah manusia yg berbeda beda keinginan nya jd wajar seperti itu..

  32. […] SILAHKAN KOMENTAR DI SINI […]

  33. » Menunda, Selalu Berbuah Petaka? October 5, 2015 at 8:57 am Reply

    […] Jam di gawai menunjukkan pukul 09:45 setibanya saya di Stasiun Manggarai. Niat melanjutkan perjalanan ke Rawamangun menggunakan moda transportasi yang sama dibatalkan begitu tahu Commuterline arah Bekasi baru tiba di stasiun itu sekitar pukul 10:00. Mana mungkin terkejar, diskusi kesehatan mengenai dampak asap terhadap paru-paru di Rumah Sakit Persahabatan dimulai pukul 10:30. Salah satu cara supaya sampai di sana lebih cepat menggunakan moda transportasi lain. Aha, Gojek! […]

  34. Niee October 5, 2015 at 12:11 pm Reply

    Tapi sayang banget ya yang resign dari kerjaan karena go jek. Lah kan itu tetep jadi pegawai juga bukan jatohnya jadi pengusaha. Beberapa bulan belakangan ini jadi rame yg ngomongin gojek udah gak sebagus dulu ya

    • Adiitoo October 13, 2015 at 1:06 am Reply

      Iya, sangat disayangkan. Padahal pendapatan gojek gak sebesar itu lagi. Sayang jadinya

  35. Riyan October 11, 2015 at 2:16 am Reply

    Maaf.. Sebagai orang yg di kota tempat tinggalnya nggak ada GoJek saya bingung. Itu gaji Rp8 juta perbulan itu sifatnya tetap kah? Trus driver (rider) Gojek dibebankan target setoran kah? Mekanismenya gimana sih hingga begitu menggiurkan?

    • Adiitoo October 13, 2015 at 1:07 am Reply

      Target setoran nggak ada. Malah kalau mereka dapat 5 penumpang dapat bonus 50ribu

  36. […] di jidat saya ada tulisan ‘Orang ini bisa jadi tempat curhat’, sehingga para pengemudi Gojek tidak ragu menceritakan semua hal yang mereka alami ke saya. Ada saja cerita yang mereka bagi […]

  37. Gojeker Sidoarjo Katim October 18, 2015 at 10:30 pm Reply

    Tolong semuanya jangan hanya bicara tanpa pemikiran yg matang. kalo bcr soal penghasilan yang sekarang lebih kecil daripada sebelum gojek membuka besar-besaran itu benar. bagi yg bekerja di kantor yg sudah punya gaji tetap knp tidak tetap aja bekerja di kantor. itu tandanya tdk mensyukuri yg diberi oleh sang pencipta. coba anda renungkan kalo si pemakai jasa lebih sedikit drpd pemberi jasa. sebagian dpt rejeki yg melimpah, sebagian tdk dpt apa2 krn yg sdh dpt krj ikut gabung di gojek krn keserakahannya sehingga mereka yg tdk memperolah penghsln dr gojek menangis seperti gmbr ketika kt gagal dpt order, akhirnya mereka bs berbuat kejahatan atas keputusan kegagalan tsb. syukur2 anda tdk dijahati atas keserakan anda. kalo anda dijarah sama org2 yg gagal berhrp bsr dr gojek, gmn perasaan anda, pasti sedihkan. nah begitulah yg d rasakan oleh mereka yg telah anda jarah rejekinya yg berhrp bsr dr gojek.
    dari gojeker sidoarjo jatim

  38. Guntur October 18, 2015 at 10:35 pm Reply

    Salam kenal mas dito .saya gunturmilan gojek gajahmada plaza .kami bukan tidak tau jalan tapi kami memastikan aja mas karena kana beberapa jalan sama mas.dan masalah ambil orderan gak mungkin mas kita ambil milih kalo gt gak bakal dapat mas .karena itungan detik udah ilang mas.jd ya mau gak mau harus ambil.ambil hikmahnya aja mas kl bantu gojek nuntun jalan dapat pahala kok mas mereka kan gojek buat keluarga juga mas heheheheh smg mas dito makin sabar menghadapi gojek yg kurang tau jalan.dan dimudahkan rejeki nya buat mas dito .hehehehehe salam kenal sekali lagi lagi mas.wassalam

  39. B£u€ M@N October 18, 2015 at 10:40 pm Reply

    Saya bukan driver Gojek dan jg bkan pengguna gojek,,
    Rasany tulisan wacana diatas yg intinya merendahkan driver gojek saya tdk setuju. Masak ditnya aja dimasahkan, bgi pengguna yg sok kaya dan terpandang kalau gk mau di tanya suruh aja antar jemput ma saudaranya, terutama buat penulis wacana diatas..
    Udah bisa bayar murah aja udah syukur.
    Padahal yg banyak kebantu dgn adanya gojek ini pengguna bayar murah antarnya sampai 25 km bayar 15rb masih sombong, coba aja naik ojek pengkalan atau taksi bisa kena berapa biayanya,,

  40. Anggoro October 18, 2015 at 10:41 pm Reply

    Assalamu alaikum….
    Saya gabung di gojek baru 2 bulan, memang brasa penghasilan bulan pertama lbh bagus dri bulan kedua, saya double job juga, dan saya ijin ke atasan saya klo saya ingin jdi driver gojek, dan diperbolehkan asal tidak mengganggu waktu kerja utama saya, saya narik mulai sore sepulang kantor, dan dri awal orderan tidak mesti saya ambil yg searah pulang, malah bisa membentang dri arah pulang. Kerjaan utama saya sebagai kurir sudah 10 tahun, saya masih sering pake gps untuk mencari alamat kiriman, karna saya tidak hapal dengan nama” jalanan ibukota Jakarta, jdi menurut saya bertanya kepada customer adalah hal wajib sebagai driver gojek, dri pada kita malah nyasar, jdi rugi waktu dan biaya, dan terima kasih kepada om, tante, bapak, ibu, mas, mbak atas masukannya yg ditulis dicblog ini, bagi saya ini sebuah masukan untuk para driver gojek yg baru maupun yg lama, agar kami para driver gojek bisa memperbaiki kesalahan maupun kekurangan untuk bisa bagus lgi dlm melayani kalian sebagai customer kami kedepannya, klo memang sudah puas maupun kurang puas dengan pelayanan teman” driver kami yg lain, jangan lupa untuk memberikan rate serta isi feedbacknya, itu jga salah satu cara kami menilai pelayanan sebagai driver gojek setelah melayani kalian semua, agar kita para driver bisa berinstropeksi diri akan kekurangan maupun kelebihan kami sebagai driver gojek, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan kepada mas ditto yg sudah membuat wacana seputaran gojek di blognya…. maafkan saya apabila ada kata” yg salah dlm penulisanya….
    Wa alaikum salam….

  41. Satria October 18, 2015 at 10:42 pm Reply

    Itulah kompetisi..

  42. Ridho October 19, 2015 at 5:04 am Reply

    met pagi,,,para pengguna jasa gojek
    sy selaku driver gojek,,,sangat menghargai keluhan mas dito,memang ada sbagian driver gojek yg gaptek(maaf)di krnakan sblmnya blm prnh mnggunakan hp android,,sy hrp mas dito bs mngrti akan keadaan trsbt,tp seiring brjalannya waktu mrka psti akan bs n pndai mnggunakan hp android,,serta hafal jln,sy brkendara smbil melihat maps di hp tdk ada mslh fine2 aja,tp smua itu kan psti perlu proses dan butuh pmbelajaran,,tp pd intinya kita slaku driver tetap slalu brusha lbh mngutamakan kslamatan dan knyamanan pnumpang,,salam gojek driver,,have a nice moment with gojek everyday,,

  43. fernal November 5, 2015 at 6:38 pm Reply

    Ojek online sangat mmbantu dan memudah kn prjalanan kita sampai tjuan yg kita ingin kan. Klo mas mas cape nnjukin jln bagi driver yg buta jlnan. Mndingan mas mas naik kopaja atw angkutan lain saja. Silah kan bandingkan prbedaan ny. Trmksh

  44. […] di jidat saya ada tulisan ‘Orang ini bisa jadi tempat curhat’, sehingga para pengemudi Gojek tidak ragu menceritakan semua hal yang mereka alami ke saya. Ada saja cerita yang mereka bagi […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: