Monthly Archives: November 2015

Bikin Keramik di Rumah F Widayanto

Rupanya Depok menyimpan satu tempat liburan edukatif yang bisa kita kunjungi bersama si Kecil, adik, sepupu, keponakan, atau teman-teman satu geng. Tempat ini bernama Rumah Keramik F Widayanto.

Pekarangan sangat luas yang ditanami beraneka macam tumbuhan, beralaskan rumput, pepohononan rindang menambah kesan adem, sejuk dan teduh, belum lagi ada kamar yang bisa disewa jika mau, pengunjung dibuat tak percaya kalau sedang berada di Depok. Kota yang macetnya hampir sama seperti di Kebon Jeruk.

Meski namanya sama-sama berawalan ‘W’, tapi ini bukan Pak Widayanto. Ini Wayan. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Lima tahun tinggal jauh dari orangtua demi dapat gelar sarjana ilmu komputer (yang ternyata hanya dipakai selama dua tahun) di sana, tak pernah dengar satu orang pun ngomong kalau Depok punya tempat untuk rekreasi seayik Rumah Keramik F Widayanto ini.

Zaman itu, tempat piknik yang paling sering saya datangi bersama teman-teman kampus atau kosan, kalau nggak ke Dufan, Ancol, Kota Tua, ya mentok-mentok ke Kebon Raya Bogor. Paling jauh ke Curug, sekalian touring motor. Dufan itu pun cuma sekali. Pas lagi diskon 70 persen kalau tercatat sebagai nasabah bank anu-anu dan menunjukkan kartu mahasiswa. Harga normal mahal boooo! Gaji bulanan asisten dosen laboratorium di kampus cuma cukup buat biaya nge-print dan mainan Friendster di warnet.

Tapi aku cintanya hanya sama dia, Pak. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Mungkin kalau OT Group tidak mengadakan piknik seru sehari di sini, sekitar empat atau lima bulan lalu, sampai hari ini saya tidak pernah tahu ada tempat sebagus ini.

Selain tukar pikiran, menyampaikan segala uneg-uneg yang terkadang bikin eneg, bermain games seru di mana tim saya pemenangnya, rujakan sambil cemal-cemil wafer Tango dan produk lain, lalu menelusuri satu demi satu ruangan yang ada, kami juga belajar membuat keramik.

Maunya ala-ala film Ghost, dipeluk dari belakang sama mas-mas yang setidaknya punya badan dan muka mirip mendiang pakde Patrick Swayze. Namun semesta tak mendukung, alat rusak dan mas-masnya ndak ada yang tsakep. 😦

Bikin keramik tak semudah yang saya bayangkan. Tidak sekedar masukin tanah liat ke atas cetakan, tekan dengan jari, lalu jadi sesuai bentuk yang diinginkan. No, no, no!

Mas Instruktur yang sangat baik. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Kalau jenis tanah liatnya tidak sesuai, lalu tekanan dari jarinya kurang kuat, jangan harap keramik itu jadi. Beruntung, ada instruktur profesional yang mau mengajarkan teknik-teknik bikin keramik yang benar, dan memberikan pengetahuan lebih mendalam tentang dunia keramik itu sendiri.

Mereka juga menjelaskan asal tanah lempung atau tanah liat apa yang sebaiknya dipakai untuk membuat keramik, proses cutting menggunakan benang, proses pewarnaan, dan pembakaran.

Intinya, proses sampai keramik yang kita buat itu benar-benar jadi tidak sebentar. Menurut kita sudah oke, belum tentu mereka mengatakan hal serupa. Kalau jelek, harus dirapikan terlebih dahulu sebelum dibakar lalu diwarnai. Kurang lebih dua minggu proses pengerjaannya. Tunggu saja nanti dikirim.

Tampang yang punya tangan sih metal tapi bikin keramiknya bebek. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Cincin boleh akik, dua pula, tapi bikin keramiknya inisial nama sendiri. sigh. (Rumah Kerami F Widayanto/ADIITOO.com)

Tiga keramik kecil yang ada di depan tangan si pemahat itu punya saya (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Ngomongin soal tanah liat lalu dibikin jadi keramik, tentu tidak bisa lepas dari kotor-kotoran. Kondisi yang paling sering dihindari orangtua. Sejumlah pakar mengimbau agar kita sebagai orangtua atau orang yang dituakan, jangan melarang seorang anak untuk kotor-kotoran. Apalagi kalau kotor-kotorannya di kondisi seperti ini.

Sekadar informasi saja. Membiarkan anak bermain kotor, maksudnya main tanah, lari-larian, atau bermain apa saja yang membuat tubuh dan bajunya jadi kotor, sama saja melatih mereka peka terhadap lingkungan sekitar. Terlalu higienis juga tidak bagus keleus.

Apalagi kalau kotor-kotorannya karena bikin keramik. Kita telah membantu mereka mengembangkan kemampuan motorik, daya imajinasi mereka, dan buat mereka jadi lebih pintar. Terpenting adalah mereka dapat bersosialisasi dengan teman-teman dan lingkungannya.

Belum bisa bikin anak, bikin keramik saja dulu (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Catnya bagus-bagus (Rumah Kemarik F Widayanto/ADIITOO.com)

Ini keramiknya siapa, kok bagus? (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

 

Namanya juga rumah keramik, selain ada tempat untuk belajar bikin keramik, ada juga tempat khusus menyimpan semua hasil karya dari F Widayanto itu sendiri. Yang punya hobi mengoleksi keramik, kurang afdol saja kalau tidak berbelanja keramik-keramik lucu nan artistik di sini. Semuanya ada. Untuk penggunaan sehari-hari juga ada. Bentuk yang beragam dan sudah tentu terbuat dari tanah liat berkualitas wahid.

Dari sekian banyak hasil tangan Pak Widayanto

Drupadi dan teman-temannya ini juga hasil tangannya Pak Widayanto

Kata si mas instruktur, tanah liat yang dipakai sang kreator berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, dipanaskan di suhu yang sangat panas, sekitar 1.000 derajat celcius.

Kalau merasa semua harga keramik di sini masih mahal, tunggu dulu, ada yang namanya promo cuci gudang akhir tahun. Semua harga turun sampai 40 persen.

Yuk, piknik sambil belajar di Rumah Keramik F Widayanto ini.

RUMAH MODEL KERAMIK & WISATA KERAMIK

JL. CURUG AGUNG NO. 1 TANAH BARU BEJI DEPOK 16428
TELP (021) 775 7685, 775 7686. FAX (021) 7757686

Kopi Selasar, Surga Kopi dan Makanan Enak Dengan Harga Murah

Satu lagi tempat baru yang saya singgahi saat menghabiskan waktu libur ke kota Bandung, yaitu Kopi Selasar. Coffee shop ini berada di teras Selasar Sunaryo Art Space. Berhadapan dengan penggunungan dan bukit plus udara yang dingin, bikin para pengunjung betah berlama-lama di sini, termasuk saya dan teman-teman.

Belum lagi harga dari semua makanan dan minuman yang murah banget, tentu tidak jadi masalah jika harus pesan lagi supaya tidak diusir. Andai Kopi Selasar dengan suasana yang sama ada di Jakarta, terlebih di Selatan atau Pusat, sudah pasti saya jadikan ‘tempat kerja’ ke dua. Selesai liputan bukannya balik ke kantor, malah nangkring di sini.

Di bawah itu ada aula terbuka bagi siapa yang mau bikin acara dengan konsep out door. (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Karena sering baca review-an mengenai tempat ini, saya girang begitu tahu Selasar Sunaryo Art Space masuk dalam daftar tempat yang bakal dikunjungi. Seharusnya destinasi pertama rombongan jurnalis Pepsodent ke sini, namun diundur karena kami baru sampai di Bandung pukul 04:00 sore. Maka itu, baru ke sini pas sebelum pulang ke Jakarta.

… Enam jam saja dong ke Bandung. Macam mudik awak kemarin!

Individu introvert seperti saya (kamu percaya ‘kan kalau saya introvert) yang tidak suka suara bising dan maunya menyendiri, atau buat kalian yang mau ajak kencan selingkuhan, kalian yang mau curhat dari A sampai Z, Kopi Selasar adalah surganya.

Eh, nggak juga deng. Tergantung kapan datangnya. Kalau siang dan di hari kerja mungkin iya jadi surga. Tapi kalau malam hari, terlebih hari Sabtu, mungkin jadi neraka buat saya. Ya, intinya ini surga buat pecinta kopi.

Siang itu Kopi Selasar masih sepi. Kami berisik pun tidak ada yang protes :p (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

 

Tempat sesunyi, sedingin, dan setenang ini memang paling enak digunakan untuk curhat. Hasil pantuan kemarin sih begitu (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

 

Nyaman, kayak hati perasaan. Bawaannya susah move on (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

 

Ada perpustakaan juga. Sayangnya hari itu lagi ditutup. (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Kata si Kawan, dulunya tempat ini hanya menyajikan kopi saja. Belum ada tuh spageti, hot dog, tom yam, lasagna, dan makanan yang lain. Tapi sekarang, melihat banyak anak nongkrong yang tidak selalu suka sama kopi, Kopi Selasar jadi menjual makanan ringan sampai yang berat.

Memang juara kelas dari tempat ini adalah kopi-kopinya, termasuk dua kopi yang kami pesan kemarin: chococcino ice cream dan kopi selasar, kopi hitam ada latte art-nya ditambah jahe yang ditusuk di bambu. Rasanya seperti dipeluk Will Smith, pekat namun menghangatkan. *digampar*

Minuman yang ada di sini. Yang juara kelasnya Kopi Selasar, yang di tengah itu. (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Makanan di sini nggak kalah nikmat. Saya nggak takut makan banyak meski lagi program pengurangan kadar lemak dan berat badan. Apa itu diet? Diet cuma serangkaian huruf yang terdiri dari D, I, E, dan T. Lagi pula diet bukan berarti tidak makan, toh? Diet yang benar adalah membakar lebih banyak kalori dari yang kita masukkan, yes? Ha ha ha ha.. Sok-sokan, padahal hari itu dan keesokan harinya tidak olahraga sama sekali, dan begitu dicek kadar lemak naik satu persen. *sad*

Habisnya, selain rasa makanan seperti nasi goreng, tom yum, spageti tuna, dan spageti irisan cabe rawit yang saya lupa namanya yang memang enak banget, semua itu gratis. Masa iya saya menyiakan kesempatan itu? 😆

Semuanya enak. Saya pesan Tom Yum tanpa nasi, karena sudah berencana comot-comotin semua makanan yang dipesan. Kecuali hot dog, lagi tidak makan daging (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Yang patut diacungi jempol, si empunya tempat tidak takut membandrol semua menu makanan dan minuman dengan harga yang terbilang murah. Boleh disebut murah dong, kalau ‘bonus’ yang didapat adalah pemandangan bukit Parijs Van Java yang melegenda, pegunungan sekitar kota Bandung, meja dan kayu terbuat dari kayu, colokan di mana-mana, dan pepohanan besar yang menambah kesan teduh?

Kalau tidak salah, harga minuman kisaran Rp 30.000 sampai Rp 50.000. Sedangkan makanan dari Rp 30.000 sampai Rp 70.000

Belum lagi ada galeri seni yang menjadi ‘inti’ dari tempat ini. Ada juga ruang pameran, amphitheater, aula diskusi, tempat pementasan di alam terbuka yang semuanya dibuka untuk umum sejak 1998. Seperti galeri pada umumnya, pengunjung Selasar Sunaryo dilarang memotret, hanya boleh melihat saja.

Saya dan si Kawan berencana ke Bandung lagi untuk satu urusan. Mungkin akan singgah ke Kopi Selasar di Selasar Sunaryo Art Space untuk kedua kalinya. Mau coba menu lainnya.

Kopi Selasar di Selasar Sunaryo Art Space (Blend your coffee with an artistic environmant!)
Jl. Bukit Dago Pakar Timur No. 100, Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat

NOTE: Tidak ada angkutan umum, lebih baik kendarai mobil sendiri, taksi, atau Gojek

Telp. 022-2507939 Fax: 022-2516508
Jam buka:
Senin – Kamis : 11:00 s/d 18:00
Jumat – Minggu : 11:00 s/d 22:00

 

Ayo Kurangi Kadar Lemaknya, Pa!

Sudah lebih dari enam hari kondisi kesehatan papa menurun. Wajah papa sedikit menguning. Nyeri seperti mag. Sekalinya makan terasa tidak enak.  Diajak ke rumah sakit menolak, alasannya mungkin kecapaian setelah empat puluh hari melakukan banyak kegiatan di Tanah Suci.

Namun, kemarin sore, perut papa kembali melilit. Persis orang punya mag yang telat makan. Suhu tubuhnya juga terasa panas. Kali ini, tak ada lagi kompromi. Papa harus menuruti semua perintah mama. Bangun dari kasur, buruan masuk ke mobil, dan bergegas menuju rumah sakit yang tak jauh dari tempat tinggal kami.

Si adik menyebut rumah sakit ini sebagai our second home. Kami tahu harus ke mana, ketika tubuh tak lagi sanggup beranjak dari kasur.

Pemeriksaan dilakukan. Tak lama, dokter kembali ke IGD membawa hasil. Kemungkinan ada infeksi di lever, itulah dugaan awalnya. Doh, semoga bukan Hepatitis, harap saya.

Guna pemeriksaan lebih lanjut, papa harus jalani USG abdomen. Pesan kamar, masuk, berbaring di kasur, dan suster mulai memasukan jarum ke dalam pembuluh vena. Suster melarang papa memasukan makanan apa pun ke dalam mulutnya, sampai pukul 21:00. Resmilah papa jadi penghuni kamar 310 rumah sakit Syarif Hidayatullah, Ciputat.

Papa sungguh anti-mainstream. Di saat orang-orang memilih buka kamar karena tak sanggup lagi menghadapi macetnya Jakarta di Jumat malam, plus diguyur hujan sangat deras selama beberapa jam, papa malah buka kamar di rumah sakit. Beda tipis.

“Mama tega membiarkan papa tidur sendirian di sini?,” kata papa memelas. Mama yang menangkap kode itu langsung membalasnya,”Kalau iya, memang kenapa? Siapa suruh ngeyel! Mama balik dulu, mau mandi. Nanti ke sini lagi.”

Karena tidak memungkinkan ramai-ramai menjaga papa, saya dan si adik diberi mandat jaga rumah. Baru keesokan harinya, gantian sama mama, sebelum piket di kantor.

Kondisi papa di rumah sakit. So far baik-baik saja. Bisa ke kamar mandi sendiri

“Ada batu yang menyumbat di kandung empedu papa,” kata mama yang tahu banget kalau saya bakal menanyakan itu pertama kali, sebelum bertanya sudah sarapan belum, menunya apa, dan tadi malam tidak dikasih antibiotik, ‘kan?

Dari hasil pemeriksaan darah dan USG abdomen semalam, papa secara tidak langsung mengimbau, agar para pria seumurannya lebih berhati-hati. Jangan sampai penyakit yang harusnya menjadi musuh kaum hawa, justru mereka alami.

Berarti, kalau nanti ada liputan atau diskusi bersama dokter bedah digestif, kemungkinan besar yang paling banyak bertanya adalah saya.

Saya teringat ucapan dr Hermansyur Kartowisastro, SpB-KBD dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) tempo hari, batu empedu rentan dialami orang tua dengan gaya hidup dan pola makan tidak sehat.

Dua hal yang saya curigai menjadi penyebab papa sampai menderita kondisi ini adalah gemuk dan kolesterolnya yang ampun-ampunan. Sebenarnya pola makan dan pola hidup papa tidak buruk-buruk amat. Mama juga mulai mengurangi garam dan meniadakan penyedap di semua masakannya.

Papa juga rutin bergerak setiap pagi. Apalagi setahun menjelang keberangkatannya menuju Mekkah. Cumaaaa. Ini dia masalahnya. Papa itu bisa dikatakan malas banget makan sayur. Makan buah pun tidak rutin-rutin banget dengan jumlah yang sedikit. Paling banyak dua buah. Itu yang membuat mama jarang sekali masak sayur. Lebih banyak protein.

Makanan paling ‘ekstrem’ yang mama masak adalah kepiting saus tiram dicampur enam sampai tujuh butir telur, kerang sambal tauco, udang goreng tepung, dan cumi saus padang. Yang semua itu disantap di pagi hari. Yes, ketika sarapan. Kebayang dong kepiting panas-panas disantap bersama nasi yang masih mengepul. Bawaan sesudahnya malas-malasan, maunya di kasur saja, malas mandi dan malas ke kantor. Kapan mama masak beginian lagi, saya foto biar ada bukti.

Akibat penyakit yang hadir tanpa gejala (hingga si penderita merasa nyeri pada bagian kanan atas perut yang menyebar sampai ke bahu) dan mirip ganggun mag (posisi lambung dan kandung empedu itu tetangga dekat), papa harus segera dioperasi. Biar batu tidak lagi menyumbat area sekitar.

Setelah itu, saya sudah punya rencana membantu papa mengurangi kadar lemak di tubuhnya yang mungkin ketebalannya mengalahkan muka saya ketika salah kostum di sebuah acara yang dihadiri Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan, dan Menteri Sosial.

Rasa nyeri yang timbul selama papa menderita penyakit itu akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi lemak. Menurut dr Hermansyur, lemak dapat merangsang kantong empedu berkontraksi, memaksa empedu yang tersimpan masuk ke dalam usus duabelas jari.

Ayo kurangi kadar lemaknya, Pa!

Memanah Hati di Hotel Harris Sentul City

Panitia Blogger Camp Indonesia panahan ketika piknik #plusOne di Hotel Harris Sentul City, Bogor, Minggu kemarin. Seru dan mau lagi. Biayanya murah, cuma 30K. Pelatihnya sabar dan telaten pula.

Awalnya kaku, tembakan kami banyak yang keluar jalur. Lama kelamaan kami berhasil menancapkan anak panah di garis kuning. Yang berhasil bakal dapat bonus dua kali menembak.

Supaya seru, kami bikin grup berisi dua orang anggota. Kak Chika sama Wandy, saya sama Sandy. Sedangkan Ochoy mendokumentasikan kegiatan kami. Waktu itu Mas Indra lagi nge-gym, jadinya Ochoy sendirian. Sad!

Poin tertinggi diraih kak Chika sama Wandy, mereka pemenangnya. Semenjak fitnes dan diet, kak Chika semakin lincah saja. Di antara kami, kak Chika yang paling sering menancapkan anak panah di garis kuning. Karena ketagihan, #gengmemanahati ini berencana panahan di Senayan. PIC kegiatan ini Wandy tapi maunya di hari kerja. Hih!

Kalian harus percaya kalau Mamah Wiwik panahan juga

 

Muka-muka pemenang. Salahin Ochoy kalau ada yang salah dengan foto ini

Piknik di Sabtu hingga Minggu kemarin benar-benar menyehatkan. Tak hanya jiwa dan raga, otak juga. Tiba di hotel yang berlokasi tak jauh dari pintu TOL Sentul City dan Sentul International Convention Center (SICC) ini, peserta piknik #plusOne makan siang terlebih dahulu, sebelum bermain dua games dengan hadiah voucher menginap yang disiapkan pihak hotel.

Gamesnya gampang-gampang-susah banget, a la Eat Bulaga yang sempat booming di SCTV itu. Cuma menebak clue dari lawan, beres. Bisa jawab, lawan yang dapat nilai. Inilah beberapa kata yang harus ditebak; pastry, carte, pre weeding, dan entrance.

Di games kedua, peserta piknik #plusOne #TAUZIAtourblogger disuruh tebak gambar. Satu orang menggambarkan kata yang diberikan panitia di kertas putih, yang lain menebak gambar yang dimaksud itu. Coba kamu gambar beberapa clue yang panitia kasih ini; Eco Friendly, Bali, Tebet, dan Pastry. Sebenarnya gancil banget. Mendadak jadi sulit karena siang itu Sentul City diguyur hujan sangat deras. Bawaannya pengen cepat-cepat masuk kamar, tidur.

Maka itu, salut sama timnya Mas Indra dan Sandy yang berhasil jadi juara pertama. Duo pedang ini membuktikan, berdua saja cukup melawan tim-tim beranggotakan banyak. Kuncinya percaya, komunikasi, jujur, dan pasrah.

Minggu pagi,  di saat peserta #plusOne masih kekepan di bawah selimut, ngulet-ngulet lucu malas beranjak dari kasur super empuk, Mbak Nuniek sudah lari-lari centil sejauh 6 kilometer. Sisanya, bangun agak siangan, sekitar pukul 07:00. Iya, itu kesiangan, seharusnya kami bangun lebih pagi lagi. Lalu sarapan dengan kondisi masih muka bantal.

Selepas sarapan, sebagian pilih panahan, bermain kuda, nge-gym, dan ada yang balik ke kamar melanjutkan tidur. Seingat saya cuma kak Eva yang kudaan. Kirain bakal jauh gitu, nggak tahunya keliling lapangan yang sudah terisi orang-orang main futsall dan panahan.

Inilah kami penyebur andal. Berusaha tegap kok susah amat

Melihat kolam renang cukup sepi, #gengmemanahhati yang cowok nyebur sebelum balik ke kamar untuk mandi, packing, dan pulang ke Jakarta. Kami memang bukan pemanah andal, tapi kami penyebur yang tak usah diragukan lagi. Gaya katak, bisa. Gaya dada juga bisa. Bahkan Wandy bisa berenang dengan gaya anjing. Pernah lihat anjing berenang? Nah, dia bisa menirukannya. Gaya anjing berenang sungguh melelahkan.

Review Hotel Harris Sentul City, Bogor.

Suka sama konsep healthy lifestyle yang diusung Hotel Harris ini. Seluruh kamar adalah non smoking area, makanan di restorannya pun (sepertinya) tak menggunakan banyak garam. Sedikit hambar, tapi saya suka. Ada jamu tradisional juga.

Selain kolam renang, gym centersepeda yang bisa digenjot sesuka hati, serta halaman yang bisa dipakai untuk panahan, futsal dan bermain kuda, disediakan juga tempat bermain anak. Cocok buat para orangtua yang ingin mengajak si Kecil yang masih balita berlibur. Lokasinya juga tidak jauh, cuma 40 menit dari Jakarta, dan lima menit dari exit TOL Sentul City. Belum cukup? Orangtua dapat mengajak si Kecil ke wahana bermain Jungle Land atau wisata kuliner di A Poong.

Mendadak badan tidak enak atau demam tinggi, tak jauh dari Hotel Harris Sentul City ada Rumah Sakit Pertamedika. Rumah sakitnya nyaman, dokternya ramah, dijamin tidak mau pulang. Oke, ini sedikit promosi! :p

Nggak suram kok sekamar sama Mas Indra :p

 

Perintilan dalam kamar Hotel Harris Sentul City, Bogor

 

Mau ngasih guling ini ke Mas Indra tapi takut fitnah

 

Cuma Hotel Harris Sentul City, Bogor ada minuman mabuk tapi menyehatkan

Secara keseluruhan, saya mau kok balik lagi ke hotel ini. Pelayannya ramah, kamarnya tidak terlalu luas (ini poin penting buat saya yang penakut), kamar mandinya bersih (handuk bersih dan sampo serta sabunnya wangi), kasurnya empuk, ada sofa bed, pas buat liburan ramai-ramai tanpa perlu biaya tambahan :p

Mau kamar dekat kolam renang, tambah 200K atau 300K sudah bisa pindah!

Cuma yang disayangkan, akses menuju Hotel Harris Sentul City ini rusak parah. Masa kudu lewat SICC? Riweuh. Satu lagi, kalau bisa langganan saluran berbayarnya diganti. Nggak semua channel ada dan sinyalnya jelek banget.

Address: Komplek SICC, Jl. Jendral Sudirman No. 1, Sentul City, Jawa Barat 16810
Website: http://sentulcity-bogor.harrishotels.com/
Poin 4 dari 5
Baca juga :