Monthly Archives: January 2016

Alasan Jadikan Eat and Eat Food Market Tempat Nongkrong Favorit

Eat and Eat – Food Market yang ada di lantai 5 FX Sudirman adalah tempat nongkrong favorit saya dan teman-teman jurnalis lain jika lokasi liputan dekat atau memang berada di kawasan Sudirman. Enaknya jadi jurnalis seperti itu, jika malas balik ke kantor, pulang liputan bisa cari tempat yang nyaman untuk ketik berita. Tentu enak buat kumpul-kumpul juga.

AC yang dingin. Kursi yang empuk. Colokan di mana-mana. Tidak salah jika kami betah berlama-lama di Eat and Eat – Food Market

Eat and Eat ini pada dasarnya adalah food court dengan konsep yang modern dan unik. Pertama kali dibuka pada 15 September 2008. Selama delapan tahun sudah memiliki 13 cabang. Cabang terakhir adalah Eat and Eat – Food Market di One Belpark Fatmawati pada Kamis (7/1/2016)

Ada sejumlah alasan kami menjadikan Eat and Eat – Food Market sebagai tempat nongkrong favorit:

1. Cocok buat orang-orang yang kalau ditanya mau makan di mana jawabnya terserah. Pergi beramai-ramai kerap membuat kita bingung menentukan tempat makan yang cocok buat semuanya. Apalagi kalau kelamaan mikir karena mikirin harganya. Harga seluruh makanan di Eat and Eat – Food Market ini sesuai dengan kantong kaum-kaum yang jumlah saldo di rekening tidak lebih besar dari jumlah followers Raditya Dika ketika memasuki pertengahan bulan.

2. Kursinya empuk. Jumlah mejanya banyak. Ada colokan di setiap sudutnya. Sinyal Wi-Fi di sini memang hidup segan mati ogah, tapi kalau pakai jaringan 4G apalagi 4Gplus dari IM3 Ooredoo, lancar kayak sepanjang jalan Kuningan ketika lebaran hari ke-2. Jadi, kirim-kirim berita berjalan lancar.

3. Masalah kebersihan jangan ditanya. Bersih banget. Kerja petugas kebersihan cekatan sekali. Pelayannya juga ramah-ramah.

4. Konsep interior masing-masingcabang dirancang khusus untuk para pecinta kuliner. Seperti sebutannya ‘Creating Food Adventure’, semuanya dikemas dalam suasana santai, khas, unik, dan penuh petualangan. Pun cabang ke-13 dari Eat and Eat – Food Market di One Belpark Fatmawati, pengunjung bisa menemukan konsep yang berbeda. Bergaya arsitektur di pusat-pusat kota Eropa dengan taman-taman kecil yang menggambarkan suasana street market atau shooping street di Eropa.

Kurang lebih Pak Bondan mengatakan, jajanan pasar yang ada di Eat and Eat Food Market One Belpark Fatmawati dan seluruhnya sudah disesuaikan dengan lidah orang Jakarta

5. Paling penting makanannya. Bermodalkan kartu prabayar yang harus kita isi, kita bebas memilih makanan apa saja. Mulai dari makanan khas barat, timur tengah, china, tradisional Indonesia seperti soto betawi, mie medan, bakmie kepiting pontianak, sampai jajanan kaki lima seperti asinan juhi, cakue, siomay, tahu gejrot, wedang, kue cubit, pancake durian.

Khusus di Eat and Eat – Food Market One Belpark Fatmawati, menyajikan lima menu baru tradisional yang tidak ada di cabang lainnya. Seperti nasi Aceh, lontong Medan, bebek Madura, soto mie Bogor, dan masakan Nusantara. Karena ke lima ‘warung’ ini saat peluncuran hari itu ramai sekali dan kebetulan pula saya sudah lapar sekali, pilihan jatuh pada nasi khas Bali. Rasanya pas. Begitu juga porsinya. Kurangnya satu, sambalnya tidak pedas.

Kekurangan dari menu nasi komplit khas Bali ini cuma satu, sambalnya tidak pedas. Masa iya saya kudu gigit lidah sendiri?

Jus kedondong kayak ketiak pacar. Asam-asam kecut bikin ketagihan. Maksa! 😦

Yang berhasil mencoba menu terbaru itu adalah kak Sabai dan simbok Venus. Mereka berdua jajal lontong Medan. Kalau lagi kumpul sama teman-teman jurnalis, makanan yang paling sering kami pesan adalah cakue dan jus kedondong.

Lontong Medan yang dipesan simbok Venus. (foto milik simbok Venus)

6. Pelaku diet kayak saya tidak perlu khawatir jika diajak meeting atau kencan di Eat and Eat di mana saja. Seperti di FX Sudirman, ada sejumlah ‘warung’ berisi menu makanan yang dapat disebut sehat. Sayur-sayuran rebus. Gado-gado juga ada. Kurang lengkap jika tak ada buah? Di sini juga tersedia buah. Coba cek menu makanan kak Rere di blognya, dia pesan buah-buahan segar.

7. Letaknya strategis. Di FX Sudirman berdekatan dengan musholla. Bisa nongkrong lama tanpa meninggalkan ibadah. Sedangkan di Eat and Eat – Food Market One Belpark Fatmawati, satu lantai dengan tempat bermain anak-anak. Capai habis main-main, ajak makan di sini, deh.

Kayaknya cukup tujuh saja. Kalau kalian punya alasan lain ‘menjadikan Eat and Eat – Food Market sebagai tempat nongkrong’ favorit, boleh di-share di kolom komentar. 😉

Advertisements

Tidak Pernah Mau Gerakin Leher Sampai Terdengar Bunyi Krek!

Kejadian nahas yang menimpa Allya Siska Nadya, 33 tahun, terduga korban pengobatan gelap salah satu klinik chiropractic membuat saya semakin awas. Saya tidak akan pernah membiarkan tukang cukur atau siapa saja memijat lalu menggerakan leher saya ke kanan dan ke kiri sampai muncul bunyi krek. Rupanya, dua kasus yang terlihat berbeda punya satu kesamaan: gerakin leher sampai terdengar bunyi krek itu bahaya.

Baik itu tukang cukur di bawah pohon rindang, tepi jalan, sampai tukang cukur berpengalaman di barber shop yang terletak di dalam mall pasti akan menawarkan ‘jasa’ meringankan beban di kepala kita, bukan? Sebagian orang senang melakukannya. Sedangkan saya selalu menolak tawaran itu. Cukup dipijat saja. Begitu juga saat saya potong rambut usai menjalankan Tawaf ibadah umrah setahun lalu.

Saya menolak karena saya trauma. Setelah melihat sendiri salah seorang teman satu SMP di Kepulauan Riau yang lehernya sulit sekali dikembalikan ke posisi normal setelah diputar-putar lalu terdengar bunyi krek. Meski kata banyak orang kepala jadi lebih ringan dan tidur di malam hari lebih nyenyak tetap saja saya takut.

Kasus Allya yang baru heboh tiga hari lalu mengharuskan saya menghubungi sejumlah dokter ortopedi, bedah saraf, dan dokter spesialis tulang lainnya. Banyak informasi yang saya terima. Selain metode chiropractic yang ternyata belum layak disebut sebagai pengobatan medis, kasus ini tidak dapat disebut malapraktik, saya juga diberitahu bahwa bunyi krek menunjukkan telah terjadi manipulasi pergerakan sendi secara berlebihan.

https://www.youtube.com/watch?v=tQjqtupgUck

Kayaknya enak banget gerakin leher sampai terdengar bunyi krek. Kepala jadi terasa ringan, katanya. Padahal itu bahaya

 

Informasi terakhir itu saya dan teman-teman jurnalis kesehatan lainnya dapatkan dari secarik keterangan pers dari dokter spesialis bedah saraf TNI AU dengan kompetensi di bidang spine (tulang belakang), Dr. dr. Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP yang kami terima via surat elektronik pada Sabtu (9/1/2016)

Memang tidak terjadi dislokasi atau patah tulang leher pada pelanggan yang suka melakukan itu sehingga tidak mengalami kejadian apa-apa. Namun, jelas dr Wawan, semakin sering menggerakan leher sampai terdengar bunyi krek, baik itu dilakukan oleh orang lain atau dengan tangan sendiri, sendi leher bisa semakin melemah dan dapat menyebabkan instabilitas tulang leher di kemudian hari yang bisa sebabkan nyeri leher kronis yang sering timbul ketika usia semakin menua.

Leher adalah salah satu bagian tubuh dengan struktur anatomi yang cukup kompleks, banyak ragamnya, dan memiliki fungsi yang sangat vital. Menurut dia, risiko kematian intai mereka yang terlalu sering menggerekan leher secara berlebihan. Sebab, di dalam leher terdapat beragam organ dan fungsi yang sangat penting. Ada kelenjar tiroid yang menyimpan hormon tiroid, ada trakea yang merupakan saluran masuk udara dari mulut ke hidung ke bronkus lalu masuk ke paru-paru. Tak ketinggalan pembuluh darah utama ke dan dari otak. Itu baru bagian depan saja.

Bagian belakang terdapat struktur tulang belakang bagian leher. Di dalamnya ada sumsum tulang belakang dan pembuluh darah ke otak bagian belakang. Saking pentingnya, tak salah jika ada yang menyebut leher adalah ‘jembatan kehidupan’ antara kepala dan tubuh bagian bawah.

Ini juga yang melatarbelakangi mengapa hukuman mati yang masih lazim dilakukan hingga saat ini adalah hukuman gantung dan hukuman penggal leher. Itu karena keduanya menjadikan leher sebagai area tercepat di tubuh untuk bisa mematikan terpidana mati tersebut.

Beliau berpesan, siapa saja yang mempunyai masalah nyeri leher, nyeri punggung, atau nyeri pinggang apa pun penyebabnya; kaku otot, saraf terjepit, skoliosis, kifiosis, dan lain-lain, dianjurkan mendatangi ahli profesional yang terdidik di rumah sakit pendidikan kedokteran seperti spesialis saraf, spesialis bedah saraf, spesialis ortopedi, spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi.

Yang memijat wanita cantik juga tak ada gunanya

Terinspirasi dari iklan minyak kayu putih, dr Wawan mengatakan, untuk tubuh kita yang fungsinya sangat-sangat penting kok coba-coba?

Tak cuma saya yang dibuat bergidik karena penjelasan mereka. Si Kawan yang tidak mau bangkit dari kursi pangkas rambut jika lehernya belum digerakkan jadi berpikir ulang untuk mempertahankan kebiasaan itu. Kalian yang suka melakukan itu bagaimana menanggapi masalah ini?

Mungkin keinginan untuk mencoba sekali saja akan segera saya hilangkan. Kemarin-kemarin, setiap kali melihat ada orang gerakin leher sampai terdengar bunyi krek kayaknya beban jadi ringan banget, kali ini harus saya yakini bahwa cara seperti itu hanya merugikan diri sendiri.

#Curjek: Cerita Pengemudi Gojek Ketemu Kuntilanak

Jalanan sekitar Dharmawangsa yang padat menyebabkan saya harus order Gojek supaya cepat sampai di rumah. Untung di motor ada tempat menaruh goodie bag berisi alat olahraga dan susu dari Frisian Flag. Tas berisi laptop bisa diletakkan di tengah sehingga saya tak perlu takut jatuh. Yoga selama satu jam ditambah semilir angin Jumat malam itu menghasilkan rasa kantuk teramat sulit ditahan. Satu-satunya cara supaya tetap terjaga selama perjalan adalah ngobrol sama si abang Gojek.

Selesai Yoga di Yoga Union Bersama Frisian Flag Indonesia

Semesta menjawab keinginan itu. Tanpa perlu saya yang memulai, obrolan terjadi begitu saja. Semua bermula dari jalan tikus yang kami lalui supaya terhindar dari macet dan cuaca mendung. Keadaan masih sama. Sama seperti Abang Gojek lain yang mengira saya adalah anak gadis rumahan dan tidak biasa naik kendaraan umum.

“Dik, lewat jalan sini, nggak papa?,” menunjuk sebuah gang yang tampak sepi sekali. Hanya ada tiga remaja laki-laki yang sedang duduk di kursi panjang dekat pos ronda. “Silahkan, Bang,” jawabku. Gang ini adalah gang ke-empat.

“Permisii,” kata si Abang sambil membunyikan klakson sebagai tanda minta izin melintas di gang itu.

Si Abang seperti sudah biasa lewat jalan itu. Dia hapal harus belok mana saja. Setelah melewati tiga belokan, sampailah kami di jalan Radio Dalam. Di sebrang satu gedung dengan nama paling jorok itu.

“Adik berani juga lewat jalan gelap. Saya tadi takut adik bakal mengira saya bakal berbuat jahat,”

“He he he … Berani, bang. Kalau abang macam-macam, saya lawan!,”

Jelas saya berani. Pertama, saya cowok. Si Abang saja yang mengira saya cewek. Kedua, itu bukan kuburan. Ketiga, kalaulah sampai si Abang berbuat jahat, misal memerkosa, paling hanya timbul rasa penyesalan. Celana saya dibuka yang dilihat pedang juga sama kayak dia punya. Kecuali kalau dia gay. Meski begitu akan tetap saya lawan. Kalau ternyata dia gay berparas ganteng, saya pasrah. Tapi enggak di tempat gelap juga kali. Bisa keleus sewa hotel.

Kuping saya panas mendengar si Abang selalu bilang “Minta izin, dek,” setiap akan melintasi jalan tikus. “Kalau mau lewat, lewat saja, Bang. Kalau itu bikin jaraknya semakin dekat, silahkan. Kalau justru semakin jauh, paling saya tulis di aplikasinya,” jawab saya.

Rupanya, itu dilakukan si Abang karena baru saja mengalami hal nahas di malam sebelumnya. “Kemarin saya dan penumpang saya lihat kuntilanak dik, di daerah Pondok Cabe. Makanya tadi saya minta izin muluk,” kata si Abang mulai bercerita.

Ah, sial, kenapa harus ngomongin yang kayak begini? Begonya, saya malah penasaran.

“Oh, ya? Kok bisa? Gimana ceritanya, Bang?,”

Malam Jumat itu, sekitar pukul 11:00, si Abang harus mengantar penumpangnya ke daerah Pondok Cabe. Tak jauh dari perumahan yang dimaksud, mereka harus melewati sebuah jalan sangat gelap dan hanya ada pepohonan serta rawa-rawa.

“Dari kejauhan saya melihat seperti ada kain putih melayang gitu. Nyebrang dari pohon satu ke pohon yang lain,” kata si Abang.

Tak cuma si Abang yang melihat kain putih itu. Penumpang yang seorang karyawati bank juga melihatnya, “Pas kita mendekat, sosoknya semakin terlihat jelas. Eh, si Mbak menjerit ketakutan. Saya gas saja motor ini. Begitu sampai depan rumahnya, si Mbak malah pingsan.”

Si Abang mengaku kelimpungan. Dia harus mengangkat tubuh penumpangnya masuk ke dalam rumah lalu meletakkan di atas sofa. Sebelum pulang, si Abang harus duduk dulu karena terlanjur dibuatkan air minum. Di saat itulah dia diberitahu kalau ternyata daerah situ cukup angker.

“Mamanya penumpang saya itu yang cerita, kalau daerah situ memang angker. Sudah sering kejadian seperti yang saya alami. Tiga bulan yang lalu juga ada. Tapi yang kena bukan penduduk perumahan situ,” kata si Abang.

Karena cerita itu si Abang jadi kayak pembalap liar di BKT yang memperebutkan cabe-cabean begitu keluar dari komplek perumahan tersebut.

“Ha ha ha ha.. Abang takut jadinya? Yah, payah, kelihatannya saja sangar,” canda saya.

“Wesss.. Nggak dong, dek. Kalau saya takut juga, dua-duanya pingsan, dong? Nanti siapa yang angkat kami?,” bela dia.

Saya bilang saja ke dia kalau daerah rumah saya juga seperti itu. Gang untuk sampai ke perumahan saja hanya ada ilalang dan pohon-pohon cukup besar. Bahkan, ketika masuk ke dalam perumahan tempat tinggal saya, jumlah rumahnya tidak banyak. Masih banyak pohon-pohon.

“Masa sih, Dik? Masa daerah Bintaro ada yang seperti itu? Kan perumahan modern?”

Perumahan tempat tinggal saya memang ada embel-embel ‘Bintaro’. Bukan berarti seterang Bintaro di sektor-sektor itu. Jarak dari tempat tinggal saya ke Bintaro sektor 9 yang paling dekat saja sejauh 6 kilometer. Mana mungkin bisa sama toh?

Setiap kali saya pulang sama teman, naik taksi, atau diantar pulang naik mobil kantor, mama melarang saya masuk sebelum kendaraan mereka benar-benar sudah berada di luar perumahan kami. Si Kawan saja selalu saya kasih pesan untuk memberitahu kalau sudah sampai di jalan raya besar.

Tempat tinggal kami memang di pedalaman. Masih rawan. Saya sebut sebagai tempat jin aborsi. Dua tahun lalu, sebelum seramai sekarang, masih ada isu babi ngepet. Tetangga persis depan rumah pernah dirampok orang berilmu. Si bapak sadar ada orang yang melangkahi tubuhnya. Tapi dia sulit untuk teriak. Tubuhnya juga sulit diangkat. Baru setelah perampok itu pergi jauh, mulut dan tubuh si bapak berfungsi kembali. Dia harus rela kehilangan emas dan sejumlah uang.

“Adik ini Cuma mau nakut-nakutin saya saja, kan? Saya mah nggak takut, dek. Ini buktinya terang begini. Ada McD, ada Indomart, ada tukang buah juga,” kata si Abang sambil menunjuk tempat-tempat yang disebutkannya itu ketika kami sampai di perempatan duren. Sedangkan dari perempatan duren, jalan utama penghubung antara Jombang, Pasar Ciputat, Bintaro, dan UIN, masih cukup jauh untuk benar-benar sampai di rumah saya.

“Ih, si Abang nggak percaya. Kan saya yang tinggal di sini, Bang. Masa iya saya bohong. Apa untungnya buat saya?,” kata saya sambil mengabarkan mama kalau saya sebentar lagi sampai. Tolong buka kan pintu.

Tak lama kami sampai di depan gang utama. Dari situ saja sudah minim penerangan. Melihat situasi mencekam kayak begitu, si Abang tampaknya jiper.

“Benar, ih, kata si Adik. Ini mah beneran gelap,”

“Tuh kan, Abangnya nggak percaya, sih. Saya bilang juga apa,”

“Adik berani, ya,”

“Saya sudah biasa, Bang,”

“Tapi, Bang, saya saja nih, meski mengendarai motor, kalau sudah malam Jumat dan pulangnya larut, selalu minta ditemani ojeg langganan di stasiun. Abangnya suruh ngikutin saya dari belakang, saya bayar seperti biasanya,” cerita saya. Iya, saya selalu melakukan hal seperti itu.

Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam, motor jenis skuter otomatis warna kuning gejreng sampai di depan rumah. Setelah menyerahkan uang, muncul keinginan menjahilin si Abang Gojek.

“Seraman mana Bang sama daerah perumahan penumpang Abang itu?,” tanya saya.

“Hmmmm.. Yang sana, dek,” jawab dia.

“Yakin, Bang? Kemarin di sini ada babi ngepetnya, lho. Kata teman saya yang bisa lihat begituan, di sini juga ada,”

“Yakin, dik. Insha Allah aman-aman saja. Sudah yah, saya pulang,”

“Silahkan, Bang,”

Saya masuk ke dalam rumah. Saat mengunci pagar, terdengar suara klakson yang ditekan berkali-kali, biasa dibunyikan orang-orang ketika panik atau takut. Saya sering melakukan hal itu. Jadi tahu :p

Maafkan saya, Bang. Kapan lagi penakut bisa menakuti sama-sama penakut?

Begitu masuk ke kamar malah saya ketakutan. Tutup gorden, menyalakan AC dan teve, dan tidak lupa menyalakan lampu. 😆

Semoga Abang Gojek itu tidak kapok!