Category Archives: Cerita

Ayo Kurangi Kadar Lemaknya, Pa!

Sudah lebih dari enam hari kondisi kesehatan papa menurun. Wajah papa sedikit menguning. Nyeri seperti mag. Sekalinya makan terasa tidak enak.  Diajak ke rumah sakit menolak, alasannya mungkin kecapaian setelah empat puluh hari melakukan banyak kegiatan di Tanah Suci.

Namun, kemarin sore, perut papa kembali melilit. Persis orang punya mag yang telat makan. Suhu tubuhnya juga terasa panas. Kali ini, tak ada lagi kompromi. Papa harus menuruti semua perintah mama. Bangun dari kasur, buruan masuk ke mobil, dan bergegas menuju rumah sakit yang tak jauh dari tempat tinggal kami.

Si adik menyebut rumah sakit ini sebagai our second home. Kami tahu harus ke mana, ketika tubuh tak lagi sanggup beranjak dari kasur.

Pemeriksaan dilakukan. Tak lama, dokter kembali ke IGD membawa hasil. Kemungkinan ada infeksi di lever, itulah dugaan awalnya. Doh, semoga bukan Hepatitis, harap saya.

Guna pemeriksaan lebih lanjut, papa harus jalani USG abdomen. Pesan kamar, masuk, berbaring di kasur, dan suster mulai memasukan jarum ke dalam pembuluh vena. Suster melarang papa memasukan makanan apa pun ke dalam mulutnya, sampai pukul 21:00. Resmilah papa jadi penghuni kamar 310 rumah sakit Syarif Hidayatullah, Ciputat.

Papa sungguh anti-mainstream. Di saat orang-orang memilih buka kamar karena tak sanggup lagi menghadapi macetnya Jakarta di Jumat malam, plus diguyur hujan sangat deras selama beberapa jam, papa malah buka kamar di rumah sakit. Beda tipis.

“Mama tega membiarkan papa tidur sendirian di sini?,” kata papa memelas. Mama yang menangkap kode itu langsung membalasnya,”Kalau iya, memang kenapa? Siapa suruh ngeyel! Mama balik dulu, mau mandi. Nanti ke sini lagi.”

Karena tidak memungkinkan ramai-ramai menjaga papa, saya dan si adik diberi mandat jaga rumah. Baru keesokan harinya, gantian sama mama, sebelum piket di kantor.

Kondisi papa di rumah sakit. So far baik-baik saja. Bisa ke kamar mandi sendiri

“Ada batu yang menyumbat di kandung empedu papa,” kata mama yang tahu banget kalau saya bakal menanyakan itu pertama kali, sebelum bertanya sudah sarapan belum, menunya apa, dan tadi malam tidak dikasih antibiotik, ‘kan?

Dari hasil pemeriksaan darah dan USG abdomen semalam, papa secara tidak langsung mengimbau, agar para pria seumurannya lebih berhati-hati. Jangan sampai penyakit yang harusnya menjadi musuh kaum hawa, justru mereka alami.

Berarti, kalau nanti ada liputan atau diskusi bersama dokter bedah digestif, kemungkinan besar yang paling banyak bertanya adalah saya.

Saya teringat ucapan dr Hermansyur Kartowisastro, SpB-KBD dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) tempo hari, batu empedu rentan dialami orang tua dengan gaya hidup dan pola makan tidak sehat.

Dua hal yang saya curigai menjadi penyebab papa sampai menderita kondisi ini adalah gemuk dan kolesterolnya yang ampun-ampunan. Sebenarnya pola makan dan pola hidup papa tidak buruk-buruk amat. Mama juga mulai mengurangi garam dan meniadakan penyedap di semua masakannya.

Papa juga rutin bergerak setiap pagi. Apalagi setahun menjelang keberangkatannya menuju Mekkah. Cumaaaa. Ini dia masalahnya. Papa itu bisa dikatakan malas banget makan sayur. Makan buah pun tidak rutin-rutin banget dengan jumlah yang sedikit. Paling banyak dua buah. Itu yang membuat mama jarang sekali masak sayur. Lebih banyak protein.

Makanan paling ‘ekstrem’ yang mama masak adalah kepiting saus tiram dicampur enam sampai tujuh butir telur, kerang sambal tauco, udang goreng tepung, dan cumi saus padang. Yang semua itu disantap di pagi hari. Yes, ketika sarapan. Kebayang dong kepiting panas-panas disantap bersama nasi yang masih mengepul. Bawaan sesudahnya malas-malasan, maunya di kasur saja, malas mandi dan malas ke kantor. Kapan mama masak beginian lagi, saya foto biar ada bukti.

Akibat penyakit yang hadir tanpa gejala (hingga si penderita merasa nyeri pada bagian kanan atas perut yang menyebar sampai ke bahu) dan mirip ganggun mag (posisi lambung dan kandung empedu itu tetangga dekat), papa harus segera dioperasi. Biar batu tidak lagi menyumbat area sekitar.

Setelah itu, saya sudah punya rencana membantu papa mengurangi kadar lemak di tubuhnya yang mungkin ketebalannya mengalahkan muka saya ketika salah kostum di sebuah acara yang dihadiri Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan, dan Menteri Sosial.

Rasa nyeri yang timbul selama papa menderita penyakit itu akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi lemak. Menurut dr Hermansyur, lemak dapat merangsang kantong empedu berkontraksi, memaksa empedu yang tersimpan masuk ke dalam usus duabelas jari.

Ayo kurangi kadar lemaknya, Pa!

Advertisements