Category Archives: Melancong

Bikin Keramik di Rumah F Widayanto

Rupanya Depok menyimpan satu tempat liburan edukatif yang bisa kita kunjungi bersama si Kecil, adik, sepupu, keponakan, atau teman-teman satu geng. Tempat ini bernama Rumah Keramik F Widayanto.

Pekarangan sangat luas yang ditanami beraneka macam tumbuhan, beralaskan rumput, pepohononan rindang menambah kesan adem, sejuk dan teduh, belum lagi ada kamar yang bisa disewa jika mau, pengunjung dibuat tak percaya kalau sedang berada di Depok. Kota yang macetnya hampir sama seperti di Kebon Jeruk.

Meski namanya sama-sama berawalan ‘W’, tapi ini bukan Pak Widayanto. Ini Wayan. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Lima tahun tinggal jauh dari orangtua demi dapat gelar sarjana ilmu komputer (yang ternyata hanya dipakai selama dua tahun) di sana, tak pernah dengar satu orang pun ngomong kalau Depok punya tempat untuk rekreasi seayik Rumah Keramik F Widayanto ini.

Zaman itu, tempat piknik yang paling sering saya datangi bersama teman-teman kampus atau kosan, kalau nggak ke Dufan, Ancol, Kota Tua, ya mentok-mentok ke Kebon Raya Bogor. Paling jauh ke Curug, sekalian touring motor. Dufan itu pun cuma sekali. Pas lagi diskon 70 persen kalau tercatat sebagai nasabah bank anu-anu dan menunjukkan kartu mahasiswa. Harga normal mahal boooo! Gaji bulanan asisten dosen laboratorium di kampus cuma cukup buat biaya nge-print dan mainan Friendster di warnet.

Tapi aku cintanya hanya sama dia, Pak. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Mungkin kalau OT Group tidak mengadakan piknik seru sehari di sini, sekitar empat atau lima bulan lalu, sampai hari ini saya tidak pernah tahu ada tempat sebagus ini.

Selain tukar pikiran, menyampaikan segala uneg-uneg yang terkadang bikin eneg, bermain games seru di mana tim saya pemenangnya, rujakan sambil cemal-cemil wafer Tango dan produk lain, lalu menelusuri satu demi satu ruangan yang ada, kami juga belajar membuat keramik.

Maunya ala-ala film Ghost, dipeluk dari belakang sama mas-mas yang setidaknya punya badan dan muka mirip mendiang pakde Patrick Swayze. Namun semesta tak mendukung, alat rusak dan mas-masnya ndak ada yang tsakep. 😦

Bikin keramik tak semudah yang saya bayangkan. Tidak sekedar masukin tanah liat ke atas cetakan, tekan dengan jari, lalu jadi sesuai bentuk yang diinginkan. No, no, no!

Mas Instruktur yang sangat baik. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Kalau jenis tanah liatnya tidak sesuai, lalu tekanan dari jarinya kurang kuat, jangan harap keramik itu jadi. Beruntung, ada instruktur profesional yang mau mengajarkan teknik-teknik bikin keramik yang benar, dan memberikan pengetahuan lebih mendalam tentang dunia keramik itu sendiri.

Mereka juga menjelaskan asal tanah lempung atau tanah liat apa yang sebaiknya dipakai untuk membuat keramik, proses cutting menggunakan benang, proses pewarnaan, dan pembakaran.

Intinya, proses sampai keramik yang kita buat itu benar-benar jadi tidak sebentar. Menurut kita sudah oke, belum tentu mereka mengatakan hal serupa. Kalau jelek, harus dirapikan terlebih dahulu sebelum dibakar lalu diwarnai. Kurang lebih dua minggu proses pengerjaannya. Tunggu saja nanti dikirim.

Tampang yang punya tangan sih metal tapi bikin keramiknya bebek. (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Cincin boleh akik, dua pula, tapi bikin keramiknya inisial nama sendiri. sigh. (Rumah Kerami F Widayanto/ADIITOO.com)

Tiga keramik kecil yang ada di depan tangan si pemahat itu punya saya (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Ngomongin soal tanah liat lalu dibikin jadi keramik, tentu tidak bisa lepas dari kotor-kotoran. Kondisi yang paling sering dihindari orangtua. Sejumlah pakar mengimbau agar kita sebagai orangtua atau orang yang dituakan, jangan melarang seorang anak untuk kotor-kotoran. Apalagi kalau kotor-kotorannya di kondisi seperti ini.

Sekadar informasi saja. Membiarkan anak bermain kotor, maksudnya main tanah, lari-larian, atau bermain apa saja yang membuat tubuh dan bajunya jadi kotor, sama saja melatih mereka peka terhadap lingkungan sekitar. Terlalu higienis juga tidak bagus keleus.

Apalagi kalau kotor-kotorannya karena bikin keramik. Kita telah membantu mereka mengembangkan kemampuan motorik, daya imajinasi mereka, dan buat mereka jadi lebih pintar. Terpenting adalah mereka dapat bersosialisasi dengan teman-teman dan lingkungannya.

Belum bisa bikin anak, bikin keramik saja dulu (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

Catnya bagus-bagus (Rumah Kemarik F Widayanto/ADIITOO.com)

Ini keramiknya siapa, kok bagus? (Rumah Keramik F Widayanto/ADIITOO.com)

 

Namanya juga rumah keramik, selain ada tempat untuk belajar bikin keramik, ada juga tempat khusus menyimpan semua hasil karya dari F Widayanto itu sendiri. Yang punya hobi mengoleksi keramik, kurang afdol saja kalau tidak berbelanja keramik-keramik lucu nan artistik di sini. Semuanya ada. Untuk penggunaan sehari-hari juga ada. Bentuk yang beragam dan sudah tentu terbuat dari tanah liat berkualitas wahid.

Dari sekian banyak hasil tangan Pak Widayanto

Drupadi dan teman-temannya ini juga hasil tangannya Pak Widayanto

Kata si mas instruktur, tanah liat yang dipakai sang kreator berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, dipanaskan di suhu yang sangat panas, sekitar 1.000 derajat celcius.

Kalau merasa semua harga keramik di sini masih mahal, tunggu dulu, ada yang namanya promo cuci gudang akhir tahun. Semua harga turun sampai 40 persen.

Yuk, piknik sambil belajar di Rumah Keramik F Widayanto ini.

RUMAH MODEL KERAMIK & WISATA KERAMIK

JL. CURUG AGUNG NO. 1 TANAH BARU BEJI DEPOK 16428
TELP (021) 775 7685, 775 7686. FAX (021) 7757686

Advertisements

Semalam di Kota Palembang, Kuliner Saja

Meski kabut asap tidak sepekat hari-hari lain, kualitas udara kota Palembang yang buruk terasa sekali begitu rombongan keluar pintu Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II pukul 09:30 pagi. Sumok kali, kata orang Sumatera. Beruntung di antara kami tidak ada yang punya riwayat asma.

Nasib, pertama kali ke Palembang situasi kota terbesar nomor dua di Sumatera itu malah tidak memungkinkan saya mengunjungi sejumlah tempat. Dinas dua hari satu malam, Jumat hingga Sabtu kemarin, diisi dengan kulineran saja. Isi perut dari satu tempat makan ke tempat makan yang lain.

Langit kota Palembang tertutup kabut asap yang sangat tebal. Dari jarak jauh, Jembatan Ampera seperti hilang.

Situasi seperti itu bikin kami bingung, waktu ditanya pak supir, mau ke mana? Mau ke penginapan, baru check-in pukul 02:00 siang. Mau ke Jembatan Ampera, jauh dan lagipula ketutupan asap. Bahkan cenderung samar. Semakin bingung karena ada yang harus Jumatan. Yang penting ke kota dulu, lalu mampir ke kedai es kacang Mamat di Lapangan Hatta, saran saya. Namun, pak supir malah membawa kami ke pempek VICO dengan alasan di tempat itu bisa ngobrol, nonton teve, cocok buat menunggu waktu sholat Jumat.

…da aku mah bisa apa atuh, bukan orang sana. Manggut wae!

Karena dua hari itu kebanyakan makan ini itu ketimbang mampir ke sana ke mari, inilah tempat makan di Palembang rekomendasi teman-teman yang kami kunjungi;

1. Pempek VICO

Niat awal pengen ke Lapangan Hatta, nongkrong-nongkrong cantik menikmati segelas es kacang Mamat yang tersohor itu. Sebagai tamu yang baik dan percaya akan kualitas lidah masyarakat setempat, pasrah saja dibawa ke pempek VICO.

Tempat makan yang terletak persis di seberang Palembang Indah Mall (PIM) ini ramai sekali. Masih pagi saja sudah ramai seperti itu, apalagi di sore hari? Tidak bisa dibayangkan. hanya bisa membayangkan sosok Mas VICO.

Pelayan menghampiri kami lalu menyerahkan selembar kertas berisi menu. Belum sempat melihat apa saja makanan dan minuman yang ada di pempek VICO, kami sudah tahu harus pesan apa; tiga es kacang marah, satu jus avokad, dan dua porsi pempek berisi pempek telor, lenjer, adaan, keriting, pistel, tahu, dan pempek kulit berukuran kecil.

Pempek beraneka jenis berukuran kecil disuguhkan jika mampir ke Pempek VICO, depan Palembang Indah Mall (PIM)

 

Memang paling enak kalau makan pempek di Pempek VICO minumnya es kacang merah ini

 

Saya tidak lupa kok kalau lagi diet. Tapi, siapa coba yang bisa menolak kenikmatan seporsi pempek langsung dari asalnya? Disajikan dalam keadaan baru selesai digoreng, cuko yang hitam pekat, ditemani segelas es kacang merah yang ada susu kental manisnya.

Rasa jelas berbeda dari pempek yang ada di Jakarta. Apalagi yang dijual abang-abang di depan SD. Jauh banget. Kayak dari Ciputat ke Bekasi, karena dari Jakarta ke Palembang cuma sejam.

Pempek VICO
Jl. Letkol Iskandar No. 541-542
Depan Palembang Indah Mall
Telp. 0711- 316066

2. Brengkes di Rumah Makan Pondok Kelapa

Dari VICO kami menuju masjid terlebih dahulu untuk Jumatan, sebelum ke Benteng Kuto Besak melihat Jempatan Ampera yang tertutup kabut asap, lalu check-in, dan pilih tidur siang karena capai sekali. Begitu kena pendingin ruangan, malah malas keluar kamar.

Barulah malam harinya rombongan dibawa ke Rumah Makan Pondok Kelapa, yang hanya selemparan kolor dari tempat kami menginap di Hotel Amaris.

Makanan yang tersaji malam itu standar, seperti makan malam pada umumnya di restoran mana saja. Ayam saus tiram, udang goreng tepung, sayur kangkung, ikan bakar, dan sambal mangga.

Nama campuran ikan dan tempoyak durian yang mirip pepes ini adalah Brengkes, bukan brengsek.

Pas ngobrol sama jurnalis setempat yang ikut makan malam bersabarulah kami mengenai makanan khas Palembang, salah satu dari mereka bilang kalau di tempat makan itu menyediakan brengkes juga.

Brengkes mirip dengan pepes ikan. Beda bumbu saja. Kalau bumbu pepes ikan ketumbar, kemiri, bawang putih, bawang merah tumbuk, sedangkan brengkes tempoyak durian. Rasanya endeus banget! Lebih enak dari menu yang lain. Ludes dalam kurun waktu tak sampai tiga menit.

Hati-hati kepleset lidah saat memesan brengkes ini. Nanti yang keucap malah brengsek.

Pondok Kelapo
Jl. Demang Lebar Daun No. 184, Palembang Sumatera Selatan, 30151.
Telp. 0711- 412011

3. Martabak HAR Simpang Sekip

Martabak HAR yang sekilas mirip roti canai khas Aceh atau India ini bisa dinikmati di Simpang Sekip, Palembang

Di samping hotel kami ada juga resto martabak HAR tapi sepi banget. Bang Goiq merekomendasikan martabak HAR yang di Simpang Sekip. Dia juga bilang kalau resto martabak HAR samping hotel kami itu abal-abal, yang asli cuma Simpang Sekip.

Dari Rumah Makan Pondok Kelapa, kami meluncur ke resto martabak HAR yang direkomendasikan itu. Suasanya beda sekali sama yang di samping hotel. Di sini ramai sekali. Kami datang belum malam banget saja sebagian menu sudah habis.

Hae, kak!

Sudah pernah makan martabak HAR sebelumnya tapi yang ini kuahnya enak banget. Saya memang suka yang kental-kental. Eh, ini ngomongin makanan, lho. Rekomendasi Bang Goiq tidak salah. Jadi, jika ada yang merekomendasikan tempat lain, berarti itu simpang siur.

Di tempat ini saya bertemu member Kopdar Jakarta, kak Oelpha. Kopdar di Jakarta saja susah, malah ketemu di sini. Eh, kak Ira alias itik kecil malah sedang di Jakarta.

Abdullah HAR Martabak & Resto
Jalan Jenderal Sudirman Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia.

4. Mie Celor 26 Ilir milik H. M. Syafei Z

Sama seperti mie lendir yang ada di Riau, mie celor khas Palembang memang paling enak disantap di pagi hari. Tampilan kedua mie ini sama persis, mie yang panjang, telur, dan kuah kentel seperti-namanya-yang-tidak-usah-disebut-lagi.

Saat makan mie celor jangan ngebayangin sesuatu.

Kalau orang bule paling menganggap ini spageti karbonara yang disausin. Porsi yang tersaji terlihat sedikit, tapi ternyata buanyak aja. Kenyang gila. Karena masih pagi, mie celor itu tidak saya campur dengan sambal, yang saya duga enaknya bakal nampol. Jangan lupa celupin kerupuk ikan.

Tak cuma bang Goiq, rekan-rekan jurnalis di sana juga merekomendasikan Mie Celor 26 Ilir milik HM Syafei Z ini. Lagi-lagi tidak salah, mie celor ini rasanya enak banget. Pengen lagi!

Mie Celor 26 Ilir milik HM Syafei Z
Jl. KH. Ahmad Dahlan Nomor 2, Palembang, Sumatera Selatan, 30135, Indonesia

5. Baung Patin RM Pindang Simpang Bandara

 

Pindang ikan baung di RM Pindang Simpang Bandara. Kuah yang gurih, pedas, dan menyegarkan, poin untuk pindang ikan baung ini 9,5 dari 10

 

Dari sekian banyak makanan khas Palembang yang harus dicoba, cuma pindang yang belum kesampaian sampai beberapa jam sebelum pulang ke Jakarta.

Supir kami memberitahu kalau di simpang bandara ada rumah makan yang jual pindang enak. Meluncurlah kami ke sana, pesan pindang ikan baung.

Saya baru tahu pindang tak selalu harus ikan patin. Dan saya juga baru tahu ada yang namanya ikan baung. Waktu makan di RM Pindang Simpang Bandara, pelayannya juga menyajikan lalapan bersama sambal mangga yang pedasnya nanggung. Rasa pindang ikan baung ini enak, pedas, gurih, dan aroma rempah-rempahnya tercium sekali. Saya nambah cuma dua kali, itu pun nasi saja.

RM Pindang Simpang Bandara
Jl Tanjung Siapi-Api Nomor.1
Palembang, Sumatera Selatan

Menyantap makanan khas Palembang sudah, melintas di atas Jembatan Ampera juga sudah, sudah bisa dibilang sah pernah ke Palembang, belum? Kalau kalian punya rekomendasi tempat makan di Palembang beda dari yang saya sebut di atas, boleh lho dishare!

Liburan Dadakan ke Malang dan Bromo

Kota Malang menjadi saksi kami liburan bareng berempat. Sedangkan Bromo menjadi saksi betapa kuat fisik dua orang perempuan yang turun ke lapangan mencari berita sejak kemunculan film Pengantin Remadja. Menelusuri jalan menanjak dan berpasir tanpa menunggangi kuda yang bisa mereka sewa jika mau, lalu berhasil menaiki satu per satu anak tangga hingga ke puncak gunung adalah bukti tua hanya luarnya saja.

Yang bikin saya tambah takjub, salah satu dari dua orang perempuan itu ada yang sakit. Rupanya, liburan kemarin membuat dia lupa akan penyakitnya.

Siapa sangka kalau kami semua bisa naik ke atas puncak itu. Apalagi emak-emak itu usianya tak lagi muda

Liburan dadakan empat hari empat malam di pertengahan Mei 2015 bermula dari kegelisahan Mbak Ana yang harus memenuhi undangan simposium salah satu produsen obat di Malang seorang diri.  “Coba kalau kalian diundang juga, kita bisa extend ke Bromo. Gw lihat di Twitter, ada tempat sewa jeep murah. Seru deh pasti kalau Warkesnyir ikut semua, bisa kita sewa satu mobil.” kata Beliau ke saya di dalam taksi menuju ke kantor masing-masing usai menghadiri seminar kesehatan.

Siapa coba yang nggak mau liburan? Apalagi liburan bareng sahabat. Namun,  berhubung sebagian Warkesnyir alias wartawan kesehatan (doyan) nyinyir tidak lagi di desk Kesehatan, dan kebanyakan adalah jurnalis media online, tentu waktu liburnya berbeda.

Jika jurnalis cetak macam Mbak Ana, Rendra, Mbak Lilis, Nida, dan Qalbi bisa leyeh-leyeh di tanggal marah, saya, Uno, Helmi, Fitri justru merasakan hal sebaliknya. Ketika mereka leyeh-leyeh di rumah, tidak mandi seharian, dan marathon DVD Korea, kami malah berkutat dengan kerjaan.

Mbak Ana terus mengajak yang lain untuk liburan di Malang dan Bromo. Baginya, tak ada usaha yang sia-sia. Ajak saja dulu, bakal ada yang mau ikut atau tidak itu urusan belakang. Dari delapan anggota yang tersisa, hanya dua orang yang menjawab mau. Sisanya, menolak dengan alasannya masing-masing. Aku piket, istriku nggak bisa ditinggal, sudah ada janji sama yang lain, dan ada yang sudah keburu bikin janji wawancara di hari Sabtu. Sedangkan saya masih labil. “Gw mau, deh. Sepertinya gw bisa izin, mengingat kemarin-kemarin gw muluk yang piket,” kata Saya sok yakin.

Rupanya, bos memberi izin. Kali itu giliran Dikta yang piket. Dikta, personel termuda di tim desk Kesehatan hanya bisa pasrah menerima surat cuti dari saya. Namun ada kendala lain, si Kawan harus diberitahu mengenai rencana liburan mendadak ini.

“Boleh, asal kalau di-WhatsApp atau ditelepon tolong direspons,” jawab si Kawan singkat sambil menyantap ayam goreng di warung tenda favoritnya. Oke, berarti semua izin sudah didapat. Bahkan izin orangtua sudah saya kantongi sejak lama.

Setelah jelas siapa saja yang pergi, masalah baru muncul. Drama sebenarnya baru saja di-mu-lai. H-7 keberangkatan belum tahu juga bakal naik apa ke Malang, bakal bermalam di mana, jauh tidak dari kantor tempat penyewaan jeep ke Bromo, dan harus bawa apa saja, habis dari Bromo bakal ke mana lagi. Doh! Kondisi itu terjadi sampai H-1 keberangkatan.

  1. Naik bus lebih dari 17 jam

Sejak awal pesawat kami coret dari daftar moda transportasi yang akan kami pergunakan. Tidak lain karena harganya yang kebangetan. Maskapai kelas C saja harga sekali jalan tembus Rp 950.000 apalagi maskapai kelas A? Coret! Satu-satunya moda transportasi yang harga tiketnya sesuai kantong kami adalah kereta api. Kami hanya bisa gigit jari pas tahu semua tiket kereta api ludes terjual.

“Kita naik bus aja. Pas berempat. Dua-dua duduknya,” saran Rendra.

“Bus? Ogah. Sempit. Kaki gw nggak leluasa bergerak,” jawab saya menolak.

“Kalian cari bus yang kelas eksekutif. Harganya juga nggak mahal. Paling sekitar Rp 400 ribuan. Yang tempat kapasitasnya Cuma 25 orang. Luas,” kata Mbak Ana.

Bus Malino Putra ini luasnya bukan main. Buat individu yang besarnya seperti saya, bus ini rekomend banget

Setelah membaca banyak review para pengguna bus, pilihan jatuh ke Malino Putra. Dari 100 komentar yang ada, hampir sembilan puluh lima persen berpendapat bus ini yang paling top. “Ibu Ane itu hampir dua minggu sekali melakukan perjalanan Malang-Jakarta-Malang menggunakan bus Malino Putra. Kata dia supir bus ini bawanya sangat hati-hati. Dapat makan pula. Busnya juga nyaman,” tulis salah satu akun yang membuat kami, terutama saya, semakin yakin menggunakan bus ini.

Melakukan perjalanan jauh menggunakan bus adalah pengalaman pertama saya. Dulu pernah naik bus dari Medan ke Aceh, tapi masih kecil banget. Jadi lupa sensasinya.

Petugas loket sudah memberitahu kalau perjalanan menggunakan bus Malino Putra memakan waktu selama 19 jam. Itu pun kalau di beberapa kota tidak macet. Dengan bus senyaman itu, tentu bukan sebuah masalah besar buat saya. Kalau ngantuk ya tinggal tidur lagi. Kalau mau ngobrol ada temannya. Kalau capai melakukan semuanya, saya pilih baca e-book yang dibeli menggunakan pulsa Indosat. Beres!

Bergerak dari terminal Rawamangun sekitar Rabu pukul 03:30 sore, tiba di terminal kota Malang pada Kamis pukul 12:30 siang.

“Kalau naik pesawat, kita sudah sampai di Amerika kali, ya,” kata saya ke mereka.

  1. Penginapan

Sama seperti kereta api dan pesawat, hampir seluruh penginapan di kota Malang penuh untuk dua hari itu. Saya teleponin satu per satu, jawabannya sama semua,”Maaf, bu, untuk hari itu sudah penuh semua. Adanya tersisa satu kamar yang VVIP,” kata para petugas hotel.

Masing-masing dari kami memberi referensi hotel dan hostel mana saja yang sekiranya cocok untuk diinapi selama tiga hari. Hasilnya nihil. Beberapa teman, bahkan nara sumberku, dengan senang hati menampung kami selama di sana. Saya pribadi tidak masalah sekali pun harus tidur di atas sofa ruang tamu. Cuma saya `kan liburan berempat, bareng sama emak-emak juga. Dari pada rempong, saya ucapkan terimakasih untuk tawarannya, dan melanjutkan pencarian.

Perkarangan Enny’s Guest House dari lantai atas kamar kami

“Eh, ini penginapanya bagus deh. Kata teman-teman gw yang pernah menginap di sana, tempatnya enak gitu,” kata Rendra sambil memperlihatkan salah satu situs berisi penginapan di Malang paling rekomendasi.

Rendra kami desak segera menghubungi penginapan tersebut. Berdoa saja, siapa tahu masih ada kamar yang kosong. “Yang kosong untuk hari (Kamis) itu Cuma satu. Tapi hari Jumatnya ada satu tamu yang bakal kelar. Nantinya bisa pindah kalau memang mau pindah,” kata karyawan penginapan tersebut.

Tanpa pikir panjang, Rendra pesan kamar yang kosong itu, dan langsung mengirim sejumlah uang sebagai tanda jadi.

Masalah penginapan kelar, karena kami akan bermalam di Enny’s Guest House. Setelah tanya ke beberapa teman, letak EGH sangat strategis. Dekat juga ke kantor tempat penyewaan jeep.

  1. Mengujungi Bromo

Jeep yang kami sewa tiba tepat waktu di halaman depan Enny’s Guest House (EGH) pukul 11:00 malam. Sebelum beranjak meninggalkan kota Malang menuju Bromo, kami terlebih dahulu dibawa ke kantor mereka. Diberitahu besaran suhu di sana, titik kumpul di mana, dan bakal ke mana lagi setelah melihat matahari terbit.

Malam itu suhu kota yang dikelilingi sejumlah gunung seperti Arjuno, Semeru, Kawi dan Panderman, serta Kelud mencapai dua puluh dua derajat celcius. Waktu yang tepat menyantap semangkuk Indomie rebus tanpa rasa berdosa, bukan? Dan cuaca seperti itu bisa menghasilkan satu orang anak sepuluh sampai sebelas bulan mendatang.

Sepanjang perjalanan menuju Bromo, supir jeep kami bernama Patrick, memberitahu spot paling asyik melihat matahari terbit dari puncak Gunung Penanjakan. Mengingat hari kejepit Nasional, dia memastikan bakal banyak wisatawan yang melakukan hal serupa. Maka itu perjalanan dilakukan sekitar pukul 12:00 malam. Biar tiba di pos 2 sekitar pukul 03:30 dini hari dan jeep dapat parkir di tempat yang tak terlalu jauh. Sehingga memudahkan kami mencapai lokasi yang dimaksud.

Patrick menyarankan supaya kami jangan tidur. Nikmati saja perjalanan menuju Bromo karena bakal banyak menemukan hal-hal menarik yang mungkin tidak pernah kami temui selama di Jakarta. Salah satu ucapan Patrick yang bikin saya penasaran adalah begitu di dataran atas menuju Bromo, kami dapat melihat bintang-bintang bertebaran di langit. “Kakak pasti takjub pas melihatnya,” kata Patrick.

Inginnya, sih, begitu tapi keburu mata ini kriyep-kriyep. Melihat ke belakang, Mbak Lilis dan anaknya sudah pulas. Rendra setengah tidur. Cuma Mbak Ana yang masih terjaga. Berhubung saya tidak bisa tidur, Mbak Ana saya ajak saja bercanda. Sesekali Patrick kami goda. Tapi kayaknya tidak mempan.

“Nah, ini saya bilang tadi. Banyak `kan bintangnya? Pasti kakak jarang melihat bintang sebanyak ini di Jakarta,” kata Patrick yang terlihat sumringah dan tersenyum membuktikan omongannya. Brondong ini akhirnya tersenyum. Saya senang melihatnya.

“Banyak banget bintangnyaaaaaa,” kata saya sambil mengeluarkan kepala untuk melihat semua bintang-bintang itu.

Setelah melewati jalan yang bikin ingat sama Tuhan, mendadak kangen sama orangtua dan pacar, plus mendadak ingat punya hutang sama siapa saja, sampailah kami di pos 2. Bak lantai yang ketumpahan gula, puluhan motor langsung menghampiri jeep kami dan menawarkan jasa mengantar sampai ke atas. Catat, hanya sampai depan pos masing-masing tidak sampai spot yang diinginkan. Makanya, selagi kaki masih kuat, mending jalan tidak usah pakai ojeg.

Selepas melihat matahari terbit di Bromo.

Jatuh cinta banget sama pemandangan seperti ini

Satu mimpi terwujud. Selanjutnya, bakal ke mana kita?

Selain itu, harga yang mereka tawarkan tidak masuk akal. Persis seperti ojeg-ojeg pangkalan depan kantor saya. Yang langsung tembak harga padahal belum tentu tahu letak persis alamat yang dituju. Sad!

Tidak hanya dimanjakan dengan keindahan matahari yang secara perlahan menampakkan wujud, dari puncak Gunung Pananjakan pos 2 kami juga bisa melihat dengan jelas keindahan Gunung Bromo, Semeru, dan puncak Gunung Tengger yang tertutup kabut cukup tebal.

Buat yang pergi sendiri, bakal sering elus dada. Waktu itu, sepasang kekasih warga negara asing berdiri di depan saya dan berciuman sambil berfoto. Mupeng, njir! Sebentar-bentar ciuman, pelukan, melihat ke arah Gunung Bromo, senyum-senyum, lalu ciuman lagi. Ciumannya kurang bringas, terlalu standar, dan sadar kamera. Cowoknya terlihat binal dan tidak suka basa-basi tapi ceweknya malu-malu-nanggung-kalau-udahan.

Buat kalian yang mungkin tidak bawa pakaian banyak untuk lapisan, tenang, banyak yang jual keperluan tersebut di puncak Gunung Pananjakan. Sarung tangan, kupluk, kaos kaki tebal, sampai jaket tebal a la kadarnya pun dijual sama mereka. Paling penting adalah perut jangan kosong. Sebelum berangkat ke Bromo sebaiknya makan terlebih dahulu. Tidak perlu memberatkan tas dengan isi makanan, karena banyak penjual makanan juga di sana.

 

 

Semalam di Balikpapan

“Liburan ke Balikpapan kok cuma sehari? Kamu baru akan merasakan berada di Balikpapan ketika tiga hari di sana. Kalau cuma sehari, apa yang bisa kamu lakukan?”

… Biarin, kapan lagi bisa ke sana kalau bukan sekarang? Ini `kan mumpung dibayarin. Masalah menikmati atau tidaknya selama di sana karena waktu yang singkat, itu urusan belakangan. Ya, anaknya ngeyel dan nggak mau rugi, sih :p

Atas ajakan seorang kakak, Senin dan Selasa kemarin saya habiskan di Balikpapan, kota yang kata orang bersih, indah, aman, dan nyaman. Apakah demikian adanya? Untuk kali ini, 99 persen saya harus menyetujuinya. Bow, dari langit aja keindahan kota ini sudah terlihat banget, dan itu berlanjut ketika kaki menginjak tanah di Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman atau biasa disebut dengan Bandar Udara Sepingan Balikpapan.

Memang, sih, mengetahui waktu kedatangan di Balikpapan yang cukup siang, sudah  dipastikan tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan. Tapi, tak apa-apa.. Toh, beberapa jam di sana saja sudah dapat menikmati keindahan dan tatanan kota yang begitu rapi.

Namun, bukan berarti tak ada hal yang dapat dikeluhkan dari Kota Balikpapan ini, lho. Pertama macet dan yang kedua kurangnya kesadaran sejumlah individu untuk tidak buang sampah sembarangan di sungai yang airnya mengelilingi Hutan Mangrove di sana.

Sama halnya seperti Jakarta, di beberapa titik di Balikpapan kemacetan kerap terjadi. Di jalanan Jakarta yang masih tergolong lebih besar dari Balikpapan saja kita suka BT begitu tahu harus berhadapan dengan macet, apalagi di Balikpapan yang jalanannya tak begitu lebar.

Biasanya, sejumlah hal akan saya lakukan ketika berada di mobil sendiri atau taksi yang sedang kejebak macet. Mulai dari tidur-tidur ayam, dengerin musik di gadget, ngobrol sama orang yang menyetirnya, mainan media sosial, atau nge-Youtube.

Paling ngeselin itu lagi nge-Youtube tapi jaringannya nggak stabil. Lagi nonton satu video yang seru banget, eh jaringannya nggak stabil, ini sih ngeselin banget. Buat pembaca blog ini yang berada di sana, tenang, saya ada solusinya.

Baru-baru ini Indosat melakukan drive test atau uji jaringan terbaru Indosat 42 Mbps di kota Balikpapan. Kegiatan modernisasi jaringan ini dilakukan di 23 kota di Indonesia, dan Balikpapan salah satu di antaranya.

Kepala Divisi Optimalisasi Jaringan Indosat, Joko Riswadi yang ikut dalam rombongan itu mengatakan bahwa jaringan terbaru ini merupakan hasil modernisasi jaringan perusahaan secara nasional dengan menerapkan teknologi terbaru, yaitu; U900 dan DC-HSPA+ yang mampu memberikan kecepatan maksimal dengan kualitas sinyal lebih baik di dalam dan di luar ruangan.

Modernisasi, jelas Joko, base transceiver stasion (BTS) yang diperbaharui antara lain dengan teknologi terbaru, dan mengurangi penggunaan listrik namun mampu memberikan jangkauan lebih luas dan kuat.

Siang itu Joko bersama rombongan membuktikannya. Menggunakan bus yang telah dilengkapi dengan televisi dan internet (tentunya), kata-kata itu pun dibuktikan. Bus bergerak menuju lokasi-lokasi rawan macet. Sepanjang perjalanan itu, Joko mengakses situs Youtube dan memutar satu video berkualitas HD. Hasilnya, kecepatan maksimal dari jaringan terbaru 42 Mbps itu adalah 20,5 Mbps.

Uji jaringan ini dilakukan dengan melakukan download dan upload file ke Youtube dengan kecepatan rata-rata mencapai 5,9 Mbps yang berjalan mulus tanpa buffering. Sayang, video yang diputar adalah film Transformer, coba Fifty Shades of Grey pasti lebih seru :p

Dalam kesempatan itu juga, Joko menjajal fitur baru berupa HD Voice. Dengan adanya fitur ini, pengguna Indosat yang berada di seluruh Indonesia, khususnya di Balikpapan, dapat merasakan kejernihan suara ketika menelepon. Menariknya, fitur HD Voice yang mereka hadirkan ini satu-satunya fitur suara jernih yang mengantongi sertifikat dari asosiasi GSMA di Indonesia. Ini merka dapatkan akhir Februari 2015 kemarin.

Oia, meski macet, kendaraannya tertib dan jarang sekali saya mendengar sahutan suara klakson.

Selama uji jaringan ini, mata saya tidak bisa fokus pada satu titi. Di satu sisi harus melihat ke depan di mana uji coba dilakukan, di satu sisi lagi mata ini tak bisa lepas memandangi apa yang tersaji di luar jendela.

Kurang lebih satu jam saya dan teman-teman media dibawa mengelilingi kota Balikpapan. Sesudahnya, kami dibawa untuk mengelilingi hutan mangrove yang ada di sana. Tapi, itu akan saya ceritakan di postingan berikutnya bersamaan dengan nikmatnya makan kepiting di Balikpapan :p

Mimpi Itu Masih Terus Ada

Penghujung Januari dan awal Februari kemarin merupakan waktu terberat bagi saya untuk memantapkan hati; kali ini saya siap. Kali ini harus jadi. Kalau nggak jadi karena saya tidak siap, mau kapan siapnya?

Bahkan, untuk meyakinkan perasaan ini, seorang teman dekat saya ganggu jadwal tidur malamnya untuk berbagi kondisi ini. Dengan harapan, semangat yang dia berikan mampu meyakinkan untuk saya melangkah pasti tanpa memperdulikan apa yang pernah terjadi tahun kemarin.

Sebagai modus untuk mendengarkan suaranya, sebelum berjauhan selama beberapa hari.

“In Sha Allah kali ini beneran berangkat. Nggak bakal kejadian lagi peristiwa tempo hari. Sudah, kalau kamu nggak yakin, ntar kesempatan itu ditarik lagi lho sama Tuhan,” kata dia.

Sampai pada Jumat (6/2/2015) dini hari, saya tidak lagi meneleponnya, hanya mengirimkan pesan singkat yang dia balas dengan emoticon 🙂 .

“Aku siap! Doakan aku..”

Matahari mulai terlihat di Qatar sekitar pukul 06:30 pagi.

Suhu di Qatar, Doha, sewaktu tiba di Hamad International Airport sekitar 19 derajat Celcius. Udara dingin ditambah air yang nggak kalah dinginnya saat berwudhu, membuat tubuh yang masih dipenuhi lemak dengan kadar yang cukup banyak menggigil kedinginan. Alhasil jaket dan perintilan yang sekiranya mampu memberikan kehangatan menutupi tubuh bongsor ini.

Matahari memang belum muncul, tapi aktivitas di bandar udara yang dulu dikenal dengan Bandara Internasional New Doha (NDIA) cukup padat. Namun kepadatan yang terjadi sangat membantu saya menghilangkan jetlag. Pagi itu, banyak pemandangan ‘memukau’ yang benar-benar memanjakan mata ini.

Berhubung selama di udara mata ini tidak dapat dipejamkan, begitu tiba di Qatar, maunya cepat-cepat tukar pesawat agar bisa tidur walaupun sebentar.

Selain posisi kursi yang sudah ditukar berkali-kali oleh rombongan yang merasa kurang nyaman kalau tidak bersebelahan dengan keluarganya, plus pilihan film bagus yang cukup banyak, faktor lain yang membuat saya sulit melakukan itu karena terlalu dalam memikirkan segala omongan orang tentang kondisi yang akan terjadi saat kita umrah.

Misalnya seperti ini;

“Coba dipikir-pikir, selama hidup pernah melakukan hal apa yang sekiranya bakal `dibalas` di sana?.”

“Katanya, ya, kalau di sini kita suka jahilin orang, di sana bakal dijahilin balik sama orang Arab. Ih, orang Arab, ‘kan gede-gede. Nggak kebayang kalau dijahilin sama mereka.”

“Elo pernah bikin ibu elo nangis? Semoga enggak, ya. Soalnya, kalau sampai itu terjadi, elo bakal dibikin nangis sejadi-jadinya di sana. Serem, geila!.”

atau yang paling epic, yang paling bikin saya sulit melupakan omongan itu adalah “DI SANA JUGA BANYAK KASUS PERKOSAAN YANG MENIMPA PRIA DAN DILAKUKAN OLEH PRIA JUGA.”. Mampus nggak lo?

Padahal, selama teleponan itu si teman berapa kali menasehati supaya saya jangan diambil pusing dengan perkataan itu. Kalau pergi karena niat ibadah, In Sha Allah semua yang ditakutkan itu tidak akan terjadi sama sekali.

Madinah dari atas

Meski perjalanan umrah pertama ini tanpa ditemani papa, mama, dan adik, tapi terasa spesial karena dilakukan menjelang pergantian umur memasuki usia yang lebih matang.

Hari demi hari saya lalui dengan penuh suka cita di kota Madinah, kota yang bersuhu 20 derajat Celcius kala itu dan minim sekali pepohonan.

Selama tiga hari di Madinah, ibadah yang dilakukan sama seperti yang dilakukan di sini. Bedanya, lebih on-time, lebih banyak ibadah sunnah, dan sejumlah lainnya yang dapat dilakukan. Termasuk perjalanan singkat mengunjungi beberapa tempat bersejarah di sana.

Memasuki hari ke-4, di saat hati dan perasaan ini mulai nyaman berada di Madinah, mau tak mau saya dan rombongan harus `angkat kaki` dan bergegas menuju Makkah Al-Mukarramah untuk melaksanakan ibadah umrah.

Mekkah tak berbeda jauh dari Madinah. Minim pohon, kota yang padat, macet, dan bersuhu cukup tinggi padahal matahari sendiri cukup terik.

Hari Terakhir di Madinah

Setelah menempuh perjalanan selama enam jam berbalutkan ikhram dengan penuh kewanti-wantian, dilanjutkan dengan Tawaf, sa’i, dan pemotongan beberapa helai rambut, maka ibadah umrah selesai dilakukan.

“Selamat, Abang sudah jadi Haji kecil!,” jawab mama singkat setelah diberi kabar kalau umrah berjalan lancar. Alhamdulillah!

“Cie, botak! Berarti sudah sah. Pulang-pulang jangan berhijab, nanti aku pangling,” jawab si teman.

Laudya Chintya Bella kali, ah!

Tentunya, selama di sana banyak hikmah dan pelajaran yang dapat saya petik;

1. Berbagi itu tak harus yang besar

Di kehidupan sehari-hari, ketika kita akan berbagi apa saja dengan orang lain, hal pertama yang selalu kita pikirkan adalah tentang ukuran atau jumlah.

Misalnya, mau ngasih roti ke teman saja, kayaknya kurang afdol kalau hanya sepotek, lebih enak kalau seporsi. Karena pikiran semacam ini, tidak jarang niatan untuk berbagi berujung pada entar-aja-deh-kalau-beli-lagi-si-anu-dibeliin.

Di sana, nggak ada tuh istilahnya nggak enak kalau ngasih hanya sepotek. Kalau adanya segitu, mau gimana lagi? Yang penting `kan kebersamaan.

Si A merasakan kenikmatan makanan yang dimilikinya, kalau bisa si B sampai si Z harus merasakan kenikmatan makanan itu juga, walau tak jarang baru sampai di si E makanan itu sudah habis.

2. Sama

Apa pun jabatan kamu, ketika berada di sana jabatan itu tak akan ada artinya. Semuanya sama.

Elo akan nangis mewek ketika berada di Ka’bah, elo juga akan dorong-dorongan untuk dapat mencium Hajar Aswad, bahkan elo yang jabatannya bos sekali pun bisa jadi terlihat `kampungan` ketika akan memegang Ka’bah.

Asli, pertama kali lihat Ka’bah, saya seperti–maaf–orang desa yang nggak pernah ke kota, sekalinya ke Jakarta ngelihat Monas yang menjulang tinggi. Kalau nggak nangis, bohong. Udah ditahan untuk nggak nangis, ujung-ujungnya pipi akan basah.

Termasuk dalam hal berbagi, kamu yang jabatannya bos sekali pun, bisa saja ketika di sana akan mendapatkan kurma atau apa saja dari seseorang yang mungkin jabatannya di pekerjaan jauh di bawah kamu.

3. Ibadah nomor 1, pekerjaan nomor sekian!

Shock pertama kali lihat ada toko dari ujung ke ujung tutup ketika adzan akan berkumandang.

Apalagi saat melihat langsung seorang pemilik restoran makanan cepat saji menutup tokonya di saat adzan akan berkumandang, padahal pembeli lagi ramai-ramainya.

Saya jadi ingat perkataan ini, ‘Mau sampai kapan kita terus berkata sholat, sebentar, ya, pekerjaan ini sedikit lagi kelar? Coba, deh, segera diganti jadi pekerjaan, maaf, Adzan sudah berkumandang, saya harus sholat dulu. Toh, sholat tidak akan mengurangi rezekimu dan menghambat pekerjaanmu, justru yang akan terjadi sebaliknya.

4. Saling mengingati

Beberapa kali saya melihat ada orang yang menasehati atau mengingatkan tentang satu hal ke orang lain yang dia lakukan itu salah. Dan orang yang dinasehati atau diingatkan itu tidak marah sama sekali, dan mau menerima masukan dari orang lain.

Nggak tahu deh, ya, apakah dalam hatinya dia ngedumel `yaelah, kayak situ udah benar aja!`. Allahuwa’alam.

Misalnya waktu di Masjid Nabawi ada seorang pria Arab menegur pria asal Singapura yang berada persis di depannya, yang baru saja selesai melaksanakan sholat sunnah Tahyatul Masjid.

Menurut si Arab, posisi telapak kaki kanan si pria Singapura saat duduk dua sujud adalah salah. Kala itu posisinya tertidur, di mana kata si Arab posisi yang benar adalah tegak, karena sesuai ajaran Rasullah.

Meski kedua-duanya butuh usaha untuk dapat menjelaskan dan memahaminya karena perbedaan bahasa.

(Saya tahu arti obrolan itu dari seorang teman yang mengerti bahasa Arab)

5. Bersyukurlah yang meninggal dunia di sana

Usai sholat wajib, baik di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram, akan ada seruan atau ajakan untuk melaksanakan sholat janazah.

Subhanallah. Bayangin, deh, yang ikut sholat jenazah barangkali lebih dari 1.000 orang. Bukannya itu mimpi kita, ketika meninggal dunia banyak yang menyolatkan dan mendoakan agar diterima dan dilapangkan kuburnya?

Norak. Bisa-bisanya saya iri dengan jenazah yang disholatkan itu. Lah, kita nggak tahu bagaimana riwayatnya dia di semasa hidupnya, tapi kita mau ikut menyolatkannya.

Ya Allah, semoga ketika saya meninggal dunia kelak, banyak orang yang mendoakan saya, menyolatkan saya, dan ikut menguburkan saya sambil mengumandangkan takbir kepada-Mu. Aminnn!

6. Berpikir positif, maka akan baik-baik saja

Saya ini parnoan, jadi kepikiran terus saat diberitahu mengenai hal-hal yang (katanya) umum terjadi saat kita berada di Tanah Suci.

“Jangan ngomong dan berpikir yang macam-macam, nanti kejadian, lho!”

“nanti di sana gini-gini, lho! Hati-hati aja!”

“Baek-baek, nyasar baru tahu rasa!”

Syukur alhamdulillah semua itu tidak terjadi. Beneran! In Sha Allah, kalau kita berpikir yang baik-baik, ketakutan semacam itu akan menjauh sendirinya.

Misalnya saja ada yang takut diinjak ketika sholat di Izril Ismail, dan memilih ketika sepi saja. Saya yakin saya bisa dan akan baik-baik saja, alhamdulillah itu terjadi. Ketika sholat, ada jamaah dari negara lain yang `menjaga` saya, sehingga orang lain tidak sembarangan melangkah.

Begitu sebaliknya. Ketika yang lain sholat, lakukanlah hal yang sama.

Intinya, kalau ketakutan seperti ini menjadi penghambat bagi kamu yang ingin melaksanakan Ibadah Umrah atau Haji, plis percaya, kalau semua akan baik-baik saja. Jangan jadikan ini penghalang bagi kamu.

Kalau kamu juga takut nyasar dan sulit berkomunikasi dengan orang Arab, tenang itu tidak akan terjadi selama kamu orang Indonesia.

Kalau di sini Bahasa Inggris begitu `didewakan`, di sana Bahasa Indonesialah yang mendapatkan posisi itu.

Kamu pasti bakal ketawa geli dengar orang Arab teriak menggunakan Bahasa Indonesia;

“Indonesia… Indonesia… Mari singgah! Halal.. Halal..”

“Kalau kamu nggak punya uang riyal, bisa bayar pakai Rupiah,”

“Wanita Indonesia cantik.. Cantik.. Cantik sekali.. Mari lihat-lihat. Masuk, sini,”

By the way, salah satu dari kalimat di atas akan saya jadikan postingan sendiri di blog ini :p

Puji syukur saya panjatkan kepada-Nya dan Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW. Atas seizin-Nya, atas rezeki yang diberikan-Nya, dan atas kepercayaan-Nya, saya dapat melaksanakan ibadah umrah pada tahun ini.

Dengan tekad yang bulat, kepercayaan diri bahwa tidak akan terjadi apa-apa, dan segala doa yang sudah saya siapkan untuk dipanjatkan di sana, membuat saya dengan tenang melangkahkan kaki di Madinah dan Mekkah.

Bermodalkan koper berukuran sedang, tas jinjing berukuran serupa, dan tas selempang, semua keperluan tanpa ada yang kurang secuil pun menjadi faktor kecil yang membuat seluruh rangkaian ibadah saya berjalan lancar.

Di setiap doa yang saya panjatkan, saya selalu berucap,

“Ya Allah, semoga kunjungan ini bukanlah yang pertama dan terakhir bagi saya. Semoga Engkau masih memberikan kesempatan yang sama kepada Hamba untuk kembali lagi ke sini bersama mama, papa, dan adik hamba. Atau mungkin bersama istri dan anak hamba kelak. Aminn..”

Mimpi ini masih akan terus ada. Dan saya yakin, mimpi itu akan diwujudkan lagi oleh-Nya

Ka’bah, saya akan kembali lagi

Snorkling Pertama di Pulau Berbentuk Tubuh Buaya

Bila boleh jujur, Padang tidak pernah masuk ke dalam list salah satu daerah di Indonesia yang harus saya kunjungi. Habisnya, mendengar omongan banyak teman yang mengatakan kalau Padang gitu-gitu saja, jadinya saya menyampingkan kota Padang. Apalagi pas mendengar kalau masakan Padang di kota aslinya tidak seenak yang ada di Jakarta.

Kalau memang seperti itu, buat apa saya ke sana? Apa yang bisa saya nikmati? Jam Gadang, doang? Apalah artinya jalan-jalan tanpa makanan enak, bukan? — pikir saya

Namun, ketika Orang Tua mengajak saya dan sejumlah jurnalis untuk bergabung dalam OT Trad Novation Goes to Padang pada Minggu di bulan ke-10 2014, rasa penyesalan pun terjadi.

Sebab, saya diajak untuk mengunjungi satu pulau bernama Pulau Pagang, yang mana orang Padang sendiri ada yang tidak tahu pulau itu dan juga tidak pernah ke sana. Padahal, Pulau Pagang itu cantiknya bukan main! Indah banget. Masih perawan dan masih bersih.

Di pulau yang hanya berjarak 12,7 kilometer dari Kota Padang, wisatawan dibuat terkesima dengan panorama yang tersaji, baik yang ada di dasar maupun di bawah laut. Pulau Pagang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

Untuk bisa sampai ke pulau yang dari kejauhan berbentuk seperti tubuh seekor buaya, saya dan rombongan harus terlebih dahulu ke Pantai Carolina. Nantinya, wisatawan akan dibawa menggunakan kapal kayu berkapasitas 30 orang dan akan menempuh perjalanan selama dua jam. Semua itu tergantung dari kondisi ombak.

Setelah salah seorang pemandu wisata dari Losmen Carlos bernama Michael memerintahkan kami untuk mengenakan pelampung sebagai pengaman, dengan cepat kami pun memenuhi ruas kapal agar perjalanan dapat dilakukan segera.

Jarak tempuh Pantai Carolina menuju Pulau Pagang hampir sama dengan waktu tempuh Jakarta-Singapura. Namun, di sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan dengan keindahan laut Teluk Bayur. Asli, tsakep boooo!

Setelah foto-foto, ngobrol ngalur ngidul, tiduran, kapal kayu yang membawa rombongan OT Trad Novation tiba di Pulau Pagang. Pulaunya sepi. Tak ada bangunan semacam penginapan di sana. Hanya ada gubuk bambu yang dijadikan tempat berteduh atau tempat untuk menyiapkan makanan bagi wisatawan.

Biru banget, kan?

Awannya

Welfie

Pulau dengan luas 10 hektar memiliki pasir pantai yang halus dan memesona, seakan kaki berjalan di atas tepung putih. Halus banget. Maka itu, dianjurkan untuk melepas alas kaki sebelum turun dari kapal kayu.

Air laut di pulau yang diapit dengan Pulau Sironjong, Pulau Pemutusan, dan Pulau Sikuai berwarna hijau dan biru. Di pantai itu, aktivitas yang dapat dilakukan adalah snorkling dan bermain banana boat. Pilihan saya jatuh pada snorkling. Kalau mau main banana boat, di Ancol pun bisa! *padahal belum tentu juga mau*

Michael dan timnya tak begitu saja melepas para pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam bawah laut. Mereka akan memberitahukan titik-titik mana saja yang banyak ikannya. Saya yang mencoba pertama. Dan benar saja, alam bawah lautnya indah banget, ikannya juga banyak. Terumbu karangnya juga masih terawat dengan baik.

Anak ikan dan induknya

Cantik-cantik kan, ikannya?

Bagi yang awam seperti saya, Michael menyarankan untuk snorkling di kawasan `pinggir`. Sedangkan yang sudah mahir, akan dibawa ke bagian tengah, yang jauh lebih indah.

Bagi wisatawan yang ingin mengabadikan setiap momen bersama ikan-ikan kecil, Michael menyediakan foto bawah laut secara gratis, karena sudah termasuk ke dalam paket yang ditawarkan Losmen Carlos.

Oia, bagi yang memilih bermain banana boat, akan diajak mengeliling Pulau Pagang sebelum dihempaskan ke laut. Katanya yang nyoba sih, pemandangan keseluruhan di Pulau Pagang benar-benar indah. Nggak nyangka kalau di Sumatera ada tempat seindah itu.

Birunya air laut

Banana boatnya siap

Tempat Makan yang Harus Disinggahi Selama di Surabaya

Jalan-jalan ke mana pun itu, termasuk ke Surabaya, kurang afdol kalau belum kulineran. Nah, waktu ke Surabaya tempo hari, setidaknya ada tiga tempat makan yang saya singgahi (semuanya dibayarin Michael, saya dan Helmi tinggal ongkang-ongkang kaki). Berikut daftarnya !

1. Zangrandi Es Cream

Jika di Jakarta ada Ragusa, di Surabaya juga ada warung es krim yang cukup melegenda, yaitu Zangrandi. Menurut informasi yang saya terima dari banyak sumber, warung es krim yang menjadi tempat nongkrong arek-arek Suroboyo ini sudah berdiri sejak 1930 (pas banget Isya. Oke, ini garing!). Dan sampai detik ini, masih mempertahankan cita rasa yang sudah ada.

Melihat kota Surabaya yang panasnya-nggak-ada-yang-ngalahin, cocok rasanya sehabis mengunjungi Monumen Kapal Selam kami dibawa ke sini sama Mich.

Warung Es Krim Zangrandi

Es Krimnya

Tempatnya lebih luas dari Ragusa. Untuk pilihan menu, hampir samalah. Ada banana, ada noodle ice cream, dan es krim lainnya yang sejenis. Soal rasa, hmmmmmmm… cukup enaklah. Dinginnya pas!

Paling yang rada malesin dari tempat ini ada pelayannya yang lama banget. Semacam tahu kalau warung es krimnya nggak mungkin sepi, pelayannya pun sedikit songong. *toyor*

Jalan Yos Sudarso Nomor 15, Genteng, Surabaya.
(*Jika bingung, tempat ini diapit oleh Hotel Garden Palace dan Bank Mega.)
Beroperasi mulai 10.00 sampai 22.00 WIB.

2. Restoran Layar

Di Medan ada Nelayan, di Surabaya ada Layar. Apakah saling berhubungan? Enggak juga. Di Nelayan ada pancake durian, di Layar enggak ada! :p

Sebagai kota dengan kekayaan alam bawah laut yang melimpah, seharusnya Surabaya memiliki banyak restoran berkonsep market seafood seperti restoran Layar. Di sini, kita dapat mengetahui apakah hewan laut yang akan disantap dalam keadaan segar atau tidak, karena semua hewan-hewan itu dipajang di depan restoran dan dapat dipilih oleh pengunjung untuk dimasak.

Restoran Layar ini ramai banget. Asli. Melihat pegawainya yang super sibuk, bikin saya gerah sendiri. Saya pun berandai-andai bila saja restoran Layar itu adalah kepunyaan saya, pasti sekarang ini saya sudah tidak jomblo lagi :p

Restoran Seafood Layar

Kepitinh Asoka dan Otak-otak

Udangnya :9

Kangkung Terasi

Rasa dari keseluruhan makanan yang dipesan waktu itu enak-enak banget. Pelayannya juga cekatan. Yang saya suka dari restoran Layar ini adalah taplak mejanya, berupa plastik panjang yang sesudah tamu selesai makan tinggal ditarik dan dibuang. Nggak perlu tuh repot-repot dilap.

Juara umum dari keseluruhan makanan itu adalah kepiting soka telur asin (kalau tidak salah, itu sih namanya).

Alamat: Jalan Abdul Wahab Siamin Nomor 109, Surabaya, Jawa Timur, 60225.
Telepon: (031) 5683716.
Beroperasi dari: 11.00 sampai 22.00 WIB

3. Rawon Kalkulator

Ada yang menyebutnya Sedap Malam Kalkulator, dan ada pula yang menyebutnya Rawon Kalkulator. Bagi saya, apa pun itu namanya tidak masalah, yang penting rasanya enak.

Tahu peristiwa si Ibu Walikota marah-marah karena Taman Bungkul dirusak saat acara bagi-bagi es krim? Nah, lokasi rawon kalkulator ini berada dekat-dekat situ.

Sebenarnya, rawon dan soto di warung makan milik Haji Ajib ini biasa saja, samalah kayak rawon dan soto pada umumnya. Satu porsi berisikan 5 sampai 6 potong daging empuk, ada hati ampela, ada tambahan-tambahan lain. Seporsi dibandrol Rp 15.000.

Yang bikin tempat ini kian tersohor, karena pelayannya tidak membutuhkan mesin penghitung untuk menjumlah berapa rupiah yang harus dikeluarkan para pengunjung.

Bener, sih, si bapak ngitung aja gitu tanpa kalkulator atau sempoa. Karena penasaran, isenglah saya ngetes si bapak untuk kedua kalinya. Hasilnya beda-beda, sih, tapi mendekati. Hehehehe :p

Rawon Kalkulator