Category Archives: Review

Kopi Selasar, Surga Kopi dan Makanan Enak Dengan Harga Murah

Satu lagi tempat baru yang saya singgahi saat menghabiskan waktu libur ke kota Bandung, yaitu Kopi Selasar. Coffee shop ini berada di teras Selasar Sunaryo Art Space. Berhadapan dengan penggunungan dan bukit plus udara yang dingin, bikin para pengunjung betah berlama-lama di sini, termasuk saya dan teman-teman.

Belum lagi harga dari semua makanan dan minuman yang murah banget, tentu tidak jadi masalah jika harus pesan lagi supaya tidak diusir. Andai Kopi Selasar dengan suasana yang sama ada di Jakarta, terlebih di Selatan atau Pusat, sudah pasti saya jadikan ‘tempat kerja’ ke dua. Selesai liputan bukannya balik ke kantor, malah nangkring di sini.

Di bawah itu ada aula terbuka bagi siapa yang mau bikin acara dengan konsep out door. (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Karena sering baca review-an mengenai tempat ini, saya girang begitu tahu Selasar Sunaryo Art Space masuk dalam daftar tempat yang bakal dikunjungi. Seharusnya destinasi pertama rombongan jurnalis Pepsodent ke sini, namun diundur karena kami baru sampai di Bandung pukul 04:00 sore. Maka itu, baru ke sini pas sebelum pulang ke Jakarta.

… Enam jam saja dong ke Bandung. Macam mudik awak kemarin!

Individu introvert seperti saya (kamu percaya ‘kan kalau saya introvert) yang tidak suka suara bising dan maunya menyendiri, atau buat kalian yang mau ajak kencan selingkuhan, kalian yang mau curhat dari A sampai Z, Kopi Selasar adalah surganya.

Eh, nggak juga deng. Tergantung kapan datangnya. Kalau siang dan di hari kerja mungkin iya jadi surga. Tapi kalau malam hari, terlebih hari Sabtu, mungkin jadi neraka buat saya. Ya, intinya ini surga buat pecinta kopi.

Siang itu Kopi Selasar masih sepi. Kami berisik pun tidak ada yang protes :p (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

 

Tempat sesunyi, sedingin, dan setenang ini memang paling enak digunakan untuk curhat. Hasil pantuan kemarin sih begitu (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

 

Nyaman, kayak hati perasaan. Bawaannya susah move on (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

 

Ada perpustakaan juga. Sayangnya hari itu lagi ditutup. (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Kata si Kawan, dulunya tempat ini hanya menyajikan kopi saja. Belum ada tuh spageti, hot dog, tom yam, lasagna, dan makanan yang lain. Tapi sekarang, melihat banyak anak nongkrong yang tidak selalu suka sama kopi, Kopi Selasar jadi menjual makanan ringan sampai yang berat.

Memang juara kelas dari tempat ini adalah kopi-kopinya, termasuk dua kopi yang kami pesan kemarin: chococcino ice cream dan kopi selasar, kopi hitam ada latte art-nya ditambah jahe yang ditusuk di bambu. Rasanya seperti dipeluk Will Smith, pekat namun menghangatkan. *digampar*

Minuman yang ada di sini. Yang juara kelasnya Kopi Selasar, yang di tengah itu. (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Makanan di sini nggak kalah nikmat. Saya nggak takut makan banyak meski lagi program pengurangan kadar lemak dan berat badan. Apa itu diet? Diet cuma serangkaian huruf yang terdiri dari D, I, E, dan T. Lagi pula diet bukan berarti tidak makan, toh? Diet yang benar adalah membakar lebih banyak kalori dari yang kita masukkan, yes? Ha ha ha ha.. Sok-sokan, padahal hari itu dan keesokan harinya tidak olahraga sama sekali, dan begitu dicek kadar lemak naik satu persen. *sad*

Habisnya, selain rasa makanan seperti nasi goreng, tom yum, spageti tuna, dan spageti irisan cabe rawit yang saya lupa namanya yang memang enak banget, semua itu gratis. Masa iya saya menyiakan kesempatan itu? 😆

Semuanya enak. Saya pesan Tom Yum tanpa nasi, karena sudah berencana comot-comotin semua makanan yang dipesan. Kecuali hot dog, lagi tidak makan daging (Kopi Selasar/ADIITOO.com)

Yang patut diacungi jempol, si empunya tempat tidak takut membandrol semua menu makanan dan minuman dengan harga yang terbilang murah. Boleh disebut murah dong, kalau ‘bonus’ yang didapat adalah pemandangan bukit Parijs Van Java yang melegenda, pegunungan sekitar kota Bandung, meja dan kayu terbuat dari kayu, colokan di mana-mana, dan pepohanan besar yang menambah kesan teduh?

Kalau tidak salah, harga minuman kisaran Rp 30.000 sampai Rp 50.000. Sedangkan makanan dari Rp 30.000 sampai Rp 70.000

Belum lagi ada galeri seni yang menjadi ‘inti’ dari tempat ini. Ada juga ruang pameran, amphitheater, aula diskusi, tempat pementasan di alam terbuka yang semuanya dibuka untuk umum sejak 1998. Seperti galeri pada umumnya, pengunjung Selasar Sunaryo dilarang memotret, hanya boleh melihat saja.

Saya dan si Kawan berencana ke Bandung lagi untuk satu urusan. Mungkin akan singgah ke Kopi Selasar di Selasar Sunaryo Art Space untuk kedua kalinya. Mau coba menu lainnya.

Kopi Selasar di Selasar Sunaryo Art Space (Blend your coffee with an artistic environmant!)
Jl. Bukit Dago Pakar Timur No. 100, Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat

NOTE: Tidak ada angkutan umum, lebih baik kendarai mobil sendiri, taksi, atau Gojek

Telp. 022-2507939 Fax: 022-2516508
Jam buka:
Senin – Kamis : 11:00 s/d 18:00
Jumat – Minggu : 11:00 s/d 22:00

 

Advertisements

Berburu Makanan Khas Nusantara di Cipika

Beragam sekali makanan nusantara di situs Cipika ini

Beragam sekali makanan nusantara di situs Cipika ini

Nama situs belanja online ini lucu. Cipika. Terlintas di bayangan saya, Cipika itu singkatan dari cium pipi kanan. Begitu paket berada di tangan dengan selamat, maka antara si penerima dan si pengirim barang bakal saling cium pipi kanan gitu. Bukan salaman.

Ya, kalau yang mengantarkan barangnya rada cakep, lucu, dan bersih, kenapa nggak? Bukannya Islam mengajarkan demikian? *alah*

Tahu situs ini dari seorang teman di kanal Tekno. Menurut penjelasannya, Cipika adalah salah satu online store milik Indosat yang menjual segala jenis barang. Termasuk kuliner nusantara. Katanya, sih, semua makanan dari Sabang sampai Merauke ada.

Continue reading

Grand Aston City Hall, Penginapan `Murah` di Jantung Kota Medan

Apartemen Grand Aston City Hall Medan menjadi pilihan menginap bagi keluarga ayah saat berkunjung ke Medan, hampir sebulan lalu. Lokasinya yang berada tepat di jantung kota Medan, memudahkan saya untuk mengingatnya ketika bepergian ke mana pun.

Maklum, 16 tahun tidak ke Medan, banyak perubahan terjadi di sana. Walaupun dua tahun lalu ke Medan, tapi tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di kota Medannya, melainkan di Kota Tebing.

Apartemen Grand Aston City Hall Medan merupakan salah satu jenis kamar yang ada di hotel bintang lima tersebut. Percayalah, meski berembel-embel `apartemen`, sejatinya ini sangat cocok bagi pelancong yang ingin menekan biaya perjalan semurah mungkin. Apalagi yang perginya beramai-ramai, klop banget.

Alasan lain memilih Apartemen Grand Aston City Hall, karena jatuhnya lebih murah! :p

Sebulan lalu harga sewa satu kamar di Hotel Grand Aston City Hall Medan mencapai Rp 950.000 per kamar, sedangkan kami perginya berempat, tidak mungkin hanya pesan satu kamar. Ditambah pula, bakal banyak teman ayah dan ibu, saudara yang lama tak jumpa, bakal mengunjungi kami. Secara otomatis, kami harus memesan dua kamar. Dananya, hampir Rp 2 juta untuk satu malam. Sedangkan kami akan menginap selama 3 hari. Mahal, `kan?

Pas ngecek harga sewa apartemennya, kalau dihitung jatuhnya lebih murah, hanya Rp 1,5 juta per malam dikalikan 3 hari. Harga tersebut untuk apartemen yang terdiri dari 2 kamar tidur, 2 kamar mandi (1 di dalam kamar tidur utama dan satu lagi di luar kamar tidur), dapur lengkap dengan peralatan dan kompor, serta kulkas, ada meja makan yang terdiri dari 4 kursi, dan juga 1 televisi LCD plasma layar datar, sofa yang empuk, dan 3 pendingin ruangan. Paling penting sih, ketika ada tamu berkunjung, yang berantakan cuma wilayah ruang tamu, dapur, dan sekitarnya, tidak kamar tidurnya.

Foto-fotonya di bawah ini;

Meja Makan dan Dapur akan dijumpai pertama kali saat penghuni kamar membuka pintu apartemennya

Saking nyamannya, hampir kebablasan Jumatan. :p

Kamar Tidur Utama untuk Ayah dan Ibu

Kamar Tidur Utama single bed!

Ruang bersolek

Pendingin Ruangan di dalam kamar

Apartemen Grand Aston City Hall benar-benar menawarkan kenyamanan. Mau berenang ada kolam renang, doyan ajojing ada clubbingnya (buka pukul 21:00 WIB), mau olahraga ada fitness centre dengan sejumlah alat olahraga terbaru, mau internet gratisan ada WiFi yang super kenceng pakai banget. Aslik, kenceng. Mau pijat dan relaksasi atau karaoke, tinggal turun saja ke lantai 3. Benar-benar nyaman, kan?

Hmmm.. Apalagi, yah? Oh, iya, pelayannya jempolan, sopan, dan mengerti tata krama. Sama turis enggak pilih kasih, semuanya diberikan masukan yang sebaiknya itu seperti apa. Seperti saya tempo hari yang ingin ke salah satu jalan di Kota Medan. Saya tanya ke mereka, kalau saya menaiki becak bermotor, sampainya kira-kira berapa lama dan biayanya berapa. Mereka menganjurkan saya untuk naik taksi Blue Bird saja, karena harganya jauh lebih murah, dan lebih aman. Konon kabarnya, tukang becak di sana ada yang `berteman` dengan pencopet di sana.

Lalu seprai diganti setiap hari, dan yang patut diacungin jempol adalah barang-barang keluarga saya tidak ada yang hilang satu pun, padahal kami menaruhnya asal-asalan (karena tak sempat membereskannya). Hehehehe…

Terpenting adalah akses dari Grand Aston City Hall Medan ini mudah dicapai. Depan persis adalah Merdeka Walk. Jalan berputar sedikit saja, sudah sampai di Stasiun Kereta Kota Medan, yang merupakan akses tercepat menuju Bandara Udara Kuala Namu. Tak jauh dari situ juga, ada es krim Bata yang tersohor itu, dan juga soto Medan yang wajib dikunjungi di pagi hari.

Pokoknya, top, deh!

Meski begitu, bukan berarti tidak ada minusnya, lho! Paling yang agak disayangkan adalah lahan parkirnya yang harus gabung sama hotel, yang mana letaknya cukup jauh. Hotel di bagian depan, dan apartemen di bagian belakang. Buat yang muda mungkin tak masalah, buat orangtua kan rada-rada kasihan.

So, far, Grand Aston City Hall Medan patut untuk dicoba, dan saya sangat merekomendasikannya.

Grand Aston City Hall Medan, Sumatera Utara
Balai Kota No. 1, Medan 20112, Indonesia

Mac and Cheese `The Goods Diner`

Sebenarnya tidak ada niatan memosting review `The Goods Diner` Jakarta pas bulan Ramadan gini. Namun, apa daya, saya kelupaan mau memosting tentang ini setelah saya pulang malam harinya. Hehehe, maafkeun!

Jadi, ceritanya, beberapa hari menjelang bulan puasa saya harus liputan di kawasan SCBD. Ya, lokasi liputannya di bawah restoran The Goods Diner, yang terletak di kawasan elit SCBD, komplek Fairgrounds. Ternyata, eh, ternyata, pemilik acara yang mengundang saya, tidak menyediakan makan siang, hanya ada cemilan. Dan, itu pun baru diberikan sekitar pukul 15.30. Sedangkan waktu yang tertera di undangan, disebutkan bahwa acara dimulai pukul 14.00. Saya tiba di lokasi, pukul 13.00. *alah, blunder* Intinya, begitu saya tiba, panitianya belum selesai beberes, bahkan baru mau mulai beberes.

Saya juga sih, yang salah. Sudah tahu acara dimulai pukul 14.00, bukannya makan dulu di kantor, malah pede banget bakal dapat makan. Ya, maaf!

Begitu tiba di lokasi dan melihat kenyataan pahit tersebut, saya pun mulai kebingungan mau  mencari makan di mana. Melihat sekitar, enggak ada warteg, dong! *menurut ngana, Dit?*. Jangan `kan, warteg, pedagang bakso atau siomay tak ada yang memperlihatkan batang hidungnya.

Karena frustasi, saya jalanlah ke bagian atas lokasi liputan itu. Bingung, soalnya di situ kebanyakan bar-bar terkenal gitu. Ada Potato Head Garage, Lucy in the Sky, dan bar-bar lainnya *langsung kekep dompet* Beruntung, mata ini cepat menangkap keberadaan The Goods Diner ini.

Saya suka suasana Chill and laid back yang ditawarkan The Goods Diner. Tempatnya nyaman, tidak terlalu ramai, dan musik yang disajikan membuat pantat ini enggan bergerak dari tempat itu.

The Goods Diner

The Goods Diner

Untuk pilihan makanannya, berhubung saya belum pernah ke sini sebelumnya, jadilah saya minta rekomendasi dari waitersnya. Katanya, untuk pasta, yang paling banyak diminati adalah Mac and Cheese. “Yasudah, saya pesan ini saja, Mbak. Jangan pakai lama, ya,” kata saya langsung mengiyakan kata-kata si waiters yang mungkin dalam hatinya bertanya-tanya, saya ini cowok apa cewek. 😆

Sedangkan untuk minumannya, saya memesan Pomegranate Ginger. CMIIW, yes! Saya lupa soalnya.

Bagi penyuka campuran keju dan susu, Mac and Cheese adalah menu yang wajib dicoba. Serius, deh. Enak banget. Melihat tampilan awalnya, saya memang sempat eneg duluan. Tapi, begitu saya mencobanya, enggak eneg sama sekali tuh. Ditambah pula ada sayurannya, saya campurkan saja.

Mac and Cheese dan Pomegranate

Pomegranate

Nah, salah strategi pemesanan justru terjadi saat memesan minuman. Anjrit, minuman yang aneh. Awalnya terlihat menyegarkan, tapi menyesatkan ketika kita meminumnya. Uwek, pedas banget. Rasa pedasnya itu baru berasa saat sudah di tenggorokan. Enggak ada kesan segar-segarnya. Perut saya malah eneg. Berhubung perut sudah merespons dan siap-siap bergejolak, langsung pesan air mineral. Untunglah, rasa yang berantakan itu cepat hilang.

Intinya hari itu, jangan melihat sesuatu (dalam hal ini makanan dan minuman) dari tampilan awalnya saja. Bisa saja yang terlihat menyegarkan justru menyesatkan, dan sebaliknya.

Plus dan Minus:

So far, saya suka makanannya, tapi tidak dengan minumannya. Poin 90 untuk Mac and Cheese, dan poin 50 untuk Pomegranate Ginger. Tempatnya, seperti yang saya katakan di atas, membuat pengunjung enggan cepat-cepat beranjak dari restoran itu. Pelayannya ramah, murah senyum, jujur, dan cekatan. Satu yang pasti, WiFi-nya JUARA UMUM!

Harga:

Mac and Cheese : 68K
Pomegranate Ginger: 30K
Air mineral (Aqua Reflections Sparkling)  : 25K

Total kerusakan+PPn =  149K

The Goods Diner
Fairgrounds SCBD Lot 14, Jakarta Selatan
(021) 5152969
Twitter dan Website

Es Krim Nitrogen Ron’s Laboratory

Akhir-akhir ini Grand Indonesia (GI) menjadi mall yang sering saya singgahi. Entah untuk liputan atau sekedar temu kangen dengan seorang teman.

Akibat dari keseringan itu menjadikan saya lebih banyak tahu tentang tempat nongkrong apa saja yang ada di dalamnya. Termasuk outlet es krim yang lagi terkenal saat ini, Ron’s Laboratory!

Saya cukup penasaran dengan rasa es krim yang disajikan di Ron’s Laboratory. Kata teman se-tim yang pernah meliput langsung di outlet tersebut, es krimnya dibuat dengan nitrogen dan cara pembuatannya dikenal cukup unik.

Beruntung, rasa penasaran itu terjawab 3 pekan lalu, sewaktu menemani Winda, sepupu dari Medan, main-main ke Jakarta.

Berasa di Lab

Tulisan di Kaca

Repot banget, Mas

Sore itu outlet berukuran kecil ini diserbu banyak pengunjung. Saya, Winda, Dya, dan Vini mengantre hampir 30 menit. Meski begitu, saya cukup menikmati suasana yang ada di outlet tersebut. Soalnya, para pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan es krimnya. Serta dapat menikmati wajah-wajah pembuat es krimnya, yang mana semuanya tampak menarik mata ini. He he he …

Masuk ke Ron’s Laboratory berasa masuk ke dalam laboratorium beneran. Semua pegawainya mengenakan jas putih lengkap, layaknya petugas di lab, dan peralatan untuk membuat es krim menggunakan aneka gelas dan botol-botol kimia.

Mungkin bagi kalian yang menyukai seni graffiti, serasa dimanja habis-habisan ketika masuk ke outlet es krim tersebut. Soalnya, graffitinya tersebar hampir di seluruh penjuru outlet. Cantik, karena outlet itu sungguh berwarna.

Saya lupa nama es krim yang dipesan Winda dan Viny. Kalau es krim yang saya dan Dya pilih adalah Green Tea Mochi dan Cotton Candy Bubble Gum. Ya, berhubung saya suka yang berbau teh hijau, tak ada masalah ketika menyicipi es krim yang saya pesan. Sedangkan kata mereka bertiga, es krim yang saya pilih rada aneh. Ha ha ha .. Beda orang, beda selera, yes!

Intinya, es krimnya tidak bikin eneg, dan tidak terlalu manis. Pelayannya super ramah sekali. Melayani penuh kesabaran, macam dokter gigi yang mendapat kunjungan pasien yang takut ke dokter gigi. #alah.

Ini Es Krim yang Kami Pesan

Green Tea Mocha

Cotton Candy Bubble Gum

The Raid 2: Berandal

Selepas liputan di Rumah Sakit Bintaro Sabtu kemarin, saya, Rendra, dan Qalbi memutuskan untuk nonton film The Raid 2: Berandal, di XXI Lotte Mart.

Film besutan Gareth Evans ini merupakan lanjutan dari The Raid pertama. Bila di seri pertama Andi (Donny Alamsyah) memisahkan diri dari Rama (Iko Uwais), yang tak lain adalah adik kandungnya, di seri kedua diceritakan kalau Andi menjadi `korban` keganasan Bejo (Alex Abbad). Kisah lalu berlanjut pada Rama yang akhirnya menemui Bunawar (Cok Simbara) atas saran kakaknya. Saat bertemu Bunawarlah, kisah-kisah sadis nan menegangkan dimulai!

Selanjutnya, nonton sendiri saja, ya.

Bila di seri pertama penonton dibuat terkesima oleh penampilan Iko Uwais dan Joe Taslim (mungkin), di The Raid 2: Berandal penonton akan dibuat terkesima oleh hampir keseluruhan pemain.

Sebut saja Tio Pakusadewo yang berperan sebagai Bangun. Om satu ini tak usah diragukan lagi kepiawaiannya dalam berakting. Pun dengan Oka Antara (Eka) dan Arifin Putra (Uco), yang menurut saya berhasil mengimbangi akting Tio.

Bagi saya, melihat Arifin yang mampu mengimbangi akting Tio, Iko, dan Oka Antara, terlebih dalam film The Raid 2: Berandal ia juga harus melakukan adegan fighting, usahanya patut diapresiasi. Siapa sangka, Arifin yang biasa berperan di sinetron remaja, mampu melakukan adegan per adegan yang ada di film ini dengan sangat baik.

Untuk Oka Antara, saya tak dapat berkata apa-apa, selain mengatakan keren gila! Meskipun di film ini Oka bukanlah pemeran utama, tapi aktingnya sungguh sangatlah hidup. Tanpa Oka, The Raid 2: Berandal hanyalah butiran debu.

Film ini tampaknya sengaja digarap untuk membuat penontonnya bertanya-tanya selama menyaksikannya. Saya sendiri, di sepanjang film sering melontarkan kalimat ‘Dia siapa, ya?’, ‘Lho, kok ada ini?’, ‘Lah, dia nikah toh, dan istrinya Marsha Timothy’, ‘Ih, kok ada salju?’, atau ‘HARI GINI MASIH PAKAI PAGER?’. Ha ha ha.

Selain itu, penonton juga diajak untuk menjadi `pintar` ketika menyaksikan film ini. Sebab, kalau kita ngeuh adegan tiap adegannya, pasti akan terlontar kalimat penuh tanda tanya.

Misalnya saja tiba-tiba ada sosok Julie Estele dengan dua palunya dan pria yang doyan bawa tongkat dan senang mengucapkan ‘Lempar sini bolanya`.

Kalau kamu ingin menonton film ini hanya untuk mencari di mana letak mendidiknya, maka kamu tak akan menemukannya. Kalaulah ada, barangkali hanya 1 persen. Tapi, kalau kamu ingin menonton film ini hanya untuk hiburan, maka kamu akan mendapatkannya 99 persen.

Bagi saya, film The Raid 2: Berandal merupakan hiburan mahal yang membuat penontonnya tak menyesal untuk merogoh kocek demi dapat menyaksikan film keren seperti ini.

Percayalah, kalau kamu enjoy dan tak banyak bertanya tentang apa yang terjadi pada film ini, maka hiburan yang dicari akan sangat mudah kamu dapatkan.

Intinya, menonton film ini seperti naik rollelcoaster. Dan membuat pipis lancar usai menyaksikan. Soalnya, ada rasa sayang untuk beranjak dari kursi hanya untuk kencing. Adegan tiap adegannya, saya untuk dilewatkan.

Adegan favorit saya adalah `Threesome`, `Kitchen`, dan `Bar`.

Foto by: Rendra hanggara

Solusi Bagi si Pelupa dan Enggak Mau Ribet

Hujan yang mengguyur Ibu Kota beberapa bulan terakhir ini, membuat kantong saya menipis karena harus dikeluarkan untuk membayar biaya taksi.

Bukan berniat sombong atau bagaimana, tapi tubuh saya yang menjulang ini, suka enggak bersahabat kalau harus naik angkutan umum. Apalagi di musim hujan, pasti penuh dan saya harus berdiri. Kalau saya berdiri dengan kondisi kepala menunduk serta waktu perjalanan yang lama, bisa-bisa leher saya sakit. Malesin banget, ‘kan?

Tapi, kebiasaan buruk sering membuat saya keder sendiri. Saya suka lupa mengecek apakah di dompet tersimpan beberapa lembar uang atau tidak, suka malas ke ATM dan hanya menyimpan voucher taksi di dompet. Mending kalau pas hujan taksi yang bisa bayar pakai voucher gampang didapat, kalau enggak, saya kudu piye?

Beruntunglah saat ini sudah ada Mandiri E-cash, yang dapat menyulap ponsel menjadi ‘uang’. Kalau selama ini ponsel hanya untuk SMS, berinteraksi di dunia maya, dan untuk transaksi lain-lain, kini ponsel dapat dijadikan uang.

Informasi tentang Mandiri E-cash, saya dapatkan dari teman yang kebetulan liputannya mengenai ini . Secara tidak langsung, dia sudah memberikan solusi kepada  saya, yang suka lupa membawa dan mengambil uang di ATM. Kebetulan dong, selain menjadi nasabah bank lain, saya juga nasabah bank Mandiri, hanya saja Mandiri Syariah. Saya lantas bertanya padanya, apa bisa nasabah Mandiri Syariah memiliki Mandiri E-cash? Apa harus buka rekening baru dulu?

“Enggak,” kata dia dengan muka lempeng yang membuat kelucuannya naik beberapa persen :p

“Pemilik bank mana pun, selagi itu saling terintegritas, bisa kok menggunakan Mandiri E-cash ini,” tambah dia

Ternyata, untuk memiliki Mandiri E-cash ini cukup mudah,  tinggal download saja. Saat ini, Mandiri E-cash sudah tersedia di platform iOS, Android, Blackberry (0S7 ke atas), dan BB 9900. Tanpa pikir panjang saya langsung mendownloadnya.

Karena Mandiri E-cash adalah uang elektronik yang memanfaatkan teknologi aplikasi di ponsel, setiap pengguna dapat melakukan transaksi tanpa harus melakukan pembukaan rekening. Tetap saja, untuk dapat menggunakannya, harus isi saldo terlebih dulu. Isi saldonya, tinggal ikutin petunjuk yang ada. Nanti akan diterangkan satu per satu.

Pengisian saldo Mandiri E-cash, tidak hanya dapat dilakukan melalui e-channel Bank Mandiri saja, tapi dari bank lain juga. Mandiri tampaknya tahu betul bagaimana cara mempermudah kehidupan banyak orang termasuk saya. Apalagi di Mandiri E-cash ini ada fitur transfer uang.

Setelah saya coba, ternyata Mandiri E-cash ini berbasis nomor telepon. Jadi, kalau ada teman kamu yang memiliki aplikasi ini dan nomornya tersimpan di ponselmu, maka transfernya akan lebih mudah. Tinggal masuk ke menu, pilih kirim E-cash, akan muncul kolom nomor telepon penerima, lalu di bawahnya ada jumlah uang yang dikirim.

Saat tombol proses ditekan, programnya akan meminta kamu untuk memasukkan kode PIN serta OTP yang dikirimkan melalui SMS. Begitu tombol lanjut ditekan, maka transaksi selesai.

Uniknya, akan ada struk yang keluar yang dapat disimpan, diprintscreen, sebagai barang bukti. Simpel banget, ya?

Untuk kamu yang doyan belanja online di Tokopedia, Groupon, Valadoo, atau belanja Gramedia Majalah, atau mungkin bayar taksi (dalam hal ini Express), atau bahkan Cititrans. Hanya saja, untuk saat ini Mandiri E-cash belum bisa digunakan di taksi Express dan Cititrans. Duh, semoga sebentar lagi sudah bisa digunakan untuk semua, biar saya enggak ribet kalau harus bayar taksi dan lupa membawa uang cash.

Kalau sudah seperti ini, ketinggalan ponsel akan lebih berat ketimbang ketinggalan dompet.

Mandiri E-cash