Category Archives: Uncategorized

#Curjek: Cerita Pengemudi Gojek Ketemu Kuntilanak

Jalanan sekitar Dharmawangsa yang padat menyebabkan saya harus order Gojek supaya cepat sampai di rumah. Untung di motor ada tempat menaruh goodie bag berisi alat olahraga dan susu dari Frisian Flag. Tas berisi laptop bisa diletakkan di tengah sehingga saya tak perlu takut jatuh. Yoga selama satu jam ditambah semilir angin Jumat malam itu menghasilkan rasa kantuk teramat sulit ditahan. Satu-satunya cara supaya tetap terjaga selama perjalan adalah ngobrol sama si abang Gojek.

Selesai Yoga di Yoga Union Bersama Frisian Flag Indonesia

Semesta menjawab keinginan itu. Tanpa perlu saya yang memulai, obrolan terjadi begitu saja. Semua bermula dari jalan tikus yang kami lalui supaya terhindar dari macet dan cuaca mendung. Keadaan masih sama. Sama seperti Abang Gojek lain yang mengira saya adalah anak gadis rumahan dan tidak biasa naik kendaraan umum.

“Dik, lewat jalan sini, nggak papa?,” menunjuk sebuah gang yang tampak sepi sekali. Hanya ada tiga remaja laki-laki yang sedang duduk di kursi panjang dekat pos ronda. “Silahkan, Bang,” jawabku. Gang ini adalah gang ke-empat.

“Permisii,” kata si Abang sambil membunyikan klakson sebagai tanda minta izin melintas di gang itu.

Si Abang seperti sudah biasa lewat jalan itu. Dia hapal harus belok mana saja. Setelah melewati tiga belokan, sampailah kami di jalan Radio Dalam. Di sebrang satu gedung dengan nama paling jorok itu.

“Adik berani juga lewat jalan gelap. Saya tadi takut adik bakal mengira saya bakal berbuat jahat,”

“He he he … Berani, bang. Kalau abang macam-macam, saya lawan!,”

Jelas saya berani. Pertama, saya cowok. Si Abang saja yang mengira saya cewek. Kedua, itu bukan kuburan. Ketiga, kalaulah sampai si Abang berbuat jahat, misal memerkosa, paling hanya timbul rasa penyesalan. Celana saya dibuka yang dilihat pedang juga sama kayak dia punya. Kecuali kalau dia gay. Meski begitu akan tetap saya lawan. Kalau ternyata dia gay berparas ganteng, saya pasrah. Tapi enggak di tempat gelap juga kali. Bisa keleus sewa hotel.

Kuping saya panas mendengar si Abang selalu bilang “Minta izin, dek,” setiap akan melintasi jalan tikus. “Kalau mau lewat, lewat saja, Bang. Kalau itu bikin jaraknya semakin dekat, silahkan. Kalau justru semakin jauh, paling saya tulis di aplikasinya,” jawab saya.

Rupanya, itu dilakukan si Abang karena baru saja mengalami hal nahas di malam sebelumnya. “Kemarin saya dan penumpang saya lihat kuntilanak dik, di daerah Pondok Cabe. Makanya tadi saya minta izin muluk,” kata si Abang mulai bercerita.

Ah, sial, kenapa harus ngomongin yang kayak begini? Begonya, saya malah penasaran.

“Oh, ya? Kok bisa? Gimana ceritanya, Bang?,”

Malam Jumat itu, sekitar pukul 11:00, si Abang harus mengantar penumpangnya ke daerah Pondok Cabe. Tak jauh dari perumahan yang dimaksud, mereka harus melewati sebuah jalan sangat gelap dan hanya ada pepohonan serta rawa-rawa.

“Dari kejauhan saya melihat seperti ada kain putih melayang gitu. Nyebrang dari pohon satu ke pohon yang lain,” kata si Abang.

Tak cuma si Abang yang melihat kain putih itu. Penumpang yang seorang karyawati bank juga melihatnya, “Pas kita mendekat, sosoknya semakin terlihat jelas. Eh, si Mbak menjerit ketakutan. Saya gas saja motor ini. Begitu sampai depan rumahnya, si Mbak malah pingsan.”

Si Abang mengaku kelimpungan. Dia harus mengangkat tubuh penumpangnya masuk ke dalam rumah lalu meletakkan di atas sofa. Sebelum pulang, si Abang harus duduk dulu karena terlanjur dibuatkan air minum. Di saat itulah dia diberitahu kalau ternyata daerah situ cukup angker.

“Mamanya penumpang saya itu yang cerita, kalau daerah situ memang angker. Sudah sering kejadian seperti yang saya alami. Tiga bulan yang lalu juga ada. Tapi yang kena bukan penduduk perumahan situ,” kata si Abang.

Karena cerita itu si Abang jadi kayak pembalap liar di BKT yang memperebutkan cabe-cabean begitu keluar dari komplek perumahan tersebut.

“Ha ha ha ha.. Abang takut jadinya? Yah, payah, kelihatannya saja sangar,” canda saya.

“Wesss.. Nggak dong, dek. Kalau saya takut juga, dua-duanya pingsan, dong? Nanti siapa yang angkat kami?,” bela dia.

Saya bilang saja ke dia kalau daerah rumah saya juga seperti itu. Gang untuk sampai ke perumahan saja hanya ada ilalang dan pohon-pohon cukup besar. Bahkan, ketika masuk ke dalam perumahan tempat tinggal saya, jumlah rumahnya tidak banyak. Masih banyak pohon-pohon.

“Masa sih, Dik? Masa daerah Bintaro ada yang seperti itu? Kan perumahan modern?”

Perumahan tempat tinggal saya memang ada embel-embel ‘Bintaro’. Bukan berarti seterang Bintaro di sektor-sektor itu. Jarak dari tempat tinggal saya ke Bintaro sektor 9 yang paling dekat saja sejauh 6 kilometer. Mana mungkin bisa sama toh?

Setiap kali saya pulang sama teman, naik taksi, atau diantar pulang naik mobil kantor, mama melarang saya masuk sebelum kendaraan mereka benar-benar sudah berada di luar perumahan kami. Si Kawan saja selalu saya kasih pesan untuk memberitahu kalau sudah sampai di jalan raya besar.

Tempat tinggal kami memang di pedalaman. Masih rawan. Saya sebut sebagai tempat jin aborsi. Dua tahun lalu, sebelum seramai sekarang, masih ada isu babi ngepet. Tetangga persis depan rumah pernah dirampok orang berilmu. Si bapak sadar ada orang yang melangkahi tubuhnya. Tapi dia sulit untuk teriak. Tubuhnya juga sulit diangkat. Baru setelah perampok itu pergi jauh, mulut dan tubuh si bapak berfungsi kembali. Dia harus rela kehilangan emas dan sejumlah uang.

“Adik ini Cuma mau nakut-nakutin saya saja, kan? Saya mah nggak takut, dek. Ini buktinya terang begini. Ada McD, ada Indomart, ada tukang buah juga,” kata si Abang sambil menunjuk tempat-tempat yang disebutkannya itu ketika kami sampai di perempatan duren. Sedangkan dari perempatan duren, jalan utama penghubung antara Jombang, Pasar Ciputat, Bintaro, dan UIN, masih cukup jauh untuk benar-benar sampai di rumah saya.

“Ih, si Abang nggak percaya. Kan saya yang tinggal di sini, Bang. Masa iya saya bohong. Apa untungnya buat saya?,” kata saya sambil mengabarkan mama kalau saya sebentar lagi sampai. Tolong buka kan pintu.

Tak lama kami sampai di depan gang utama. Dari situ saja sudah minim penerangan. Melihat situasi mencekam kayak begitu, si Abang tampaknya jiper.

“Benar, ih, kata si Adik. Ini mah beneran gelap,”

“Tuh kan, Abangnya nggak percaya, sih. Saya bilang juga apa,”

“Adik berani, ya,”

“Saya sudah biasa, Bang,”

“Tapi, Bang, saya saja nih, meski mengendarai motor, kalau sudah malam Jumat dan pulangnya larut, selalu minta ditemani ojeg langganan di stasiun. Abangnya suruh ngikutin saya dari belakang, saya bayar seperti biasanya,” cerita saya. Iya, saya selalu melakukan hal seperti itu.

Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam, motor jenis skuter otomatis warna kuning gejreng sampai di depan rumah. Setelah menyerahkan uang, muncul keinginan menjahilin si Abang Gojek.

“Seraman mana Bang sama daerah perumahan penumpang Abang itu?,” tanya saya.

“Hmmmm.. Yang sana, dek,” jawab dia.

“Yakin, Bang? Kemarin di sini ada babi ngepetnya, lho. Kata teman saya yang bisa lihat begituan, di sini juga ada,”

“Yakin, dik. Insha Allah aman-aman saja. Sudah yah, saya pulang,”

“Silahkan, Bang,”

Saya masuk ke dalam rumah. Saat mengunci pagar, terdengar suara klakson yang ditekan berkali-kali, biasa dibunyikan orang-orang ketika panik atau takut. Saya sering melakukan hal itu. Jadi tahu :p

Maafkan saya, Bang. Kapan lagi penakut bisa menakuti sama-sama penakut?

Begitu masuk ke kamar malah saya ketakutan. Tutup gorden, menyalakan AC dan teve, dan tidak lupa menyalakan lampu. 😆

Semoga Abang Gojek itu tidak kapok!

Advertisements

Tonton DVC Beli Aplikasi Pake Pulsa, Boneka LINE Menanti

Saya mau bagi-bagi lima boneka LINE, tapi sebelum itu tonton dulu DVC Indosat mengenai Beli Aplikasi Pake Pulsa

Baru-baru ini Indosat mengeluarkan DVC mengenai Beli Aplikasi Pake Pulsa yang dibintangi penyiar-penyiar nggak waras, Kemal, Danang, Darto, dan satu perempuan cantik bernama Dian. Di video berdurasi dua menitan itu, mereka bercerita bagaimana mudahnya membeli aplikasi di Google Play Store tanpa kartu kredit, cukup dengan pulsa Indosat.

Berikut DVC Beli Aplikasi Pake Pulsa!

Nah, bagi kalian yang sudah nonton DVC itu, silahkan mengikuti kuis di bawah ini.

Beneran sudah nonton sampai habis? Saran saya, mending tonton DVC itu sampai selesai, kalau perlu berulang-ulang supaya hapal apa saja yang diucapkan orang-orang yang ada di video itu, dan yang terakhir kalau kamu ngerasa sudah hapal banget baru jawab pertanyaan yang ada di FORM berikut.

Namun, dikarenakan FORM ini tidak berfungsi maksimal bila dibuka dari Chrome dan mobile, maka kamu dapat menjawabnya di kolom komentar. Langkah-langkahnya di bawah ini;

Continue reading

Ketika Orangtua Kepo Sama Kerjaan Anaknya

Papa itu orang yang paling jarang ngajak ngobrol empat mata anak-anaknya kalau nggak penting banget. Begitu papa ngajak saya ngobrol empat mata usai subuh tadi, tandanya itu penting pake banget.

Awalnya papa nanya, bagaimana kerjaan saya? Ada niatan mau pindah, nggak? Pindah ke teve mungkin, atau geluti pekerjaan lain. Saya bilang, nggak… So far, saya baik-baik saja, walau saat ini tengah berada di titik jenuh.

Lalu papa melanjutkan pertanyaan berikutnya, selama tiga tahun menjadi jurnalis di bidang kesehatan, apa saja yang sudah ditulis? Ya, saya bilang banyak. Menurut database kantor, (belum genap) tiga tahun kerja, jumlah tulisan saya sudah 4.500 artikel. Saya penasaran dong, kok tumben papa kepo kayak gini. Kemarin-kemarin kayaknya nyantai aja.

Memang sih, papa ini kalau baca berita gitu lebih nyaman di koran atau majalah, bukan dari portal berita. Bukan gaptek, tapi kurang greget aja kalau nggak nyium bau kertas. Maklum, orang lama.

Rupanya, kemarin itu papa penasaran sama artikel apa saja yang saya tulis. Beliau search-lah nama saya di Google. Eh, yang nongol artikel soal seks. Ya, mampus aja kalau kayak gitu.

Begini percakapan yang terjadi di meja makan;

Papa : Bang, abang nggak mau nikah aja? Usia sudah 27.

Saya : Eh, papa ngigau?

Papa : Kok ngigau? Papa beneran nanya.

Saya : Enggak, ah.. Masih lama!

Papa : Tapi, bang, dari pada kebanyakan berfantasi, itu dosa juga, lho.

Saya : AH??? Maksudnya papa apaan, deh?

Papa : Kata abang, kalau liputan ke Kementerian Kesehatan, soal kanker, soal anak… Tapi, kok artikel abang yang papa temukan paling banyak soal seks?

Saya : (dalam hati: MAMPUS GW!) papa sok tahu. Memangnya papa pernah baca berita abang *cari pembelaan*. Katanya malas baca berita online.

Papa : Memang papa nggak baca. Cuma iseng aja pengen baca tulisan abang. Coba buka google, dan search nama abang.

Saya : *ambil hape* *buka google* *search nama sendiri* JEDDERRRRR! Taraaaa… Isinya artikel yang saya tulis kemarin, di mana isinya kebanyakan mengenai begituan. Ya, habisnya nggak ada liputan, dan dokter lagi susah dihubungin.

Papa

*siul siul*

 

Seks

*siul siul lagi*

 .

Ya ampun pa, cuma artikel begini doang kok, nggak gimana-gimana banget.

Papa : Nggak gimana banget? *lalu papa menceramahi saya menggunakan dalil* *di situ kadang saya merasa kotor*

Sial! Kenapa papa kepikiran mau baca artikel saya di saat-saat seperti ini. Kemarin, di saat saya lagi malas bikin berita begituan selama sebulan, nggak ada pula papa penasaran. Giliran begini, pas banget si papa kepo, matilah saya.

Untunglah mama nggak berkomentar banyak, cuma, “`kan cuma nulis doang, jangan diseriusin gitu, ah!” . Thank you, mama, sedikit ngebela anaknya. Hahaha :p

AMBARISASI #2 : AWAN

Foto di atas diambil ketika saya melakukan “Liburan Sekejap” ke Batam beberapa waktu silam ..

#NowPlaying – Katon Bagaskara – Selembut Awan.

Bukan, saya bukan ingin ngebahas soal lagu penyejuk hati ini. Bukan.

Kawan, pernah, tidak, suatu hari ketika kamu melakukan perjalanan kemana saja sambil melihat awan, dan memainkan imajinasi mu tentang bentuk-bentuk awan?

Saya sendiri sering. 

Saya senang ketika imajinasi bermain bentuk-bentuk awan tersebut.

Saya menemukan banyak bentuk. Bentuk Naga, bentuk bunga matahari, bentuk kucing, dan bentuk-bentuk unik lainnya.

Menurut saya itu merupakan hal yang sangat seru.

Atau kalau mau lebih asik lagi, pergilah kau ke tempat yang lapang, beralaskan rumput hijau, lalu berbaringlah.

Pandangi awan yang berada tepat di hadapanmu. Ada sensasi luar biasa yang akan kamu temui.

Bayangkan juga, kamu membawa dirimu terbang ke awan, menari-nari di awan, meloncat-loncat, membal-membal, dan menikmati waktu-waktu bahagia mu.

Andai kala itu saya dapat membuka jendela pesawat, dan berbaring sebentar di atas awan itu, saya pasti akan melakukannya.

Tapi, itu semua MUSTAHIL 🙂

AMBARISASI #1: DULU, DIMANA URAT MALU KITA?

Teman, ingatkah kalian akan lirik lagu berikut ?

Ketika kesepian menyerang diriku
Gak enak badan resah tak menentu
Ku tahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku

yah, lirik di atas adalah sepenggal lirik dari lagunya Project Pop yang berjudul “INGATLAH HARI INI”.

Hari ini, penyakit lama yang pernah saya idap semasa kecil menghampiri saya kembali. BRONKITIS, itulah namanya !

Badan saya dibuat kaku oleh penyakit ini. Penyakit ini sebenarnya ringan. Hanya saja, penyakit ini datang dikala kondisi badan saya yang sedang jelek-leknya. Alhasil, seluruh badan terasa sakit.

Lantas, disaat yang bersamaan pula, saya rindu akan sosok teman-teman dekat saya di masa kuliah dulu. Teman-teman yang entah dimana urat malunya berada ketika sedang bercengkrama.

Tak ada jaim-jaiman. Tak ada gengsi-gengsian. Tak ada hal yang kami tutup-tutupon. Kami saling berbagi. Karena apa? Karena menurut kami, itulah fungsinya seorang kawan.

Kami memang kawan. Adakalanya kami adalah lawan. Lawan dibidang akademik.

Kenapa saya bilang entah dimana letak urat malunya, lihatlah gambar di atas.

Foto di atas kami ambil pada saat kami berlibur ke puncak 4 tahun silam. Eh, sebentar. 4 atau 5 tahun yang lalu, saya lupa. Yang jelas kala itu badan saya masih buntal-buntalnya.

Kami berlibur, kami melepas penat bersama dari segala kegiatan perkuliahan. Kami bersenang-senang. Kami bergembira. Dan kami menggila bersama.

Saya kangen masa itu.

Kami semua kini berpencar. Ada yang sudah mulai menentukan masa depan kehidupannya dengan (akan) melangsungkan pernikahan. Dan, ada pula yang masih berkutat dengan urusan SKRIPSI yang tak kunjung kelar.

Teman, gue kangen kalian!

Kita berlibur lagi, yuk.

Gue berharap, kita bisa berlibur bersama-sama lagi. Mungkin suatu saat, kita akan berlibur dengan memboyong keluarga kecil kita masing-masing? Semoga saja!

KATA SATRIA: AMBAR, AMBIL GAMBAR

KATA SATRIA: AMBAR, AMBIL GAMBAR

[REVIEW] The Not-So-Amazing Life Of @aMrazing

Kapan terakhir kalian membeli buku, wahai tumblrmania?

Saya sendiri terakhir membeli buku itu sekitar 5 bulan lalu. Dan, mendadak kangen ingin membeli buku baru. Dan mengembalikan rutinitas membeli buku seperti dahulu kala.

Saya ini sebenarnya tipikal orang yang ga terlalu suka sama buku yang terlalu berat. Saya suka buku yang sederhana, tapi mampu membuat saya berimajinasi dengan cerita yang disuguhkan.

Kalau sudah seperti itu, selamat, buku itu bagus. 

Nah, salah satu buku baru itu adalah buku milik selebtwit kenamaan Indonesia. Dialah, Alexander Thian. Atau, lebih dikenal dengan nama @aMrazing.

Sebelumnya, saya sudah menikmati tulisan-tulisan haters Agnes Monica ini Alex di buku The Journeys 1 dan Cerita Sahabat. Dan, semuanya saya suka.

Jangankan bukunya, kicauan-kicauan serta gibah-gibahnya di twitter aja saya suka *cari muka, biar diajak syuting bareng anak-anak BLINK* :p

The Not-So-Amazing Life of @aMrazing. 

“Meributkan yang tak penting, menyepelekan yang penting”

Buku yang berisi 218 halaman ini mampu mengaduk emosi si pembacanya. Mulai dari tertawa terbahak-bahak sampai rahang sakit banget. Sampai-sampai, tanpa sengaja si pembacanya menitikan air mata. Eh, itu sih, yang saya rasakan, ya. Tau deh, kalau yang lain 😀

#TNSALOA (singkatan dari judul bukunya) berisikan tentang kisah-kisah yang dibawa Alex ketika masih bekerja di konter handphone di salah satu mall yang terletak di pinggiran kota Jakarta.

Alex bercerita soal para pengunjung konternya yang memiliki sifat, serta tingkah pola super ajaib.

Mulai dari seorang bapak berkemeja ijo lumut berkalung rantai kapal yang super-duper ngotot dan kekeuh dengan pendiriannya bahwasanya lagu yang berjudul “My Heart Will Go On” adalah lagu milik Maria Kere (inget, lho, Mariah Kere. Bukan Mariah Carey) bukan milik Celine Dion yang memang dialah penyanyi aslinya. Somplak. Bener-bener somplak. Ada ya, orang seperti itu? Ajaib 😆

Gahanya bapak itu yang memiliki kelakuan super ajaib. Ada juga pengunjung Alex lainnya yang ngga kalah ajaibnya.

Salah satunya, seorang cewek ABG yang dandanannya bak personel girlband Korea, yang ternyata penyuka lagu-lagu dangdut koplo Pantura ketimbang lagu-lagu Beyonce, Gwen, dan Britney Spears. Lebih parahnya lagi, dari tas ABG itu, didapati kondom bekas Ona Sutra. KONDOM BEKAS, saudara-saudari. Dan, Alex pun tanpa sengaja menyentuh barang menjijikan itu. Ewwwww.. Kamseupay ! Dasar, rakyat jelata. 

Tapi, tapi, tapi, narablog sekalian. Isi bukunya Alex ngga melulu berisi hal-hal yang menjijikan yang mampu mengocok perut, kok. Ada juga beberapa cerita di buku ini yang mengharu biru. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Diantaranya:

DUMMY SEHARGA DUA JUTA

 ”Nggak ada gunanya marah sama penipu atau orang yang jahat sama kita. Rezeki setiap orang sudah ada yang atur (halaman: 56) “

Arrrrggggghhhhhhh .. bagian ini berhasil membuat air mata jatuh dari mata indah saya. Bagian yang menceritakan seorang bapak yang memiliki seorang anak yang menyandang autisme ini, benar-benar menyayat hati ini.

Bayangkan saja. Seorang bapak yang berniat memberikan handphone canggih yang amat diingankan oleh anaknya —yang bernama Rama— malah ditipu mentah-mentah.

Pak Soni, nama bapak ini. Pak Soni membeli handphone yang diingankan anaknya kepada seorang yang tak dikenalnya sama sekali dengan harga DUA JUTA RUPIAH. Pada saat Pak Soni ingin mengisi beberapa lagu ke dalam handphone ini di konternya Alex, baru diketahui bahwasanya hape itu adalah hape dummy.

Njritttt.. Miris !

Di bagian ini juga, diceritakan bagaimana istimewanya seorang Rama (yang menurut orang lain anak seperti Rama ini membawa dampak buruk) adalah seorang anak yang benar-benar istimewa.

Saya masih ngga habis fikir, sama orang yang menganggap bahwasanya seorang anak yang menyandang autisme diakibatkan oleh kesalahan orang tuanya. F*CK ! Rasanya ingin sekali jedot-jedotin kepala orang yang berkata seperti itu.

Bener, deh, anak yang menyandang autisme itu punya keistimewaan yang belum tentu dimiliki oleh orang lain. Sebagai contohnya, ya Rama ini. Bayangkan saja, Rama yang masih dikategorikan anak-anak, hafal semua lagu milik Queen. QUEEN.

Bahkan, Rama pun hafal betul setiap lirik dari lagu-lagu tersebut. Saya aja yang udahh umur segini ga hafal-hafal 🙂

Ah, saya jadi kangen sama adik-adik seperti Rama ini yang pernah saya temui waktu di acara Walk 4 Autism & Autism Expo 2012. *koh Lexi, temui gue sama Rama, dong! Plissss*

Sebenarnya sih, masih banyak kisah-kisah seru dan mengharu biru yang ingin saya bagikan kepada para narablog sekalian. Tapi, ada baiknya kalau kalian langsung ke toko buku terdekat, dan beli buku ini. Baca, deh.

Saran saja, bacanya jangan di angkutan umum, ya. Biar ketawa dan ngakaknya lebih puas gitu, deh.

Yang bisa saya pelajari dari buku Alex ini, adalah janganlah menilai orang lain hanya dengan melihat penampilan luarnya saja. Ngga bisa dipungkiri, kerjaan yang paling enak ada nge- judge orang lain. Everybody judges everybody (halaman: 111).

Homo Homini Lupus, manusia adalah serigala untuk manusia lain. Kita sudah terbiasa menilai orang berdasarkan penampilan luarnya. Kalau pada pandangan pertama udah ga bikin sreg, kita akan menganggap rendah orang tersebut. DALEM !

Saya sendiri bingung mau memberi nilai berapa ke buku yang kelihatannya sederhana tapi menyimpan cerita-cerita yang kaya akan pesan-pesan moral di dalamnya.

Oia, Lex, ngga ada rencana mengajak Pinkan Mambo turut serta di sinteron mu? Saran aja, sih. Hahaha *ditapuk Koh Lexi*