Aku Benci COW (baca: KAU)

Tak terasa, Idul Adha sudah di depan mata. Tinggal hitungan hari lagi, pembantaian hewan-hewan qurban akan segera di laksanakan. Semua umat muslim di dunia, tidak terkecuali di Indonesia, menyambutnya dengan penuh suka cita. Suasana itu pun, sekarang sangat berasa di rumah gue Dari setahun yang lalu, bokap yang notabene-nya sudah bergelar haji, sibuk ngumpulin saudara-saudara untuk bikin uang kas, yang nantinya akan dipakai untuk membeli hewan qurban.

Semuanya senang dan gembira menyambut hari besar itu. Tapi, rasa seperti itu tidak untuk gue. Bukannya sombong atau apa, cuma gue rada parno sama hewan gede yang nanti pas Idul Adha akan disembelih, SAPI. Dari tahun ke tahun, gue selalu panik kalau sudah mendekati Idul Adha. Gue takut kalau sewaktu-waktu gue di-ikut-sertakan dalam kepanitian penyembelihan hewan qurban.

JRENG.. JRENG.. JRENG ! Untuk tahun ini, sepertinya gue akan sedikit menelan ludah dalam-dalam. Tanpa sepengatahuan gue, bokap sudah memasukan nama gue menjadi salah satu panitianya. Aduh. Parno parah. Gue takut. Gue takut kalau kejadian tempo hari terulang lagi.

Selama ini, temen-temen gue mengira, kalau gue menolak ikut dalam kepanitian dikarenakan gue takut susah dibedakan sama si sapi. Itu juga sih sebenarnya, secara badan gue sama sapi 11-12, makanya gue takut kalau si “tukang jagal” salah sembelih *lebih baik mencela duluan daripada dicela belakangan*

‘Dit, Idul Adha kali ini lo jadi panitian seksi pembagian ya’

‘Gue? Jawab gue, panik. ‘Duh, jangan dong. Please’

‘Tenang, Dit. Lo ga usah takut susah dibedain sama sapi. Sapi, gue kasih nomor di dada.. Sedangkan elu, gue kasih nametag di dada dengan tulisan SAPI’

‘SIAL. Sama aja, goblog!’ kata gue meradang

Sebenarnya, rasa parno ini sudah ada semenjak gue duduk di bangku kelas 4 SD. Dulu, setiap sapi lewat depan rumah gue, gue bisa teriak sejadi-jadinya.  ‘Awas ada SAPI.. SAPI kayak BANCI.. Arrrggghhh ada SAPI. Papi, help me!’ . Kalau dibandingkan dengan banci, sebenarnya sereman banci. Tapi buat gue, sereman sapi. Apalagi banci berwajah sapi.

Gue ingat betul, Idul Adha di tahun 1996 adalah Idul Adha paling suram untuk gue. Pada saat itu, gue di ajak Budi dan teman-teman se-permain-an di rumah untuk melihat penyembelihan hewan qurban di lapangan. Bermula dari “sok-sok-an” berujung tragis!

Budi, anak kecil paling tengil dan songong yang pernah gue kenal. Ga tau kenapa, ke-tragis-an yang menimpa gue, semua itu dikarenakan Budi. Malam sebelum hari raya, Budi mengajak gue dan temen-temen lainnya untuk ngumpul. Tiba-tiba;

‘Woi, besok kita pakai baju merah, yok’ kata Budi buka suara.

‘Heh, baju merah? Diseruduk nyahok kau’

‘Enggak, tenang aja. Kan diiket’ kata Budi meyakinkan.

Entah kenapa, kami semua selalu mengikuti perintah Budi. Padahal, Budi sendiri adalah manusia paling licik dan bengis, tapi, setiap dia mengajak kami berbuat sesuatu, pasti selalu kami iya kan.

Pas hari “H” nya, kami semua pun sepakat memakai baju berwarna merah yang telah di-sepakati malam sebelumnya.

Taraaaa.. Waktu penyembelihan pun tiba. Sapi-sapi yang dikurung di dalam gudang lapangan satu per satu dikeluarkan. Sapi pertama di keluarkan, diikat dan siap untuk disembelih. Tak perlu menunggu waktu lama, sapi itu pun sudah terkapar tak bernyawa. Begitu juga dengan sapi-sapi berikutnya, semuanya tak ada masalah berarti.

Namun, beda ceritanya pada saat akan melakukan penyembelihan sapi ke-7. Sapi yang dikeluarkan pun kelihatannya bandel dan sangar. Gue, Budi dan teman-teman lainnya yang heboh sama baju berwarna merah, duduk-duduk manis di atas pagar mesjid. Setelah dikeluarkan lalu diikat, sapi ke-7 siap disembelih. Tapi apa yang terjadi, si sapi ngamuk dan berhasil membuat panitia pemotongan kelabakan.

Budi yang dikenal sebagai anak yang super jahil, mulai beraksi. Dia menarik gue dan temen-temen lainnya mendekati sapi sangar itu. Tanpa fikir panjang,  tiba-tiba Budi membuka bajunya dan melambaikan baju merahnya itu ke mata si sapi bandel nan sangar itu. Dan kalian tahu apa yang terjadi, si sapi mengamuk, si sapi loncat sana loncat sini. Sehingga membuat seluruh panitia panik. Sampai pada akhirnya, si sapi pun terlepas dari ikatan dan membuat geger warga yang berada di sana.

‘Adit.. Dimas.. Lariii’ teriak Budi ‘Buruan lari’. Sial, si sapi mengejar kami. Kami yang diserang rasa panik pun lari berhamburan dan mencar-mencar. ‘Anjing kau Budi’ hina Dimas. Karena takut diserodok, gue pun lari meninggalkan Dimas. Gue lari ke kiri, sedangkan Dimas dan yang lain lari ke kanan.

Gue yang gendut dan susah lari, tiba-tiba terjatuh dalam keadaan tengkurep. Dan ternyata, si sapi biadab itu justru lari ke kiri . Gue yang sudah terjatuh pun hanya bisa diam dan ga bisa berdiri. Kalau gue berdiri, yang ada gue bakal diserodok. Ternyata, itu semua Per-Cu-Ma. Si sapi biadab itu berhasil mendaratkan 1 kakinya ke punggung gue. Yes, kepunggung seorang anak kecil berusia 9 tahun. Dan rasanya itu sakit banget. Lebih sakit punggung ke injek kaki sapi daripada harga diri gue yang di-injek-injek.

‘Mamaaaaa.. Sakit ma. Abang ga bisa bergerak’ teriak gue sambil menahan sakit. Tiba-tiba, segerombolan orang datang menghampiri gue dan membopong gue yang kondisinya sudah mulai lemas tak berdaya. Sapi biadab itu berhasil membuat gue pingsan dan membuat ke-dua-orang-tua gue panik.

FYI, masa penyembuhan punggung gue berlangsung selama 2 minggu. Tapi, itu belum pulih banget. Kalian tau cara jalan aki-aki dan nini-nini? Seperti itulah jalan gue selama masa penyembuhan dan pemulihan.

Tahun demi tahun pun berganti, kenangan pahit itu belum juga hilang dari dalam diri gue. Gue fikir, setelah 11 tahun berlalu, gue ga akan pernah ber-urusan dengan mahluk menakutkan itu. Ternyata itu SALAH BESAR.

Sekitar tahun 2007, kejadian pahit itupun terulang kembali. Memang sih, gue ga di injek untuk ke-2 kalinya, tetap saja kejadian itu membuat gue ketakutan setengah mati.

Waktu itu, selepas ber-silaturahmi ke rumah besan kakek gue, mobil yang gue dan keluarga gue tumpangi, melintas di daerah Kuningan. Jalanan waktu itu sepi banget. Ga ada mobil dan kendaraan lain yang melintas. Suasananya benar-benar sepi deh. Tiba-tiba saja, dari arah depan, ada sosok besar mendekati mobil yang kami tumpangi. Tapi anehnya, ada kerumunan orang di belakang mahluk besar itu. Ternyata eh ternyata, itu adalah sapi lepas. Dan, orang-orang yang di belakangnya itu adalah warga dan polisi yang berusaha menangkap sapi brandalan itu.

Gue yang kala itu duduk di posisi depan, merasa ketakutan. Karena si sapi itu lari ke arah mobil kami. Dan berhenti tepat pula di depan mobil kami. JLEG.. Gue takut. Gue takut si sapi ngamuk dan merusak mobil kami. ‘PAKDE! Mundur aja buruan’ kata gue ketakutan. Mungkin karena rasa panik juga melanda Pakde gue, dia pun salah masukin gigi. Yang di masukin bukan buat memundurkan, malah masuk gigi maju. BREG! Bagian depan mobil kami menabrak tubuh si sapi. Si sapi terjatuh dan berhasil ditangkap oleh warga dan polisi yang dari tadi sibuk mengejar hewan menakutkan itu. Ya, walaupun bagian depan rusak, tak pa-pa lah, yang penting hewan besar itu berhasil di bawa ke tempat pemotongannya.

Itulah sebabnya mengapa gue sangat takut sama hewan menyusui itu. Walaupun kata cewek-cewek boneka sapi itu menggemaskan, tapi menurut gue, ITU TIDAK LUCU SAMA SEKALI! Gue serius!

Kalau ada yang nanya apa gue mengkonsumsi daging sapi atau tidak, jawabannya IYA. Sampai detik cerita ini di turunkan, gue masih suka sama makanan yang berbau sapi. Steak, dendeng, rendang, gulai sapi dan bakso masih berani untuk gue makan.

Gue memang punya rasa trauma yang teramat terhadap si sapi, tapi kan waktu dia belum di sembelih. Kalau sudah disembelih, beda lagi ceritanya. Haha. Siapa gitu yang berani menolak hidangan yang ada daging sapinya. Rugi rasanya kalau gue tidak menyantap daging hewan unyu dan menakutkan itu.

Btw, ke Hollycow steak, yuk. Apa ke SINOU steak? Mari kita bantai sapi-sapi bajingan itu *asah golok*

4 thoughts on “Aku Benci COW (baca: KAU)

  1. Nando November 13, 2011 at 11:03 am Reply

    Hahahaha… Seru, Gan.
    Biarpun sebenernya itu pengalaman traumatis, tapi terkesan lucu buat yang baca. 😀

    • Aditya Eka Prawira November 13, 2011 at 11:17 am Reply

      Serius, mas? Wahaha, ga nyangka ada yang baca *tutup muka*

  2. hesty December 21, 2011 at 10:01 am Reply

    ahahah sumveh, tragis banget pngalamannya,,, untung gak benyek diinjek sapi,,, gokilll,,, 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: