Blogger Camp Indonesia, Belajar Konten Sambil Kemping

Dua tahun vacum, acara kumpul-kumpul blogger hadir lagi dengan konsep berbeda. Bernama blogger camp Indonesia 2015 , delapan puluh blogger dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bandung diangkut menggunakan bus Big Bird dari Hotel Harris Tebet ke Hulu Cai di Bogor lalu kemping untuk merayakan Hari Blogger Nasional 2015 pada Selasa, 27 Oktober 2015.

Blogger camp diadakan serentak di empat kota; Jakarta, Purwokerto, Surabaya, dan Makassar. Tak heran jika selama satu hari kemarin taggar #bloggercampid merajai trending topic Indonesia. Apakah #lovekonten juga? Sebentar, saya tanya adminnya!

Tidak sekedar kumpul, api unggunan, nyanyi-nyanyi, dan bagi-bagi hadiah dari sponsor; Blue Bird Group, Tauziah, dan Sunpride, blogger juga diberi pembekalan mengenai konten blog yang kredibel oleh Ndoro Kakung, Iman Brotoseno, serta budayawan Nirwan Dewanto.

Peserta blogger camp Indonesia 2015 tidak hanya blogger kemarin sore. Hadir juga mereka yang mulai menulis blog di platform tidak ada kolom komentar, pasang foto selfie dianggap tabuh, tidak ada tempat buat nge-share hasil tulisan. Sebut saja mbak Nuniek, pakde Mbilung, Ndoro Kakung si pria wangi, Tikabanget duta lipen Indonesia, Nico Wijaya, dan mbak Nyai Wiwiek.

Menurut Nirwan Dewanto, pada dasarnya semua orang bisa menulis, cuma butuh konsistensi. Dia juga bilang, menulis itu sarana bercakap-cakap yang membutuhkan kedisplinan. Kamu blogger? Blogger yang seperti apa? Fokus pada satu topik atau campur-campur macam gado-gado seperti adiitoo.com yang hari ini berulangtahun ke-empat?

Hati-hati buat blogger macam saya ini. Jika blogger menulis satu topik A lalu menulis topik lain, bisa-bisa tulisan lain tidak bakal dipercaya oleh pembacanya. Sedangkan yang fokus pada satu topik, lebih dipercaya karena blogger tersebut sudah membangun reputasi diri selama bertahun-tahun.

Jika kalian blogger campur-campur tapi menulisnya ‘tidak asal’, saya rasa nasibnya bisa sama seperti blogger yang fokus pada satu topik seperti Ariev Rahman, Trinity Traveler, dan Iman Brotoseno yang kerap menulis tentang sejarah di halaman blognya.

Terpenting, menulislah, tak usah cemas apa kata orang. Kitalah yang menentukan standar diri kita sendiri. Dan tulisan itu bisa dipertanggungjawabkan.

Mas Iman Brotoseno, penulis mengenai sejarah terutama tentang mantan Presiden RI Pertama Soekarno ini mengatakan, sudah saatnya para blogger membangun kredibilitas diri di blognya supaya personal brandingnya semakin ciamik. Sebab, ke depan blog yang kita urus itu bisa jadi personal branding untuk dirinya sendiri.

Kata Mas Iman lagi, blogger itu akan mengunjungi ke blog yang tulisannya sesuai dengan mintanya.

Dari workshop berdurasi satu jam di Hari Blogger Nasional 2015 ini, para blogger juga diberitahu kalau konten tak selalu tulisan. Gambar dan video juga bisa digunakan untuk menggambarkan siapa kita. Nah, yang sering di-endorse brand-brand besar, jangan asal ambil saja. Ketahui dulu seluk beluk brand tersebut.

Aneh dong, ketika blogger menulis tentang brand A tapi tidak tahu apa saja produk dari brand tersebut. Ketika ditanya malah melempem!

Kalau mau blognya selalu dikunjungi orang lain, cantumkan di biodata Twittermu.

Semalam, saat api unggunan, Ndoro Kakung sempat memberikan tips supaya jumlah pengunjung blog kita banyak. Kalau bisa sih, kaedah penulisan harus diperhatikan. Harus EYD. Perhatikan juga jenis, ukuran, dan warna font. Campur-campur cukup blognya saja, warna tulisan kalau bisa jangan campur-campur, bikin sakit mata. Selain itu, jangan lupa mencantumkan gambar yang dapat dijadikan jedah antara baris satu dan baris kedua. Itu adalah hal-hal standar yang seringkali dilupakan para blogger yang hadir ke blogger camp Indonesia 2015, termasuk adiitoo.com .

Selamat Hari Blogger Nasional 2015, sejawat. Ingat, pembayaran itu dilakukan 90 hari kerja plus kalau pihak pemakai jasa tidak lupa. Sabar saja, anggap itu tabungan. Salam!

Terimakasih sponsor utama untuk acara ini, Indosat.

Advertisements

Semalam di Kota Palembang, Kuliner Saja

Meski kabut asap tidak sepekat hari-hari lain, kualitas udara kota Palembang yang buruk terasa sekali begitu rombongan keluar pintu Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II pukul 09:30 pagi. Sumok kali, kata orang Sumatera. Beruntung di antara kami tidak ada yang punya riwayat asma.

Nasib, pertama kali ke Palembang situasi kota terbesar nomor dua di Sumatera itu malah tidak memungkinkan saya mengunjungi sejumlah tempat. Dinas dua hari satu malam, Jumat hingga Sabtu kemarin, diisi dengan kulineran saja. Isi perut dari satu tempat makan ke tempat makan yang lain.

Langit kota Palembang tertutup kabut asap yang sangat tebal. Dari jarak jauh, Jembatan Ampera seperti hilang.

Situasi seperti itu bikin kami bingung, waktu ditanya pak supir, mau ke mana? Mau ke penginapan, baru check-in pukul 02:00 siang. Mau ke Jembatan Ampera, jauh dan lagipula ketutupan asap. Bahkan cenderung samar. Semakin bingung karena ada yang harus Jumatan. Yang penting ke kota dulu, lalu mampir ke kedai es kacang Mamat di Lapangan Hatta, saran saya. Namun, pak supir malah membawa kami ke pempek VICO dengan alasan di tempat itu bisa ngobrol, nonton teve, cocok buat menunggu waktu sholat Jumat.

…da aku mah bisa apa atuh, bukan orang sana. Manggut wae!

Karena dua hari itu kebanyakan makan ini itu ketimbang mampir ke sana ke mari, inilah tempat makan di Palembang rekomendasi teman-teman yang kami kunjungi;

1. Pempek VICO

Niat awal pengen ke Lapangan Hatta, nongkrong-nongkrong cantik menikmati segelas es kacang Mamat yang tersohor itu. Sebagai tamu yang baik dan percaya akan kualitas lidah masyarakat setempat, pasrah saja dibawa ke pempek VICO.

Tempat makan yang terletak persis di seberang Palembang Indah Mall (PIM) ini ramai sekali. Masih pagi saja sudah ramai seperti itu, apalagi di sore hari? Tidak bisa dibayangkan. hanya bisa membayangkan sosok Mas VICO.

Pelayan menghampiri kami lalu menyerahkan selembar kertas berisi menu. Belum sempat melihat apa saja makanan dan minuman yang ada di pempek VICO, kami sudah tahu harus pesan apa; tiga es kacang marah, satu jus avokad, dan dua porsi pempek berisi pempek telor, lenjer, adaan, keriting, pistel, tahu, dan pempek kulit berukuran kecil.

Pempek beraneka jenis berukuran kecil disuguhkan jika mampir ke Pempek VICO, depan Palembang Indah Mall (PIM)

 

Memang paling enak kalau makan pempek di Pempek VICO minumnya es kacang merah ini

 

Saya tidak lupa kok kalau lagi diet. Tapi, siapa coba yang bisa menolak kenikmatan seporsi pempek langsung dari asalnya? Disajikan dalam keadaan baru selesai digoreng, cuko yang hitam pekat, ditemani segelas es kacang merah yang ada susu kental manisnya.

Rasa jelas berbeda dari pempek yang ada di Jakarta. Apalagi yang dijual abang-abang di depan SD. Jauh banget. Kayak dari Ciputat ke Bekasi, karena dari Jakarta ke Palembang cuma sejam.

Pempek VICO
Jl. Letkol Iskandar No. 541-542
Depan Palembang Indah Mall
Telp. 0711- 316066

2. Brengkes di Rumah Makan Pondok Kelapa

Dari VICO kami menuju masjid terlebih dahulu untuk Jumatan, sebelum ke Benteng Kuto Besak melihat Jempatan Ampera yang tertutup kabut asap, lalu check-in, dan pilih tidur siang karena capai sekali. Begitu kena pendingin ruangan, malah malas keluar kamar.

Barulah malam harinya rombongan dibawa ke Rumah Makan Pondok Kelapa, yang hanya selemparan kolor dari tempat kami menginap di Hotel Amaris.

Makanan yang tersaji malam itu standar, seperti makan malam pada umumnya di restoran mana saja. Ayam saus tiram, udang goreng tepung, sayur kangkung, ikan bakar, dan sambal mangga.

Nama campuran ikan dan tempoyak durian yang mirip pepes ini adalah Brengkes, bukan brengsek.

Pas ngobrol sama jurnalis setempat yang ikut makan malam bersabarulah kami mengenai makanan khas Palembang, salah satu dari mereka bilang kalau di tempat makan itu menyediakan brengkes juga.

Brengkes mirip dengan pepes ikan. Beda bumbu saja. Kalau bumbu pepes ikan ketumbar, kemiri, bawang putih, bawang merah tumbuk, sedangkan brengkes tempoyak durian. Rasanya endeus banget! Lebih enak dari menu yang lain. Ludes dalam kurun waktu tak sampai tiga menit.

Hati-hati kepleset lidah saat memesan brengkes ini. Nanti yang keucap malah brengsek.

Pondok Kelapo
Jl. Demang Lebar Daun No. 184, Palembang Sumatera Selatan, 30151.
Telp. 0711- 412011

3. Martabak HAR Simpang Sekip

Martabak HAR yang sekilas mirip roti canai khas Aceh atau India ini bisa dinikmati di Simpang Sekip, Palembang

Di samping hotel kami ada juga resto martabak HAR tapi sepi banget. Bang Goiq merekomendasikan martabak HAR yang di Simpang Sekip. Dia juga bilang kalau resto martabak HAR samping hotel kami itu abal-abal, yang asli cuma Simpang Sekip.

Dari Rumah Makan Pondok Kelapa, kami meluncur ke resto martabak HAR yang direkomendasikan itu. Suasanya beda sekali sama yang di samping hotel. Di sini ramai sekali. Kami datang belum malam banget saja sebagian menu sudah habis.

Hae, kak!

Sudah pernah makan martabak HAR sebelumnya tapi yang ini kuahnya enak banget. Saya memang suka yang kental-kental. Eh, ini ngomongin makanan, lho. Rekomendasi Bang Goiq tidak salah. Jadi, jika ada yang merekomendasikan tempat lain, berarti itu simpang siur.

Di tempat ini saya bertemu member Kopdar Jakarta, kak Oelpha. Kopdar di Jakarta saja susah, malah ketemu di sini. Eh, kak Ira alias itik kecil malah sedang di Jakarta.

Abdullah HAR Martabak & Resto
Jalan Jenderal Sudirman Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia.

4. Mie Celor 26 Ilir milik H. M. Syafei Z

Sama seperti mie lendir yang ada di Riau, mie celor khas Palembang memang paling enak disantap di pagi hari. Tampilan kedua mie ini sama persis, mie yang panjang, telur, dan kuah kentel seperti-namanya-yang-tidak-usah-disebut-lagi.

Saat makan mie celor jangan ngebayangin sesuatu.

Kalau orang bule paling menganggap ini spageti karbonara yang disausin. Porsi yang tersaji terlihat sedikit, tapi ternyata buanyak aja. Kenyang gila. Karena masih pagi, mie celor itu tidak saya campur dengan sambal, yang saya duga enaknya bakal nampol. Jangan lupa celupin kerupuk ikan.

Tak cuma bang Goiq, rekan-rekan jurnalis di sana juga merekomendasikan Mie Celor 26 Ilir milik HM Syafei Z ini. Lagi-lagi tidak salah, mie celor ini rasanya enak banget. Pengen lagi!

Mie Celor 26 Ilir milik HM Syafei Z
Jl. KH. Ahmad Dahlan Nomor 2, Palembang, Sumatera Selatan, 30135, Indonesia

5. Baung Patin RM Pindang Simpang Bandara

 

Pindang ikan baung di RM Pindang Simpang Bandara. Kuah yang gurih, pedas, dan menyegarkan, poin untuk pindang ikan baung ini 9,5 dari 10

 

Dari sekian banyak makanan khas Palembang yang harus dicoba, cuma pindang yang belum kesampaian sampai beberapa jam sebelum pulang ke Jakarta.

Supir kami memberitahu kalau di simpang bandara ada rumah makan yang jual pindang enak. Meluncurlah kami ke sana, pesan pindang ikan baung.

Saya baru tahu pindang tak selalu harus ikan patin. Dan saya juga baru tahu ada yang namanya ikan baung. Waktu makan di RM Pindang Simpang Bandara, pelayannya juga menyajikan lalapan bersama sambal mangga yang pedasnya nanggung. Rasa pindang ikan baung ini enak, pedas, gurih, dan aroma rempah-rempahnya tercium sekali. Saya nambah cuma dua kali, itu pun nasi saja.

RM Pindang Simpang Bandara
Jl Tanjung Siapi-Api Nomor.1
Palembang, Sumatera Selatan

Menyantap makanan khas Palembang sudah, melintas di atas Jembatan Ampera juga sudah, sudah bisa dibilang sah pernah ke Palembang, belum? Kalau kalian punya rekomendasi tempat makan di Palembang beda dari yang saya sebut di atas, boleh lho dishare!

Liburan Dadakan ke Malang dan Bromo

Kota Malang menjadi saksi kami liburan bareng berempat. Sedangkan Bromo menjadi saksi betapa kuat fisik dua orang perempuan yang turun ke lapangan mencari berita sejak kemunculan film Pengantin Remadja. Menelusuri jalan menanjak dan berpasir tanpa menunggangi kuda yang bisa mereka sewa jika mau, lalu berhasil menaiki satu per satu anak tangga hingga ke puncak gunung adalah bukti tua hanya luarnya saja.

Yang bikin saya tambah takjub, salah satu dari dua orang perempuan itu ada yang sakit. Rupanya, liburan kemarin membuat dia lupa akan penyakitnya.

Siapa sangka kalau kami semua bisa naik ke atas puncak itu. Apalagi emak-emak itu usianya tak lagi muda

Liburan dadakan empat hari empat malam di pertengahan Mei 2015 bermula dari kegelisahan Mbak Ana yang harus memenuhi undangan simposium salah satu produsen obat di Malang seorang diri.  “Coba kalau kalian diundang juga, kita bisa extend ke Bromo. Gw lihat di Twitter, ada tempat sewa jeep murah. Seru deh pasti kalau Warkesnyir ikut semua, bisa kita sewa satu mobil.” kata Beliau ke saya di dalam taksi menuju ke kantor masing-masing usai menghadiri seminar kesehatan.

Siapa coba yang nggak mau liburan? Apalagi liburan bareng sahabat. Namun,  berhubung sebagian Warkesnyir alias wartawan kesehatan (doyan) nyinyir tidak lagi di desk Kesehatan, dan kebanyakan adalah jurnalis media online, tentu waktu liburnya berbeda.

Jika jurnalis cetak macam Mbak Ana, Rendra, Mbak Lilis, Nida, dan Qalbi bisa leyeh-leyeh di tanggal marah, saya, Uno, Helmi, Fitri justru merasakan hal sebaliknya. Ketika mereka leyeh-leyeh di rumah, tidak mandi seharian, dan marathon DVD Korea, kami malah berkutat dengan kerjaan.

Mbak Ana terus mengajak yang lain untuk liburan di Malang dan Bromo. Baginya, tak ada usaha yang sia-sia. Ajak saja dulu, bakal ada yang mau ikut atau tidak itu urusan belakang. Dari delapan anggota yang tersisa, hanya dua orang yang menjawab mau. Sisanya, menolak dengan alasannya masing-masing. Aku piket, istriku nggak bisa ditinggal, sudah ada janji sama yang lain, dan ada yang sudah keburu bikin janji wawancara di hari Sabtu. Sedangkan saya masih labil. “Gw mau, deh. Sepertinya gw bisa izin, mengingat kemarin-kemarin gw muluk yang piket,” kata Saya sok yakin.

Rupanya, bos memberi izin. Kali itu giliran Dikta yang piket. Dikta, personel termuda di tim desk Kesehatan hanya bisa pasrah menerima surat cuti dari saya. Namun ada kendala lain, si Kawan harus diberitahu mengenai rencana liburan mendadak ini.

“Boleh, asal kalau di-WhatsApp atau ditelepon tolong direspons,” jawab si Kawan singkat sambil menyantap ayam goreng di warung tenda favoritnya. Oke, berarti semua izin sudah didapat. Bahkan izin orangtua sudah saya kantongi sejak lama.

Setelah jelas siapa saja yang pergi, masalah baru muncul. Drama sebenarnya baru saja di-mu-lai. H-7 keberangkatan belum tahu juga bakal naik apa ke Malang, bakal bermalam di mana, jauh tidak dari kantor tempat penyewaan jeep ke Bromo, dan harus bawa apa saja, habis dari Bromo bakal ke mana lagi. Doh! Kondisi itu terjadi sampai H-1 keberangkatan.

  1. Naik bus lebih dari 17 jam

Sejak awal pesawat kami coret dari daftar moda transportasi yang akan kami pergunakan. Tidak lain karena harganya yang kebangetan. Maskapai kelas C saja harga sekali jalan tembus Rp 950.000 apalagi maskapai kelas A? Coret! Satu-satunya moda transportasi yang harga tiketnya sesuai kantong kami adalah kereta api. Kami hanya bisa gigit jari pas tahu semua tiket kereta api ludes terjual.

“Kita naik bus aja. Pas berempat. Dua-dua duduknya,” saran Rendra.

“Bus? Ogah. Sempit. Kaki gw nggak leluasa bergerak,” jawab saya menolak.

“Kalian cari bus yang kelas eksekutif. Harganya juga nggak mahal. Paling sekitar Rp 400 ribuan. Yang tempat kapasitasnya Cuma 25 orang. Luas,” kata Mbak Ana.

Bus Malino Putra ini luasnya bukan main. Buat individu yang besarnya seperti saya, bus ini rekomend banget

Setelah membaca banyak review para pengguna bus, pilihan jatuh ke Malino Putra. Dari 100 komentar yang ada, hampir sembilan puluh lima persen berpendapat bus ini yang paling top. “Ibu Ane itu hampir dua minggu sekali melakukan perjalanan Malang-Jakarta-Malang menggunakan bus Malino Putra. Kata dia supir bus ini bawanya sangat hati-hati. Dapat makan pula. Busnya juga nyaman,” tulis salah satu akun yang membuat kami, terutama saya, semakin yakin menggunakan bus ini.

Melakukan perjalanan jauh menggunakan bus adalah pengalaman pertama saya. Dulu pernah naik bus dari Medan ke Aceh, tapi masih kecil banget. Jadi lupa sensasinya.

Petugas loket sudah memberitahu kalau perjalanan menggunakan bus Malino Putra memakan waktu selama 19 jam. Itu pun kalau di beberapa kota tidak macet. Dengan bus senyaman itu, tentu bukan sebuah masalah besar buat saya. Kalau ngantuk ya tinggal tidur lagi. Kalau mau ngobrol ada temannya. Kalau capai melakukan semuanya, saya pilih baca e-book yang dibeli menggunakan pulsa Indosat. Beres!

Bergerak dari terminal Rawamangun sekitar Rabu pukul 03:30 sore, tiba di terminal kota Malang pada Kamis pukul 12:30 siang.

“Kalau naik pesawat, kita sudah sampai di Amerika kali, ya,” kata saya ke mereka.

  1. Penginapan

Sama seperti kereta api dan pesawat, hampir seluruh penginapan di kota Malang penuh untuk dua hari itu. Saya teleponin satu per satu, jawabannya sama semua,”Maaf, bu, untuk hari itu sudah penuh semua. Adanya tersisa satu kamar yang VVIP,” kata para petugas hotel.

Masing-masing dari kami memberi referensi hotel dan hostel mana saja yang sekiranya cocok untuk diinapi selama tiga hari. Hasilnya nihil. Beberapa teman, bahkan nara sumberku, dengan senang hati menampung kami selama di sana. Saya pribadi tidak masalah sekali pun harus tidur di atas sofa ruang tamu. Cuma saya `kan liburan berempat, bareng sama emak-emak juga. Dari pada rempong, saya ucapkan terimakasih untuk tawarannya, dan melanjutkan pencarian.

Perkarangan Enny’s Guest House dari lantai atas kamar kami

“Eh, ini penginapanya bagus deh. Kata teman-teman gw yang pernah menginap di sana, tempatnya enak gitu,” kata Rendra sambil memperlihatkan salah satu situs berisi penginapan di Malang paling rekomendasi.

Rendra kami desak segera menghubungi penginapan tersebut. Berdoa saja, siapa tahu masih ada kamar yang kosong. “Yang kosong untuk hari (Kamis) itu Cuma satu. Tapi hari Jumatnya ada satu tamu yang bakal kelar. Nantinya bisa pindah kalau memang mau pindah,” kata karyawan penginapan tersebut.

Tanpa pikir panjang, Rendra pesan kamar yang kosong itu, dan langsung mengirim sejumlah uang sebagai tanda jadi.

Masalah penginapan kelar, karena kami akan bermalam di Enny’s Guest House. Setelah tanya ke beberapa teman, letak EGH sangat strategis. Dekat juga ke kantor tempat penyewaan jeep.

  1. Mengujungi Bromo

Jeep yang kami sewa tiba tepat waktu di halaman depan Enny’s Guest House (EGH) pukul 11:00 malam. Sebelum beranjak meninggalkan kota Malang menuju Bromo, kami terlebih dahulu dibawa ke kantor mereka. Diberitahu besaran suhu di sana, titik kumpul di mana, dan bakal ke mana lagi setelah melihat matahari terbit.

Malam itu suhu kota yang dikelilingi sejumlah gunung seperti Arjuno, Semeru, Kawi dan Panderman, serta Kelud mencapai dua puluh dua derajat celcius. Waktu yang tepat menyantap semangkuk Indomie rebus tanpa rasa berdosa, bukan? Dan cuaca seperti itu bisa menghasilkan satu orang anak sepuluh sampai sebelas bulan mendatang.

Sepanjang perjalanan menuju Bromo, supir jeep kami bernama Patrick, memberitahu spot paling asyik melihat matahari terbit dari puncak Gunung Penanjakan. Mengingat hari kejepit Nasional, dia memastikan bakal banyak wisatawan yang melakukan hal serupa. Maka itu perjalanan dilakukan sekitar pukul 12:00 malam. Biar tiba di pos 2 sekitar pukul 03:30 dini hari dan jeep dapat parkir di tempat yang tak terlalu jauh. Sehingga memudahkan kami mencapai lokasi yang dimaksud.

Patrick menyarankan supaya kami jangan tidur. Nikmati saja perjalanan menuju Bromo karena bakal banyak menemukan hal-hal menarik yang mungkin tidak pernah kami temui selama di Jakarta. Salah satu ucapan Patrick yang bikin saya penasaran adalah begitu di dataran atas menuju Bromo, kami dapat melihat bintang-bintang bertebaran di langit. “Kakak pasti takjub pas melihatnya,” kata Patrick.

Inginnya, sih, begitu tapi keburu mata ini kriyep-kriyep. Melihat ke belakang, Mbak Lilis dan anaknya sudah pulas. Rendra setengah tidur. Cuma Mbak Ana yang masih terjaga. Berhubung saya tidak bisa tidur, Mbak Ana saya ajak saja bercanda. Sesekali Patrick kami goda. Tapi kayaknya tidak mempan.

“Nah, ini saya bilang tadi. Banyak `kan bintangnya? Pasti kakak jarang melihat bintang sebanyak ini di Jakarta,” kata Patrick yang terlihat sumringah dan tersenyum membuktikan omongannya. Brondong ini akhirnya tersenyum. Saya senang melihatnya.

“Banyak banget bintangnyaaaaaa,” kata saya sambil mengeluarkan kepala untuk melihat semua bintang-bintang itu.

Setelah melewati jalan yang bikin ingat sama Tuhan, mendadak kangen sama orangtua dan pacar, plus mendadak ingat punya hutang sama siapa saja, sampailah kami di pos 2. Bak lantai yang ketumpahan gula, puluhan motor langsung menghampiri jeep kami dan menawarkan jasa mengantar sampai ke atas. Catat, hanya sampai depan pos masing-masing tidak sampai spot yang diinginkan. Makanya, selagi kaki masih kuat, mending jalan tidak usah pakai ojeg.

Selepas melihat matahari terbit di Bromo.

Jatuh cinta banget sama pemandangan seperti ini

Satu mimpi terwujud. Selanjutnya, bakal ke mana kita?

Selain itu, harga yang mereka tawarkan tidak masuk akal. Persis seperti ojeg-ojeg pangkalan depan kantor saya. Yang langsung tembak harga padahal belum tentu tahu letak persis alamat yang dituju. Sad!

Tidak hanya dimanjakan dengan keindahan matahari yang secara perlahan menampakkan wujud, dari puncak Gunung Pananjakan pos 2 kami juga bisa melihat dengan jelas keindahan Gunung Bromo, Semeru, dan puncak Gunung Tengger yang tertutup kabut cukup tebal.

Buat yang pergi sendiri, bakal sering elus dada. Waktu itu, sepasang kekasih warga negara asing berdiri di depan saya dan berciuman sambil berfoto. Mupeng, njir! Sebentar-bentar ciuman, pelukan, melihat ke arah Gunung Bromo, senyum-senyum, lalu ciuman lagi. Ciumannya kurang bringas, terlalu standar, dan sadar kamera. Cowoknya terlihat binal dan tidak suka basa-basi tapi ceweknya malu-malu-nanggung-kalau-udahan.

Buat kalian yang mungkin tidak bawa pakaian banyak untuk lapisan, tenang, banyak yang jual keperluan tersebut di puncak Gunung Pananjakan. Sarung tangan, kupluk, kaos kaki tebal, sampai jaket tebal a la kadarnya pun dijual sama mereka. Paling penting adalah perut jangan kosong. Sebelum berangkat ke Bromo sebaiknya makan terlebih dahulu. Tidak perlu memberatkan tas dengan isi makanan, karena banyak penjual makanan juga di sana.

 

 

#Curjek : Cerita Nahas Pengemudi Gojek

Mungkin di jidat saya ada tulisan ‘Orang ini bisa jadi tempat curhat’, sehingga para pengemudi Gojek tidak ragu menceritakan semua hal yang mereka alami ke saya. Ada saja cerita yang mereka bagi selama di perjalanan mengantar saya ke mana pun.

Dari cerita bahagia sampai cerita yang nahas banget. Sampai-sampai kalau yang bercerita itu rada-rada keren, bawaannya pengen menyandarkan kepala ini ke bahu mereka sambil mengelus pundaknya, lalu berkata,”Abang yang sabar. Ceritain saja semuanya, biar lega. Saya siap, kok, mendengarkannya.”

Semua mengalir begitu saja. Dimulai dengan obrolan basa-basi seperti; kerja di mana? Sudah lama menggunakan Gojek? Tidak dijemput pacarnya? berakhir dengan curhat. Bahkan, tempo hari ada pengemudi Gojek yang menolak tambahan ongkos dari saya. “Tidak usah ditambah, kak. Kakak mau mendengarkan cerita saya saja sudah bonus bagi saya. Kalau saja saya narik dari pagi, kakak saya gratis, deh,” kata pengemudi Gojek yang ternyata seumuran dengan adik saya.

Berikut cerita-cerita nahas yang mereka bagikan ke saya;

1. Kena SP karena digodain Gay

Cerita ini bermula ketika tanpa sengaja motor kami berada persis di belakang motor seorang pria yang dirangkul erat seorang pria juga. Posisi motor mereka di tengah dengan laju yang sangat lambat. Diklakson tidak digubris. Yang bikin abang Gojek naik darah, sewaktu mereka pasang lampu sen kanan, beloknya ke kiri. Kami hampir tabrakan. Pertengkaran pun hampir terjadi kalau saja mereka tidak minta maaf duluan.

“Saya bukan orang yang menolak keberadaan kaum seperti mereka. Tapi tahu tempatlah. Masa bermesraan di jalanan umum kayak tadi,”

“Namanya juga orang lagi jatuh cinta, Bang. Yang normal saja terkadang noraknya sama kayak mereka,”

“Saya pernah kena SP gara-gara gay juga, Mbak,”

“Kok?”

“Waktu itu saya dapat penumpang cowok dari diskotek daerah Senayan. Di tengah jalan malah berulah. Tangannya iseng banget. Saya bilang ke dia kalau saya tidak suka di-gituin. Eh, dianya malah cuek. Saya turunin saja di daerah Cilandak,”

“Lalu?”

“Lalu saya di-SP karena nurunin penumpang belum sampai tujuannya. Saya cerita juga percuma, karena saya bakal dianggap salah juga. Soalnya, penumpang tersebut belum sampai tahap kekerasan. Cuma saya kan risih, Mbak,”

“Ya ampun, Pak. Kasihan bapaknya,”

“Makanya saya rada-rada trauma. Nggak mau dulu ngangkut penumpang tengah malam yang sekiranya dari tempat-tempat kayak begitu,”

2. Diusir ojek pangkalan

Ojek pangkalan vs ojek berbasis online seperti Gojek bukanlah cerita baru. Ojek pangkalan kebakaran jenggot begitu tahu Gojek mengeluarkan promo gila-gilaan. Jumlah penumpang mereka berkurang, jumlah pengguna Gojek bertambah banyak. Namun, bukan itu masalahnya yang terjadi pada pengemudi Gojek berinisial SM (23)

SM cerita pernah diusir bapak-bapak dari ojek pangkalan sewaktu dia berhenti di sekitar gedung perkantoran di Sudirman.

“Padahal saya cuma istirahat doang, Kak. Bukan mau ambil penumpang,”

“Kamu nggak bilang kayak gitu ke mereka?”

“Sudah, Kak. Mereka bilang bukan mereka mau musuhan sama supir Gojek,”

“Lalu?”

“Karena saya muda, Kak. Mereka takut kalah saing,”

“NGOK!”

SM ini mahasiswa ekonomi di salah satu universitas swasta terkemuka di Jakarta Barat. Motornya keren. Tampangnya lumayanlah. Nemu brondong kayak begini dan rada tengil, bawaannya pengen ngejual dia ke tante-tante. Nurani mami-mamiku berkata, SM ini bakal laku kalau dijual.

3. Korban begal

MAS, pengemudi Gojek yang mengantar saya pulang tiga hari yang lalu, katanya hampir menjadi korban begal di daerah Bekasi. Kejadian itu sekitar pukul 02:00 dini hari, usai mengantar penumpangnya. Begitu keluar komplek, dia dihadang dua orang pengemudi motor dan menyuruhnya turun. MAS dipaksa menyerahkan motornya jika tak ingin mati sia-sia. Namun MAS bukan tipe orang penurut. Dia siap meladeni permintaan dua orang berhelm itu.

“Prinsip saya, selagi bisa dilawan, akan saya lawan. Yang penting lawan dulu,”

“Tapi mereka bawa celurit Bang,”

“Celurit doang, Mbak. Kalau kata Tuhan belum saatnya saya meninggal, celurit nggak bakal bisa mencabut nyawa saya,”

“Akhirnya gimana, Bang,”

“Alhamdulillah, saya selamat. Motor saya aman,”

“Ribut dong,”

“Belum sempat ribut, ada mobil polisi yang kebetulan melintas. Saya teriak aja, eh, mereka kabur,”

“Hahaha.. Syukurlah, Bang,”

“Makanya, saya rada was-was juga ke daerah sini,”

“Di sini aman kok Bang, Insya Allah,”

“Nggak aman pun kalau penumpangnya kayak si Mbak, bakal tetap diantar. Itu mah urusan belakang,”

“Si Abang bisa aja! (dalam hati: elo nggak tahu aja gw cowok. Kalau gw bilang gw cowok, elo bakal nyesel pernah ngomong kayak begitu. HA HA HA),”

4. Orderan Go-Food dari ojek pangkalan

Sebagian pengemudi Gojek sudah tahu pemesan Go-Food beneran dan pemesan bodong. Pemesan bodong ini kebanyakan ojek pangkalan yang tentu saja masih belum terima akan kehadiran Gojek di hidup mereka.

Salah satu korbannya adalah BD, yang baru dua bulan jadi pengemudi Gojek. Siang hari, di hari yang sama sewaktu mengantar saya pulang malam harinya, BD mengalami kerugian dengan nominal yang tak sedikit.

Orderan Go-Food dari kawasan Antasari masuk ke gawainya. Ada pun pesanannya berupa martabak Boss di belakang Sarinah. Setibanya di tempat martabak tersebut, DB menghubungi pemesan menanyakan ada tambahan lain atau tidak. Empat kali dihubungi, tidak ada respons sama sekali. Karena baru, DB tetap membeli martabak itu sesuai pesanan. Begitu dia tiba di alamat yang tertera di aplikasinya, tak ada tanda-tanda ‘kehidupan’. Dia coba menghubungi kembali si pemesan tersebut. Kali ini nomor yang dituju benar-benar tidak bisa dihubungi.

“Saya balik aja ke pangkalan. Saya makan martabak itu ramai-ramai sama pengemudi lainnya, kak,”

“Ya ampun, jahat banget. Mana nggak bisa minta ganti rugi dari kantor pula, kan?”

“Iya. Saya dikasih tahu sama pengemudi yang lain, kalau kayak begitu biasanya kerjaan ojek-ojek pangkalan. Apalagi pas saya kasih tahu alamatnya,”

“Dih, jahat banget,”

“Pengemudi yang makan martabak saya akhirnya pada patungan seikhlasnya. Cuma sayanya jadi nggak enak sama mereka,”

“Berarti itu rezeki kamu,”

“Cuma sayanya nggak enak sama mereka. Saya jadi hati-hati menerima pesanan Go-Food,”

“Iya, ih, harus lebih waspada,”

5. Dicemburui pacar penumpangnya

Lebih nahas lagi pengemudi Gojek yang mengantar saya pulang sebulan yang lalu. Suatu hari pernah mendapat penumpang yang ternyata lagi ribut sama pacarnya. Kebetulan pula si Abang ini baru jadi pengemudi Gojek. Belum dapat atribut Gojek. Plus, motornya juga bukan motor kebanyakan pengemudi Gojek.

Motornya CC besar, badan si pengemudi Gojek ini tegap, wajahnya menawan, usut punya usut ternyata Sales Promotion Boy. Rupanya, si pacar penumpangnya ini ngikutin sejak dari kantor ceweknya.

“Motornya tiba-tiba berhenti di depan motor saya. Teriak-teriak suruh ceweknya turun. Dan mengira saya ini selingkuhan ceweknya. Lah, saya jadi keder,”

“Buahaha.. Cemburu amat,”

“Si cowoknya malah bilang, kalau cewek yang ada di motor saya itu masih resmi pacarnya. Saya semakin bingung,”

“Dilawan nggak, Bang,”

“Penumpang saya itu bilang ke pacarnya kalau saya ini tukang ojek. Eh, pacarnya malah kayak curhat gitu ‘Oh, gitu, kamu anggap semua pacar kamu itu cuma tukang ojeg? Kegep selingkuh masih cari alasan?’. Asli, saya bingung,”

“Lalu, lalu?,”

“Si ceweknya buru-buru ngasih uang ke saya dan nyuruh saya cepat-cepat pergi. Lumayan Mbak, gocap. Yasudah, saya pergi saja. Makanya, saya takut nih bawa Mbak,”

“Kenapa takut?”

“Itu cewek biasa aja pacarnya cemburuan begitu, apalagi Mbak yang cantik begini, pasti pacarnya lebih cemburuan,”

“Tenang, nggak bakal ada yang cemburu. Nggak ada pacar juga,”

“Masa sih, Mbak? Secantik Mbak begini belum punya pacar?,”

“Hehehe…”

“Mbaknya pasti pemilih. Pastinya orang-orang kayak saya nggak masuk kriteria Mbak,”

“Hehehe…”

6. Jauh-jauh yang diantar cuma obat

“Pak, dua bulan jadi pengemudi Gojek, pernah ngalamin hal buruk apa saja?”

“Bersyukur, Neng, belum pernah ngalamin yang buruk-buruk.Ribut sama ojek pangkalan juga nggak pernah,”

“Syukurlah. Rada seram juga baca berita akhir-akhir ini, pengemudi Gojek diajak ribut sama ojek pangkalan,”

“Kalau kaya gitu sih alhamduillah nggak pernah. Paling pernah sekali, menerima orderan Go-Send jauh-jauh, nggak tahunya cuma obat di dalam plastik kresek,”

“Obatnya mungkin susah dicari kali, Pak,”

“Iya, sih, Neng. Waktu itu kebetulan saya habis nganter penumpang ke Tangerang. Di sana dapat order Go-Send ke Kelapa Gading. Saya samperin ke rumahnya, si pemilik rumah ngasih satu plastik hitam berisi obat. Si Ibunya bilang, ini obat susah dicari, tolong jaga baik-baik,”

“Berarti bapak dapat pahala hari itu,”

“Dapat bonus juga, dek. Ongkosnya kisaran Rp 100 ribuan, dikasihnya lebih karena itu obat penting banget,”

“Wah, asyik dong, Pak,”

“Hooh,”

7. Balik ke tempat semula

Kejadian ini dialami pengemudi Gojek yang bakal mengantar saya ke Rumah Sakit Persahabatan. Sedikit lagi sampai di lokasi liputan tersebut, saya meminta si Abang putar balik ke tempat semula karena liputan batal. Si Abang menyanggupi padahal macet banget. Saya sendiri bingung mau bayar ongkosnya berapa duit. Saya kasih Rp 35 ribu, si Abangnya nggak nolak. Habis di uang saya tinggal segitu, sedangkan saya harus buru-buru.

Jadi, menurut saya, si Abang nahas Jumat siang itu 😦

Kalau kalian pernah dapat cerita nahas apa dari pengemudi Gojek atau pengemudi ojek lainnya?

Menunda Tak Selalu Buruk

Jam di gawai menunjukkan pukul 09:45 setibanya saya di Stasiun Manggarai. Niat melanjutkan perjalanan ke Rawamangun menggunakan moda transportasi yang sama dibatalkan begitu tahu Commuterline arah Bekasi baru tiba di stasiun itu sekitar pukul 10:00. Mana mungkin terkejar, diskusi kesehatan mengenai dampak asap terhadap paru-paru di Rumah Sakit Persahabatan dimulai pukul 10:30. Salah satu cara supaya sampai di sana lebih cepat menggunakan moda transportasi lain. Aha, Gojek!

Untuk kali pertama saya meminta si Abang melajukan motornya dengan sangat cepat. “Jangan kencang-kencang juga, bang. Sedang-sedang saja,” jawab saya ketika ditanya mau dibawa sekencang apa? Namun, perjalanan yang hampir sampai itu harus dibatalkan kala Redaktur Pelaksana memerintahkan balik ke kantor, menyerahkan passport, kartu keluarga, rekening koran, dan syarat lain guna memenuhi undangan produsen laptop ternama di Taiwan.

“Oke, Mbak.. Karena harus balik ke rumah dulu, mohon kasih waktu sampai sesudah sholat Jumat,” pinta saya mengingat perintah itu diberikan di jam-jam nanggung. Pas sampai rumah, pas adzan Jumat berkumandang.

Passport dan kartu keluarga aman. Tanpa cek ulang, saya masukkan dua dokumen penting itu ke dalam tas. Lepas sholat Jumat, saya bergegas ke kantor sambil berdoa agar semuanya lancar. “Bismillah. Semoga semuanya lancar. Ini bakal menjadi perjalanan jauh kedua di tahun ini. Terimakasih, ya Allah,” ucap saya dalam hati selama duduk di atas motor Gojek

Tapi …..

“Ini, Mbak. Tinggal rekening koran dan foto saja. Nanti saya foto di bawah,” kata saya dengan mimik sedikit cemas.

“Ya sudah,” jawab si Mbak Redpel.

“Mbak… Nganu… Mbak cek dulu deh passportnya. Sepertinya masa berlaku passportku sudah mau habis, deh,”

Iya. Di tengah perjalanan menuju kantor barulah teringat kalau masa berlaku passport saya sudah mau habis. Jauh-jauh bulan, bahkan sebelum saya Umrah, ibu sudah mengingatkan segera diperpanjang. Perintah beliau saya jawab,”Tar.. Sok.. Tar.. Sok.”. Beginilah kalau sukanya menunda sesuatu.

Kecewa? Pasti! Andai saja jadi, sekujur tubuh yang lelahnya minta diinjak-injak tak terasa sama sekali. Tapi mau bagaimana lagi?

“Jangan ngomong belum rezeki. Itu salahmu. Itu seharusnya menjadi rezekimu. Karena kebiasaan burukmu, ya tidak menjadi rezekimu. Jangan pernah juga ngomong soal takdir, kalau kegagalan itu karena ulahmu sendiri,” ceramah si Kawan saat saya menceritakan semuanya.

Njir, menohok banget!

Ilmu psikologi menyebut sifat buruk saya ini dengan Prokrastinasi. Perilaku manusia yang doyan menunda apa pun pekerjaan yang diberikan kepadanya. Masalah utamanya adalah manajemen waktu dan masalah penetapan prioritas.

Saya cenderung menunda pekerjaan kalau dirasa itu menyulitkan. Sulit, karena tempat perpanjang passport jauh dari rumah, dan memakan waktu yang tidak sebentar. Setidaknya dengan waktu selama itu dapat saya pergunakan menyelesaikan lima atau enam stok tulisan untuk hari itu. Maunya cuti, fokus untuk satu urusan saja. Tapi setelah dipikir lagi, sayang banget sisa cuti saya pergunakan untuk urusan yang seharusnya tak perlu sampai cuti. Mohon pengertiannya, Aquarius itu ribet, yes?

Joseph Ferrari, salah seorang profesor psikologi dari De Paul University di Chicago mengatakan, Prokrastinasi menyebabkan seseorang kehilangan peluang dan kesempatan yang datang. Benar sekali, prof!

Jangankan ilmu psikologi, ilmu agama pun menyebut menunda pekerjaan adalah pekerjaan yang paling dibenci Allah SWT. Abu Ishaq berucap, “Janglah engkau menunda amalan hari ini hingga besok. Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan.”

Lantas, apakah menunda selalu berdampak buruk sehingga sudah patutnya dihindari? Belum tentu. Menunda tak selalu mendatangkan malapetaka. Setidaknya, untuk papa dan mama saya.

 

Satu peristiwa telah dialami papa dan mama saya, di mana karena menunda telah menyelamatkan hidup mereka. Kondisi ini dialami papa dan mama saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah.

“Yasudah, Bang. Ambil hikmahnya saja. Tak selamanya menunda itu buruk. Tapi jangan dibiasakan. Kalau ada banyak waktu, ngapain juga harus ditunda-tunda. Allah SWT punya caranya sendiri. Mungkin kalau kemarin mama dan papa tidak menunda lontar jumrah, mungkin mama sama papa juga menjadi korban tragedi Mina di Jalan 204,” kata papa yang membuat kaki saya lemas.

Tragedi Mina yang terjadi di Jalan 204 tepat di Hari Raya Idul Adha sempat membuat saya ketar-ketir. Saya berusaha menghubungi mama atau papa selama menonton berita di televisi. Berkali-kali saya telepon tidak diangkat. Sampai pada akhirnya, mama dan papa sendiri yang menghubungi saya.

“Alhamdulillah, mama sama papa sudah melontar jumrah. Sekarang lagi istirahat. Besok lontar jumrah lagi. Mama sama papa baik-baik saja. Abang sama adek juga akur-akur, ya,” pesan dari papa sungguh melegakan.

Karena menunda sesuatu saat sedang menunaikan lontar jumrah tempo hari, mama dan papa terhindar dari tragedi mina yang kembali terulang.

Rupanya, mama dan papa ada di barisan yang sama dengan rombongan calon jamaah haji yang menjadi korban tragedi Mina di Jalan 204 itu. Karena mama mendadak krop mungkin kelelahan, niat untuk melontarkan jumrah di waktu yang dianggap baik diurungkan. Mama dan papa pilih balik ke tenda dan beristirahat. Tak lama kemudian, peristiwa mengerikan itu sampai ke telinga mereka berdua.

Siapa yang tidak lemas mendengar kabar seperti itu. Papa tidak mau menceritakannya karena takut pencernaan saya kumat. Papa bilang, cukup banyak jamaah Indonesia yang menunda melontar jumrah karena beragam alasan. Paling banyak karena kelelahan. Maklum, jarang jalan kaki di Indonesia, selama di sana mereka harus menggunakan kedua kakinya setiap hari.

“Seandainya mama kemarin tidak berhenti, mungkin papa sama mama menjadi korban tragedi Mina. Karena papa sama mama berada persis di belakang jamaah Iran (yang banyak menjadi korban),” kata papa.

Terimakasih, ya Allah. Engkau telah menyelamatkan mama dan papa dari tragedi Mina di Jalan 204 yang menelan korban lebih banyak daripada tragedi terowongan Mina pada 1990.

#Curjek: Pendapatan Pengemudi Gojek Rp 8 Juta Tinggal Cerita

Pendapatan pengemudi Gojek sebesar Rp 8 juta per bulan membuat karyawan kantoran iri. Jika dulu ada karyawan yang resign banting stir jadi pengusaha, empat sampai enam bulan yang lalu kondisi tersebut telah berubah. Mereka ramai-ramai mendaftar jadi supir ojek. Ada juga yang memilih tetap bekerja di kantor tapi mengambil pekerjaan sampingan jadi supir ojek di Gojek.

Para pengemudi sendiri yang mengakui kalau pekerjaan menjadi supir ojek tak `senistah` dulu. Semenjak ada Gojek dan ojek berbasis online lainnya, profesi sebagai supir ojek tak bisa dipandang sebelah mata. Kehidupan mereka mengalami perubahan. Untuk menghidupi tiga orang anak yang masih kecil-kecil terasa lebih ringan.

Mahasiswa atau anak muda yang berasal dari keluarga kaya pun ada yang menjalani pekerjaan sebagai supir ojek dan tak malu dipanggil dengan sebutan abang ojek. Bedanya, motor mereka lebih besar CC-nya, sepatunya bermerek, aroma tubuh lebih wangi, dan jam tangan yang tak kalah canggih dari ponselnya.

Tempo hari si Jeko, teman saya di kantor, dapat abang Gojek yang mengenakan sepatu Nike, jam tangan Apple Watch, dan iPhone 5S serta Android. Setelah stalkingin akun IG-nya, wajar kalau si abang ojek ini tidak kesulitan waktu dimintai tolong beli makanan kucing di tempat yang mungkin jarang terjamah. Tajir bo!

#Curjek : Curahatan Hati Pengemudi GOJEK (doc: Jasaraharja Putera)

Namun dari pengemudi jugalah saya mengetahui kalau sekarang rada susah mendapat uang sebesar itu. Mereka berharap pendapatan pengemudi Gojek sebesar Rp 8 juta per bulan tak menjadi cerita lalu semenjak penerimaan besar-besaran di Senayan dua bulan lalu.

Dalam sebulan ini saya mendapat curhatan seperti itu dari tiga atau empat orang pengemudi Gojek. Seperti biasa, saya selalu mengajak pengemudi Gojek ngobrol atau sebaliknya biar perjalanan tak terasa lama.

Sebut saja Pak Irwan, 43 tahun, dulunya adalah seorang karyawan biasa yang digaji sebesar Rp 4,5 juta tiap bulan. Tahu kalau pendapatan di Gojek lebih besar, Pak Irwan pilih resign dan mencoba keberuntungan di Gojek. Tiga bulan pertama, April sampai Juli, Pak Irwan merasakan betul gaji besar itu. “Alhamdulillah, Dek, kebantu banget.”

Strategi Pak Irwan, begitu keluar di pagi hari mencari orderan dengan jarak yang cukup jauh. Mendekati sore sampai malam, sebisa mungkin paling jauh hanya 10 kilometer. Namun strategi itu berubah kala jumlah driver Gojek bertambah. “Sekarang jumlahnya membludak, dek. Apalagi sekarang di beberapa titik sudah ada Gojek yang bikin pangkalan sendiri. Kalau saya nyelak, saya enggak enak. Tapi ngaruh banget ke pendapatan saya,” kata Pak Irwan. Itu dulu. Beda ceritanya dengan sekarang. Menyadari kalau beginilah pekerjaan sebagai pengemudi Gojek, Pak Irwan pun main ambil saja begitu ada orderan masuk ke ponselnya. “Rada nggak enak juga sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi?”

Satu lagi strategi yang diterapkan Pak Irwan, menggunakan waktu libur untuk narik! “Tiga bulan pertama itu, Sabtu dan Minggu libur nggak terlalu berpengaruh sama pendapatan. Saya bisa main sama anak-anak. Sekarang, saya pakai juga buat narik. Ya, walaupun setengah hari.”

Beda Pak Irwan, beda pula dengan Pak Zul. Sebelum jadi Gojek sebulan yang lalu, Pak Zul baru saja resign dari pekerjaan dengan pendapatan sebulan sekitar Rp 5-6 juta. Dia tidak menyebut secara detail apa pekerjaannya. Dari percakapan kami mengenai pekerjaan di bidang jurnalis, iklan, dan televisi, saya menebak Pak Zul ini orang lama di dunia periklanan. Tahu banget seluk beluk kerja di periklanan.

“Saya sudah dengar sih, kalau pendapatan Gojek sebesar itu rada susah. Tapi bukan berarti mematahkan semangat saya untuk bekerja, dong? Dapat segitu Alhamdulillah, enggak ya Alhamdulillah juga. Strategi saya paling ambil yang jauh-jauh. Meski terkadang suka di-BT-in sama teman-teman yang lain. Siapa suruh mereka lengah. Bukan maksud saya untuk merusak pendapatan mereka tapi ya pas saya lihat dan saya tahu letaknya, saya ambil.” Kata Pak Zul.

Nah, yang paling bikin saya kesal waktu mendengar curhatan pengemudi Gojek sebut saja Kirun, 24 tahun. Dia merasakan betul imbas dari penerimaan besar-besaran Gojek beberapa bulan lalu. Jadinya harus rebutan penumpang sama seperti Pak Irwan dan Pak Zul. Kampretnya, Kirun ini main ambil orderan saja tanpa melihat dulu ke mana tujuannya si calon penumpang.

“Makanya, saya minta tolong diarahin sama kakak. Maaf ya, kak, bukannya saya kurang ajar atau gimana-gimana, tapi kalau nggak seperti ini bisa kecil pendapatan saya,” mendengar si Kirun ngomong seperti ini, mau marah rasanya nggak pantes, mau kasihan tapi itu kan risiko dari setiap pekerjaan, bukan? *tamparin pakai helm*

Gojek yang sekarang beda sama yang dulu

Sebulan ini juga saya rasakan ada perbedaan yang cukup mencolok antara pengemudi Gojek yang dulu dan sekarang. Seperti Kirun, kebanyakan pengemudi Gojek sekarang main ambil orderan tanpa tahu ke mana tujuannya. Kalau menurut mereka terlalu jauh tak jarang mereka sendirilah yang membatalkan orderannya.

Dulu, saya mendapat pengemudi Gojek yang tahu jalan. Bahkan yang jauh sekali pun. Paling yang mereka tanyakan Cuma letak persisnya dan ancar-ancar.

Misalnya saya dari Palmerah mau ke Kuningan. Pengemudi Gojeknya paling Cuma nanya,”Ini yang letaknya sebelah kanan kalau dari perempatan Kuningan kan, Mbak? Mbaknya mau lewat situ atau ada jalan lain yang mungkin menurut Mbak lebih cepat?”. Sekarang dapatnya malah,”Mbaknya mau ke mana, ya?”. Siapa coba yang tidak geram mendapat pertanyaan seperti ini. Bukannya saat melihat orderan bakal terlihat bakal membawa calon penumpang ke mana? Kok ini malah bertanya mau ke mana.

Untung saya masih punya rasa toleransi dan untung harganya jelas. Tidak membatalkan oderan itu tapi memberitahu tujuan sebenarnya. Cuma rasa gondok itu muncul saat dia bertanya lagi,”Gedung Kemenkes? Itu Kuningan sebelah mana? Jauh nggak dari Gedung Bakrie?”.

Selain itu, jika dulu kebanyakan pengemudi Gojek masih bisa diajak ngobrol, pengemudi sekarang sepertinya susah. Bawa motornya saja terburu-buru. Maunya cepat sampai, dapat bayaran, narik lagi. Tak jarang saya meminta mereka untuk tidak ngebut-ngebut.

Memang, dengan bertambahnya pengemudi Gojek, bertambah pula jumlah penumpangnya. Saya merasakan betul kalau sekarang waktu order lebih cepat dari bulan-bulan sebelumnya. Tidak sampai 15 menit sudah ada yang menerima orderan saya. Dulu sampai 30 menit orderan saya tidak ada yang menerima yang berakhir gagal order. Tapi saya lebih senang dengan yang dulu, yang menerima orderan beneran tahu ke mana tujuan saya.

Pengemudi Gojek muda yang tajir tak usalah narik

Seperti yang saya tulis di atas, mereka yang berasal dari keluarga berada tak malu jadi pengemudi Gojek. Bahkan sekitar tiga bulan lalu media sosial seperti Facebook dan Path dibanjiri postingan pengemudi Gojek berwajah ganteng menunggangi motor ber-CC besar berjaket hijau bertuliskan GOJEK.

Menurut saya, kalau hanya untuk ajang keren-kerenan, mending nggak usah jadi pengemudi Gojek. Pendapatan sebesar Rp 8 juta per bulan memang sangat menggiurkan. Namun akan lebih mulia jika uang itu biar didapat oleh mereka yang benar-benar membutuhkan guna menghidupkan istri dan anaknya yang masih kecil. Dengan berkurangnya jumlah pengemudi Gojek peluang mereka mendapat uang sebesar itu ada. Atau dari pihak Gojeknya menyudahi promo-promonya. Kembali ke harga normal, lihat berapa banya pelanggan Gojek yang benar-benar setia.

Illustrasi pengemudi (driver) Gojek yang berasal dari kalangan berada (Doc: Aripitstop)

Buat pengemudi Gojek berusia muda dan berwajah tampang, mending masukin lamaran ke Production House (PH) siapa tahu jadi bintang sinetron. Atau usaha lain. Sebentar lagi musim hujan, kemungkinan pendapatan pengemudi Gojek turun sangatlah besar. Jadi, biarkan mereka melakoni profesi sebagai pengemudi Gojek itu.

Benar, deh, saya rela menunggu Gojek cukup lama (kalau memang jumlah pengemudi Gojek berkurang) asal yang menerima orderan saya benar-benar tahu jalan dan tidak diuber-uber waktu.

Berburu Makanan Khas Nusantara di Cipika

Beragam sekali makanan nusantara di situs Cipika ini

Beragam sekali makanan nusantara di situs Cipika ini

Nama situs belanja online ini lucu. Cipika. Terlintas di bayangan saya, Cipika itu singkatan dari cium pipi kanan. Begitu paket berada di tangan dengan selamat, maka antara si penerima dan si pengirim barang bakal saling cium pipi kanan gitu. Bukan salaman.

Ya, kalau yang mengantarkan barangnya rada cakep, lucu, dan bersih, kenapa nggak? Bukannya Islam mengajarkan demikian? *alah*

Tahu situs ini dari seorang teman di kanal Tekno. Menurut penjelasannya, Cipika adalah salah satu online store milik Indosat yang menjual segala jenis barang. Termasuk kuliner nusantara. Katanya, sih, semua makanan dari Sabang sampai Merauke ada.

Continue reading